
April sangat gelisah memikirkan bagaimana keadaan Sean sekarang. Terlalu gengsi untuk menelponnya.
Antara hati dan logikanya tidak berbanding lurus. Keduanya mengatakan pendapat yang berbeda. Logikanya berkata kalau Sean pasti baik-baik saja jadi tidak pelu dijenguk. Tapi, hatinya berkata sebaliknya dia harus menjenguk Sean khawatir dengan keadaannya.
‘Akh aku tidak tahu.. aku pusing’
Wanita itu memilih untuk pergi membeli kopi di lantai dasar. Hari ini pun Sean tidak menghubunginya. Berulang kali April mengecek ponsel tapi tidak ada satupun panggilan atau pesan.
Saat pintu lift terbuka ada James disana. April masuk dan menatap heran kepada pria itu.
“Ah Sean menyuruhku melihat keadaanmu. Sepertinya kau baik-baik saja” James mengangguk puas. Dia mengetik sesuatu di ponsel melaporkan kepada Sean.
Hati April menghangat karena Sean masih khawatir dengan keadaannya daripada dirinya sendiri. Bodoh sekali setan satu itu! Seharusnya dia mengkhawatirkan dirinya terlebih dahulu, apalagi sedang dalam kondisi demam tinggi. April jadi sedih mengingatnya.
“Dia masih sakit?” April bertanya tanpa menoleh ke arah James.
“Ya begitulah, dia sangat keras kepala. Keluarganya menyuruh untuk tinggal di mansion saja selama sakit, tapi selalu ditolak dan memilih untuk sendirian di apartemen”
Oh sungguh April khawatir. Dia pikir Sean tidak akan sendirian.
Ugh dasar setan keras kepala
“Tapi kau tidak perlu khawatir. Sammy berhasil menyeretnya ke mansion atas perintah Emily”
“Dia masih di mansion sekarang?”
“Tentu. Kau mau menjenguknya ya?” James menggoda April yang hanya diam saja. Tapi dia bisa melihat pipi wanita itu yang memerah malu.
TING
Pintu lift terbuka di lantai dasar tapi April tidak kunjung turun. James mengedikkan bahunya dan keluar dari dalam lift.
Wanita itu menekan kembali tombol ke ruangannya. Dia memilih untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang dan menjenguk Sean.
Tangannya bergerak menelpon Emily. Ingin memastikan apa Sean benar berada di mansion.
“Hallo April, ada apa?”
“Ya Emily.. emm apa Sean ada disana? bagaimana kondisinya? dia baik-baik saja kan?”
Emily tertawa di ujung telpon mendengar rentetan pertanyaan dari April yang terdengar sangat khawatir.
“Iya dia ada di mansion, demamnya belum turun sampai sekarang”
“Begitu ya...”
“Kemarilah April, kau bisa menjenguknya” Emily berujar lembut.
...****************...
“Hai Emily”
April memutuskan untuk pergi ke mansion keluarga Raymond setelah pulang kerja. Ntahlah dirinya khawatir dengan keadaan pria itu. Hatinya gelisah, setelah berdebat antara hati dan logikanya April memilih untuk mengikuti keputusan hatinya.
“Oh hai April, kau sudah datang” Emily tersenyum girang.
“Lama tidak berjumpa April” Jonathan yang sedang menuruni tangga menyapanya ramah.
“Iya, senang bertemu denganmu” April menyalami Jonathan, pria itu tersenyum hangat melihatnya.
“Kamarnya di atas, anak itu sungguh keras kepala coba kau membujuknya untuk tetap disini. Kami kasian jika membiarkannya sendirian di apartemen” ucap Jonathan.
Saat mengetahui Sean sedang demam tinggi, Jonathan dan Emily menghampirinya yang berada di apartemen. Dokter mengatakan ini kondisi yang normal saat seseorang berhenti meminum suatu obat yang rutin. Mereka sempat terkejut karena tidak tahu kalau anaknya itu ketergantungan dengan obat. Dan untungnya tidak membahayakan tubuhnya.
Demam tinggi yang melanda Sean sudah berlangsung selama tiga hari lebih yang membuat Emily sangat cemas. Dia meminta kepada Jonathan untuk memindahkan Sean ke mansion saja agar ada yang merawatnya.
Sean yang keras kepala tidak mau ke mansion akhirnya dengan paksaan Sammy, pria itu mau kesana. Tapi katanya hanya untuk satu hari saja, setelah itu dia mau kembali ke apartemen.
“Kau mau merawat anak keras kepala itu kan?” tanya Emily.
“Ya? aku?” April tertawa canggung, niatnya hanya ingin menjenguk tidak lebih.
“Kumohon.. dia pasti mau menurut kalau denganmu” tatapan memohon Emily membuat April tidak enak jika menolak. Dia menganggukkan kepala, Emily tersenyum senang melihatnya.
Pintu kamar terbuka, Sean sepertinya suka dengan warna hitam dan grey. Kamar ini juga dominan memiliki warna kesukaannya itu, sama seperti di apartemen.
“Mom, aku akan pulang ke apartemen hari ini” Sean sedang memakai kaos hitamnya, tangan pria itu bergerak mengambil ponsel saat berdiri dari ranjang dia melihat April dihadapannya.
“Hai Sean” sapa April canggung. Mereka sudah lama tidak saling bicara. Sean masih terus menatapnya.
“Ehem. Kalau begitu aku kebawah dulu, tolong rawat dia ya April” Emily terkekeh melihat dua anak manusia yang canggung itu, dia pergi dari kamar dan menutup pintunya.
Setelah insiden penghancuran mobil, mereka tidak sehangat dulu. Ini karena April saat itu menangis sambil mengatakan tidak mau menemuinya. Saat itu April sangat marah, membuat Sean takut wanitanya benar-benar akan membencinya. Jadi dia membiarkan April sendiri dulu untuk lebih tenang.
Sean tidak menyangka orang yang dia rindukan hadir dihadapannya sekarang.
“Kau baik-baik saja?” tanya April. Suasana ini sangat canggung, belum lagi Sean yang hanya diam dan menatapnya.
“Aku kemari untuk mpphh” ucapan April terpotong karena bibirnya dibungkam oleh bibir Sean.
Pria itu mencium bibirnya rakus. Menghisap bibir bawah April dan lidah basah itu menelusuri seluruh mulutnya. Suara kecupan sangat terdengar didalam kamar.
Sean mengangkat tubuh April, menggendongnya menuju ranjang tanpa melepas ciuman mereka. Punggung wanita itu menyentuh ranjang yang lembut. Saat ciuman mereka terlepas, bibir keduanya sangat bengkak memerah dan basah.
April menyentuh wajah Sean yang berada di atasnya “Sean badanmu panas sekali”
“Hmm” Sean tidak peduli, bibirnya asik mencium leher April, menghisap dan menggigit leher putih mulus itu.
“Ck. Sean!” April menarik paksa wajah Sean dari lehernya. Tanganya memaksa pria itu untuk berbaring, dan Sean menurutinya. Memperhatikan gerakan yang memeriksa kondisi suhu tubuhnya.
April ingin beranjak dari ranjang tapi tangan ditahan oleh Sean.
“Mau kemana?” tanya Sean.
“Tidak usah, kau disini saja”
Mendengar rengekan Sean itu membuat April tertawa, gemas sekali melihatnya.
April memberi kecupan di seluruh wajah Sean. Lalu memeluknya didada, mengelus lembut rambut pria itu. Dia sangat menggemaskan sekali saat sakit.
“Tunggu disini ya” bibirnya mencium dahi Sean.
Ketika pintu kamar tertutup, Sean tersenyum girang jantungnya berdebar. Tangannya memegang wajah yang dicium April tadi. Dirinya sangat senang karena sedang sakit.
...****************...
“Supaya mereka tidak khawatir kau disini saja ya” bujuk April.
Mereka sedang berpelukan dengan April yang telungkup berada di atas tubuh Sean, sambil memainkan rambutnya.
Tadi April sudah mengelap tubuhnya, menyuapinya makan dan memberikan obat. Sekarang dahi pria itu sedang di kompres dan suhu tubuhnya sudah tidak sepanas tadi.
“Tapi ada syaratnya”
“Apa?”
“Kau tetap disini sayang” seringai Sean. Tanganya bergerak menaikkan blouse April, mengelus punggungnya.
April berpikir sejenak, sebenarnya dia ingin pulang setelah menjenguk Sean sebentar. Tapi jika dia pulang, Sean pasti akan kembali ke apartemen dan sendirian disana. Meskipun, April akan menemaninya ke apartemen tetap saja saat dia pergi bekerja Sean juga akan sendirian.
Hati kecilnya tak tega. Dia tetap khawatir.
“Iya selama kau sakit aku akan merawatmu”
“Terima kasih” Sean mencium lembut pipi April. Wajah wanita itu bersemu merah.
“Emm maafkan aku mengabaikanmu selama ini” ucap April malu.
‘Astaga.. kau sangat baik hati sayang. Aku semakin mencintaimu’
Padahal semua ini karena kesalahan Sean tapi malah April yang meminta maaf. Kedua mata mereka saling bertatapan. April terpana melihat mata biru indah milik Sean, rasanya menenangkan melihat matanya. Seperti terhipnotis, April mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir merah milik Sean.
Sean menyeringai, menarik tengkuk wanitanya. Bibir mereka bertemu, bercumbu mesra. Suara kecupan membuat Sean tersenyum.
“Mmhh” April mendesah disela ciuman mereka. Tangan mungilnya memegang wajah Sean.
Lidah mereka bertautan saling menyentuh. Bibir April menghisap lembut bibir bawah Sean sesekali menggigitnya. Mulutnya terus mencumbu bibir pria itu.
Setelah lama berciuman, keduanya melepaskan tautan bibir mereka. April tersenyum malu, wajahnya sangat memerah. Melihat itu, Sean membalikan posisi untuk April berada di bawahnya. Sean menggigit gemas seluruh tubuh April.
“Ah geli hahaha” April tertawa kencang, berusaha menjauhkan kepala Sean dari tubuhnya.
“Rasakan ini” Sean masih menggoda April, hingga dia menggigit gemas telapak kaki wanita itu.
“Sean hahahaha.. hentikan”
Keduanya tertawa puas, Sean mencium seluruh wajah April yang memejamkan mata sambil tersenyum menerima kecupan manis darinya.
Wanitanya itu sangat cantik, setiap harinya dipenuhi oleh bayang-bayang wajah itu. Apalagi saat April tersenyum dan tertawa matanya melengkung indah, seperti sekarang membuat hati Sean sangat senang.
Sean menempatkan April untuk berbaring di lengannya. Tangannya bergerak mengambil ponsel yang ada di atas nakas, membuka saluran netflix.
“Mau menonton apa hm?” matanya melirik April yang sedang memilih film.
“Ini saja” pilihan April jatuh kepada serial kartun Larva Family.
Lagi-lagi Sean tak dapat menyembunyikan senyumannya ketika tangan April memeluk perutnya dengan santai sambil menonton. Sean mencium pucuk kepalanya gemas.
“Sayang”
“Ya?” April mendongak menatap mata biru Sean.
“Soal mobilmu dan tentang hari itu aku minta maaf”
April mencibir kembali menonton, dia sedang tidak ingin membahas bubu nya. Jika teringat lagi air matanya pasti mengalir.
“Aku sudah menaafkanmu dan aku tidak mau membahas bubu”
Sean terdiam, lebih baik dia tidak mengungkit masalah itu lagi. Takut menghancurkan moodnya, apalagi sekarang mereka sudah berbaikan. Jangan sampai wanita itu marah lagi.
...****************...
Emily sedang tersenyum senang di atas sofa. Kakinya bergerak gembira, jarinya yang lincah sibuk mencari design gaun.
“Bagaimana keadaan Sean?” Jonathan duduk disamping Emily, melihat apa yang istrinya lakukan.
“Dia sangat baik-baik saja” Emily masih tersenyum senang.
Tadi saat dia menuju ke kamar Sean untuk mengantarkan cemilan, dia mendengar suara gelak tawa dari dalam sana. Mendengar itu dirinya ikut tersenyum senang, baru kali ini dia mendengar Sean yang tertawa.
Emily turun kembali, tidak mau mengganggu kedua insan yang sedang mabuk cinta itu. Jika Sean yang mencintai April, Emily sudah tau karena sangat terlihat sekali dari sikap dan tatapannya.
Dan Emily lebih senang lagi ketika melihat tatapan khawatir April saat datang ke mansion. April sangat susah ditebak, dia juga bukan tipikal wanita yang menunjukkan cintanya dengan jelas di depan orang lain.
“Apa yang kau lihat dari tadi?” Jontahan semakin penasaran melihat ponsel Emily.
“Design gaun pernikahan”
Jonathan kebingungan “Untuk siapa?”
Abaikan saja Jonathan, otak suaminya itu sekarang memang sedikit lambat berpikir.
Emily tidak sabar mendapatkan kabar pernikahan dari keduanya. Semoga harapannya terwujud.
......................