Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Emosional



“Hai Rachel, bertemu lagi denganmu. Tetap saja kau tidak bisa masuk ke ruangan”


Wanita berambut pirang yang dipanggil Rachel itu tersenyum miring. Sebuah paper bag yang berisikan tas branded mahal diberikan kepada sekretaris wanita didepannya ini.


“Ambil saja tidak usah cemas. Aku akan bertanggung jawab semuanya, hanya biarkan aku masuk kedalam”


Rachel tersenyum menang saat wanita itu mengangguk dan lansung mengambil paper bag tanpa ragu. Mudah sekali ya! tahu begitu dari dulu seperti ini.


Begitu masuk kedalam ruangan, aroma parfum Sean yang masih tertinggal disana dihirup rakus oleh Rachel.


Dia tidak terima diputuskan sebelah pihak melalui sekretarisnya. Apa-apaan itu?!


Jangan lupakan kalau dia adalah anak dari pemilik kapal pesiar wisata yang kaya. Rachel tidak berniat putus dengan Sean, dia ingin menikah dengan pria yang sangat kaya raya itu. Hidupnya akan bergelimang harta dan pastinya bisa mencicipi tubuh seksi yang di inginkan oleh setiap wanita.


“Aku akan menunggu disini” gumamnya.


Suara pintu terbuka membuat kepalanya menoleh. Ugh dia sudah beredenyut melihat Sean.


“Keluar dari ruanganku” ucap Sean sinis, duduk di kursi kerjanya. Pria itu melonggarkan dasinya dan terlihat sangat gelisah sambil terus menatap ponselnya.


Rachel tersenyum licik, membuka dress hitamnya juga yang menutupi intinya. Membuang sembarang heels itu lalu duduk di meja kerja Sean.


Pria itu mengangkat alisnya melihat wanita yang ada didepannya ini.


“Ahh ohh!” Rachel mendesah kencang, membuka lebar pahanya.


Menghadapkan inti kedepan wajah tampan. Terus bergerak sendiri membuka tutup paha.


“Nghh ahh Sean!”


Wanita itu beaksi sendiri. Dia tersenyum miring karena yakin pria didepannya ini akan tergoda. Tidak ada pria yang menolak dirinya, apalagi diperlihatkan seperti sekarang.


Sean hanya diam memandang jijik. Dia sama sekali tidak tergoda, batang saja terkulai lesu tidak seperti saat dengan April.


Pria itu mengambil pistol yang ada di laci bawah mejanya. Menegakkak tubuhnya yang tinggi, sebuah pistol ditodongkan ke pelipis Rachel.


“Kau sungguh cari mati ya” sinisnya, tatapan Sean sangat mengerikan.


DOR


Wanita berambut pirang itu terkulai di atas meja kerja.


Sean menatap tidak acuh kepada Rachel. Dia menelpon seseorang, sambil berjalan keluar dari ruangannya.


“Bereskan mayatnya. Dan berikan orang tuanya uang” ucap Sean dingin melalui ponsel.


Keluarga Rachel tidak akan peduli dengan kematiannya. Karena mereka semua hanya peduli dengan uang. Mereka tidak mau berurusan dengan Sean Atreo Raymond.


Sementara itu Alez terus mencari keberadaan April di dalam gedung. Dia yang mengantarnya tadi, bahkan April menyuruhnya untuk menunggu. Ponsel wanita itu tidak aktif, mereka jadi kalang kabut karena Sean yang marah-marah.


Kemana sebenarnya wanita itu?


...****************...


Hari sudah menjelang malam. Tapi April masih berada didalam taksi sambil menangis. Sinar senja seperti mengejek dirinya yang sembab dengan air mata.


“Maaf jika mengaggumu, kita akan kemana?” tanya supir taksi itu. Dia sedikit tidak enak hati melihat April yang terus menangis. Tapi dia juga bingung karena sejak April masuk kedalam taksi sudah menangis dan tidak memberikan tujuannya yang pasti.


“Maaf.. ke air mancur saja” ucap April tidak jelas. Dia mengatakannya sambil tersedan.


“Emm kalau begitu Plaza de Neptune saja” supir taksi itu dengan cepat memutuskan, karena wanita dibelakangnya ini benar-benar tidak tahu mau kemana.


Ketika sudah turun dari taksi April tanpa sadar melangkahkan kakinya ke restoran yang ada di dekat air pancur. Dia sudah lapar lagi padahal sore tadi sudah makan banyak.


Menyedihkan sekali hidupnya ini.


Wangi steak langsung menguar meskipun masih berdiri didepan pintu. Orang-orang sedang ramai makan didalam. April melihat-lihat menunya, tapi harganya terlalu mahal.


Dia kembali mengingat-ingat sisa saldo juga uang yang ada disakunya.


“Tidak cukup” gumanya.


Kalau dia memaksa untuk makan disini, maka siap-siap selama seminggu kedapan akan kesusahan bertahan hidup hingga menunggu gajian datang.


Matanya melirik orang didalam yang sedang makan steak, dia terus meneguk liurnya.


April memutuskan untuk makan. Iman dia tergoda untuk menyantap steak itu. Kakinya masuk kedalam restoran dengan percaya diri lalu memesan.


Sepiring steak yang menggugah selera akhirnya hadir didepan April. Matanya menatap semrigah, langsung memotong daging yang lembut itu.


“Pantas saja harganya mahal” ucap April mengangguk puas. Rasanya sangat enak dan lembut.


Seketika dia lupa dengan kejadian yang membuatnya sedih sore tadi. Mulut wanita itu terus mengunyah daging dan bersenandung senang hingga makanannya habis tanpa sisa.


“Ini ponsel anda, Nona” ucap pelayan yang memberikan ponsel April yang sudah di isi daya.


“Mari ikut saya” pelayan itu menuntun April untuk membayar. Itulah alasan dia meminta tolong di isikan daya ponselnya, supaya bisa membayar karena uang cashnya sekarang tidak cukup.


“Ini wine gratis untuk anda dari chef kami”


Seorang pelayan lainnya memberikan sebotol wine kepada April. Tangannya dipaksa secara lembut untuk mengambil wine itu.


“Terima kasih” ucap April canggung. Beruntung sekali dia.


Bunyi air mancur menarik perhatian. Wanita itu tertarik untuk melihat lebih dekat.


Cantik sekali, ada beberapa orang yang sedang berfoto di dekat air pancur. Saat melihat sepasang kekasih yang sedang berfoto, April teringat dengan Sean. Mereka belum pernah foto berdua, air matanya kembali jatuh.


Tapi kemudian suasana hatinya berubah saat mengingat kejadian tadi. Kakinya melangkah ke air mancur lebih dekat membuka tas kecilnya, mengeluarkan kotak bludru.


“Brengsek! penipu!” teriak April, gelang yang ada didalam kotak itu dia lempar ke kolam air mancur.


Bersusah payah mencoba membuka winenya. Menggunakan gigi dan segala macam. Malam ini dia ingin minum hingga mabuk dan melupakan si psikopat mesum.


“Boleh aku bantu membukanya?” seorang wanita tersenyum. Dia memegang pembuka botol wine.


Itu wanita yang berfoto bersama kekasihnya. Mereka berdua sedang minum wine sambil menikmati malam. Air mata April jatuh lagi, dia belum pernah minum wine bersama Sean apalagi di malam hari.


“Ini” ucap April memberikan botol winenya.


Sentimental sekali dirinya sekarang.


“Selamat menikmati malamu, jangan terlalu bersedih” ucap wanita itu, memeluk April sekilas dan memberikan sekotak macaron.


Pacar wanita itu juga tersenyum kepada April memberikan semangat untuknya. Lalu mereka berdua pergi sambil berpelukan.


Air mata jatuh lagi melihat mereka, April rindu memeluk Sean.


Dia meminum winenya sambil menangis. Malang sekali hidupnya, belum pernah merasakan pacaran sekalinya merasakan sudah dikhianati habis-habisan.


“Dasar psikopat mesum!”


April berteriak sepuasnya tidak peduli dengan orang-orang yang melihat. Dia ingin melepaskan amarahnya dengan berteriak.


...****************...


Sean terus menatap ponsel, sambil menyetir pelan mengelilingi Kota Madrid. Dia sedang mencari April, wanita itu sudah dipastikan tidak ada lagi didalam gedung. Karena seluruh anak buahnya sudah mencari disetiap sudut gedung.


Pagi tadi dia tidak tega membangunkan April yang sangat nyenyak. Juga terburu-buru untuk datang ke rapat pemegang saham. Dia hanya memberitahukan kepada Farah untuk menyiapkan kebutuhan April.


“Sayang.. kau kemana?” gumamnya cemas.


Setelah selesai rapat pemegang saham, Sean melanjutkan rapat untuk evaluasi bisnis. Dan keduanya berlangsung lama. Dia melupakan ponsel pribadinya yang masih berada didalam ruangan. Barulah saat selesai rapat James memberitahukan kalau April ada di kantornya.


Titik merah yang ada di ponsel kembali menyala. Sean menghentikan mobilnya. Plaza de Neptune, tepat saat itu Alez menelponya.


“Tuan, Nona berada di Asador Reasturant. Lokasinya ada didekat Plaza de Neptune”


Benar. Pelacaknya juga menunjukkan lokasi yang sama dengan apa yang dikatakan Alez.


Sean langsung menuju lokasi, menyuruh anak buahnya untuk tetap mengawasi April disana.


Sedangkan April terus mengoceh didepan air mancur, dia membaca tempelan kertas yang ada di botol wine.


‘Tetap semangat Nona!!!’


Pasti chef tadi yang menulis, mungkin dia melihat wajahnya yang sembab dan mata bengkak karena menangis. Pantas aja orang-orang perhatian dengannya.


“Ini semua gara-gara setan gila itu”


Emosinya berganti menjadi panik saat melihat botol wine. Uangnya sudah habis untuk makan disana juga membeli gelang pasangan. Kalau begini dia tidak bisa hidup di New York setelah kembali dirumah.


Gelang tadi kenapa dibuang! Harganya mahal.


April mencelupkan dirinya ke kolam air mancur yang tinggi airnya hanya sebatas paha. Tubuhnya terus menunduk, tangan sibuk mencari gelang.


Karena belum kunjung ketemu, wanita itu duduk sebentar di pinggir kolam. Haus melandanya, terpaksa dia meneguk lagi wine. Lalu melanjutkan pencarian berharganya.


“Dapat!” April mengangkat tinggi tangannya. Meskipun hanya dapat punya Sean tapi hatinya sangat senang bisa menemukan gelang itu, tapi dia mulai linglung.


Suara yang sangat familiar memanggil namanya kencang. April menyipitkan matanya, kakinya terus melangkah untuk melihat siapa yang memanggil.


BYUR


Air pancur membasahi dirinya karena terlalu dekat dengan semprotan itu.


......................