
Kerja keras akan terlihat dari raut wajah wanita yang sedang menatap kesal pada laptopnya.
Tadi pagi April mandi dengan cepat dan berganti pakaian, setelah itu dia sudah bertengger di dalam hangar.
Tentu saja untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia hanya tidur selama empat jam. Setidaknya bisa tidur saja sudah cukup sekarang.
“Wow jam berapa kau datang kesini?”
Gelak tawa itu timbul dari belakang April, suara Thomas. Sandwich disodorkan untuknya. Tidak menolak, yang pasti dimakan karena perut sudah meronta.
“Jam enam pagi”
Tepukan tangan yang meriah dilayangkan untuknya, semua orang menatap kagum kepada kegigihan April. Seorang teknisi mendekati mereka.
“Bukannya jet sudah ditentukan? aku jamin semuanya aman untuk digunakan” teknisi itu memberikan sebotol air minum.
“Iya, tapi tetap harus di periksa kelayakannya. Baru setelah itu bisa uji coba terlebih dahulu”
Teknisi itu mengangguk paham. Dia memberikan semangat, karena sedari kemarin mereka melihat usaha yang telah dilakukannya. Memang sih itukan pekerjaannya.
“Sini aku akan membantumu, kau bisa mengambil data yang lain” Thomas merebut laptop itu.
April benar-benar harus mentrakir pria ini. Tidak enak hati jika hanya mengucapkan kalimat terima kasih.
...****************...
“Sepertinya Nona tetap berada di sana untuk waktu yang cukup lama bersama pria itu”
“Lalu?” tanya Sean dingin.
“Pria itu pulang sekitar tengah malam, dan Nona masih disana hingga jam empat pagi”
Sean mengibaskan tangan untuk menyuruh pergi anak buahnya. Dia tidak punya waktu lagi, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini semua demi rencana bulan madu untuk waktu yang lama bersama April.
Semua jadwal dimajukan demi waktu tersebut, pria itu rela menghabiskan waktunya seharian penuh untuk membayar semua keinginannya itu.
Tapi bukannya berkurang, pekerjaannya semakin menumpuk. Banyak orang yang tidak kompeten di Raymond Corp, sehingga dia meminta kepada pihak sumber daya untuk mengganti mereka dengan tenaga profesional.
Dia sudah merencanakan pernikahan bulan depan nanti. Banyak hal yang harus dilakukan.
“Dia masih tidak membalas pesanku”
Sean menatap tak suka kepada pesan yang hanya dibaca. Kali ini mencoba untuk melakukan panggilan.
“Bisakah kau tidak menelponku terus?”
Diangkat!
“Kenapa? kau tidak suka acara bermesraan mu diganggu?” tanya Sean sinis.
“Aku tidak bersmesraan, disini aku kerja”
“Jauhi dia sekarang”
“Ck, menyebalkan”
Panggilan itu diakhiri sepihak oleh April, terdengar decakkan tidak suka dari mulut wanita itu.
Dentuman keras menghantam meja kerja yang dipukul. Berulang kali Sean memukul kencang meja itu, suaranya terdengar dari luar. Emosinya tidak terkendali jika sudah cemburu. Dalam benaknya April itu hanya miliknya.
Jarinya menekan tombol pesawat telepon dengan tidak sabaran. Ketukan pintu itu tak lama datang, James masuk dan melihat kondisi ruangan yang sudah berantakan.
Sudak di duga Sean pasti mengamuk tadi.
“Beritahu mereka rapat dimajukan sekarang”
James menghela napasnya “Baiklah”
Alasan pria itu memajukan rapatnya adalah supaya dia bisa mengerjakan pekerjaan lain dengan cepat. Setelah itu malamnya bisa pulang dan bertemu April.
Memberikan wanita itu sedikit peringatan. Dia tidak suka jika April membangkang darinya. Apalagi sampai berdekatan dengan pria lain.
Saat mengetahui wanitanya tidur didalam ruangan pria itu, Sean mengumpat kencang. Emosinya naik hingga memenuhi kepala.
“Cepatlah” ucap Sean kesal.
Buru-buru James dan asistennya yang lain mnegikuti. Mereka tidak berani melihat Sean, auranya sekarang sangat dingin dan mengerikan. Rapat kali ini akan tampak seperti film horor yang mencekam.
...****************...
“Tinggal satu hari lagi dan kita menunjukkan kemajuan, datanya sudah hampir selesai” ucap Thomas bangga.
“Kau benar, aku sangat berterima kasih padamu”
Jika tidak dengan bantuan Thomas, pekerjaan ini mungkin akan jauh dari kata selesai. Belum lagi membuat laporan yang memusingkan kepala.
Tadi sebelum Sean menelpon, rasanya ingin menyerah dan mengatakan pada pria itu kalau dia tidak sanggup lagi. Tapi setelah ditelpon niatnya berubah. April ingin menyelesaikan ini dan melemparnya didepan wajah tampan itu, menyebalkan sekali mendengar suara otoriternya.
Dia saja tidak membantu April sekarang, malah mencurigainya yang tidak-tidak. Padahal dia sedang bekerja keras disini, bisa makan sebentar saja sudah merasa senang.
“Setelah ini apa lagi yang akan kau kerjakan?
“Membuat laporan, dan itu adalah hal yang paling membuat pusing kepala” ucap April lesu.
“Aku bisa membantu mu membuatnya”
April menggelengkan kepalanya “Tidak perlu, kau sudah banyak membantuku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, ingat aku ini expertise”
Thomas tertawa lalu mengangguk. Seandainya saja April masih single, dia ingin melamar langsung tanpa basa-basi mengajak berkencan. April adalah sosok wanita yang sempurna menurutnya, dia baik, mandiri, pintar dan sangat cantik.
“Iya Nona expertise, ayo kembali bekerja supaya cepat selesai”
Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya hingga malam menjelang. Dan kali ini wanita itu bertekad untuk menyelesaikan seluruh datanya hari ini.
Hingga tidak terasa sudah jam tiga pagi mereka bisa menyelesaikan semua datanya. Mata wanita itu sudah seperti panda.
“Terima kasih tom, akhirnya kita bisa pulang”
“Jangan sungkan. Kau harus cepat pulang April, matamu terlihat lelah. Apa kau membawa mobil?”
April menggeleng lesu “Tidak, sudah lama aku tidak membawa mobil”
“Kalau begitu aku antar saja sampai kerumah, di jam sekarang bahaya jika menaiki transportasi umum”
“Tidak.. Tidak perlu, aku bisa menelpon temanku”
“Temanmu?” Thomas memiringkan kepalanya bingung.
“Iya, dia biasanya juga pulang jam tiga pagi”
Carissa, itulah orang yang dibicarakan April. Semoga saja wanita itu mengangkat telponnya, biasanya dia pulang dini hari setelah shift malamnya selesai.
“Sungguh tak apa?”
“Iya, kau tidak perlu khawatir. Pulanglah duluan” ucap April.
Melihat kegigihan April yang menolak tumpangannya, hanya bisa membuat Thomas menyerah. Dia tidak mau memaksa.
Pria itu menunggu Carissa bersama April di depan hangar. Dia hanya ingin memastikan, wanita itu pulang dengan orang yang terpercaya.
“Hoi! Cepat masuk, dingin tahu!” teriak Carissa dari dalam mobil.
“Aku duluan ya, sampai nanti” ucap April ramah.
Thomas mengangguk melambaikan tangannya. Syukurlah ternyata teman April adalah wanita dan terlihat baik.
...****************...
Pintu apartemen terbuka, Carissa melepaskan jaketnya dan langsung menuju toilet.
“Minta pembalutmu, rupanya aku haid”
Begitu keluar dari toilet, Carissa membuka laci dan menemukan dua kotak pembalut yang masih utuh.
April melihat pembalut yang masih utuh itu teringat akan sesuatu. Sangat panik memeriksa kalender yang ada diatas nakasnya, sudah dua bulan lebih dia tidak haid lagi.
“Ada apa?” tanya Carissa yang bingung melihat kepanikan itu.
“Tolong periksa aku”
“Kenapa?”
“Kau kan dokter obgyn. Cepat lakukan” April membuka blousenya, menampilkan perut putih.
Raut wajah Carissa berubah mengetahui maksud dari sahabatnya ini. Jangan bilang..
“Berapa lama kau tidak haid? dan seberapa sering kalian melakukannya? tunggu dulu.. bukankah aku sudah memberikanmu obat kontrasepsi? itukan mahal”
Bukan hanya April yang panik, sahabatnya juga ikutan panik. Rentetan pertanyaan ditujukan yang membuatnya sakit kepala sekaligus bingung untuk menjawab.
“Berisik. Cepat periksa”
Carissa mengangguk, tanganya mengambil tas. Sebuah digital pregnancy test diberikan kepada April, tapi wanita itu malah bingung.
“Heh bodoh! perutmu saja masih datar begitu bagaimana aku bisa memeriksanya. Coba pakai ini dulu” Carissa mendorong masuk kedalam kamar mandi.
Kakinya mondar-mandir di depan pintu. Jantungnya berdebar, bagaimana jika sahabatnya itu benar-benar hamil. Kenapa lama sekali cungut satu itu?
Apa dia tidak tahu cara memakainya?
CKLEK
Sebuah senyum simpul membuat bingung. April menghela napas lalu memberikan hasilnya kepada Carissa.
“Besok datang temui aku di rumah sakit, kita periksa bagaimana keadaan janinnya”
Kepala April mengangguk, merebahkan diri di atas ranjang. Tangannya diangkat keatas, cincin berlian yang cantik itu bersinar indah. Di saat seperti ini dia dan Sean sedang berjauhan.
“Kapan kau memberitahu Sean? ini anaknya kan?”
“Tentu saja bodoh! nanti saja aku memberitahunya”
“Kalian bertengkar?”
April mengangguk lagi, pantas saja selama ini dia mudah lelah dan cepat mengantuk. Terkadang kepalanya pusing dan mual saat mencium aroma udang.
“Berapa usia janin ku?”
“Aku tak tahu, yang pasti kau sedang hamil muda”
Isak tangis tiba-tiba terdengar, Carissa menoleh kesamping. Air mata berderai turun membasahi pipi. Dia memeluk sahabatnya yang menangis tersedu itu.
“Kau pasti tidak menyangka kalau aku hamil duluan”
Tawa renyah datang dari keduanya, Carissa ikut menangis. Memang dia terkadang akan menangis jika melihat orang lain sedang menangis.
“Tapi kenapa kau menangis? tidak menginginkan janin ini?”
“Bukan, hanya saja aku tidak tahu.. rasanya bingung, takut sekaligus senang menyelimuti diriku”
“Kau harus memberitahu Sean secepatnya, bukankah dia bilang mau menikahimu?”
“Iya dia bilang begitu, dan sebelum pulang ke New York katanya mau mempersiapkan pernikahan. Tapi dia belum mengatakan apapun kepadaku tentang pernikahan. Bagaimana kalau dia berubah pikiran?”
Ketakutan menyelimuti April saat ini, dia takut kalau Sean tidak mengharapkan bayi yang ada didalam kandungannya sekarang. Bagaimana kalau pria itu marah besar?
Situasi ini sungguh diluar dugaannya.
“Tidak akan.. percaya padaku dia itu tergila-gila padamu, yang membuatku penasaran sebenarnya sudah berapa lama kau tidak haid”
April mengingat-ingat dengan ragu “Dua bulan atau tiga bulan? ntahlah”
Jentikkan keras didahinya mengakibatkan kegaduhan didalam kamar itu.
“Bodoh.. masa kau tidak menyadari selama itu? aku saja kalau lewat satu bulan tidak haid sudah panik, padahal tidak bercinta dengan siapapun. Nah kau! sudah tidak pakai pengaman, obatku pun disia-siakan lalu pelupa, lengkap sudah hidupmu”
Ocehan itu hanya diberikan anggukkan oleh April. Benar apa yang dikatakan Carissa, dia telah ceroboh melupakan hal penting itu. Tapi alasan kenapa dia bisa lupa dengan haidnya adalah dirinya dan Sean hampir setiap hari bercinta.
Saking lelahnya hal apapun pasti akan lewat saja didalam otak cantik itu.
Yang pasti dia besok harus ke rumah sakit dan memeriksa secara menyeluruh.
......................