
Semua orang yang ada di mansion terkejut melihat aksi Sean sekarang. James hanya menutup matanya tak sanggup melihat.
DOR
Lagi tembakan itu dilepaskan oleh Sean. Para maid yang melihatnya terus berteriak.
April menghentikan langkah kakinya melihat peluru berhasil menembus pohon kayu disampingnya. Dia hanya bisa mematung dan terdiam ketika mendengar bunyi tembakan. Kepalanya tidak ingin menoleh kebelakang.
“Dasar psikopat gila!” April berteriak kencang hingga suaranya nyaris parau. Dia sengaja supaya Sean mendengarnya, memangnya setelah melakukan ini dirinya akan takut dan berhenti untuk kabur. Jangan harap! Selagi masih ada kesempatan kenapa tidak.
DOR
Benar-benat setan! brengsek! psikopat!
Larinya semakin kencang sekarang, tidak ada yang bisa menghentikan. April tidak peduli dengan telapak kakinya berdarah dan tembakan yang terus diluncurkan oleh Sean. Dia akan terus berlari.
“Sayang sekali pelurunya sudah habis”
Mendengar itu James membuka matanya. Dan dia sadar sekaligus bersyukur, April tidak dibunuh.
“Mana mungkin aku membunuh orang yang paling kucintai” Sean melirik ke arah James, sepertinya dia tau apa yang James pikirkan sebelumnya.
Kemudian pria itu masuk kedalam mansion.
April sudah sangat lelah saat ini, perutnya juga sakit karena dipaksa berlari setelah makan. Matanya menoleh kebelakang, tak ada siapapun yang mengejarnya. Baguslah, ia mulai berjalan saja. Beruntungnya April menemukan danau disini. Hari juga sudah mulai gelap.
Jika disini ada danau pasti di sekitarnya ada rumah atau paling tidak cottage, karena April melihat papan kayu bertuliskan fishing.
“Gotcha!” April berteriak girang melihat cottage itu. Lalu dia langsung masuk kedalam, ternyata isi dalamnya sangat terawat. Lingkungan sekitarnya juga bersih, airnya menyala. Kalau begini sebaiknya dirinya istirahat dulu, mandi kemudian mencari makanan jika ada.
“Ugh ternyata sangat perih padahal tadi tidak terasa apapun” April memaksa untuk tetap menyiram kakinya, jika tidak begini bisa terkena infeksi.
Setelah bersih-bersih dan membalut kakinya dengan kain, April menyelimuti dirinya sambil melihat pemandangan diluar sana dari atas ranjang. Hari sudah malam, cahaya bulan menerangi danau. Cottage ini dilengkapi dengan listrik, air, dan makanan. Selain itu, design nya sangat bagus dan kaca lebar tepat di depan ranjang yang menghadap ke danau.
April juga sudah melihat ada cottage seperti ini di sekitarnya, lampunya juga terlihat menyala. Ntah ada orangnya atau tidak tapi dia merasa sedikit lega. Jika nanti ada pemiliknya yang datang kemari, April akan berusaha semaksimal mungkin untuk meminta maaf karena sudah memakai cottagenya tanpa izin.
“Hoam” April menguap dan tertidur.
Karena terlalu banyak bergerak April jadi mengantuk.
“Dia sudah disana?” tanya Sean kepada pengawalnya.
“Iya tuan, di cottage depan danau”
Sean berdiri, keluar dari mansion untuk pergi menyusul April. Cottage itu memang milik keluarganya, saat dirinya masih kecil mereka sering berlibur disini. Tapi semenjak Jessica bercerai dengan Jonathan mereka sudah jarang kesini, karena Emily bilang tidak seru kalau tak ada Sean. Saat itu Sean tidak lagi tinggal di New York.
Meskipun tidak pernah lagi digunakan, tapi cottage tersebut selalu dirawat atas perintah keluarag Raymond. Itulah sebabnya lingkungan sekitarnya asri dan nyaman tidak dikelilingi rumput liar.
Sean masuk kedalam dan melihat April yang membungkus tubuhnya dengan selimut. Wanita itu tertidur pulas bahkan sampai mendengkur halus. Sangat lelah tubuhnya itu. Jadi wajar saja.
Dia membuka pakaian April yang masih memakai pakaiannya kemarin. Dengan telaten Sean membersihkan luka di telapak kakinya kemudian membalut dengan perban. Setelah itu dia ikut bergabung tidur, menyelimuti tubuh mereka berdua.
...****************...
Terbangun dari tidurnya yang nyenyak. April melihat dada bidang tepat di depan matanya. Saat mendongak dirinya refleks menendang perut berotot itu.
Sena terbangun, karena tendangan maut April berhasil membuatnya terjatuh dari ranjang.
“Kau sangat kuat ya” Sean tertawa rendah. Suara serak basahnya menandakan kalau pria itu juga ikut tertidur disini.
“Apa yang kau lakukan disini?!”
“Cottage ini miliku. Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan disini pencuri?”
April melotot kesal kepadanya, dia meninju Sean dengan brutal hingga pria itu telentang di ranjang. Sean menikmati tinjuan April di dada dan perutnya.
Sial tubuhnya yang penuh otot ini sangat keras!
Semua hal yang bisa menyakiti Sean telah dilakukan April seperti meninju, menarik rambut pirangnya dan menggigit kepalanya. Tapi Sean terlihat menikmati ini apalagi matanya tertuju pada suatu hal.
“Kau lihat apa hah?!” April melihat arah pandang Sean yang tertuju kepada dadanya. Astaga di naked. Karena terlalu tersulut emosi, April tidak menyadari pakaiannya sudah dilepas lagi oleh setan gila ini.
“Kenapa kau hobi sekali membuka pakaianku!” April meraih selimut dan membungkus tubuhnya erat-erat. Ini harta yang paling berharga.
Mengangkat bahunya acuh, Sean malah ikut-ikutan membuka pakaiannya.
“Heh gila!” April berteriak sambil menutup mata. Tapi setan gila didepannya itu hanya tertawa renyah. Selimutnya juga dibuka paksa.
April langsung bersingut mundur ke sudut dinding. Seketika dia menyesalinya, seharusnya jangan disudut dinding. Salah pergerakan ini namanya, jika seperti ini binatang buas didepanya semakin senang melihat mangsa yang tersudut.
Sean menarik kaki April, seketika wanita itu sudah berada dibawahnya. Ketika wajah Sean mulai mendekat, April langsung menghentikan bibir itu dengan telapat tanganya.
“Mau apa? Apa yang akan kau lakukan?” April melotot ke arah Sean yang mulai melepas bekapan di bibirnya.
“Menciumu, menggigit, menjilat ah yang terakhir memasukimu dengan liar” Sean berbisik didepan wajah April membuat wanita itu meneguk air liurnya susah payah.
“Aku tidak mau.. menyingkir Sean” April bersusah payah mendorong Sean.
Ciuman liar mendarat di leher April. Wanita itu masih berusaha untuk mendorong Sean. Tapi sialnya tubuh pria itu sangat kuat.
“Aku juga tidak mau menyingkir darimu, jadi terima saja nasibmu sayang” Sean melanjutkan aksinya.
...****************...
“Apa anak itu pernah mengeluh?” tanya Jonathan kepada James. Saat ini dia menelpon sekretaris Sean, karena putranya itu memimpin dua perusahaan sekaligus.
“Tidak tuan, dia melakukan pekerjaannya dengan baik”
“Dia tidak berniat menggabungkan kedua perusahaan?”
“Sepertinya dia belum memikirkan hal tersebut mungkin karena terlalu sibuk”
“Ya, coba katakan nanti kepadanya. Dan kemana pula anak itu? kenapa susah dihubungi ... apa makan malam dengan seorang wanita? tumben sekali playboy satu itu”
James tersedak mendengarnya, dia juga mendengar seperti suara Sammy yang mengejek Sean sedang makan malam.
“Halo james.. Sean sungguhan makan malam dengan wanita? apa kali ini pacar barunya?”
Sial! Ini suara Emily
Keringat dingin membasahi dahi James. Otaknya bepikir keras saat ini, apa yang harus dia katakan. Jelas-jelas Sean mencoba menembak April. Dan disini Emily sangat menyayangi April seperti putri kandungnya sendiri.
“James?”
“Em iya nyonya dia sedang makan malam”
“Sama siapa? dan siapa nama wanita itu”
Emily terdengar sangat antusias. Karena Sean tidak pernah mengajak pacarnya untuk makan malam, dia hanya memberikan uang lalu putus. Jika sampai pergi makan malam itu artinya hubungan kali ini sangat serius.
“Eh aku tidak tau nyonya”
“Rachel namanya Rachel” ucap James cepat.
“Hemm baiklah”
Maafkan aku Sean, situasinya sangat kepepet.
“Hahaha yasudah kalau begitu, aku akan mencoba menghubungi Sean lagi”
Akhirnya percakapan itupun selesai. Setidaknya nyawa James saat ini selamat. Jika dia menyebutkan nama April, maka James seratus persen yakin Emily akan kemari. Ouh membayangkan tatapan Sean yang marah jika itu terjadi membuatnya merinding.
“Rachel? jadi bukan wanita itu yang Sean maksud tadi ya” ucapan Sammy membuat Emily dan Jonathan menoleh. Keduanya memutar bola mata.
“Kalian berdua tampaknya sangat sering membahas wanita”
“Dad, kami sudah besar jadi wajar saja. Tapi kebanyakan aku yang bertanya pada Sean siapa pacarnya”
“Pasti, kau itu sangat ingin tau urusan orang lain” Emily mencibir Sammy.
“Tapi jika sampai makan malam berarti Sean serius dengannya” ucap Jonathan bangga
“Aku tidak setuju dad, Rachel itu sangat matre. James sering cerita kalau Rachel terus meminta uang kepada Sean”
“Tak apa, asalkan dia baik dan setia” Emily tersenyum dan Jonathan mengangguk setuju. Bagi keluarga Raymond uang bukanlah masalah, yang terpenting saling mencintai.
“Tapi aku masih tak setuju” Sammy tetap menolak Sean dan Rachel. Dia pikir Sean akan makan malam bersama wanita yang bernama April itu. Apa dia salah? atau James yanh salah? ntahlah.
...****************...
Sean memang makan malam saat ini. Tepatnya memakan April dengan nikmat.
“Ughh Sean pelan-pelan.. pinggangku masih sakit” April merintih pelan.
Keduanya sedang melakukan percintaan yang panas di malam hari dan ditemani bulan purnama.
“Sebentar sayang ahh”
“Ngghh ah”
“Oh April!” Sean mengerang nikmat setelah mengeluarkan cairannya yang banyak itu kedalam milik April.
April mendesah lega, akhirnya selesai juga.
Tapi, Sean menyeringai kembali. Miliknya sudah membesar lagi didalam sana. Sean memperhatikan wajah April yang sedang mendesah dibawahnya.
“Kita sudah melakukan ini berkali-kali.. ngghh”
“Aku masih kurang” Sean semakin menghentak-hentakkan miliknya didalam sana. Sesekali dia melihat kebawah saat miliknya keluar masuk di milik April yang sangat mulus.
Daddy is calling...
“Sean.. ponselmu berbunyi lagi”
“Ahh.. abaikan sayang”
Daddy is calling...
Dada April bergoyang-goyang karena pergerakkan Sean yang semakin brutal dan cepat.
“Mmmhh oh” April menggelijang nikmat ketika Sean menyusu dan menggigit pucuk dadanya. Tangan April menahan kepala Sean.
“Ahh ah nikmat sekali sweetie” Sean memejamkan mata sambil terus menyusu dan miliknya semakin bergerak cepat.
“Ohh Sean..aku ahh”
Cairan mereka berdua saling membuktikan bahwa percintaan yang berlangsung lama itu masih terasa nikmat.
“Cium..” April meraih wajah Sean, dengan senang hati pria itu menciumnya.
Daddy is calling...
“Mmmhh ah”
“Hmm sayang” Sean terus mencumbu bibir ranum April.
“Aku akan bergerak lagi” Sean tersenyum miring. April melotot ketika merasakan pergerakan Sean kembali.
“Kita sudah melakukannya berkali-kali.. aku sudah sangat lelah” April meninju pelan dada Sean.
“Pegangan yang erat sayang, dan lingkarkan kakimu ke pinggangku.. aku akan melakukannya dengan cepat setelah itu kita tidur hm” Sean berbisik lembut, dia mengambil bantal untuk mengganjal kepala April agar tidak tehantuk ke kepala ranjang yang terbuat dari kayu itu.
April menurut saja, mau menolak juga percuma. Dia sudah sangat lelah sekarang. Setelah ini dia ingin tidur.
“Ahhh”
“Ouhh sayang” Sean mulai bergerak liar lagi.
Daddy is calling...
“Sean. Jawablah panggilan itu siapa tau penting”
Sean berdecak sebal, tapi dia menuruti perintah April. Dan meraih ponselnya yang ada di nakas. Ternyata yang mengganggu mereka dari tadi adalahnya daddynya sendiri.
“Halo Sean, susah sekali menghubungimu”
“Ada apa dad?” pergerakan Sean sedikit melambat, tapi miliknya tetap keluar masuk. Tangan kirinya memegang ponsel untuk menjawab panggilan Jonathan, sedangkan tangan satunya lagi menopang tubuhnya untuk tetap berada di atas April.
“Kapan kau menggabung kan perusahaan? jika kau mengurus keduanya itu akan terlalu berat son”
“Nggh.. nanti saja kita bicarakan dad” Sean terus menggerakkan pinggulnya.
“Baiklah kalau begitu, kau dengan siapa sekarang?”
Sean tak menjawab pertanyaan Jonathan. Dia sedang fokus untuk bergerak semakin cepat demi mencapai kenikmatan untuknya dan April. Kepala April terhentak-hentak untung saja ada bantal. Sean semakin brutal saat ini.
“Son?”
“Ahh ahh!” April tak sengaja mendesah ketika Sean menusuknya dalam. Sean langsung menutup mulut April dengan telapak tangan, dia tidak mau Jonathan mendengar des*ahan seksi wanitanya.
“A-apa.. yang kau lakukan?” Jonathan terkesiap, pasalnya saat ini ponselnya sedang dalam mode loudspeaker. Emily dan Sammy mendengar itu. Mereka juga mendengar suara tepukan daging yang cukup keras.
“Akan ku telpon lagi dad..ngg—“
TUT TUT
Jonathan, Sammy dan Emily masih menatap horor ponsel yang ada di atas meja. Astaga Sean...
......................