Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
DI BALIK HANDUK



Dengan menggunakan pesawat pribadi berukuran kecil milik Keluarga Williams, One dan Nala pun berangkat menuju Maldives. One secara khusus menyiapkan semua, tentu saja dengan uangnya sendiri. Ia hanya mendapatkan fasilitas pesawat pribadi dari Keluarga Williams.


Di dalam pesawat, Nala selalu melirik ke arah One dengan ujung matanya. Ia ingin sekali One mengatakan apa sebenarnya hubungan antara Nathan dengan Edelweiss. Setahu Nala, Nathan tak pernah dekat dekat dengan wanita, apalagi Edelweiss.


"Uncle."


"Apa kamu akan terus memanggilku Uncle?" tanya One.


"Honey ...," Nala mengucapkannya dengan sedikit malu malu. Ia memang belum terbiasa, jadi agak sedikit kaku.


"Hmm ... Apa yang ingin kamu tanyakan, Na?"


"Aku ingin tahu tentang hubungan antara Nathan dengan Elis. Apa dirimu mengetahuinya, honey?"


"Aku tahu, tapi ... Ku rasa yang berhak menjawab semua itu adalah Nathan. Aku tak ingin salah menjawab yang nantinya akan menimbulkan kesalah pahaman," jawab One.


Nala yang duduk persis di sebelah One, langsung melingkarkan tangannya di lengan One dan bersandar. Di dalam kepalanya masih berputar banyak pertanyaan, tapi ia juga tak ingin memaksa One mengatakannya. Suaminya itu benar, sebaiknya ia menanyakannya langsung pada Nathan dan Edelweiss.


*****


Setelah kepergian One dan Nala, tamu tamu juga pulang, kecuali beberapa keluarga yang akan menginap di kediaman Michael dan Alexa.


"El, Ikutlah bersamaku kembali ke Auckland," pinta Nathan.


Edelweiss tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, "Aku tak ingin mengecewakan Nala."


"Tapi jika kamu memilih Nala, maka berarti kamu mengecewakanku," ucap Nathan.


"Aku bukan siapa siapamu, Nath. Aku akan tetap di sini menunggu Nala. Aku sudah berjanji padanya," ucap Edelweiss.


"Kamu kekasihku!" ujar Nathan dengan sedikit penekanan.


"Kita hanya kekasih pura pura. Lagipula sekarang tak ada siapapun yang akan mengganggumu. Tak ada lagi Nicole, Fanta, Amadea, ataupun Starla. Kamu sudah bebas. Aku berjanji akan segera mengembalikan uangmu yang kupinjam," ucap Edelweiss lagi.


"Aku tak membutuhkan uangku yang kamu pinjam, El. Aku hanya mau kamu tetap menjadi kekasihku," ucap Nathan.


Edelweiss tersenyum dan hal itulah yang paling disukai oleh Nathan, senyuman lembut milik Edelweiss.


"Carilah wanita yang baik untukmu, Nath. Aku tak sepadan denganmu dan ....," belum selesai Edelweiss berbicara, Nathan sudah meletakkan jari telunjuknya di bibir Edelweiss.


"Nath, aku ..."


"Ingat, tak ada bantahan. Kalau kamu mau tetap di sini, maka aku juga akan pindah ke sini. Kamu tak bisa tinggal bersama Nala. Ia sudah menikah, jadi kamu akan tinggal di sini, bersamaku, bersama Dad dan Mom."


Edelweiss hanya bisa diam, ia tak tahu harus bagaimana, karena hidupnya masih bergantung pada orang orang di sekitarnya.


Nathan membawa Edelweiss ke dalam kamar tidurnya. Ia meminta seorang pelayan membantu Edelweiss berganti pakaian dan juga membersihkan diri. Sementara itu, Michael dan Alexa serta keluarga yang menginap di sana, hanya bisa melihat setiap sikap Nathan pada Edelweiss.


*****


"Aku mandi dulu," ucap Nala. One menganggukkan kepalanya dan Nala pun masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat air hangat sudah disiapkan dengan harum aroma therapy.


Nala tersenyum karena yakin bahwa One yang meminta hotel tempat mereka menginap untuk menyediakannya. Nala menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub.


"Ahhh segarnya, ini benar benar nyaman," ucap Nala.


Setelah selesai berendam dan membilas diri, Nala keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. One tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Giliranku, setelah ini bersiap siaplah," bisik One di telinga Nala.


Wajah Nala langsung memerah membayangkan apa yang akan ia lewati bersama One malam ini. 24 jam lebih ia berada di dalam pesawat dan lebih banyak beristirahat.


Nala duduk di depan sebuah meja rias dengan cermin besar. Ia membuka handuk yang melilit di rambutnya, kemudian mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya.


Meskipun tangan Nala terus bergerak untuk mengeringkan rambutnya, tapi pikirannya terus membayangkan apa yang akan ia lewati bersama One. Hingga One keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, pikiran messum Nala langsung bekerja dan membayangkan apa yang ada di balik handuk itu.


One berjalan mendekati Nala yang terus memperhatikannya. Hal itu tentu saha membiat One gemas, apalagi saat ia melihat pandangan Nala tertuju pada handuk yang ia kenakan, sudah pasti pikiran Nala tidak jauh jauh dari apa yang tersembunyi di dalamnya.


One mengambil alih hair dryer yang sedang dipegang oleh Nala kemudian menurunkan sedikit wajahnya hingga dekat dengan telinga Nala.


"Apa kamu sudah tidak sabar mengetahui apa yang ada di balik handukku?" bisik One.


Dan tanpa sadar, Nala mengganggukkan kepalanya.


"Ehhh ...," Nala langsung menoleh ke arah One dengan wajah yang memerah sementara One justru tertawa melihat itu.


🧡 🧡 🧡