
Baiklah anggap saja rencana pertama gagal.
Tapi yang kali ini jangan sampai gagal. Ingat! Usaha tak akan mengkhianati hasil.
April memperhatikan Sean yang tidur disampingnya. Tadi malam dia tak menyangka Sean sungguhan datang dari Boston hanya untuk menonton dengannya.
Tapi jika diperhatikan dengan lekat kenapa dia tampan sekali ya? padahal kelakuannya seperti setan gila.
April memperhatikan wajah Sean yang tertidur pulas. Bulu matanya sangat lentik dan panjang. Huh April iri sekali, jarinya bergerak menyentuh bulu mata Sean. Sungguh dia iri, tiba-tiba kesal. Dirinya hampir setiap hari memakai mascara agar bulu matanya lentik, tapi Sean? tidak butuh mascara sudah bagus dari lahir.
“Kenapa bulu matanya bagus sekali?”
Kemudian April memperhatikan bibir Sean, cih yang ini juga sangat bagus. Bibir seksi bewarna merah lembut beruntung sekali kau. April tak tahan dia mencium bibir Sean, menempelkan bibirnya lama. Siapa tau nanti bibirnya bisa bewarna seperti itu juga, sebenarnya bibir April juga bagus bewarna pink peach tapi punya Sean lebih menggoda.
“Ah kenapa bibir mu itu sangat menggoda”
CUP
Sekali lagi April menempelkan bibirnya, dia sangat berharap ternyata. Sean sudah tak tahan, dari tadi sebenarnya dia sudah bangun dan mendengarkan ocehan lucu April. Bibir Sean mulai bergerak, April sadar dan langsung membuka mulutnya memberikan akses sepuasanya kepada Sean.
“Mmhhh”
Suara kecupan terdengar di kamar. Dua insan itu mulai terbuai oleh ciuman yang menggoda satu sama lain.
Ciuman mereka yang cukup lama itupun terlepas. Sean memperhatikan April yang menarik nafasnya dalam-dalam. Tangannya menangkup kembali dada April yang ada di balik piyamanya, meremas pelan.
“Urusanmu di Boston sudah selesai?” tanya April. Dia membiarkan tangan Sean yang bergantian meremas dadanya, ntahlah rasanya enak.
“Belum. Malam nanti aku akan kesana lagi”
“Hari weekend kau masih bekerja?”
Sean menaikan alisnya, membuka kancing piyama April “Memangnya kau pikir aku punya waktu libur sepertimu”
April kembali membiarkan Sean yang asik menyusu di dadanya. Sudah dia bilang, rasanya enak saat Sean menyusu seperti ini. Jadi biarkan sejenak. Dirinya ini mesum juga ternyata.
“Heh! aku libur untuk menenangkan pikiran dan melakukan hal yang positif” ucap April bangga. Tangannya memainkan rambut Sean.
Sean melepaskan pucuk dada April, mendongak ke arah wanita itu “Kerjamu itu hanya main game dan menonton drama. Apanya yang positif”
Rupanya pria ini sudah pandai mengejek. April kesal, dia menggigit kepala Sean yang masih menyusu di dadanya.
“Awh sayang! kepalaku yang beharga ini bisa rusak”
Beharga katanya?! Percaya diri sekali setan gila ini.
Bukannya berhenti, April semakin menggigit kencang. Kegaduhan karena suara jeritan memenuhi apartemennya. April tertawa girang melihat Sean yang kesakitan, giginya terus beraksi di kepala pirang itu.
Setelah puas menggigit, suasana di kamar menjadi lebih tenang tetapi suara kecupan yang terdengar sekarang. Ini karena Sean yang kembali menyusu, matanya terpejam nikmat.
“Coba kulihat kepalamu, tidak ada yang luka kan?” April mengamati kepala Sean, jari-jari tangannya sibuk menelusuri kulit kepala.
“Hmm” mulut Sean berganti melahap dada April yang kiri.
“Jam berapa kau kembali ke Boston?”
Pria itu tidak menjawab, hanya menunjukkan dengan jari tangannya.
“Jam sembilan malam ya, hmmm” otak licik April mulai berpikir.
Sepertinya masih ada waktu jika ingin melihat reaksi benci dan kesal Sean, mari kita coba rencana selanjutnya. Menjadi wanita materialistis.
Jika dia mengajak Sean sekarang ke mall, pasti pria itu mau-mau saja. Tapi saat melihat April yang belanja banyak dan menghabiskan uangnya, kemungkinan besar Sean akan kesal lalu meninggalkannya.
Patut dicoba. Semoga kali ini ekspektasinya sesuai dengan realita.
Tapi.. setelah dirasakan berkomunikasi dengan hati kecilnya. Dia tidak mengharapkan Sean meninggalkannya.
Tapi.. logikanya berkata, dicoba saja dulu. Jadi, April memilih logikanya. Tak ada salahnya mencoba kan. Ya resiko memang harus ditanggung oleh pemenang nantinya. Siap-siap saja.
“Sean, mau menemaniku ke mall tidak? aku mau shopping”
“Hmm” Sean hanya berdehem matanya saja masih terpejam sambil menyusu. April memutar bola matanya inilah akibat jika diberikan mainan.
“Kau persis seperti bayi sekarang”
“Hmm”
Lagi-lagi jawabannya seperti itu. April berusaha mendorong bahu Sean untuk menjauh dari tubuhnya, tapi tangan kekar pria itu malah memeluknya lebih erat. Mulut Sean juga tak lepas dari dadanya.
Yasudah, biarkan dulu bayi besar satu ini.
...****************...
“Aku mengajak Carissa untuk shopping. Tak apa kan?” tanya April kepada Sean yang langsung mengangguk.
Mereka sekarang sudah berada di mall. Tadi April sangat kesusahan untuk menghentikan Sean yang masih ingin menyusu didadanya. Untung dia sedang haid, jika tidak maka sesi bercinta pasti akan berlangsung lama dan akibatnya April akan kelelahan hingga tak mampu berjalan dengan benar.
“Dia akan kesini sebentar lagi”
“Iya sayang” Sean mengecup bibir April mesra.
Tangannya tak lepas untuk merangkul pinggang April. Saat sedang melihat-lihat isi Department Store, James menelpon Sean.
“Halo Sean, aku sudah mengkonfirmasi kepda client kita. Tolong jangan ganggu aku yang sedang cuti ini”
“Aku lupa kalau kau sedang cuti, kalau begitu aku tutup telponnya”
“April!!!” timingnya tepat sekali, suara kencang Carissa terdengar oleh mereka.
“Tunggu Sean.. kau ada dimana dan siapa yang sedang bersamamu?” cecar James.
Sean menyebutkan lokasinya dan dengan siapa dia sekarang termasuk meneybutkan nama Carissa. James langsung menutup panggilan mereka.
Sean hanya menyebutkan namanya setelah itu menarik pinggang April lagi. Pelototan tajam tertera di mata April, tapi Sean mengabaikannya.
“Kau duduk saja disini, kami ingin belanja” April mendudukkan Sean di sofa store brand ternama. Keduanya tertawa girang dan langsung melihat-lihat heels.
Rasanya seperti ini ternyata menunggu kekasihmu sedang berbelanja. Daripada dia mati kebosanan lebih baik mengecek beberapa laporan yang belum dibaca melalui email.
Ketika Sean sibuk melihat ponselnya, seseorang menghampirinya dan terlihat kelelahan seperti habis berlari.
“Dimana mereka?” tanya James.
“Kau mencari siapa?” Sean berbalik menanya kepada James dengan nada yang dingin.
Ugh James merinding, sepertinya pria ini salah paham mungkin dia berpikir dirinya mencari April. Padahal bukan.
“Carissa” ucap James, dia duduk di samping Sean sambil menetralkan nafasnya kembali. Mendengar jawaban James, Sean kembali fokus pada ponselnya.
Mata James menemukan sosok Carissa yang sedang mencoba heels. Sekali lagi dirinya terpana, saat Carissa melihat kearahnya James langsung memalingkan wajah. Berpura-pura konsentrasi melihat ponsel Sean.
Sesaat dia sadar, dimanapun berada Sean tegap bekerja. Sangat workaholic.
Keduanya menunggu cukup lama, bahkan mereka sudah membahas urusan perusahaan agar tidak bosan. Kenapa wanita kalau sedang shopping untuk memilih saja membuthkan waktu yang lama?
“Minta kartumu, aku mau membayar” April menyodorkan tanganya kepada Sean, pria itu mendongak melihat wajah April yang dibuat-buat sok sombong.
Sean terkekeh, mengeluarkan dompet dan memberikan black card miliknya.
April pergi menuju Carissa yang sedang mencoba heels. Dia duduk dengan wajah yang tertunduk lesu.
“Dia memberikan dengan sukarela?” tanya Carissa, mereka sudah memilih banyak sepatu.
“Iya” jawab April lesu.
“Reaksinya?”
“Dia tertawa pelan. Bukan reaksi itu yang aku harapkan” April sangat stress sekarang, belum lagi melihat paper bag yang sangat banyak ini. Dia tidak mungkin memakai semuanya, dirinya bukan tipikal mengkoleksi sepatu.
“Ayo kita coba lagi, membeli barang yang lain. Kita baru mencoba satu item, masih ada tas, berlian, aksesoris dan yang lainnya”
Semangat April kembali berkobar. Kemudian dia melirik Carissa yang hanya memegang satu paper bag.
“Kau cuma beli satu?”
“Iya, aku hanya suka mencoba-coba. Ini aku beli yang penting saja” Carissa menyengir, April menatapnya datar memang jiwa mereka berdua bukan jiwa kaya raya.
“Sudah sayang?” tanya Sean. Dia melirik ke arah paper bag yang sangat banyak dan menelpon pengawal untuk membawa semuanya.
“Oh hai James, kita bertemu lagi. Tapi bukannya kau sedang cuti, pria ini juga mempekerjakanmu pada hari weekend?” Carissa menyapa ramah James.
James hanya membalas sapaan itu. Dia tidak tau mau bilang apa, terlalu gugup sekarang. Carissa dengan santainya mengajak James untuk berjalan beriringan, karena dia kesal melihat Sean yang langsung merebut sahabatnya itu.
“Lihat didepan kita, merasa dunia hanya dihuni oleh mereka berdua” sindir Carissa.
James tertawa melihat wajah sebal Carissa, tapi memang benar. Sean merangkul mesra pinggang April dan terus mencuri ciuman di pipi wanita itu. April yang kesal dan malu dilihat orang berusaha menjauh dari Sean, tapi tidak bisa kalah tenaga.
Mereka menuju ke store barang mewah lainnya. Dan kali ini Carissa ikut andil dalam rencana April.
Carissa menyodorkan barang-barang mewah kepada April, termasuk berlian mahal. Ini demi kelancaran renacana sahabatnya itu.
Tapi lagi-lagi, Sean tidak keberatan membayar itu semua. Dan tidak meninggalkan April yang sibuk berbelanja, dia dengan santainya menunggu.
Karena sudah kelelahan menjadi wanita meterialistis April dan Carissa membeli minuman dingin dan mereka terus berbisik-bisik takut orang di belakang mereka ini mendengar.
“Kali ini apa lagi? aku sudah lelah”
“Sepertinya rencanamu yang kedua juga gagal”
“Ck tau begini lebih baik aku di apartemen saja. Menjadi wanita matre ternyata melelahkan”
“Kau benar. Setelah ini aku pulang duluan ya, shift malam menungguku”
“Hmm.. kau harus istirahat dulu” ucap April lesu.
“Jangan patah semangat...” Carissa menoleh kebelakang, melihat Sean dan James yang masih mengobrol. Wajahnya mendekat ke telinga April dan berbisik pelan.
“Coba kau minta dibelikan mobil dan rumah, sekalian minta saham perusahaan”
“Nanti akan kupikirkan” April berpikir kalau hal itu terlalu berlebihan, sebaiknya tidak dilakukan.
“Ini pesanan kalian nona-nona” pelayan itu memberikan dua choco milkshake, ice americano dan strawberry milksahke.
Setelah mengambil pesanannya, Carissa pamit pulang “Bye semuanya”
“Carissa tunggu” James menyusul Carissa. Yang tersisa hanya April dan Sean.
April memberikan ice americano kepada Sean, sementara dia meminum strawberry milkshakenya dengan riang.
Sean mencium gemas pipi April, tanganya merangkul bahu wanitanya sambil berjalan beriringan. Tinggi April yang hanya sebahu Sean membuat pria itu mudah untuk melihat ekspresinya yang sedang menikmati minuman.
“Mau beli apa lagi hm?” tanya Sean.
Ternyata ekspektasi tak sesuai dengan realita. Dan kali ini hasil mengkhianati usahanya.
Ntahlah, April pusing memikirkannya.
“Kita ke supermarket saja”
Karena rencananya gagal, sebaiknya April menghibur diri dengan belanja bahan-bahan untuk isi kulkas dan dapurnya saja. Mumpung ada yang membayar, ada atm berjalan disebelahnya ini jadi aman saja.
......................