Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
My bubu



Kalian tau kan rasanya saat begitu merindukan seseorang?


Sangat menyiksa.


Begitulah keadaan April saat ini, baru ditinggal pergi sehari oleh Sean dia sudah sangat frustasi. Dia ingin menghubunginya lagi, tapi takut nanti malah terkesan mengganggu.


“Aku merindukannya” gumam April.


Hidungnya terus mengendus bau lembut Sean yang masih tertinggal di kemeja hitam.


Selama ini dia tidak pernah merasakan rindu yang begitu kuat kepea seseorang. Kenapa juga harus pria itu yang dia rindukan?


Air mata akhirnya mengalir di pipi lembut April, seharusnya bilang saja pada Sean kalau dia sangat merindukannya. Tapi, selama bercakap melalui telpon dia tidak mau mengatakannya. Terlalu mementingkan ego daripada isi hati kecilnya.


Dia tertidur karena kelelahan menangis sambil memeluk erat kemeja Sean.


Disisi lain, Sean menatap datar kepada seorang pria yang babak belur. Tanganya menyentuh serbuk putih yang ada di atas meja.


Sean menyeringai dan mengisyaratkan anak buahnya untuk berhenti memukul pria malang itu.


“Kau hanya menyeludukan sebanyak ini?” tanyanya.


Pria itu hanya diam sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Setelah mendapatkan kabar bahwa penyeludup telah di tangkap oleh anak buahnya, Sean langsung pergi ke Italia.


Seorang mafia sepertinya berusaha menjatuhkan perusahaan Sean sekarang. Mereka melakukan trik murahan dengan menyeludupkan drug ke salah satu pabrik produksi milik Aprilian Tech di Italia. Jika mereka melakukan ini kemungkinan dia akan dituduh sebagai pengedar utama dan dapat menghancurkan eksistensi perusahaannya.


“Bos, mereka berhasil menangkap Andrew”


“Bawa dia kesini sekarang” perintah Sean dingin.


Mereka berurusan dengan orang yang salah. Sean tak akan jatuh dengan mudah hanya karena masalah sepele seperti ini. Dia dapat mengendalikan kepolisian dan pemerintah dimana pun letak keberadaan perusahaannya.


Hei! dialah penyumbang komoditi terbesar. Tak akan ada manusia yang berani mengganggunya.


“Wah wah wah mantan mafia ternama sudah semakin sukses sekarang”


Pria bernama Andrew itu masuk dengan bangga kedalam gedung. Sean hanya tertawa miring melihat orang yang ada di depannya ini.


“Sedikit sekali yang kau seludupkan” ucap Sean sambil memasukkan peluru kedalam pistol.


“Ah itu karena aku sudah melarat. Sedangkan temanku ini sangat sukses sekarang tapi melupakan temannya yang dulu sering membantu” sindir Andrew.


Ketika masih berada dalam dunia mafia, memang Andrew yang selalu membantu Sean untuk bisa terbiasa dengan dunia bawah.


Tapi, Sean tidak mengikuti jalan Andrew yang mengkhianati Xander. Pria itu juga mulai memiliki ketergantungan dengan drug.


“Well tidak ada pertemanan dalam pengkhianatan” Sean memberikan tembakan acak yang mengarah ke tubuh Andrew.


“Kau masih saja mengerikan” Andrew mengeluarkan pistolnya. Tapi belum sempat dia menembakkan peluru kepada Sean, tangannya sudah tertembak lebih dulu.


“Dan kau masih lambat”


Suara tembakan demi tembakan menggema di dalam gedung. Tapi suara tembakan tersebut semuanya berasal dari pistol Sean. Sedangkan tubuh Andrew nyaris tidak dapat berdiri.


“Aku tak punya waktu mengurus hal sepele seperti ini” ucap Sean.


Tembakan terakhir membuat Andrew tertawa dengan mulut yang bersimbah darah.


“Baguslah aku mati. Oh akan ada kejutan untuk wanita mu” seringai Andrew.


DOR


Mendengar itu membuat amarah Sean memuncak. Tembakan di kepala berhasil membuat Andrew meregang nyawa.


“Alez. Perintahkan yang lain untuk mengawasi April sampai aku tiba disana” Sean bergegas pergi dari gedung.


“Baik bos”


Jantung Sean berdebar, Andrew adalah orang yang tak terduga ntah apa yang akan dilakukannya kepada April. Dia takut terjadi sesuatu kepada wanita itu.


...****************...


April terbangun karena lapar, tadi dia tidak sempat makan malam karena sore tadi sibuk menangis hingga tertidur.


Dia memakai sweater putihnya. Mengambil kunci mobil dan dompet. Berkendara saat malam sepertinya dapat membuat moodnya membaik. Sekalian April mencari makan, dia sedang ingin memakan burrito.


“My bubu, siap berkendara malam ini?” April menatap semangat mobilnya.


Keluar dari pelataran basement apartement dan langsung menuju ke jalanan kota.


Sekarang jalanan hampir sepi karena sudah dini hari. Disekitarnya masih banyak anak muda yang berlalu lalang pergi ke club. Memang besok masih weekday tapi sepertinya club tempat yang tak pernah sepi.


“Kita beli apa lagi ya?” monolog April, dia sudah membeli burrito ditempat langganannya. Wanita itu sedang mencari makanan lain di sepanjang jalan.


April mendadak berhenti karena syok saat melihat seseorang berlari didepan mobilnya. Dia bisa merasakan tumburan yang mengenai orang tersebut. Kakinya melangkah keluar melihat keadaannya.


“Kau tak apa?” tanya April.


“Kaki ku sepertinya tak bisa bergerak” ucap orang itu. Dia adalah seorang pria berkacamata, dengan tatanan rambut yang rapi juga mengenakan kaos polo putih. Tampak normal dan tidak berbahaya.


“Aku akan memanggil ambulan” April bergerak akan menelpon ambulan yang langsung dicegah oleh orang itu.


“Tidak perlu. Disini kau yang salah nona, seharusnya kau langsung membawaku ke rumah sakit” protesnya.


Mulut April menganga mendengar ucapan tak tahu malu itu. Jelas-jelas dia yang berlari tak melihat isyarat lampu hijau. April juga mengendarai mobilnya dengan pelan.


“Maaf, tapi kau yang berlari saat lampu sudah hijau. Tak perlu khawatir aku akan memberimu uang jika itu niatmu” April mulai kesal, kentra sekali apa maksud pria ini.


“Ha semuanya tidak bisa selesai dengan uang. Aku bisa melaporkanmu” pria itu menunjukkan identitas polisinya.


Kepala April mulai pusing. Padahal dia ingin berkendara dengan tenang. Ada saja kelakukan orang yang merugikan dirinya. Dia tidak mau memberikan tumpangan kepasa orang yang sangat mencurigakan ini.


“Dengar kau—“


Pria itu memukul belakang kepala April yang membuatnya jatuh pingsan seketika. Dia sengaja membuat April kesal dan mendekat untuk melihat keadaan kakinya.


Mobilnya di bawah menjauh menuju pinggiran kota.


Setelah sampai di tempat yang sepi, pria itu memeriksa keadaan sekitar. Dia terburu-buru membuka pakaian April yang hanya menyisakan ****** *****. Kamera handphone menghadap mereka berdua dan mulai merekam.


Bibirnya mulai beraksi menghisap leher putih April yang masih belum sadar. Ternyata pria ini berencana membuat adegan bercinta didalam mobil. Dia bahkan membuka seluruh pakaiannya.


Ciumannya semakin turun ke sekitar dada April. Saat ingin membuka ****** ***** wanita itu, lengan atasnya tertembak.


Pria itu merintih kesakitan dan melirik ke arah kaca depan mobil yang berlubang karena tembakan peluru.


“Sial! aku ketahuan” dia mengumpat, langsung mengambil ponsel keluar dari dalam mobil. Berlari dalam keadaan naked menuju semak dan pohon tinggi.


Suara tembakan terus menggelegar sepanjang pelarian. Anak buah Sean terus mengejarnya.


Sean membuka pintu mobil, tangannya terkepal kuat melihat April yang hanya mengenakan ****** *****. Dia akan membunuh orang itu.


...****************...


“Sudah bangun?”


April menoleh kesamping mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Itu suara Sean!


“Sean! aku merindukanmu” April memeluk erat leher Sean. Dia sangat merindukan aroma lembutnya.


Pria itu melepaskan pelukan di lehernya, matanya menatap dingin dan penuh amarah juga obsesi.


Melihat tatapan itu, April takut. Dia tidak pernah melihat Sean menatapnya seperti ini. Ada apa denganya?


Dan sebenarnya ada dimana mereka. Tempat ini penuh dengan mobil rongsokan seperti scrapping. Tempat penghancuran mobil, dirinya juga sudah berada didalam mobil Sean.


“Beraninya kau naked didepan pria lain” ucap Sean dingin. April tidak mengerti dengan ucapan itu. Dia merasa tidak pernah naked dihadapan orang lain.


“Apa maksudmu? aku tidak pernah seperti itu”


“Jika aku telat menyelamatimu maka kau akan menjadi milik pria yang menipumu tadi”


April mengingat apa yang terjadi, sepertinya yang dimaksud oleh Sean adalah pria yang berdebat denganya di jalan. Pria itu sengaja menumburkan dirinya ke mobil April. Apa dia nyaris diperkosa tadi? sepertinya benar begitu.


Tapi, dia sakit hati saat mendengar kalimat Sean.


“Kenapa kau berbicara seperti itu? aku tidak tahu apapun” April menahan tangisnya melihat sikap dingin pria yang dirindukannya ini.


“Dengar. Aku tidak suka milikku disentuh oleh siapapun dan aku tidak suka pengkhianatan” ucap Sean didepan wajah April. Mata biru itu mulai tersulut obesesi yang besar.


“Aku tidak begitu”


Sean menatapnya tajam “Orang yang telah menyentuhmu tadi akan kubunuh”


April menoleh ke arah pandang Sean. Matanya menyipit melihat mobil yang berada di atas penggiling panas. Tunggu dulu! dia kenal mobil itu! Mobil Ford hitam miliknya.


“Sean hentikan”


“Kau ingin melindunginya hah?!” teriakan amarah Sean membuat April menciut takut hingga air matanya mengalir.


“Hentikan! itu mobilku!” April berusaha keluar dari dalam mobil, tapi tak bisa karena dikunci.


Suara mesin semakin kencang, perlahan mesin itu mulai melahap mobil hitam yang didalamnya ada seorang pria yang telah mengganggu April.


“Mobil itu sudah terkontaminasi oleh perbuatan kalian berdua” ucap Sean dingin.


“Sudah kubilang aku tak tahu apapun! kenapa kau keras kepala sekali!”


April menatap nanar kepada mobilnya.


“Hentikan! ku mohon Sean! hentikan!” teriakan April sudah parau. Tapi pria itu masih tidak memperdulikan.


DRETT


Suara berderit dan bunyi mesin yang mulai menggiling semakin kencang. Perlahan seluruh isi mobil itu mulai digiling oleh mesin panas. Semua isinya mencuar dari dalam mobil, pecahan kaca juga mulai bertebaran.


April menangis kencang melihat bubu. Itu adalah hasil jerih payahnya bekerja saat mulai bekerja, mobil pertamanya. Dia bahkan rela tidak makan malam hanya untuk menabung membeli mobilnya. Saat itu dia masih baru bekerja di Raymond Corp.


Dia sangat rajin membersihkan mobilnya, mengganti oli yang terbaik. Selalu mengecek mesin, bahkan saat dia merasa bosan hanya dengan berkeliling dengan mobil itu April sudah sangat senang.


Tapi dalam sekejap mobilnya hancur lebur.


“Buka pintunya!” April masih menangis berusaha membuka pintu. Dia ingin pulang sendiri.


“Kita pulang” Sean menghidupkan mesin mobilnya.


“Aku tidak mau pulang denganmu!” teriak April, dia merebut stir hingga menumbur mobil yang ada didepan mereka. Kepala April terhantuk stir, dia tidak peduli kepalanya yang berdarah dan membuka paksa pintu mobil.


April membanting keras pintu itu, berlari kencang untuk keluar dari tempat penghancuran mobil.


“April!” Sean berlari mengejarnya.


Tapi sialnya langkah kakinya kalah dengan Sean, alhasil dia digendong paksa oleh pria itu untuk kembali masuk kedalam mobil. Sean melajukan mobilnya keluar dari tempat itu.


Mereka tiba di rumah sakit, Sean mengemudikan mobilnya sangat cepat karena khawatir dengan luka di kepala April yang mengeluarkan darah.


“Turun”


“Aku tidak mau”


Sean menarik paksa tangan April untuk keluar dari dalam mobil. Pria itu menyeretnya ke dalam rumah sakit, sekuat tenaga April menahan tarikan Sean.


“Lepaskan. Aku tidak mau! aku mau pulang!” teriakan kencang April membuat semua orang yang ada di parkiran menoleh ke arah mereka berdua.


“Jangan keras kepala. Kau terluka sekarang” Sean mengencangkan rahangnya menahan amarah.


April kembali menangis, air matanya berlinang membasahi pipi mulusnya.


“Aku mau pulang, aku tidak mau bertemu denganmu lagi” ucapnya pelan.


Kalimat pelan yang masih bisa didengar oleh Sean, membuatnya melepaskan tangan April.


Wanita itu menunduk melihat ke bawah masih dengan mata yang terus mengalir. Dia tersedan dan terus mengusap matanya. Pergelangan tangan April terlihat sangat memerah karena genggaman paksa Sean.


Hati Sean sakit melihat keadaan wanitanya, seharusnya dia tidak berbuat sejauh ini.


“Jangan tinggalkan aku.. Maaf kan aku, sayang” Sean berbisik lembut sambil memeluk April.


“Aku mau pulang”


“Kita akan pulang setelah mengobati kepalamu”


Tangan Sean bergerak merapikan rambut April dan mengusap pipinya yang basah karena air mata.


April hanya menurut saat tanganya digenggam lembut oleh Sean menuju rumah sakit. Sekarang dia sudah lelah dan tidak ada tenaga untuk melawan lagi, keinginannya setelah ini yaitu pulang dan tidur.


“Sayang, kau mau makan apa?” tanya Sean.


Mereka sudah berada didalam mobil membelah jalanan malam New York. Setelah mengobati kepalanya, April menurut untuk diantar oleh Sean. Tapi, sepanjang perjalanan wanita itu hanya diam.


Tadinya April sangat merindukan Sean, tapi sekarang rindu itu berubah menjadi kesal dan kecewa. Moodnya benar-benar kacau, dia terus menahan air matanya saat mengingat nasib malang bubunya.


“Aku mau pulang”


Sean menghela nafasnya. Lagi-lagi hanya kalimat itu yang keluar dari mulut April. Dia sudah meminta maaf berulang kali kepada April dan mengatakan sudah memesan mobil yang sama persis. April hanya diam dan tidak menanggapi.


Mobil Sean berhenti di basement apartmen. April langsung keluar dan menuju kedalam apartemennya. Sean yang mengikuti dari belakang hanya bisa diam dan pasrah, dia akui salah karena perbuatannya.


BRAK


Pintu apartemen tertutup kencang. April masuk kedalam tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepada Sean. Dia mengganti password pintunya supaya pria itu tidak bisa masuk lagi.


April kesal dan kecewa. Dia bersusah payah mendapatkan bubu, tapi Sean seenak jidat menghancurkan mobil kesayanganya.


Pria yang hidup bergelimang harta itu mana tahu rasanya menghemat uang untuk membeli sesuatu. Meskipun dia mengatakan sudah mengganti mobilnya, tetap saja tidak ada yang bisa menyamai bubunya.


......................