
Nala telah diizinkan untuk pulang. Mereka langsung menuju ke Kediaman Azka Williams, karena memang semua diharap berkumpul di sana jika datang ke Jakarta.
Sebelumnya, Michael juga membawa Alexa untuk menginap di Kediaman Keluarga Thomas. Mereka juga sudah mengetahui mengenai rencana pernikahan antara One dengan Nala. Sama seperti Keluarga Williams, tak ada hambatan sama sekali untuk mendapatkan persetujuan dari Keluarga Thomas, malah Mom Jane sangat senang mendengarnya.
Mata Nala membulat saat melihat kedatangan Nathan. Tanpa berpikir lagi, ia memutar roda kursinya dan langsung mendekati Nathan.
"Katakan padaku, di mana kamu menyembunyikan Elis? Mengapa kamu melakukannya hah?!" One langsung memegang bahu Nala agar emosi Nala tak meledak ledak karena itu akan berpengaruh pada kepala Nala.
"Na ...," Nathan memegang sebelah tangan Nala yang menggenggam kuat bagian bawah T-shirt berkerah yang ia gunakan.
"Lepaskan aku, Uncle!" ucap Nala saat One terus memegangi dirinya agar tak menggenggam T-shirt Nathan.
"Na, hentikan. Bukankah kamu mau pulih dulu," ucap One.
"Ya, aku memang ingin pulih dan menikah denganmu, Uncle. Tapi ... Aku tak akan menikah jika pendampingku tidak ada di sini," ucap Nala.
"Apa maksudmu, sayang?" tanya Alexa saat mendengar ucapan Nala.
"Nala tak akan menikah kalau bukan Edelweiss yang menjadi pendamping pengantin wanitanya," ucap Nala, kemudian Nala melepaskan tangannya dan pergi ke kamar tidurnya.
One langsung mengikutinya dan membantu Nala mendorong kursi roda yang ia gunakan. Alexa melihat ke arah Nathan dan menatapnya tajam, seakan meminta jawaban dari putranya itu atas pertanyaan Nala.
"Aku istirahat dulu, Dad, Mom, Grandpa, Grandma," Nathan pun naik ke lantai atas menuju kamar tidurnya.
Alexa langsung menatap ke arah Dad Azka yang ia yakini pasti tahu apa yang dilakukan oleh Nathan.
"Dad, katakan padaku, ada apa sebenarnya?" tanya Alexa.
Dad Azka menghela nafasnya pelan, "Tenanglah, Snow. Nathan hanya melindungi Nala. Ia tak ingin Nala bersedih."
"Maksudnya? Apa ada sesuatu terjadi pada Elis?" tanya Alexa yang memang mengenal Edelweiss. Satu satunya sahabat Nala yang pernah diajak ke rumah mereka.
"Dia mengalami kecelakaan hebat bersama kedua orang tuanya di Auckland."
"Ia pindah ke Auckland karena perusahaan kedua orang tuanya bermasalah. Tak mungkin jika ia melanjutkan pendidikan di sana. Jadi mereka mengambil keputusan untuk pindah. Namun baru saja mereka sampai di Auckland, kecelakaan hebat menimpa mobil yang mereka kendarai. Kedua orang tuanya meninggal dan Edelweiss mengalami koma hingga saat ini. Ia tak sadarkan diri dan hanya hidup dengan bantuan alat," jelas Dad Azka.
"Apa ini sabotase?" tanya Alexa yang memang selalu tidak percaya dengan sebuah kebetulan.
"Ya, dan Dad sudah membeli semua saham keluarga mereka di perusahaan mereka masing masing. Dad masih berbaik hati mengijinkan mereka bekerja di sana."
"Siapa mereka?" tanya Alexa yang mulai penasaran dan ingin tahu.
"Fanta."
"Fanta?!" kini terdengar suara Nala. Sejak tadi ia berdiam diri dan mendengarkan semuanya dari balik pilar. Ia bahkan sudah menangis mendengar apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Nala," Michael berdiri dan menghampiri putrinya. Nala tampak sedikit syok dengan apa yang ia dengar.
"Tenang, tarik nafas dalam, buang perlahan. Ulangi lagi," Michael terus meminta putrinya itu untuk tenang.
"Dad, Elis ... Aku, aku ingin bertemu dengannya," pinta Nala.
"Na, bukankah kamu sudah berjanji akan menemuinya jika kamu sudah pulih?" tanya One.
"Ya. Kalau begitu, kita tunda pernikahannya sampai aku bisa bertemu dengan Elis dan memastikan keadaannya."
"T-tapi, Na," One menyugar rambutnya ke belakang karena mulai gelisah.
🧡 🧡 🧡
Maaf ya kalau cuma sedikit, maklum lagi agak sedikit ribet mau pegang hp buat nulis.
Cherry ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin 🙏