Uncle, I LOVE YOU!

Uncle, I LOVE YOU!
MEMBEBASKANMU



Nala kembali ke Kediaman keluarganya. Dalam pikirannya, masih berputar apa yang tadi diceritakan oleh Starla. Jika memang Nathan ada hubungannya dengan Edelweiss, maka tak mungkin jika One tidak mengetahuinya.


Ia bahkan menyembunyikan keberadaan Elis dariku. - batin Nala.


Nala berjalan menuju kamar tidurnya. Ntah mengapa semakin lama ia merasa yakin bahwa ia tak dianggap keberadaannya oleh One, padahal selama ini pria itu telah menempati tenpat khusus di hati Nala.


Malam harinya,


"Dad, bolehkah aku meminta sesuatu?" Nala merasa ia harus berbicara dulu dengan Dad Michael mengenai hal ini. Jika berbicara dengan Mom Alexa, sudah pasti Mommynya itu akan menyetujuinya, atau bahkan akan banyak bertanya.


Michael melihat ke arah putri satu satunya itu, "Kamu mau meminta apa, sayang?" Michael melepas kacamatanya, kemudian meletakannya di atas meja.


"Aku ingin kembali ke Massachusetts besok," pinta Nala.


"Bukankah liburanmu masih sekitar dua minggu lagi?" tanya Dad Michael.


"Ya, Dad. Tapi aku ingin segera kembali ke sana karena ingin mencari pekerjaan," jawab Nala.


"Mencari pekerjaan? Untuk apa? Apakah uang bulananmu kurang, sayang?" tanya Dad Michael lagi. Ia khawatir jangan jangan uang bulanan yang ia berikan untuk Nala kurang. Ia juga tahu bahwa kuliah seni dan perfilman pasti memiliki tugas yang tak murah.


Nala tersenyum, "bukan begitu, Dad. Apa yang Dad berikan sangat cukup, bahkan lebih dari cukup. Mommy juga memberikanku tambahan uang jajan, tenang saja," ucap Nala sambil berbisik untuk kalimat terakhir.


Michael tertawa mendengar bisikan putrinya itu.


"Lalu apa yang membuatmu ingin bekerja, sayang?"


"Aku ingin menikmati hidup, Dad. Rasanya akan monoton jika aku hanya kuliah dan pulang. Kemudian setelah lulus, aku bekerja. Aku ingin merasakan bagaimana bekerja saat kulian, mencari orang orang yang tulus berteman denganku tanpa melihat statusku," jawab Nala.


"Apa ada yang tidak tulus padamu? Katakan pada Dad, akan Dad jahit saja hatinya," goda Michael yang spontan membuat Nala tertawa.


Hal ini juga lah yang membuat Nala suka berbicara dengan Dad Michael. Ayahnya itu selalu membawa suasana yang menyenangkan, sementara Mom Alexa akan lebih serius. Tapi anehnya, Mom Alexa akan selalu menurut pada Dad Michael. Jadi, selama Nala telah mendapat persetujuan dari Dad Michael, maka Mom Alexa tak akan bisa merubahnya.


Nala menggelengkan kepalanya, "tidak ada, Dad. Aku juga ingin merasakan kehidupan yang sebenarnya, agar aku menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri."


"Nala sayang, Dad akan setuju atas apapun keputusanmu, asalkan itu tak mengganggu kuliahmu dan membuatmu bahagia. Hanya saja Dad ingin kamu berjanji untuk menjaga dirimu baik baik," nasihat Dad Michael.


"Thank you, Dad," Nala langsung memeluk Dad Michael.


"Satu hal lagi, Dad."


"Apa lagi, sayangku putri cantikku," ucap Michael yang membuat Nala kembali terkekeh.


"Aku tak ingin ada yang mengawasiku," pinta Nala.


"Maksudmu ...," Michael menautkan kedua alisnya, menatap Nala mencari kesungguhan dalam setiap ucapan putrinya itu.


"Ya, Dad. Aku tak ingin lagi memiliki bodyguard. Aku ingin menjadi orang biasa, tanpa orang orang menganggapku seorang manja karena aku adalah putri dari seorang dokter ternama dan pengusaha terkenal," ucap Nala.


"Tapi sayang," Michael seakan tak setuju dengan keputusan putrinya itu. Membiarkan putrinya tanpa pengawasan, rasanya tak mungkin.


"Dad, percayalah padaku. Jika sampai terjadi sesuatu padaku dan menyebabkanku terluka, maka Dad boleh mengurungku di rumah dan aku akan menjalani kuliahku sampai lulus secara online," ucap Nala berusaha meyakinkan Daddynya.


Michael menghela nafasnya, "Baiklah, Daddy akan membicarakan ini dengan Mommymu. Tapi, jangan berangkat terburu buru, Daddy masih merindukanmu."


Nala tersenyum kemudian memeluk Dad Michael lagi. Nyaman sekali rasanya berada di dalam pelukan hangat ayahnya.


Apakah pelukanmu juga akan sehangat ini, Uncle? - batin Nala.


*****


"Aku masih tak yakin, sayang," ucap Alexa.


"Percayalah pada putrimu dan yakinkan dirimu sendiri bahwa ia pasti bisa. Bukankah dulu kamu juga meminta hal itu pada Dad Azka?"


Alexa tertawa kecil saat mengingat betapa pembangkangnya ia dulu, hingga membuat Dad Azka kadang geleng geleng kepala. Tapi untung saja Alexa selalu bisa melindungi dirinya sendiri dengan ilmu bela diri yang dimilikinya.


"Bukankah kamu juga ingin membebaskan One dari tanggung jawabnya selama ini? Inilah saat yang tepat."


"Apa dia sudah tak mencintai One lagi?" tanya Alexa.


Michael menggenggam tangan Alexa dan menatap manik mata istrinya itu, "Aku tidak tahu, sayang. Aku yakin Nala mengerti perasaannya sendiri. Mungkin saja saat ini ia ingin menguji apakah perasaan cintanya pada One adalah sungguh sungguh, atau hanya sebatas rasa sayang pada Uncle nya."


"Kamu benar. Ini adalah saatnya. Aku juga ingin One mencari kebahagiaannya, tanpa terikat dengan Nala terus menerus. Kamu juga melihat bagaimana kedekatan antara One dengan Nine, bukan? Mungkin saja One mencintai Nine, tapi ia tak mampu mengutarakannya karena masih menjalani tanggung jawabnya. Tak mungkin ia harus menjalani hubungan jarak jauh. Jika One kembali ke Jakarta, mereka akan semakin dekat dan mereka bisa menjalin hubungan."


Alexa menghela nafasnya pelan kemudian menatap suaminya, "Kalau begitu aku setuju dengan keputusanmu. Kita akan bicara bersama sama dengan Nala."


"Terima kasih, sayang. Kamu memang istri yang luar biasa dan ibu yang bijaksana bijaksini," puji Michael yang malah membuat Alexa tertawa.


Mereka berdua pun memanggil Nala ke kamar tidur mereka. Tatapan keduanya membuat Nala merasa tenang, pasalnya mereka melihat Nala dengan lembut. Melihat senyuman di wajah Dad Michael, Nala yakin bahwa ayahnya itu telah berhasil meyakinkan Mom Alexa.


"Kamu yakin, sayang?" tanya Alexa lagi.


"Aku yakin, Mom," jawab Nala dengan yakin, bahkan ia melihat manik mata Alexa dengan lurus, tanpa menunduk.


"Baiklah, Mommy pun yakin kamu bisa. Tapi ingat dengan janjimu. Mommy akan langsung membawamu pulang jika kamu terluka."


"Thank you, Mom," Nala langsung memeluk Alexa dan melakukan tos dengan Ayahnya.


*****


One mendapatkan tugas yang agak berat dari Axton. Hal itu membuatnya menghabiskan waktunya di markas Black Alpha. Sesekali ia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah ada panggilan dari Nala, tapi ternyata tidak ada sama sekali.


Sudah hampir seminggu Nala tak menghubunginya dan tak memintanya mengantar ke mana pun, tak seperti dulu yang sedikit sedikit menghubungi One atau pun sekedar mengirimkan pesan.


Saat ini ia berada di Kediaman Michael dan Alexa. Axton beserta keluarganya sedang berlibur ke beberapa kota di Amerika. One sangat senang bisa kembali menginjakkan kakinya di rumah itu karena rasanya sudah lama ia tak bertemu dengan Nala, akibat kesibukannya.


"Tuan, Nyonya," sapa One saat bertemu dengan keduanya di ruang keluarga.


"Duduklah, One," ucap Alexa.


"One, kami tahu kamu mendapat tugas dari Kak Axton. Bukankah kamu harus ke Jakarta untuk mengerjakan semuanya lebih detail?" tanya Alexa yang mengerti apa yang sedang dikerjakan oleh One, sementara Michael hanya diam, tenang, dan mendengarkan.


"Ya, tapi aku bisa mengerjakan semuanya dari sini," jawab One.


Sedari tadi matanya juga sedikit mencuri pandang ke arah kamar tidur Nala. Siapa tahu gadis itu akan keluar dari sana, karena jujur ia merindukannya.


"Kembalilah ke Jakarta dan selesaikan tugasmu, One," perintah Alexa.


"T-tapi Nala."


"Nala yang membebaskanmu. Mulai saat ini, ia akan berdiri di atas kakinya sendiri, untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri."


🧡 🧡 🧡