
April terus mengkompres matanya dengan es batu. Matanya membengkak karena terlalu lama menangis lalu langsung tidur. Selepas kejadian semalam, April masih menangis di apartemen. Terus teringat dengan bubunya.
“Ini terlalu bengkak” gumamnya sambil melihat kaca.
Tanganya mengambil ponsel yang terus bergetar diatas nakas. Semua panggilan tak terjawab berasal dari Sean, pria itu juga mengirim banyak pesan. Tapi tidak ada satu pun yang April lihat. Dia sedang malas melihat wajah Sean.
“Kunci mobil?” April baru menyadari ada sebuah kunci mobil, persis seperti bubunya. Pasti ini ulah Sean, dia benar-benar mengganti mobil April.
Tapi tadi malam April tidak melihat ada kunci itu dinakas. Dia menghelas nafasnya karena Sean membobol apartemennya lagi. Padahal passwordnya sudah diganti.
Wanita itu tidak memperdulikan kunci mobil itu. Dia bergegas pergi pagi hari untuk bekerja. April akan pergi dengan transportasi umum jadi dia harus cepat.
Sebuah mobil hitam terus mengamati apartemen. Seorang wanita yang dia tunggu akhirnya keluar, tapi dia berjalan kaki sepanjang trotoar. Kemudian dia duduk dikursi pemberhentian bus, Sean yang berada didalam mobil hanya bisa diam tidak berkutik.
April sungguh marah sekarang. Bahkan dia tidak
mau menaiki mobil yang baru Sean beli.
Sean tidak melakukan apapun, dia hanya mengamati. Awalnya dia ingin memaksa April untuk naik ke mobilnya tapi saat menyadari mata wanita itu sembab, Sean mengurungkan niatnya. Dia tidak mau April membencinya dan menangis lagi.
Semalam saat April bilang tidak mau bertemu denganya lagi, jantung Sean seperti berhenti. Dia ketakutan April benar-benar akan meninggalkannya. Pria itu telah menyesali perbuatan tadi malam tapi kalau soal orang suruhan Andrew yang mengganggu April, Sean sama sekali tidak menyesal telah membunuhnya.
“Tidak dibalas lagi” Sean menatap nyilu melihat pesan-pesannya yang tidak dibalas. Biasanya wanita itu cepat sekali membalas pesannya. Padahal bukankah dia bilang merindukannya?
Sepertinya wanita itu sangat marah dan kecewa.
...****************...
“Kau habis menangis?”
“Iya, matamu sangat bengkak”
“Benar.. walaupun kau memakai kacamata masih tetap terlihat bengkaknya”
Berbagai macam pertanyaan lainnya meluncur dari mulut rekan kerja April. Dia sudah menduga kalau mereka akan terus bertanya. Siapa yang tidak akan bertanya jika melihat mata yang begitu sembab.
“Ini karena menonton film yang sedih” bohong April.
Mereka semua mengangguk dan duduk kembali di kubikel mereka masing-masing.
April juga duduk didalam kubikelnya mulai menghidupkan komputer lalu melihat beberapa dokumen yang belum dia kerjakan.
“Pacarmu yang membuat kau menangis?” bisik Bertha yang sudah berada di dalam kubikel April.
“Pacar?”
“Ck Sir Raymond, CEO kita”
“Aku tidak pacaran denganya. Dan ini sungguhan karena menonton film” April memalingkan wajahnya yang kesal setelah mendengar nama pria itu.
Melihat wajah kesal April, Bertha akhirnya diam tidak bertanya lagi. Wanita itu kembali kedalam ruangannya.
Selama bekerja April tidak bisa fokus karena perutnya bergejolak mual. Apa karena dia melewatkan makan malamnya? dia hanya makan roti tadi pagi. Untungnya sebentar lagi jam makan siang, Camelia juga mengajak untuk makan bersama. Rekan kerjanya itu sedang berulang tahun jadi dia berencana mentraktir.
“Kita makan dimana?” tanya Bertha.
Camelia menyengir “Kafe perusahaan”
“Pelit sekali, masa hanya kafe perusahaan” ujar Gabriel.
“Hei makanan disana juga enak. Kau harus respect dengan perusahaan kita”
“Biarkan saja, kita hanya perlu mengambil sepuasnya”
Semuanya tertawa mendegar perkatan Millie. Mereka berada didepan pintu lift.
TING
Mereka terkejut ketika melihat CEO yang berada didalam lift itu. Mereka ragu dan segan untuk masuk kedalam. April menolak untuk menatap Sean yang terus memperhatikannya.
“Kalian tidak masuk?” tanya Sean.
Tawa canggung menyelimuti mereka yang terpaksa masuk kedalam. Suasana didalam lift sangat hening. April sengaja memilih tempat paling depan disamping Camelia, dia tidak mau berdekatan dengan Sean yang berada di belakang mereka.
“Anda mau ke lantai berapa Sir?” tanya Gabriel sopan.
“Tidak usah hiraukan aku”
“Baik Sir”
Gabriel memencet tombol lift menuju lantai dasar gedung dimana kafe perusahaan berada. Kemudian semua orang didalam tetap diam, menunggu lift berhenti.
“Kalian akan makan siang?” tanya Sean.
Mata mereka melirik satu sama lain perihal siapa yang akan menjawab pertanyaan ini, sedangkan April tidak menghiraukan mereka. Dia sibuk melihat media sosialnya.
Akhirnya Gabriel yang menjawab “Iya kami semua akan makan siang bersama Sir”
“Dimana?”
“Em di kafe perusahaan lantai dasar”
Sean mengangguk, dia masih menatap April yang terus melihat ponsel. Wanita itu terus menghindari tatapannya.
Setibanya di lantai dasar, mereka langsung keluar dari dalam lift kecuali Sean yang tetap berada disana. Dia tadi berniat mengajak April untuk makan siang bersama tapi melihat wanita itu yang tampaknya masih marah, Sean lagi-lagi mengurungkan niatnya.
“Woah jantungku hampir copot” Camelia menatap ngeri pada lift tadi.
“Kau benar. Aku sampai merinding” Gabriel juga terus menarik nafasnya.
“Tapi, apa kalian sedang bertengkar?” tanya Gabriel pada April yang sedang memilih makanan, wanita itu hanya diam tidak menanggapi.
“Mulutnya ini memang perlu disumpal” Camelia menyuapkan roti besar ke mulut Gabriel. Semuanya memeloti pria itu untuk tidak membahas kehidupan romansa orang lain.
Mereka duduk dengan nyaman di kafe sembari mulai makan siang. Camelia menghampiri mereka dengan wajah bingung.
“Ada apa?” Bertha bertanya karena tidak tahan melihat wajah bingung Camelia.
“Saat aku ingin membayar mereka bilang semuanya sudah dibayar”
Bertha berdehem, dia tahu makanan mereka dibayar oleh siapa. Menyadari kode dari Bertha, Camelia menutup mulutnya berpura-pura tidak tahu. Semua orang dimeja makan mulai paham dengan gerak-gerik keduanya.
“Sampaikan terima kasihku kepadanya April” Gabriel menunjukkan senyuman kapitalisnya.
“Kau benar-benar tidak paham situasi. Dasar bodoh” Daniel yang dari tadi diam saja mulai kesal dengan Gabriel. Anak satu itu memang perlu dilakban, mulutnya persis seperti ember bocor.
April tertawa melihat Daniel yang terus menyuapkan makanan ke dalam mulut Gabriel. Dia juga tahu siapa yang membayar makanan mereka, dan dia tahu kalau Sean terus mengawasinya dari jauh.
Persis seperti penguntit kurang kerjaan.
“Wah benar. Ini kan tidak sah, karena bukan kau yang membayarnya” Daniel kembali menyahut menatap tidak adil kepada Camelia.
“Iya..ya nanti akan kutraktir di tempat lain. Kalian sangat perhitungan”
Makanan gratis merupakan prioritas utama bagi mereka. Jadi jangan di sia-siakan kesempatan ini, setiap ada yang berulang tahun di ruangan mereka maka hal utama yang harus dilakukan adalah mentraktir seluruh rekan kerja diruangan itu.
Jika tidak dilakukan, maka bersiap-siaplah mendengarkan permintaan traktir yang terus menerus diucapkan dari semua rekan. Harus bersabar, tidak ada yang boleh menjadi orang introvert disana. Untungnya mereka adalah rekan kerja yang saling support dan tidak usil dengan kehidupan pribadi masing-masing.
Itulah yang membuat April nyaman kerja disana. Karena lingkungan kerjanya sangat menyenangkan.
...****************...
Seluruh pekerjaan April sudah beres, dia sengaja mengambil lembur supaya bisa diselesaikan dengan cepat pekerjaannya yanh menumpuk.
Wanita itu meregangkan otot tubuhnya, matanya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Malam ini yang lembur hanya dirinya dan Bertha. Sedangkan yang lainnya sudah pulang sore tadi.
DRRTT
Ponselnya bergetar lagi, Sean menelponya terus. Puluhan panggilan itu selalu diabaikan oleh April. Kali ini dia menonaktifkan ponselnya, bikin pusing saja.
“Kau belum pulang?”
“Aku menumpang denganmu ya, antar aku sampai ke apartemen” pinta April.
“Tumben sekali kau tidak bawa mobil” Bertha menatap heran pada April.
“Sedang malas menyetir”
“Yasudah ayo”
April berterima kasih, mengikuti Bertha yang keluar dari ruangan mereka. Keduanya sedang membicarakan tentang gosip selebriti, saat pintu lift terbuka Sean ada didalam lift itu lagi.
“Hello Sir, we meet again” sapa Bertha sopan, sedangkan April hanya diam saja.
Sean mengangguk sedangkan matanya terus fokus kepada April yang berada di depannya. Wanita itu melirik kebelakang, mata mereka bertemu tapi dia langsung memalingkan wajahnya.
Masih menolak untuk menatap dan berbicara dengan Sean. Tapi sekilas April melihat wajah Sean sedikit pucat, tidak seperti biasanya.
Apa pria itu sedang sakit?
Lebih baik abaikan saja. Bertha mengantar April pulang malam itu. Tapi April tahu kalau Sean mengikuti mereka dari belakang, dia hapal betul mobil hitam itu.
Setelah hari itu, April sering melihat Sean berada di dalam lift untuk menemuinya. Tapi setiap pria itu memanggilnya, April selalu mengabaikan dan memasang raut wajah dingin.
Setiap hari pria itu selalu menelpon dan mengirimkan pesan padanya. Beberapa makanan ringan kesukaannya juga selalu dikirimkan ke ruangan kerjanya. Tentu saja rekan kerja April sangat senang, mereka selalu menantikan snack itu tiba.
Tapi hari ini ada yang aneh. Sean tidak menghubunginya lagi ataupun mengirimkan pesan. Pria itu juga sudah tidak terlihat di dalam lift seperti biasanya. Sudah tiga hari April tidak melihatnya.
“Abaikan saja April” gumamnya sendiri.
“Daniel, berikan dokumen ini kepada Sir Raymond”
Perintah dari Bertha itu membuat April menoleh. Apa sebaiknya di melihat Sean sebentar? hanya untuk memastikan.
“Biar aku saja” ucap April, dia langsung mengambil dokumen yang ada ditangan Daniel.
“Oke. Terima kasih April” ucap Daniel senang.
Lift terus bergerak menuju lantai paling atas, di ruangan Sean. Jantungnya berdebar, mereka sudah lama tidak saling berbicara. Lebih tepatnya April yang menolak untuk berbicara dengan Sean.
Sebenarnya April merindukan pria itu. Apalagi belakangan ini dia tidak menghubungi April lagi.
Sean baik-baik saja kan?
TING
Lantai khusus CEO itu terlihat sepi, memang selalu begini karena di lantai itu hanya ada ruangan Sean saja.
April menarik nafasnya sebelum mengetuk pintu. Dia terlalu gugup, ini mengingatkannya saat pertama kali bekerja.
Setelah mengetuk dan membuka pintu, didalam ruangan hanya ada James yang sedang menyusun dokumen.
James menoleh sebentar dan kembali sibuk menyusun dokumen “Ada perlu apa?”
“Aku ingin memberikan dokumen ini kepada Sean”
“Letakkan saja disana, nanti akan kuberikan kepadanya”
April meletakkan dokumen itu diatas meja. Dia menelisik seluruh ruangan, tidak ada tanda kalau Sean ada disini. James juga terlihat sangat sibuk sekarang, matanya terus menatap Ipad dan memeriksa dokumen lalu memberikan beberapa mark di dokumen itu.
“Jika kau bertanya dimana Sean, pria itu di apartemennya. Sudah tiga hari ini dia sakit” ucap James.
Mata April mengerejap pelan, jadi selama ini sia sedang sakit. April sama sekali tidak mengetahui ini. Dia jadi khawatir dengan keadaan Sean.
“Sakit apa? dan seberapa parah?”
“Dia demam tinggi karena pemberhentian obat. Tapi menurutku dokter pribadinya salah mendiagnosa” James terkekeh
“Maksudmu?”
“Kalian bertengkar kan?” selidik James. Tapi April hanya diam saja.
Pasalnya malam itu James tidak menemani saat menangkap pria suruhan Andrew. Dan dia tahu dari anak buah Sean, kalau April menangis saat itu. Ini karena Sean menghancurkan mobil kesayangan April.
“Akan kuberi tahu rahasia dia sekarang...” James mengungkit pembicaraan tentang rahasia Sean waktu itu.
“Sean selalu meminum antidepresan, untuk meredakan sakit kepala karena stres berat akibat terlalu sering memikirkan seseorang. Kau tau siapa penyebabnya?”
April menggeleng pelan. James menunjuk ke arah dirinya.
“Kau yang menyebabkan dia begitu. Dokter menyarankan untuk mengurangi obatnya, tapi jika dikurangi dia mengalami demam tinggi. Kemudian belakangan ini dia tidak minum obatnya lagi, dan menurutku karena kalian sering melakukan itu”
“Melakukan apa?” April masih bingung dengan kalimat James.
“Ck. Jangan berpura-pura bodoh, kalian sering bercinta kan? itulah yang membuat Sean tidak tergantung dengan antidepresan. Tapi karena kalian sedang bertengkar, pasti menjauh satu sama lain dan tidak melakukan itu”
Mendengar perkataan James, wajah April memerah malu.
Apa benar karena itu? tapi yang lebih membuatnya penasaran kenapa Sean meminum antidepresan karena dirinya?
“Dan... Sean sudah terobsesi denganmu sampai sepuluh tahun lamanya. Jika kau melihat suatu ruangan didalam mansionnya yang berada di Madrid, kau akan sangat terkejut”
“Selebihnya kau tanyakan saja pada pacarmu tentang obatnya juga ruangan itu. Ah satu lagi tanyakan juga apa yang dilakukan selama dia berada didalam ruangan itu” James tertawa, lalu meninggalkan April yang masih berada disana.
Jadi Sean sakit karena dirinya?
......................