
"El!"
Edelweiss memang tak bisa melihat siapa yang datang, tapi ia mengenali suara siapa yang berada tak jauh darinya itu.
"Starla?"
"Ya, ini aku."
"Aku khusus datang ke sini karena ingin minta maaf padamu. Maaf karena tak memberitahumu tentang semua hal yang menimpa keluargamu, terutama perusahaannya. Maaf karena sebenarnya aku juga tahu bahwa kecelakaan yang terjadi padamu adalah rencana sahabatku, tapi aku tak mencegahnya dan malah berlari pergi. Aku memang pengecut, aku terlalu takut untuk mengatakan semuanya."
"Terima kasih," ucap Edelweiss.
"Terima kasih? Untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah mengakuinya di depanku. Meskipun kebenaran itu terasa menyakitkan bagiku, tapi aku tak ingin menyimpan semua kepahitan itu. Hiduplah dengan baik, Star. Karena aku juga akan begitu."
Starla mendekat pada Edelweiss kemudian memeluknya, "sekali lagi maaf dan terima kasih. Jika kamu membutuhkan bantuanku, hubungi aku. Aku pasti akan membantumu."
"Tidak perlu, terima kasih banyak. Aku sudah memiliki sebuah keluarga yang sangat menyayangiku," ucap Edelweiss.
Nathan yang baru tiba di sana, melihat kehadiran Starla. Matanya menatap tajam ke arah salah satu gadis yang pernah mengganggu Edelweiss itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Nathan.
"Terima kasih atas kedatanganmu, Star. Aku juga akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu," secara halus Edelweiss meminta Starla pergi dari sana. Ia tak ingin Nathan menjadi kesal. Dari suara Nathan saja, Edelweiss sudah tahu kalau Nathan tak suka dengan kehadiran Starla di sana.
"Baiklah, sampai jumpa lagi," Starla pun keluar dari ruangan dan meninggalkan tempat itu.
"Untuk apa dia datang ke sini?" tanya Nathan setelah Starla pergi.
"Ia hanya melihat keadaanku dan minta maaf karena pernah berbuat buruk padaku," jawab Edelweiss.
Nathan tak ingin memperpanjang hal ini karena kondisi kesehatan psikis Edelweiss juga harus diperhatikan sebelum ia menjalani operasi.
"Aku akan menemanimu malam ini. Kamu harus istirahat dengan cukup karena besok operasi akan dilakukan," ucap Nathan.
"Ya, terima kasih."
Keesokan harinya,
Operasi yang dilakukan oleh Edelweiss berjalan dengan lancar. Ia telah dipindahkan kembali ke ruang perawatan hingga dua minggu ke depan, saat perbannya akan dilepas.
"Edelweiss masih dalam pengaruh obat bius?" tanya Nala.
"Ya," jawab Nathan singkat.
"Kamu harus menjaganya dengan baik, Nath. Aku tak mau sampai kamu menyakitinya. Kalau sampai aku melihatnya bersedih, maka kamu akan berurusan denganku," ucap Nala.
Nathan hanya bisa diam menatap Nala, tapi setelah itu pandangannya kembali fokus pada Edelweiss.
*****
Dua minggu kemudian,
"Apa kamu siap?" tanya dokter yang mengoperasi Edelweiss.
Di dalam ruangan tersebut, telah hadir Michael dan Alexa, One dan Nala, serta Nathan dan Ten. Mereka semua sudah tak sabar untuk mengetahui hasil dari operasi mata Edelweiss.
Dokter mendekatinya dan mulai membuka perban yang melingkar di mata Edelweiss.
"sekarang buka matamu dengan perlahan. Biarkan sinar masuk secara perlahan saja. Setelah itu, katakan padaku apa yang kamu lihat," ucap dokter.
Edelweiss mengerjapkan matanya. Ia merasakan sedikit sinar masuk ke matanya. Pandangan yang dulu gelap, kini telah berganti kembali seperti dulu. Ia bisa melihat perbedaan warna antara yang satu dengan yang lain.
"El, katakan pada kami, apa yang kamu lihat," ucap Nala tak sabar.
Edelweiss tersenyum dan rasanya ingin sekali ia menangis. Di hadapannya, tepat di ujung tempat tidur, ia melihat wajah Nathan yang sedang melihat ke arahnya dan tersenyum.
"Nath," ucap Edelweiss. Dipanggil pertama kali oleh Edelweiss membuat hati Nathan menghangat luar biasa.
"El? Kamu bisa melihat Nathan? Apa kamu juga bisa melihatku? Ayolah! Aku sedang dalam mode iri ini," ucap Nala tak sabaran.
"Jangan memaksa Elis, honey," One memegang bahu Nala.
"Terima kasih. Terima kasih semuanya. Aku bisa melihatmu, Na. Aku bisa melihat sahabatku lagi," ucap Edelweiss.
Nala langsung tersenyum lebar dan memeluk Edelweiss, "Aku tahu kamu pasti bisa melihat lagi. Kamu sembuh!"
"Apa yang kamu lihat Nona?" tanya dokter.
"Aku bisa melihat semuanya, tetapi masih sedikit buram."
"Tidak masalah kalau begitu. Kamu memang perlu menyesuaikan penglihatan barumu ini."
"Terima kasih banyak, Dok," Edelweiss tak percaya ia bisa melihat secepat ini, bahkan keraguan sering muncul di dalam hatinya untuk dapat melihat lagi.
*****
Bulan berganti bulan, kini justru Nala lah yang sedang berada di rumah sakit. Kehamilannya sudah cukup waktu dan kini ia sedang merasakan kesakitan yang amat sangat.
Michael meminta seorang dokter wanita untuk membantu Nala melahirkan. Meskipun ia adalah seorang dokter kandungan, ia akan menyerahkan hal tersebut pada dokter lain. Ia akan berada di luar ruangan bersama dengan Alexa.
"Nala pasti bisa melewati semua ini, sayang. Meskipun ia masih terbilang muda, tapi ia adalah wanita yang kuat, sama sepertimu," ucap Michael sambil merangkul istrinya itu.
One mengukir senyuman di wajahnya ketika terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring.
"Terima kasih, honey. Terima kasih telah memilihku menjadi ayah dari anak kita."
Cuppp
One melabuhkan sebuah kecupan singkat di bibir Nala, yang berwarna sedikit pucat karena rasa sakit dan lelah yang menderanya.
Conary Agha Haskata
One dan Nala mencari nama yang memiliki arti yang indah, yakni keturunan Haskata yang memiliki hati tulus dan bijaksana. Mereka tersenyum bersama, kemudian mengecup pipi putra pertama mereka, dan diabadikan oleh sebuah kamera oleh salah seorang perawat di sana.
🧡 🧡 🧡