Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Don’t see this



Cahaya matahari menerpa wajah cantik seorang wanita yang sedang tertidur, dia melenguh merasakan cahaya yang menganggunya.


Matanya yang berwarna hitam terbuka “Dimana ini?”


Ketika melihat bercak merah di lenganya barulah tersadar.


“Benar. Aku di kamar Sean” gumam April, menyugar rambutnya dengan malas. Matanya melirik kesamping yang kosong tidak ada Sean disana.


Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tubuhnya lelah dan lesu melayani nafsu buas Sean tadi malam. Jika dingat-ingat lagi tatapan pria itu berbeda tadi malam, dia kenapa ya tadi malam? kenapa sangat kasar dan brutal.


Lebih baik mandi terlebih dahulu supaya lebih segar.


Kaki April turun kebawah menuju dapur setelah mandi dan berganti pakaian. Ada Farah sedang memasukkan buah-buahan ke dalam kulkas.


“Selamat pagi” ya meskipun tidak bisa dikatakan pagi tapi setidaknya menyapa akan lebih baik.


Farah menoleh, wanita paruh baya itu tersenyum “Selamat pagi Nona, anda sudah bangun rupanya. Mau sarapan?”


April mengangguk semangat lalu duduk di bar dapur. Perutnya sudah berbunyi semenjak bangun tadi, akhir-akhir ini dia lebih banyak makan.


Sandwich tuna yang tebal juga sup jagung yang hangat dihidangkan untuknya. Farah juga memberikan buah strawberry. Dia tahu sekali kesukaan April.


“Wah kelihatannya enak sekali. Selamat makan, ah boleh ku tahu namamu?” tanya April.


“Panggil saja Farah, aku maid di mansion ini” ucapnya ramah.


“Baiklah Farah, perkenalkan aku April dan kau bisa panggil April saja tidak usah pakai embel-embel Nona


Ya itu karena Farah lebih tua daripada April. Jadi tidak enak hatu mendengarnya.


“Maaf Nona, itu perintah dari Tuan”


April tersenyum, sepertinya akan percuma saja membujuk Farah. Wanita tua itu terlihat tegas dan taat peraturan.


Karena wangi sarapannya terus menggoda, April mulai memakannya. Rasanya sangat enak, ini dibuat dengan angat baik.


“Omong-omong aku tidak melihat Sean dari tadi”


“Tuan ada rapat pagi ini dan beberapa pekerjaan yang harus diurusnya, sore nanti akan pulang. Nona tidak perlu khawatir”


“Baiklah, terima kasih”


“Sama-sama Nona” ucap Farah, lalu kembali menata buah-buahan di kulkas.


Ada yang menarik perhatian di mansion Sean. Mansion yang sangat mewah dan luas ini sepertinya memiliki sedikit maid. Karena terlihat sangat sepi tidak seperti mansion keluarganya yang berada di New York.


“Apa disini memang memiliki sedikit maid? aku hanya melihat beberapa”


Farah tersenyum “Disini hanya memiliki tiga maid untuk membantu keperluan Tuan”


Tiga? bukankah terlalu sedikit?


“Hanya tiga orang?”


“Kami hanya menyiapkan makan juga merapikan kamar Tuan. Sedangkan untuk tugas pembersihan mansion, akan ada orang yang datang setiap dua kali dalam satu minggu”


“Apa kalian tidak kerepotan?”


“Tidak sama sekali, Tuan pulang hanya untuk tidur dan keperluan lainnya. Dia jarang makan disini”


“Keperluan lainnya itu seperti apa?”


“Bertemu dengan dokter Benjamin, lalu mempersiapkan pekerjaannya selain itu dia lebih sering menghabiskan waktunya di kantor”


Syukurlah Farah tidak tahu tentang galeri lukis.


April mengangguk sambil menghabiskan sarapannya. Pantas saja mansion ini sepi, si pemiliknya saja jarang datang kemari.


...****************...


Sebuah kotak bludru bewarna navy di buka oleh April. Awalnya wanita itu ingin melamar Sean duluan, bahkan dia sudah membeli sepasang gelang yang indah.


Flashback on


“Menurutmu bagaimana kisah temanku itu?”


Thalita berpikir keras kemudian menjentikkan jarinya “Itu namanya jatuh cinta”


“Benarkah? bukan karena hal lain?”


April menceritakan semua yang dirasakannya pada Sean, tetapi dengan menjual nama Carissa sebagai ceritanya.


“Bukan, temanmu itu jatuh cinta. Apa dia takut mengungkapkan cintanya?”


April mengangguk kencang. Dia takut di ejek oleh pria itu.


“Untuk apa takut. Hei bilang kepadanya, tidak masalah wanita yang mengungkapkan cinta duluan”


Benar kata Thalita. Untuk apa takut mengungkapkan cinta duluan, tidak ada hukum sah yang melarang wanita mengaku duluan. Tidak ada!


“Kalau ternyata pria itu hanya bermain-main dengan temanku bagaimana?”


“Tidak mungkin, dilihat dari ceritamu pria itu juga jatuh cinta. Kau bilang dia pria yang tampan, mapan juga loyal?”


“Iya” angguk April.


“Nikahi saja langsung. Sudah ada pria seperti itu didepan mata tunggu apa lagi? juga sepertinya dia sangat setia. Kalau aku jadi temanmu, sudah kuseret dia ke altar”


Ugh April tidak seberani itu. Bisa-bisa sangat malu dia nanti.


Karena perkataan yang sangat dapat mempengaruhi April, jadiah wanita itu berdiri didepan toko perhiasan.


‘Apa yang kau lakukan ha? sudah terpengaruh oleh Thalita?’


Masa bodohlah. April akhirnya masuk kedalam, matanya sibuk mencari perhiasan yang cocok untuk mereka berdua.


Jika dipikir-pikir kenapa ya dia bisa suka kepada setan gila itu? padahlakn sudah banyak tingkahnya yang bikin kesal.


Apalagi sifat psikoat mesumnya itu. Sean juga pernah hampir menembaknya, lalu melemparkan belati, mengurungnya dan satu lagi menghancurkan bubu kesayangannya. Tapi kenapa?!


Mungkin karena dia tampan? atau karena April sudah terbiasa dengan kehadiran pria itu. Ingat ada sebuah kalimat, cinta datang karena terbiasa.


Tapi satu yang April tahu. Saat berada dipelukan Sean, dia merasa sangat nyaman dan hangat.


“Ada yang bisa saya bantu Nona?” ucap seorang pramuniaga.


“Bisa lihat rekomendasi cincin pasangan?”


Pramuniaga itu memperlihatkan sepasang cincin dengan berlian putih yang bentuknya sangat indah, sederhana tapi tampak mewah.


“Ini berapa harganya?”


“40.000 Euro Nona”


April tersenyum elegan padahal dalam hatinya berteriak miskin. Mahal sekali!


Lalu ada lagi sepasang cincin yang memiliki


berlian kubus kecil-kecil menarik perhatian April. Mungkin harganya lebih murah karena berlianya sangat sedikit daripada yang tadi.


“Bagaimana dengan yang ini, berapa harganya?”


“45.000 Euro Nona”


Ow sial!


April memperhtikan etalase paling ujung, disana ada sepasang gelang pasangan bewarna hitam yang ditengah-tengahnya ada berlian kecil bewarna biru. Sedangkan yang satunya berlian kecil bewarna putih.


“Boleh aku lihat sepasang gelang ini?”


Jika dilihat lebih dekat gelangnya memiliki aksen floral disekitar berlian. April melirik label harga yang ada di gelang.


Harganya 25.000 Euro.


Otaknya sedang mengingat berapa sisa uang yang ada di rekeningnya. Dan April belum gajian, malang sekali.


Minggu lalu April secara rutin memberikan donasinya untuk anak-anak Afrika. Juga donasi untuk perempuan tunawisma, donasi untuk anak-anak disabilitas lalu yang terakhir adalah donasi untuk anak panti asuhan yang sering dia kunjungi bersama Carissa.


Dia belum membayar tagihan listrik dan tagihan kartu kreditnya. Dan sekarang uangnya banyak habis untuk jalan-jalan.


Hebat sekali April! Kau wanita yang punya banyak hutang.


Tapi masa bodohlah. Nanti dia akan pikirkan bagaimana cari membayar tagihan itu. Karena dia sangat ingin membeli gelang yang ada didepannya ini.


“Aku akan mengambil gelang ini saja”


Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.


Flashback off


April membuka kopernya dan berganti pakaian. Dia mau menemui Sean di kantor, supaya gelang ini tidak sia-sia.


Dia terus berdebat dengan otak juga hatinya saat mau membeli gelang tersebut. Jadi jangan sampai tidak diberikan. Sean juga sudah melamarnya, gantian kini dia yang melamar.


...****************...


Baru kali ini melihat Aprilian Tech. Perusahaan itu ternyata sangat besar. Banyak showcase produk di lobi depannya.


Seharusnya April menggunakan pakaian yang lebih formal jika ternyata perusahaannya semegah ini. Dia hanya menggunakan pakaian casual. Celana jeans juga sweater tosca dan rambutnya dikucir. April mengenakan sneakers karena lebih nyaman.


“Kenapa dia tidak membalas pesanku?” gumamnya, lalu mengirim pesan lagi.


^^^April Lilian Berwyn^^^


^^^Aku sudah ada di kantormu. Kau dimana sih?^^^


Sepertinya pria itu masih sibuk dengan rapat. James juga tidak membalas pesannya lagi. Untungnya dia diberikan kartu akses masuk oleh Alez dan memberitahukan dimana letak ruangan Sean.


April masih kesal dengan Sean yang tidak mengabarinya saat pergi. Bahkan sampai sekarang pesannya tidak kunjung dibalas, telponnya juga tidak dijawab. Awas saja kalau nanti pria itu minta jatah!


Lantai paling atas adalah tempat ruangan Sean berada. Ada seorang sekretaris wanita didepan ruangan pria itu. April menghampiri meja resepsionis, begitu tiba disana dia ditatap sinis.


Sangat tidak ramah. Beri ulasan bingang satu untuk perusahaan ini!


“Permisi, bisa bertemu dengan Sir Raymond?” tanya April sopan.


“Beliau masih rapat”


Sepertinya pria itu menghadiri beberapa rapat lain. Hari sudah hampir sore tapi masih ada rapat.


“Kira-kira kapan selesainya?”


“Apa kau sudah membuat janji temu? Sir Raymond bukan sembarang orang yang bisa ditemui, apalagi anak remaja sepertimu”


Awalnya April ingin marah dengan nada sinis itu. Tapi saat dia dikatakan anak remaja hatinya berbunga. Padahal umurnya sudah 27 tahun. Apa dia se awet muda itu? maka sekretaris yang tidak sopan ini dimaafkan.


Tanpa menjawab perkataan sekretaris itu, April berbalik hendak pergi dari sana. Dia bertemu dengan seorang wanita seksi kulit kecoklatan dengan rambut pirang, mengenakan dress hitam selutut yang mewah. Wanita itu berbicara sebentar kepada sekretaris tadi memberikan sebuah paper bag, lalu dia langsung masuk ke ruangan Sean.


Hei! Siapa wanita itu?


April mendatangi lagi meja resepsionis itu. Dia berusaha bertanya dengan sopan dan baik.


“Permisi, apa aku boleh menunggu di ruangan Sir Raymond? soalnya ini penting”


“Maaf. Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk, lebih baik kau pergi. Sir Raymond tidak suka bertemu dengan orang asing di ruangannya”


“Tapi tadi wanita itu ma—“


“Dia orang penting. Sudah sana”


“Aku juga orang pen—“


“Heh jangan buat aku pusing ya. Kalau tidak ada janji temu tidak bisa” sekretaris itu lanjut mengetik di komputer.


Oh wanita ini buat kesal. Saking kesalnya, perut April jadi lapar.


Lebih baik pergi makan saja. Daripada emosi tidak jelas, dan mungkin wanita tadi adalah kolega atau klient bisnis Sean. Jadi tidak usah berpikir buruk.


Sesampainya di lantai satu, April mencium bau enak. Kafeteria disini membuat banyak makanan enak yang tersedia dalam bentuk prasmanan, jadi bisa memilih sepuasnya.


Saat ingin mengabari Sean lagi, ponselnya mati “Aduh tidak bawa charger. Makan dulu saja nanti dipikirkan”


“Uh perutku lapar lagi” gumamnya sambil mengantri.


Padahal siang tadi April sudah banyak makan, dia juga sekalian keliling melihat Kota Madrid di siang hari.


Beberapa jenis makanan yang ada dia makan dengan lahap. Tidak perduli dengan tatapan orang-orang padanya. Memangnya kenapa ha? tidak pernah melihat orang makan dengan lahap?! Menyebalkan.


Tapi April tidak marah kepada mereka yang memandang aneh dirinya makan banyak. Karena saat duduk dia mendengar beberapa pegawai berkata seperti ini


‘Dia anak magang baru? wajahnya cantik’


‘Sepertinya mahasiswa yang menghadiri acara seminar di ballroom’


‘Pengunjung dari high school bukan?’


‘Hei anak ini sangat cantik’


Senang sekali mendengarnya!


April semakin percaya diri dengan wajahnya. Ini bukan karena dia pendek ya sehingga dikira anak remaja, tubuhnya cukup tinggi. Tapi memang kalau berdiri disamping Sean dia tenggelam di dada bidangnya. Sean saja yang ketinggian.


Setelah selesai makan dan bersantai, April naik lagi ke lantai atas. Kemungkinan Sean sudah selesai rapat, susah sekali menemui pria itu. Dia tidak mau gagal memberikan gelang hari ini.


April sudah bertekad kuat!


Keberuntungan sepertinya menghampiri sekarang. Tidak ada sekretaris tadi disana. Dia


bisa langsung masuk dan menunggu di ruangan Sean.


“Ahh ohh!”


Saat pintu dibuka sedikit, April mendengar suara wanita yang mendesah kencang didalam. Jantungnya berdetak kencang dan tangannya sangat dingin sekarang.


Dia membuka sedikit lagi pintu itu. Apa yang dia lihat membuat hatinya teremas kencang hingga tanganya gemetar.


“Nghh ahh Sean!!”


Wanita tadi yang bertemu dengannya sedang duduk di atas meja kerja. Hanya mengenakan penutup gunung kembar. Tubuhnya menghadap Sean yang ada duduk disana.


April tidak bisa melihat dengan jelas wajah Sean yang terhadang tubuh wanita itu, karena air matanya yang mulai berlinang. Yang pasti wanita itu membuka lebar pahanya di depan Sean dan terus mendesah, pria itu juga terlihat menundukkan kepalanya.


Kaki April langsung beranjak dari sana. Menekan kencang tombol lift untuk cepat-cepat pergi dari tempat ini. Tidak sanggup melihat semuanya.


Hatinya sangat sakit.


......................