
“Aku merasa kasihan dengan Tuan Adams”
James dan Sean sedang menuju ke salah satu restoran ini karena Sean yang mendadak menyuruh Tuan Adams, salah satu koleganya untuk langsung melakukan rapat. Sean ingin mengurangi agenda rapatnya, pria itu mau menghabiskan waktu lebih banyak dengan April ketika sudah di Madrid nanti.
“Yang membutuhkan harus datang” Sean tersenyum.
Uh sikap otoriter yang tak dapat dibantah
James takjub melihat orang dingin dan kaku itu tersenyum. Tentu saja, James tidak tau apa yang telah Sean lakukan pagi tadi. Sean mengingat percintaan panasnya dengan April pagi tadi. Meskipun wanita itu berteriak tidak suka atau sakit berkali-kali, tapi dia menikmatinya bahkan mendesah.
“Apa pria itu sudah disana?” tanya Sean. Dia tidak mau membuang waktu, wanitanya menunggu.
“Belum, dia juga masih dalam perjalanan kesana”
“Ck. Suruh dia cepat, aku tidak punya waktu”
James memutar bola matanya, untunglah dirinya ini titisan dewa. Punya sikap yang sabar, penolong dan tidak suka bergibah. Sean pasti sangat bangga memiliki sekretaris sepertinya, mana ada yang mau menghadapi setan pemaksa seperti dia.
Rapat akhirnya bisa diselaikan dengan baik dan tanpa hambatan apapun. Sean terlihat ingin cepat-cepat pergi bahkan dia tidak peduli dengan tawaran Tuan Adams untuk makan bersama. Ini karena dia mendengar laporan dari pengawalnya kalau April sedang bermain ski. Bagaimana wanita itu bisa kabur? untunglah saat ini pemgawal tetap mengawasinya.
“Biarkan aku yang membawa mobilnya” Sean langsung mengambil kunci mobil di tangan supir, dan pergi sendirian melewati James juga supirnya.
“Ya terserah kau saja” James tersenyum datar lalu dia tak sengaja melihat ke arah supir yang juga tersenyum datar. Ternyata nasib mereka sama.
...****************...
Sean langsung menuju resort dan bertanya kepada pengawal dimana April. Ternyata wanita itu sedang asik bermain ski, Sean lega karena wanitanya tidak pergi jauh. Lalu dia mengamati April dari balkon atas.
“Wah dia masih punya energi sampai menggendong anak kecil” Sean tertawa kecil ketika melihat April menggendong seorang anak perempuan dipundaknya, April sepertinya baru mengenal seorang wanita yang membawa bayi kembar.
“Namamu siapa tuan putri?” tanya April, anak kecil itu tertawa senang.
“Namaku Arabella.. oh iya dia saudaraku namanya Arland” Arabella menunjuk kepada Arland yang membuang muka.
“Arland kau tidak boleh bersikap tidak sopan seperti itu!” Arabella berteriak kepada Arland. Anak laki-laki itu hanya mendengus dan pergi dari sana.
“Astaga maafkan Arland ya..dia memang seperti itu anaknya, terlalu cuek” ucap Jeanara, ibu Arabella dan Arland.
April tadi berjumpa dengan seorang anak laki-laki yang tersesat, akhirnya dia bertanya siapa namanya dan di mana dia terakhir kali melihat orang tuanya. Saat itu April langsung memberi tahu petugas resort dan membuat sebuah informasi, maka bertemulah Jeanara dengan April. Jeanara sangat berterima kasih kepada April, pasalnya anak berumur lima tahun itu tak mengucapkan apapun selain memberi informasi kepada April.
“Sepertinya dia tipe pria dingin” ucap April, mereka pun tertawa.
“Oh ya kau disini sedang liburan sendiri saja?”
“Tadinya bersama temanku, tapi dia pulang lebih dulu karena ada alasan tertentu. Kalau kalian?” tanya April, mereka saat ini sedang meminum teh sambil melihat orang-orang yang masih asik bermain.
“Kami menemani orang sibuk”
“Ya?”
“Maksudku, ayah anak-anak.. Tadi malam tiba-tiba dia ditelpon koleganya untuk ke Swiss, ntahlah masalah bisnis. Jadi kami mengikutinya kesini karena anak-anak mendengar ayahnya akan pergi ke Swiss. Mereka pertama kali kesini” ucap Jeanara sambil melihat Arabella dan Arland yang sedang mencoba bermain ski bersama pelatih.
“Mereka pasti sangat bersemangat”
“Tentu.. oh sebentar ya” Jeanara permisi meninggalkan April karena dia harus mengangkat telepon.
Sean mengamati setiap pergerakan April. Wanita itu terlihat sangat menyukai anak-anak, bahkan dia dengan sabar mendekati anak laki-laki yang sangat cuek itu. Sean tertawa melihatnya.
Tak perlu iri dengannya, sayang. Kita akan membuat putra-putri kita sendiri. Aku akan menanamkan benih terbaikku malam nanti. Jangan khawatir.
“April..maafkan aku ya, kami harus pulang sekarang, suami ku sudah menunggu di lobi resort” Jeanara memanggil anak-anaknya.
“Iya tak apa, hari juga sudah sore akan semakin dingin nanti”
“Ehem.. ini untukmu. Terima kasih yang tadi” Arland memberikan tiga buah permen kacang kepada April, lalu dia pergi mendahului mereka.
“Astaga anak itu, begitulah dia sebenarnya sangat perhatian. Kalau begitu kami pergi ya” Jeanara dan April tertawa melihat tingkah lucu Arland.
“Aku lupa, ini kartu namaku jangan sungkan menelpon jika sedang berada di Madrid” Jeanara memberikan kartu namanya kepada April, lalu dia menggendong Arabella pergi terburu-buru sambil melambaikan tangan.
“Sampai jumpa lagi Arabella!” teriak April
“Byee Aunty!”
Yaampun mereka sangat lucu. Jadi pengen punya anak, tapi anak dengan siapa. Nantilah April akan memikirkannya.
Anak dan ibu itu sudah pergi, hari sudah semakin sore. Tetapi, lihatlah wanita yang masih girang bermain ski itu. Sean mendengus melihatnya, tadi pagi wanita itu mengeluh sakit sakit dan sakit. Ntah itu pinggangnya, bahu atau selangkangannya. Tapi sekarang dia malah tertawa dan terlihat segar bugar.
Amarah Sean memuncak ketika melihat April sedang difoto oleh seorang pria. Beraninya! apalagi mereka berdua bersalaman dan tertawa. Ini tidak bisa dibiarkan, Sean lantas turun untuk menemui April.
Aku akan mencongkel bola mata pria itu dan aku akan menghukummu sayang.
Sean menatap garang April yang ada dihadapannya. Wanita itu hanya cengir lebar dan menyapanya. Sean menarik paksa April, menyeretnya. James yang melihat itu hanya bisa menunjukkan wajah kasihannya kepada April.
“James, urus pria tadi. Congkel matanya” ucap Sean emosi. James mengangguk, kalau Sean sudah menyuruh orang lain untuk suatu hal gila berarti ada hal yang lebih penting untuk dia urus.
“Apa! Apa yang kau lakukan?! Dan jangan berjalan terlalu cepat!” April berteriak kesal, semua orang kini menatap kepada mereka.
“Lebay sekali! Lepaskan aku!” April berusaha melepas cengkraman tangan Sean. Sial tenaganya sangat beda jauh.
BRAK
April telentang diranjang karena ulah Sean. Pria itu menutup gorden, mengambil gaun tidurnya lalu dirobek paksa.
“Hentikan!” April mencoba menghentikan tangan Sean yang melepas paksa pakaiannya. Tak disangka pria itu juga merobek pakaian dalamnya. Dia naked sekarang.
“Sean.. ku mohon” April hampir menangis melihat ulah kasar Sean.
Pria itu menyeringai memperlihatkan sisi gelap di wajahnya karena cemburu. Tangan April diikat menggunkan kain yang sudah robek itu ke kepala ranjang. Sean menjilat bibirnya seksi melihat mangsa didepannya.
“Dasar brengsek! lepaskan ini! Jangan bertingkah gila” April meronta-ronta. Tangannya sakit karena berusaha untuk melepaskan diri.
“Ssttt sayang, kau harus tenang. Aku akan memberikan hukuman untuk anak nakal” Sean meletakkan jari telunjuknya di depan bibir April. Karena kesal sekaligus marah, April menggigit kencang jari Sean. Sialannya pria itu malahan mendesah. Sakit jiwa! kalau begini gigi April yang sakit.
“Kau ini kenapa sih ahh” April terkejut, karena jari tengah Sean memasuki miliknya. Menusuk-nusuk perlahan.
“Ya mendesahlah sayang” bisik Sean. Pria itu lalu mengecup dada sintal April dan tangannya terus bergerak disana.
“Ahh kau gila brengsek.. bajingan ahh..keparat ouhh dasar setan ahh!”April terus mendesah sambil mengumpat Sean. Jika tangannya tidak diikat mungkin tinjuan maut akan menghantap wajah tampan itu, kalau kalian menanyakan bagaimana dengan kaki? tentu saja kakinya saat ini sedang gemetar karena gerakan jari Sean di miliknya.
Sean mencumbu bibir ranum yang terus mengumpatnya itu. Ketiga jarinya bergerak semakin cepat, sial ini sangat nikmat. Miliknya sudah berdenyut untuk masuk kesana.
“Kau mengumpat ku dengan sangat kencang. Tapi milikmu mengeluarkan sebanyak ini” Sean menjilat sensual jarinya didepan April yang terengah karena pelepasannya. Sean membuka celananya, miliknya sudah sangat tegang dan besar. April yang melihat itu memejamkan matanya erat-erat.
“Ahh!” April berteriak ketika Sean memasukkan seluruh miliknya secara paksa hingga terbenam sempurna.
“Tidak bisakah kau memasukkannya perlahan brengsek!”
Sean tertawa rendah “Aku tak tahan”
“Ouhh nghh” April menggeleng ketika pergerakan pinggul Sean semakin cepat. Dia benci untuk mengatakan bahwa kegiatan ini sangat enak.
Cukuplah didalam hatinya yang paling dalam untuk berteriak ‘Ohh ini enak sekali Sean’. Dasar kau April wanita munafik.
“Ahh ahh April.. ini sangat sempit sweetie” Sean terus bergerak liar, milik April menghisap miliknya kuat. Sean semakin gila karena tidak bisa bergerak dengan leluasa.
Mereka berdua saling bercumbu, memainkan lidah satu sama lain. Keringat membasahi tubuh kedua anak manusia itu, padahal kamar mereka sudah cukup dingin.
Sean memeras kedua dada April, menghisap pucuknya yang bewarna pink pucat itu secara bergantian tak ingin melewatkan satu pun.
“Ahh bersama sayang”
“Ohh sean!” April mengerang kencang ketika pelepasan itu tiba. Rahimnya bisa merasakan cairan itu mengalir, Sean mengecup ceruk lehernya.
“Cium?” tanya Sean, wajah Sean sudah mendekat karena April selalu meminta ciuman jika sudah pelepasan.
Tangan April menahan wajah Sean yang mendekat “Tunggu dulu.. lepaskan ikatan ini, aku tidak bisa bergerak bebas”
Lihatlah April yang licik, dia sedang mencoba membujuk Sean dengan rengekannya. Dia akan mengikuti kemauan Sean terlebih dahulu, setelah itu dia akan bepikir bagaimana cara untuk pergi dari sini.
Sean melepaskan ikatannya, lalu mencumbu bibir itu mesra. April melingkarkan lengannya di leher Sean.
“Ah! Kenapa dia membesar lagi?” April melotot kepada Sean, bisa dia rasakan milik Sean yang sudah menggembung kembali.
“Aku tak tau, mungkin sudah naluri alamiahnya seperti itu” Sean mengangkat bahunya acuh. Dia kembali mengincar bibir ranum itu lagi.
“Mmhh ahh.. Sean keluarkan dulu, aku mau tidur”
“Tidak mau” Sean cemburut, ciumannya beralih ke dada April. Menyusu dengan hikmat. April memutar bola matanya.
Dasar pria tak tau malu!
April mengangkat paksa wajah Sean dari dadanya. Sean semakin cemberut ketika dada April terlepas dari mulutnya. Mulut Sean kembali menghisap dada April. Kali ini Pria itu menggerakkan pinggulnya perlahan.
“Nggh kau curang sekali.. mulutmu itu seperti vacum cleaner sekarang, dasar psikopat mesum” Sean tersenyum sambil meniup pucuk dada April. Wanitanya terus mengoceh tapi lihatlah tangan mungil itu terus menekan kepalanya untuk terus menyusu.
“Aku akan bergerak liar dan cepat lagi sayang, perisapkan dirimu” Sean mulai menggerakkan pinggulnya liar, April menjerit-jerit karenanya ini lebih liar daripada yang tadi.
“Ohh ohh terlalu ce— ahh!” April sampai menangis sambil mendesah, ini sangat liar. Sean gila!
“Apa kau menyukai anak kecil?”
“Nghh iyahh ouh”
“Kalau begitu mari kita produksi sekarang sayang”
“Bukan produksi bodoh! tapi membuat” April menoyor kepala Sean. Pria itu hanya tertawa, menopang kedua tangannya untuk melihat wajah April yang mendesah ketika dia terus menusuk-nusuk dirinya dibawah sana.
“Wajahmu mesum sekali April.. kau juga mendesah ahhh ouhh ahh” Ejek Sean, Pria itu menyeringai melihat April yang hanya memejamkan wajahnya sambil mendesah. Baguslah wanitanya sedang menikmati dan tak ingin diganggu. Ohh Sean sangat bahagia sekarang, dia tak perlu lagi meminum anti-depresan.
......................