
"De, bagaimana? Kamu sudah mencari tahu tentang keberadaan Nala?" tanya Fanta.
Amadea menggelengkan kepalanya, "Rasanya tak mungkin kita akan menemukannya. Kamu tahu kan siapa dia," ujar Amadea.
"Aku harus menemukannya. Aku akan membalas semua perbuatan keluarganya pada keluargaku," ucap Fanta.
"Tapi ini juga kesalahan kita dan Nicole," ucap Amadea.
Brakkk
Fanta menghempaskan ponsel miliknya ke atas lantai kemudian mencengkeram leher Amadea, hingga tubuh Amadea membentur dinding.
"Jadi kamu tidak mau membantuku?" tanya Fanta.
"B-bukan aku tak m-mau mem-bantu, t-tapi kamu tahu kan si-siapa Nala," jawab Amadea dengan terbata.
"Aku tidak peduli siapa dia, yang pasti ia telah menghancurkan perusahaan keluargaku," ucap Fanta dan mengeratkan cengkeraman tangannya pada leher Amadea.
"Ahhhh ....erhhhh ...," ketika melihat Amadea yang mulai kesulitan bernafas, baru lah Fanta melepaskan cengkeramannya.
"Masih mau melawan dan bermain main denganku?!" teriak Fanta.
Apa dia sudah mulai gila? Aku takut dia akan menyakitiku dan keluargaku. - batin Amadea.
Fanta tertawa dengan kencang ketika melihat Amadea yang terdiam dan menunduk. Sejak dulu, ini lah yang ia inginkan, yakni menjadi pemimpin dalam genk mereka. Namun, Nicole selalu tampil dan membuat dirinya tak terlihat.
"Aku pulang dulu, Fan. Sore seperti ini aku harus membantu Mommyku," ucap Amadea.
"Sana pergi! Tapi ingat jangan sekali sekali kamu melawanku!"
Amadea langsung pergi dari rumah Fanta. Saat itu kedua orang tua Fanta sedang pergi ke rumah saudara mereka untuk mencari pinjaman, untuk kelangsungan perusahaan mereka.
*****
Kedekatan antara One dengan Nala semakin terlihat setiap hari. Hal itu membuat Michael menjadi iri. Pasalnya dulu putrinya itu selalu bisa ia peluk dan cium sekehendak hatinya, tapi kini ia seakan sudah tergantikan dengan pria lain.
"Sayang, mengapa wajahmu terus ditekuk seperti itu?" tanya Alexa.
"Lihatlah! Mengapa aku yang daddynya jadi sulit mendekatinya?" tanya Michael sambil menunjuk ke arah Nala dan One yang benar benar dekat.
"Kamu iri?"
"ishhh, siapa yang iri? Tidak!" Michael menekuk wajahnya lagi, bahkan kini sampai memanyunkan bibirnya.
Cuppp
Alexa langsung mencium bibir Michael yang membuatnya gemas, "Apa kurang cukup semalam?"
Mata Michael langsung membulat dan memancarkan sinar sinar, "kurang! Malam ini lagi ya. Kita pulang sekarang. Biarkan saja Nala, ada One yang menjaganya."
Sikap Michael kembali membuat Alexa tertawa. Mereka pun pamit, kembali meninggalkan Nala dan One di dalam ruangan itu.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Nala.
"Harus menjawab dengan jujur."
"Ya, aku akan menjawab semuanya dengan jujur."
"Katakan padaku, di mana Edelweiss?" tanya Nala.
Seketika raut wajah One berubah. Ia tak menyangka bahwa Nala akan kembali menanyakan hal itu. Sebelumnya ia berhasil menghindar, tapi kali ini rasanya akan sulit.
"Edelweiss?"
"Ya, Uncle. Edelweiss. Jangan menyembunyikannya dariku. Apa yang sebenarnya terjadi hingga aku tidak boleh tahu di mana dia dan apa yang ia lakukan?"
One menundukkan kepalanya, kemudian mendongak kembali menatap manik mata Nala.
"Maafkan, Uncle. Ini semua adalah perintah Nathan."
"Nathan? Sebenarnya apa hubungan Nathan dengan Elis? Mengapa kalian semua menutupinya dariku?"
"Tenang dulu, Na. Kamu belum sembuh benar sebaiknya jangan terlalu banyak berpikir."
"Aku tidak akan banyak berpikir kalau Uncle mau memberitahuku di mana Elis. Apa Uncle lebih menganggap Nathan daripada aku? Apa Uncle tidak menyayangiku?"
"Justru karena kami semua menyayangimu, maka kami tak memberitahumu. Bukankah Nathan pernah berkata akan memberimu hadiah? Jadi tunggu lah sampai saat itu tiba," ucap One.
"Aku tidak mau! Aku harus tahu di mana Elis. Atau Uncle ingin aku mencarinya sendiri? Aku akan menanyakan ini pada Grandpa Azka."
One memegang kedua lengan atas Nala, mencoba menenangkannya, "Baiklah, Uncle akan mengatakannya. Tapi harus menunggu kesehatanmu pulih dulu, okay."
Nala menghela nafasnya pelan dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Kali ini ia akan mempercayai One yang akan segera membawanya menemui Edelweiss. Ia harus segera pulih.
Sementara itu di salah satu rumah sakit di Kota Auckland, New Zealand. Nathan tampak berdiri di depan sebuah jendela kaca besar. Sudah seringkali ia berdiri di sana, tapi tetap tak ada tanda tanda bahwa gadis yang terbaring di sana akan terbangun.
"Kita berangkat sekarang, Nath?" tanya Ten yang selalu mendampingi Nathan.
"Bagaimana keadaan Nala?" tanya Nathan.
"Ia sudah lebih baik dan One yang menjaganya. Lalu ...," Ten menghentikan ucapannya.
"Katakan."
"Nona Fanta sepertinya akan mulai berulah lagi."
"Awasi dia, jangan sampai lengah. Kita tak ingin Nala mengalami seperti yang dialami oleh Edelweiss."
"Baik, Nath."
Mereka pun segera terbang dari Auckland menuju Jakarta. Nathan akan menemui Nala, saudara kembarnya, untuk melihat secara langsung keadaannya.
Sebelum pergi, Nathan kembali melihat ke arah jendela kaca besar itu, "Cepatlah sadar, Nala menunggumu."
🧡 🧡 🧡