Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
BENDA BERKILAU



"Sialannn!!!" teriak Nicole saat mengetahui bahwa perusahaan keluarganya kini bermasalah. Kedua orang tua nya bahkan telah mengurai uang saku bulanannya dan ia tak lagi memiliki mobil sendiri.


Saat ini, mereka telah pindah ke rumah yang lebih kecil dengan jumlah asisten rumah tangga yang hanya satu orang. Mobil mobil milik ayah dan ibunya pun telah dijual, menyisakan sebuah mobil yang usia nya sudah agak tua menurut Nicole.


Tas tas branded miliknya terpaksa ikut dijual untuk membayar gaji dan pesangon seluruh asisten rumah tangganya dulu. Hancur, itulah yang Nicole rasakan saat ini.


Ia keluar dari kamar tidurnya dan menuju ke ruang tamu di mana ayah dan ibunya sedang berbicara dengan serius.


"Dad! Mom! Sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan? Mengapa semuanya terjadi dengan tiba tiba?" tanya Nicole.


"Alpenze Coorp mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Mereka masih berbaik hati menjadikan daddy mu ini salah satu manager di sana," jawab Mommy Nicole.


"Alpenze?" Nicole sangat tahu siapa pemilik Alpenze.


Apa kamu membalaskan dendammu karena aku menceburkanmu ke dalam kolam waktu itu, Na? - batin Nicole sambil mengepalkan tangannya.


*****


Sepasang mata melihat Nala dengan tajam, bahkan rasanya ia ingin jika tatapannya itu langsung membunuh Nala.


"Betapa nyaman nya hidupmu di sini, sementara aku di sana kesusahan. Aku secara khusus datang ke sini, bahkan mengorbankan perhiasanku agar aku bisa menghancurkanmu," gumam Nicole yang masih tidak terima dengan apa yang terjadi dengan keluarganya, terutama pada keuangan keluarganya.


Nicole masuk ke dalam apartemen yang sengaja ia sewa dari hasil menjual perhiasannya. Ia mengeluarkan sebuah pisau dari dalam tas miliknya. Ia baru membeli pisau tersebut saat tiba di Kota Massachusetts. Ia memperhatikan pisaunya dengan menganhkatnya ke atas. Kilau yang ditampilkan pisau itu membuatnya semakin bersemangat untuk membuat Nala merasakan ketajaman pisau tersebut.


"Jika aku harus hidup seperti ini, maka aku juga harus membuat hidupmu menderita. Aku akan membunuhmu dan ketika kamu mati, maka keluargamu akan menangis dan menderita," ucap Nicole sambil tertawa.


*****


Nala masuk kembali ke dalam kamar tidurnya setelah menikmati hembusan udara malam di Kota Massachusetts. Ia mengunci pintu balkon dan bersiap untuk tidur.


Semenjak ia bekerja, ia bisa dengan mudah terlelap. Mungkin itu semua karena tubuhnya yang sangat lelah. Meskipun ia masih sering memikirkan One, tapi ia bisa menguranginya.


Bekerja dan tidur cepat, itulah salah satu kesempatan Nala untuk memperkecil dirinya tak memikirkan tentang One. Namun, semua itu tak membuat rasa cinta di dalam dirinya berkurang pada pria yang jauh lebih tua dari dirinya itu, malah ia semakin rindu jika memikirkannya.


tokk ... Tokk ... Tokk ...


Baru saja Nala ingin memejamkan matanya, ia mendengar suara pintu apartemennya diketuk seseorang. Ia merasa tak mengundang siapa pun dan tak terlalu mengenal penghuni apartemen yang lain karena padatnya jadwal yang ia miliki.


Nala mengintip dari lubang intip yang ada di pintu, tapi ia tak melihat siapa pun di sana.


"Siapa yang mengerjaiku malam malam begini?" gumam Nala.


Ia pun segera kembali masuk ke dalam kamar tidurnya karena merasa ketukan pintu barusan hanya lah pekerjaan orang iseng.


Hingga pagi datang menyambut, tak terdengat suara ketukan lagi. Nala semakin yakin bahwa semalam hanya salah ketuk atau paling paling pekerjaan orang iseng. Ia pun segera bangun dan membersihkan dirinya, hari ini ia akan ke kampus untuk menyelesaikan tiga mata kuliah, kemudian langsung berangkat lagi ke cafe.


*****


"Aku sudah menyelesaikan semuanya, Tuan," ucap One pada Axton.


"Baiklah, terima kasih. Kamu bisa kembali ke markas untuk menunggu tugas selanjutnya," ucap Axton.


One hanya selalu memperhatikan gerak gerik Nala melalui hasil sadapan CCTV di beberapa tempat. Ia cukup tenang melihat keadaan Nala yang baik baik saja dan sehat. Hanya saja gadis kecilnya itu terlihat kelelahan setiap harinya.


"Ada apa, One?" tanya Axton yang melihat One tak keluar dari ruangannya.


"Tuan, apa aku boleh mengajukan cuti selama seminggu?"


"Cuti? Apa kamu memiliki keperluan mendesak?" tanya Axton, karena tak biasanya One mengajukan cuti karena pria itu selalu menghabiskan waktunya dengan kerja dan kerja.


"Ya," jawab One singkat.


Ya, aku harus melihatnya secara langsung. Aku .... Merindukannya. - batin One.


"Baiklah. Aku akan meminta Seven untuk menggantikan posisimu sementara waktu," ucap Axton.


"Terima kasih, Tuan," ucap One.


"Tapi kembalilah tepat waktu, karena aku memerlukanmu untuk mengerjakan tugas selanjutnya."


"Baik, Tuan."


Dan di sini lah One sekarang, di Kota Massachusetts. Semalam ia baru saja sampai dan hari ini, ia mengintai semua aktivitas Nala. One tak pernah menyangka bahwa di wajahnya kini tengah terbit senyuman saat melihat gadis kecil yang tengah mengusap peluhnya dengan saputangan.


Apa kamu sangat lelah, Na? Mengapa kamu memilih bekerja? Bukankah kedua orang tuamu bisa dengan mudah mencukupi semua kebutuhanmu? - batin One.


Setelah dari kampus, One terus mengikuti Nala hingga gadis kecilnya itu masuk ke dalam sebuah cafe. One tahu bahwa Nala bekerja di cafe itu. Namun, melihat secara langsung pemandangan yang memperlihatkan interaksi antara Nala dengan seorang pria bernama Rich, membuat One mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya.


Baru saja ia mau melangkah, ia melihat seorang wanita tengah berjalan mengendap. Hal itu menimbulkan kecurigaan One. Ia terus memperhatikan wanita yang menatap jendela cafe dengan kacamata hitam yang tersemat di telinganya.


Tak berapa lama, wanita itu pun pergi, membuat One sedikit bernafas lega dan menganggap wanita itu tengah memperhatikan seorang pria di dalam cafe.


Malam harinya, Nala keluar dari cafe. Seperti biasa, ia mengambil shift hingga malam hari. Ia melambaikan tangannya pada Rich. Nala berjalan menuju apartemennya dengan bersenandung, membuat One kembali tersenyum.


"Apa yang wanita itu lakukan?" One melihat wanita yang tadi siang memperhatikan cafe, kini tengah berjalan dengan jarak tak jauh dari Nala.


One mengikuti langkah wanita itu dari seberang jalan. Matanya membulat ketika melihat suatu benda berkilau yang dikeluarkan dari dalam tas miliknya.


Tidak! - batin One.


Ia pun setengah berlari dan mencoba mendekati Nala. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat ketika wanita itu juga melangkahkan kakinya lebih cepat dari sebelumnya.


"Mati kamu!" ucap Nicole yang sudah dikuasai oleh amarah dan dendam.


"Nala!!!" teriak One.


Nala yang mendengar suara seorang pria yang sangat dikenalnya, bahkan dengan mata tertutup ia bisa mengenali suara itu, menghentikan langkahnya dan menoleh mencari asal suara itu. Namun matanya menangkap benda berkilau yang sedang mengarah padanya.


"Uncle!"


🧡 🧡 🧡