Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Barcelona (2)



Tatapan dingin itu masih dilayangkan untuk April. Dia merasa kalau Sean sedang menahan amarahnya.


Saat pulang kerumah, April terkejut melihat Sean yang sudah berada di depan pagar. Ketika Thalita bertanya siapa dia, Sean langsung memperkenalkan dirinya sebagai calon suami April.


Thalita sangat terkejut, wanita itu langsung memberikan ucapan selamat. Dan meminta jangan lupa untuk mengundang ke acara pernikahan mereka.


Ini harus dihentikan, lihat tatapan pria itu sudah berbeda. Bulu kuduk April merinding, dia memeluk erat tubuh Sean. Mereka berbaring menyamping saling berhadapan di ranjang kecil single itu.


“Kau masih marah?” April mendongak, menatap cemberut mata biru itu.


Tangannya mulai membuka kancing celana Sean, menyusup kedalam dan terus mengelus benda besar dibalik celana.


Melihat Sean yang hanya diam tanpa reaksi, April menjilat jakun seksi itu. Tapi tetap saja tidak ada respon apapun.


“Jangan marah lagi. Aku tidak suka seperti ini” April mulai merengek.


“Jelaskan semuanya kepadaku” ucap Sean tajam.


Nafasnya serasa terputus saat mendengar suara rendah dan tajam Sean. Mata biru itu terus menatap intens dirinya.


“Maaf.. aku sengaja tidak memberitahumu untuk pergi kesini sendirian”


“Kenapa?”


“Ntahlah, aku hanya ingin kau mencariku juga khawatir denganku. Apa kau khawatir?” April mendongak, matanya mengerejap pelan. Sean hanya diam saja menunggu kelanjutkan alasannya.


‘Kau berhasil membuatku mencarimu sayang. Aku sangat mengkhawatirkanmu, rasanya seperti tercekik’


“...em terus aku juga ingin tahu jika kau menyusulku apa benar kau mencintaiku?” atau kau hanya terobsesi denganku, April melanjutkan didalam hatinya. Dia masih tidak berani bertanya dengan Sean tentang obsesi itu.


“Intinya maaf kan aku, aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Ini sungguhan, jangan marah lagi hmm”


Sean menghela nafasnya mendengar permohonan itu. Amarahnya reda karena April yang bisa menenangkannya. Hanya April.


“Aku sangat mencintaimu. Berulang kali sudah kukatakan itu, kau saja yang tidak pernah paham” gerutuan Sean membuat wanitanya tertawa pelan.


Jantung April berdebar kencang. Astaga dia sangat senang, Sean benar-benar mencintainya.


“Bagaimana denganmu? apa kau mencintaiku?”


Mendengar pertanyaan itu, April malu untuk mengungkapkannya. Dia jadi salah tingkah, pipinya sangat merah sekarang Sean dapat melihatnya.


‘Lebih baik alihkan perhatian Sean pada yang lain’


Alih-alih menjawab pertanyaan itu, April membuka kancing kemejanya sendiri.


“Kau tidak haus? biasanya kau meminta susu” ucap April cemberut. Karena Sean biasanya selalu menyusu seperti bayi.


Pria itu tertawa menyadari April yang mengganti topik pembicaraan. Wanitanya ini malu untuk mengungkapkan rasa cinta. Tidak apa dia sudah tahu semuanya, pipi lembut itu saja masih memerah sekarang.


“Aku haus, i want milk sweetie. And i want this too” Sean tersenyum nakal, kepalanya turun ke dada dan mulai bermain disana. Tangannya menyusup ke bawah, meraba yang lembut dan basah.


“Ohh aku merindukanmu Sean. Aku ingin kau...sangat ingin ahh”


Senyuman licik terbit di wajah Sean, dia sangat senang wanitanya menginginkannya. Mereka berdua memang terus saling menginginkan, dan Sean ingin menularkan sifat maniak ranjangnya itu.


...****************...


Karpet bulu bewarna putih dikamar April sudah sangat basah, mereka pindah ke karpet untuk bercinta lebih liar karena ranjang itu terlalu sempit.


April menatap pantulannya di kaca dinding. Sean terus mendorong miliknya hingga penuh.


“Ohh”


“Kau sangat seksi sayang. Kenapa semakin hari ini semakin nikmat?”


“Sayang pelan-pelan ahhh ngh” April terus menatap percintaan mereka melalui kaca.


“Sayang? ohh kau sudah mulai menggodaku terus nghh! aku harus mendorong lebih kencang”


Sean kegirangan saat panggilan sayang itu meluncur dari mulut wanitanya. Dia menggerakkan pinggulnya dalam, April berteriak kencang.


“Ahh! ahh!”


“Ohh sweetie!”


Cairan mereka terus keluar hingga menetes lagi di karpet. April terengah tubuhnya telungkup lelah setelah puncak mereka datang.


Mereka berdua saling memuaskan satu sama lain. Suara kencang menghiasi kamar itu.


“Luar biasa sekali sayang”


“Sean cium aku”


Tidak ada respon apapun, pria itu masih asik mengecup miliknya. Karena kesal tidak dicium, dia meninju kencang perut berotot itu.


“Aww April!”


“Cium aku!”


“Baiklah.. baiklah”


Menuruti keinginan wanitanya, Sean mendudukan April dipangkuannya. Wanita itu memeluknya erat seperti koala.


“Kau diam saja”


“Sure baby”


Kegiatan bercinta mereka terus berlanjut. Sean benar-benar gila malam itu, sampai April pingsan dibuatnya. Ternyata obsesi menggulungnya, hanya amarahnya saja yang ditenangkan April.


Ini semua karena wanita itu pergi tanpa memberitahunya.


Sean mengecup dalam bibir pink April yang tertidur karena kelelahan bercinta. Berbisik di telinga indah wanitanya.


“Ini hukumanmu sayang. Jangan lagi kau meninggalkanku, aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya”


Senyuman obsesi pria itu tampak mengerikan.


Di pagi hari April tersenyum saat membuka mata wajah Sean sedang menatapnya.


‘Apa dia terus menatapku saat tidur?’


Pipinya memerah lagi sungguh mabuk kasmaran sekali. Sean melihat wanitanya yang salah tingkah jadi memejamkan mata dan tertawa lembut.


Sangat menggemaskan.


“Pipimu sangat merah, padahal sebelumnya tidak. Apa kau kepanasan?” goda Sean.


Menyadari ketahuan sedang salah tingkah, April menyembunyikan wajahnya didada bidang Sean. Sungguh memalukan, pipinya memang tidak bisa dikendalikan.


“Sayang.. aku mau lihat wajah cantikmu itu”


“Jangan menggodaku”


Suara April terbenam di pelukan Sean. Pria itu semakin tertawa melihat tingkah yang tidak biasa ini. Niat untuk menggodanya semakin kuat.


“Kalau begitu aku pergi saja” ancam Sean, dia pura-pura ingin beranjak pergi.


“Jangan pergi! aku masih mau memelukmu. Bagaimana kalau menyusu hmm? jangan pergi”


Oh astga Sean senang sekali melihat wanitanya memohon untuk tidak pergi. Bahkan dia menawarkan kesukaannya dengan pipi yang sangat merah itu.


April menarik tangannya lembut, menyuapkan dadanya kemulut. Dengan senang hati Sean menyusu dia sangat suka ini.


“Mmmhh” Sean memejamkan matanya nikmat. Bibir merah itu melahap lembut.


CUP


Dahi Sean dicium lembut oleh wanitanya. Lalu dia mendengar tawa renyahnya.


“Padahal kata Emily kau tidak suka susu”


“Yangh ini beda mmhh”


“Kau suka?”


“Sangath haammh”


April tersenyum membiarkan Sean bermain dan menyusuinya. Lihatlah mata biru itu terpejam sambil terus menghisap. Hidung mancungnya juga sesekali mengendus belahan dan tersenyum senang seperti anak kecil.


Jika dia lepaskan hisapannya pasti wajah cemberut Sean akan sangat lucu. April jadi ingin melihat wajahnya yang menggemaskan itu. Ditariknya wajah Sean yang sedang menyusu untuk menatapnya, dadanya terlepas begitu saja.


“Sayang. Aku mau menyusu, masih mau susu”


Tangan yang menangkup wajah tampan itu, mencium bibir merahnya lembut. Ugh sangat menggemaskan, mata birunya saat ini seperti anak kecil.


“Uhh menyusulah sayang, setelah ini kita jalan-jalan ya”


Sean mengangguk dan kembali melahap dadanya. Tangannya memeluk erat tubuh April agar tidak menjauh, wanita itu juga terus memberikan kecupan di pucuk kepalanya.


“My big baby”


Terkadang bayi besarnya ini seperti orang dewasa yang menakutkan ketika bercinta, tapi terkadang seperti anak kecil ketika sedang manja dan dia sangat bijaksana juga seksi saat bekerja.


Beruntung sekali dirimu April!


...****************...


“Rasanya enak, tapi lebih enak yang strawberry”


April dan Sean berada di BeBil night market. Ini karena April merengek ingin kesana lagi, belum puas menjelajahi isi market.


“Aku mau mencoba punyamu” ujar Sean.


April menyodorkan ice cream vanilanya. Tapi pria itu malah menjilat ice cream yang terjatuh ditanganya, ini namanya cari kesempatan.


“Nakal sekali lidahmu itu”


“Lebih enak jika menetes di tubuhmu”


“Ck mesum”


Mereka berdua berjalan mesra, Sean merangkul bahu April. Sedangkan wanita itu memeluk perut Sean.


Di sepanjang jalan banyak sekali makanan yang menggoda. Tidak dapat dipungkiri kalau membeli lebih banyak makanan, karena wanginya sangat menggugah selera. Seperti sekarang mereka sedang menunggu steak jalanan yang sangat ramai pengunjung.


Truk penjual itu menyediakan tempat duduk untuk makan. Untungnya masih kebagian tempat, dan saat ini Sean sedang mengantri untuk membayar. Banyak wanita yang memperhatikan pria itu.


“Mata mereka jelalatan sekali” gumam April.


Siapa yang tidak melirik kepada seorang pria tampan. Meskipun hanya mengenakan pakaian santai, Sean malah semakin kelihatan tampan.


Celana hitam sebatas lutut, mengenakan kaos putih juga jangan lupakan topi hitamnya yang menutupi rambut pirang itu. Dan dia hanya mengenakan slipper santainya.


Tapi meski begitu! Dia tetap menjadi perhatian banyak orang!


“Kenapa juga tubuhnya itu tinggi sekali, proporsinya juga bagus” April pusing sendiri melihatnya. Semakin banyak saja orang yang mengantri hanya untuk melihat Sean.


Pria itu berbalik dan menghampiri April yang menunggu di meja. Wajahnya tersenyum manis sambil memegang secarik kertas antrian.


“Urutan 35 tidak terlalu lama, tadi sudah urutan 32” ucap Sean. Tanganya menyampirkan rambut April ke belakang telinga.


Berarti steak pesanan mereka sebantat lagi akan dihidangkan. Sangat tidak sabar menunggunya, dari bau nya saja sudah pasti enak. Apalagi tempatnya sangat ramai.


Sebenarnya kemarin dia ingin kesini bersama Thalita, tapi karena antrian yang terlalu panjang mereka tidak jadi makan. Malas menunggu terlalu lama. Untungnya saat dia dan Sean kesini tidak terlalu ramai.


“Aku lapar” April memanyunkan bibirnya imut. Sean terkekeh pelan dan mecium mesra pipinya.


“Sabar ya sayang”


Hahaha lihat ini. Kalian para wanita mata jelalatan! Dia itu milikku tahu!


April bersorak riang dalam hati saat melihat wanita-wanita yang menatap iri kepadanya.


Tepat saat itu steak yang mereka tunggu sudah datang. Wangi menggoda dari daging dengan bumbu yang terlihat lezat itu menusuk hidung April.


“Thank you” ujar April, dia menusuk daging yang sudah dipotong lalu meniupnya. Setelah itu sepotong daging masuk kedalam mulutnya. Dia tersenyum senang karena rasanya sangat enak. Pantas saja semua orang rela lama mengantri.


Mereka memesan dua porsi, Sean juga mulai memakan steaknya. Dia lega melihat April yang menikmatinya.


“Setelah ini kemana lagi?”


April melihat sekitar, tadi ada penjual buah dan ada anggur kesukaan Sean disana. Steak mereka juga sudah lama habis dan sepertinya makan buah akan menjadi penutup yang sempurna.


“Kita beli buah disana” dia menunjuk ke arah penjual buah yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan.


Mereka bergandengan tangan saat menuju ke penjual buah. Kakek tua yang menjual buah itu tersenyum ramah melihat mereka.


“Kalian berdua sangat serasi, semua orang pasti iri melihat kalian”


“Terima kasih kakek” pipi April bersemu merah mendengar ucapan kakek itu.


Sean yang sedang memilih buahan tertawa saat melihat pipi wanitanya yang bersemu merah. Benar kan dugaanya kalau April itu sudah jatuh cinta kepadanya.


“Tolong bungkus yang ini dan... ah Sean kau mengambil apa?” tanya April. Pria itu memberikan sekotak strawberry kepada kakek penjual.


“Kau mau apalagi?” Sean bertanya sambil mengeluarkan dompetnya.


Padahal April berniat ingin membayarnya tadi. Tapi ATM berjalannya ini sudah inisiatif duluan.


“Sudah itu saja, tolong bungkus anggur dan strawberrynya kek. Terima kasih” April berujar manis. Lalu dia pergi kesebelah untuk membeli minuman.


Kakek itu tertawa “Dia manis sekali, kau sangat beruntung nak”


Sean tersenyum mendengarnya. Benar dia memang sangat beruntung.


“Ini uangnya kek, ambil saja kembaliannya”


“Oh terima kasih nak”


Jus apel dingin menyentuh pipi Sean. Dihadapannya ada April yang sedang menyeruput jus.


“Untukmu, jusnya enak cobalah” ujar April. Tanganya merangkul lengan Sean untuk menyusuri night market lagi.


Hingga sudah larut malam April mengajak untuk pulang karena besok dia mau mengunjungi makam Helena.


Dia sudah puas jalan-jalan bersama Sean malam itu. Tubuhnya yang lelah tertidur lelap didalam mobil.


......................


Hai


Terima kasih buat kalian yang sudah support novel ini,


Jangan lelah buat support aku ya


Thank you..