Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Barcelona



“Apa? Kenapa kau tertawa?”


Carissa tertawa terbahak-bahak mendengar curahan hati sahabatnya itu. Mereka sedang berada di sebuah cafe.


“Fix kau jatuh cinta kepadanya. Tidak usah mengelak, lagian dia juga sudah menyatakan cinta. Gengsi sekali kau ini”


Di hari weekend ini April menceritakan apa yang dirasakannya saat berada di dekat Sean. Wanita itu bingung dengan semua hal yang baru dia rasakan.


Wajar saja dia jomblo dari lahir! sedangkan Sean itu punya mantan dimana-mana. Ya meskipun pria itu tidak sungguhan berkencan tapi tetap saja dia professional dalam hal pacaran.


“Aku tidak tahu..”


“Ck kau bilang khawatir saat dia sakit, selalu merindukannya, bahagia saat melihat dia senang, jantungmu berdebar belum lagi kau cemburu ketika mantanya berulah. Itu namanya kau jatuh cinta, aduh bodoh sekali”


“Benarkah begitu? apa aku harus menjawab pernyataan cintanya?”


“Emm..sepertinya begitu. Tapi jika kulihat Sean itu sangat terobsesi denganmu yah terlepas dia menyatakan cintanya mungkin kau bisa bantu untuk tenangkan diri jika dia mulai membahayakanmu”


Benar yang dikatakan Carissa, obsesi Sean terhadap dirinya terlalu besar. Terkadang jika dia sedang tidak terkendali tatapannya akan berubah, dan sewaktu-waktu mungkin saja bisa lebih membahayakan.


Sepertinya April yang terjebak disini. Jika dia melarikan diri atau ingin lepas dari pria itu, kemungkinan bahaya akan datang pada dirinya karena Sean tidak akan pernah melepaskannya.


Bagaimana ini? April mulai takut sekarang.


“Sepertinya aku jadi merindukan ibu”


Tatapan sedih itu mengenyuhkan hati Carissa. Dia tahu sahabatnya ini tidak punya keluarga lain, hidupnya sendiri.


“Benar juga, kau sudah lama tidak ke Barcelona kan?”


“Hmm.. apa aku harus menemui ibu”


Jika sedang bingung seperti ini dulu April pasti langsung meminta pendapat ibunya, Helena. Tapi sekarang tidak bisa lagi, sudah lama juga dia tidak mendengarkan nasehat ibunya.


“Pergi saja ke Barcelona, kau kan bisa mengambil cuti secara pacarnya CEO. Ah coba jangan memberitahukan kepada Sean untuk membuktikan kalau pendepatku tentang obsesinya itu benar”


“Percuma saja dia pasti akan melacakku dengan mudah. Password apartemen saja dibobolnya”


Toyoran cantik mendarat mulus di kepala April kegaduhan hadir di cafe itu oleh mereka berdua. Untung sedang sepi.


“Kau bodoh ya! matikan ponselmu maka tidak akan bisa dilacak”


April berpikir sebentar, sepertinya ide yang menarik. Dia ingin melihat pria itu khawatir dan mencarinya, aduh ada apa lagi ini dengan dirinya.


Tiba-tiba Carissa tertawa lagi “Kau tahu? kau pernah mencaci-maki Sean dulu, bahkan kau bersumpah tidak akan mau punya pasangan seperti dia”


“Itukan dulu dan berhenti menggodaku. Awas saja saat kau sedang jatuh cinta nanti”


“Jadi mengakuinya, kalau kau sedang jatuh cinta?”


Ops dia salah bicara. Lebih baik gantik topik pembicaraan.


“Kau tidak mau ikut ke Barcelona?”


“Aku mau. Tapi kau tahu kan aku ini dokter paling diandalkan jadi sedikit susah untuk pergi kecuali urusan pekerjaan”


“Sombong sekali. Kau jaga malam hari ini?”


Carissa mengangguk sambil menyesap smothiesnya. April tersenyum miring.


“Hari ini sepi ya tidak ada pasien”


Toyoran mulus mendarat lagi dikepala April. Itu adalah kalimat seperti mantra yang dilarang diucapkan.


“Mulutnya dijaga. Tapi untungnya ini di cafe” ujar Carissa cemas, April itu hanya tertawa kencang melihat raut wajahnya.


...****************...


Penerbangan menuju Barcelona sedang dipersiapkan. Suara pramugari mulai mengingatkan penumpang untuk memakai sabuk pengaman. American Airline menjadi pilihan April untuk pergi.


Sengaja dia tidak menggunakan akses Raymond Air. Bisa gagal rencananya nanti, bahkan saat dia mengalaskan meminta cuti karena sakit anehnya Bertha mengizinkannya dengan mudah.


Ponselnya juga sudah dinonaktifkan semenjak masih berasa di apartemen. Ternyata ini menyenangkan, pergi tanpa memberitahu Sean.


Pesawat sedang mengudara, April dengan santai duduk dikelas bisnis sambil menonton film.


“Anda mau minum nona?”


April melirik ke arah minuman yang dibawa oleh pramugari. Dia mengambil jus jeruk, sekilas matanya melihat americano disana.


‘Sean suka ice americano’


Bibirnya tersenyum kecut mengingat pria itu, matanya kembali fokus kepada film. Tapi sebuah pikiran melintas dalam benaknya.


Apa Sean akan mencarinya?


Dia khawatir tidak ya?


Bagaimana kalau dia tidak peduli?


Semangatnya langsung turun. Benar juga, dia terlalu percaya diri. Pikiran negatif lainya muncul dikepala April.


Dia takut kalau Sean hanya menjadikannya pelampiasan nafsu. Dia takut kalau pria itu hanya mengatakan omong kosong.


‘Sudahlah. Lihat saja nanti’


April tiba di Barcelona setelah penerbangan selama delapan jam. Sudah lima tahun dia tidak mengunjungi kota ini. Ntah kenapa air matanya berlinang, emosional sekali dirinya ini.


“Aku harus menghubungi Talitha” gumamnya.


Talitha adalah tetanganya di Barcelona. Rumah mereka bersebelahan, wanita itu masih tinggal bersama nenek dan ibunya disana.


April menepuk jidatnya, hampir dia mengaktifkan ponsel. Saat ini tidak ada benda digital apapun yang dia aktifkan. Wanita itu memilih untuk naik taksi menuju rumah lamanya.


Kota Barcelona sudah banyak yang berubah, tapi susana gemerlap malamnya masih sama seperti dulu. Bahkan restoran yang sering dia kunjungi bersama Helena masih buka.


Rumah lama didepannya ini masih sama, April seperti bernostalgia.


Kakinya melangkah ke rumah yang ada disebelahnya, rumah Thalita. Membuka pagarnya, lalu berdiri didepan pintu. Saat hendak membuka, seorang nenek terkejut melihatnya.


“Hai nek, apa kabar?”


Nenek Maria langsung memeluknya erat “Astaga Helena! sudah lama aku tidak bertemu denganmu”


April tertawa mendengarnya, Maria memang memiliki ingatan jangka pendek karena usianya yang sudah sangat tua. Nenek itu sekarang sudah berumur 90 tahun.


“Siapa itu nek? oh astaga!”


Thalita menutup mulutnya tidak percaya dengan orang yang ada dihadapannya ini. Dia juga ikut-ikutan memeluk April.


“Heh! seharusnya kau menghubungiku dulu jangan datang tiba-tiba seperti ini”


“Sengaja biar ada surprise. Ibu dimana?”


“Oh dia sedang ada kunjungan di Madrid. Nanti kita telpon dia. Berapa lama kau akan disini?”


Mereka tidak ada yang berubah, April kagum dengan suasana ini.


“Mungkin sekitar tiga hari”


“Tidak bisakah kau disini lebih lama nak?”


April tersenyum lembut kepada Maria, setidaknya dia bisa hadir disini dan melihat kembali kota tempat dia tumbuh besar.


“Maaf nek nanti pekerjaanku menumpuk kalau aku terlalu lama. Oh iya aku akan tidur dirumah, mereka rutin mengurusunya kan?”


Selama ini selalu ada orang suruhan April untuk menjaga kondisi rumahnya. Dia tidak berniat menjual rumah itu, karena bisa saja suatu saat nanti dia akan kesana bersama keluarga kecilnya. Atau mungkin tinggal lagi disana.


“Mereka selalu mengeceknya, perbaikan juga dilakukan. Tidak perlu khawatir, ayo aku temani kesana”


“Aku ke rumah dulu ya nek, istirahat lah”


“Kesini lagi ya Helena”


Thalita memutar bola matanya, neneknya itu selalu salah menyebut nama April.


“Nek, namanya April”


April hanya tertawa dan menarik Thalita untuk pergi kerumahnya yang terletak bersebelahan. Dia tidak masalah dipanggil Helena oleh Maria, karena setiap kali memberitahukan namanya maka nenek itu tetap memanggilnya Helena.


Pintu rumah April terbuka menampakkan ruang tamu yang bersih tidka berdebu. Foto keluarga juga foto dirinya masih kecilpun masih tertata rapi di tempat aslinya.


“Kalau kau butuh sesuatu panggil aku, istirahatlah dulu kau pasti lelah atau mau makan? dirumahmu tidak ada bahan makanan kau bisa makan dirumahku”


“Tidak aku sudah kenyang, aku mau istirahat saja”


“Oke, panggil aku kalau butuh sesuatu”


“Iya..iya sudah sana kau kan besok kerja”


Setelah mengucapakan selamat malam kepada Thalita. April menyeret koper ke kamarnya, ranjang single size itu masih sama nuansa kamar bewarna pink itu masih terasa hangat dan nyaman. Wanita itu tertidur lelap di kamarnya.


...****************...


Berulang kali Sean menelpon April tapi tetap saja nomornya tidak aktif. Sean yakin kedua ponselnya dinonaktifkan. Ada apa sebenarnya? dia takut terjadi sesuatu kepada April.


James mengetuk pintu kamarnya.


“Masuk”


“Dari hasil pelacakan, malam tadi April menaiki American Airline menuju Barcelona”


Sean memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. Dia sedang berpikir keras kesalahan apa yang telah dia perbuat hingga April tidak memberitahunya pergi ke Barcelona.


Pria itu takut April membencinya lalu pergi meninggalkannya. Ini tidak bisa dibiarkan, secepatnya dia harus mengikat wanita itu dalam sebuah pernikahan.


“Siapkan penerbanganku ke Barcelona sekarang”


“Bagaimana dengan rapatnya pagi ini?”


“Tunda saja”


James tidak heran lagi, memang April lah yang pandai membuat Sean uring-uringan. Dia hanya berharap semoga April cepat menyadari perasaan hatinya.


“... dan suruh mereka mengawasi April disana”


“Baiklah”


Sean bergegas pergi ke bandara untuk menyusul April, kepalanya sangat berdenyut sekarang. Ketakutan dan kekhawatiran menggulung jiwanya, dia bisa gila karena wanita itu.


Ketika dia jatuh sakit juga karena April yang mendiamkannya selama beberapa hari. Pusing dan demam langsung mengahntam dirinya saat itu. Dia juga tidak bisa menyalurkan nafsunya karena April sedang marah.


Menahan mati-matian rasa sakit itu dan menolak antidepresan. Ini semua demi wanitanya seorang.


‘Jangan buat aku menjadi gila, sayang’


Mobilnya melaju cepat di jalanan, hanya butuh beberapa menit untuk tiba di bandara. Tanpa menghiraukan sapaan dari petugas, Sean langsung duduk di pesawat sambil mengecek pesan dari anak buahnya.


Foto April yang sedang makan bersama seorang wanita sedtidaknya membuatnya sedikit tenang. Melihat April yang baik-baik saja itu sudah cukup sekarang.


“Awasi dia terus”


“Baik bos”


Sementara disebuah restoran yang terletak di pusat Kota Barcelona, April dan Thalita sedang makan dan bercerita tentang masa-masa mereka sekolah dulu.


“Deborah sekarang sudah menikah dengan Marcel. Astaga aku tidak menyangka saat melihat foto pernikahan mereka yang begitu akrab”


“Padahal mereka musuhan kan dulu? sering bertengkar juga”


“Ya begitulah namanya jodoh, bisa jadi orang yang sangat kau benci itu adalah pasanganmu seumur hidup” ujar Thalita santai.


April yang mendengarnya tertawa canggung karena dia teringat dengan Sean. Dia dulu sangat benci dengan pria itu, tapi sekarang rindu menyerangnya.


Apakah pria itu mencarinya sekarang?


Pikirannya tentang Sean terhenti saat rasa mual menyerang karena bau amis dari udang yang baru tersaji diatas meja.


“Kenapa? bukannya kau suka udang?”


“Baunya sedikit tidak enak. Apa mereka sudah merubah resepnya?” tangan April masih menutup hidungnya.


Thalita memanggil pelayan restoran meminta agar udang tersebut dibungkus saja untuk take away nanti.


“Sepertinya jetlag mu masih menyerang”


“Iya sepertinya begitu”


Mereka melanjutkan makan dan kembali bercerita. Setelah itu mereka pergi jalan-jalan di Kota Barcelona melihat museum, pergi ke street market juga mengunjungi high school mereka dulu.


Untungnya Thalita mendapatkan izin dari butiknya untuk menemani April. Dia adalah seorang designer yang cukup terkenal di Barcelona dan bekerja untuk butik seniornya.


Tidak terasa hari sudah sore menjelang malam, tapi Thalita dan April masih asik berada di BeBil. Salah satu night market yang ada di Barcelona. Tanpa mengetahui ada seseorang yang terus mengikuti mereka berdua.


......................