
“Ngghh Sean stop!” tangan April berusaha menggapai kepala Sean yang terus mencium punggungnya. Mereka sudah melakukan permainan selama berjam-jam.
April melirik ke arah jam. Sudah jam sepuluh pagi, dia lapar tapi orang dibelakangnya ini terus bergerak memompa dirinya. April hanya bisa membenamkan wajahnya ke bantal. Erghh tapi ini enak.
“Sebentar sayang”
“Ahhhh Sean”
Sean memberikan kecupan disepanjang leher April. Posisi April yang menungging ini membuatnya bergairah. Bokong putih mulus itu sangat menggoda. Sean beralih mengecup bokong April dan terus memberikan tusukannya.
“Ngghh sweetie.... you’re so delicious”
April mencibir, tadi saja bilang tidak mau menjamah tubuhnya karena datar. Lihat sekarang jadi jilat ludah sendiri kan.
Kalau begini terus tubuhnya akan mengering dan rapuh.
“Ohh ahh” April mendesah ketika tubuhnya terus merasakan panas dan gairah padahal cuaca sedang dingin.
Tadi setelah mereka melakukan percintaan pertama kali. April terkejut melihat tirai jendela yang terbuka, dia menyuruh Sean untuk menutupnya. Melihat kesempatan itu, Arpil berusaha untuk kabur tapi tubuhnya langsung diangkat oleh Sean. Dan terjadilah ronde kedua hingga sekarang.
“Enghhh” Sean mengerang nikmat, dia memejamkan matanya dan menghisap kuat leher April. Tangannya juga sibuk meremas dada April.
Lagi. April meraskan pelapasannya yang nikmat itu datang kembali disusul oleh Sean. Dia bisa merasakan cairan hangat Sean memenuhi dirinya. Disinilah akhirnya dia terlentang tak berdaya di ranjang.
Saat Sean hendak mencium bibir April, perut wanita itu berbunyi keras. April sangat malu wajahnya memerah mendengar perut yang tidak bisa diajak berkompromi. Lain kali berbunyilah dengan pelan ya perut, jangan seperti ini.
Melihat Sean yang tertawa lepas, membuat April melamun. Sangat fatal melihat tawa itu. Wajah Sean semakin tampan.
Oh tidak sadarlah April! Dia orang yang harus kau hindari! Dia playboy. April terus menggelengkan kepalanya agar tersadar.
“Ayo kita mandi, setelah itu kita makan” bisik Sean. Dia langsung menggendong April yang tak berdaya menuju kamar mandi. Tapi dirinya lagi-lagi tertipu, mereka tidak hanya mandi disana.
...****************...
Ada sebuah kalimat yang mengatakan makan akan sangat nikmat jika sudah bekerja keras. Itu seratus persen benar, April sangat menjamin kalimat tersebut. Buktinya dia sekarang makan dengan lahap.
“Makanlah perlahan sayang” Sean mengelus lembut rambut April.
James melihat interaksi Sean kepada April. Baru kali ini dia melihat sikap lembut Sean. Dia ingin memberikan trophy kepada April karena berhasil melelehkan gunung es.
Tetapi, James tadi kasihan melihat April. Saat dia mengaantarkan baju ke kamar Sean, April tertidur pulas dan bahunya yang sedikit terbuka itu penuh dengan kemerahan. Juga saat dia berjalan, April berjalan sangat pelan dan seperti menahan sakit. Sean mau menggendongnya, tapi April menolak. Dia bilang malu dilihat orang banyak.
“Barang-barangmu sudah dipindahkan ke kamarku” ucap Sean.
April melotot kepadanya, seenaknya saja ya “Kenapa kau pindahkan?”
“Aku tak bisa jauh darimu dan kau milikku” Sean menyesap kopinya dengan tenang.
April tercengang dengan pernyataan tak berdasar itu. Sejak kapan dia menjadi milik setan gila?! Seenaknya saja menyimpulkan. April tidak mau, bisa remuk badanya nanti. Dia jadi kesal dengan Sean.
Sean mencekal tangannya dan menyeret paksa April. Dia kesusahan mengikuti langkah Sean. Dari belakang April bisa menyimpulkan bahwa pria ini sedang marah. Lebay sekali.
Pintu kamar laknat itu terbuka lagi, Sean mendorongnya untuk masuk. Dia mendekatkan wajahnya.
“Tetap disini dan jangan kemana-mana” setelah itu Sean menutup pintunya, mengambil card access. April emosi dia menggedor-gedor pintu kamar. Tapi tidak ada jawaban apapun. April berusaha untuk tetap tenang. Dia duduk diranjang sambil menatap keluar jendela.
Padahal jadwalnya hari ini adalah bermain ski. Bagaimana caranya keluar dari kamar. April memeriksa barangnya yang sudah ada disana. Tapi ponselnya tidak ada, ck pasti Sean telah mengambilnya. Tiba-tiba dia tersenyum licik.
“Sean itu bodoh ya” gumam April senang. April mengambil ponselnya satu lagi yang ada di dalam saku rahasia ranselnya. Tidak sia-sia dia membeli ransel ini. Siapapun penciptanya semoga kau cepat kaya raya.
Ponsel kesayangannya ini untuk bermain game dan memonton drama korea. April tertawa kencang dalam hati. Dia sempat menyimpan salah satu nomor petugas resort namanya Hans, karena kemarin Carissa meminjam ponselnya yang ini untuk menelpon temannya yang bekerja disini. Dan temannya itu adalah petugas maintenance resort, jadi pasti dia bisa membuka pintu ini dengan kunci cadangan kan.
Beruntungnya April panggilannya dijawab “Hallo...ini Hans kan? temannya Carissa?”
“Iya, ini April bukan?”
April sangat senang mendengarnya “Ya benar sekali, bisa tolong aku tidak?”
“Ya ada perlu apa?”
“Aku terkunci dari dalam kamar atasanku karena ingin mengambil dokumen. Dan ini sangat penting karena sudah ditunggu. Tadi atasanku yang membuka sebentar lalu dia pergi terburu-buru, tidak bisa kembali kesini. Dia orang yang sangat sibuk.. bisakah kau membantu untuk membukakan pintu ini? Kumohon” Kumohon.. kumohon.. April berdoa dalam hati
“Baiklah...berapa nomor kamarmu?” April langsung memberitahukan kepada Hans.
Yes! April berteriak tanpa suara. Astaga dia sangat senang. Tunggu aku ski, kita akan bermain sepuasnya. April sudah bersiap memakai mantel kuningnya juga tak lupa membawa ponsel, passport, juga dompet yang dia letakkan didalam tas kecil. Biarkan barang-barangnya disini, nanti saja memikirkannya.
CLIK
Oh astaga pintunya terbuka “Kau April kan?” tanya Hans. April mengangguk antusias, ditangannya ada kertas hapalan Carissa kebetulan menggunakan map. Termia kasih sahabat. Kau sudah banyak membantu meskipun tidak ada disini.
Secepat kilat April pergi dari sana. Dia sempat mendengar kalau Sean akan melakukan rapat di luar. Jadi April menuju ke wahana ski, wajahnya sangat gembira. Langsung dipakainya peralatan ski itu.
“Aduh..pinggang dan selakanganku masih sakit” rintihnya. Pagi tadi sakitnya melebihi yang sekarang, bagaimana tidak April baru melakukan pertama kali tapi Sean memborbardir dirinya dengan brutal. Setidaknya sakitnya sedikit berkurang, Sean sudah mengoleskan salep ke miliknya dan memberikan obat pereda nyilu. Dia baik jika ada maunya. Ingat itu!
“Woah ini asyik sekali” April sudah puas berfoto dan membuat vidio. Juga ada seorang pria baik hati yang bersedia mengambil vidio untuknya. Dia akan mengirimnya ke Carissa nanti.
April melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore. Saatnya dia makan dan tidur lalu besok hari terakhirnya di sini. Besok dia berencana untuk mengunjungi peternakan sapi.
“Ayo kita ma—“ April terkejut melihat seseorang didepannya.
Itu adalah Sean “kan.. Hai Sean” April menyapa canggung. Bagaimana ini? dia lupa kalau masih menjadi tawanan Sean. Aduh ini pasti karena terlalu asyik bermain ski.
Lagi-lagi Sean menyeret paksa April. Kenapa dia suka sekali menyeret-nyeret orang sih.
......................