
Senyum bahagia menghiasi wajah April, matanya semrigah melihat hasil usg yang ada ditanganya. Janinya sehat dan kuat, tidak ada masalah apapun. Terlebih lagi anaknya laki-laki, betapa senangnya.
Awalnya dia sangat takut, karena beberapa hari ini terlalu memforsir diri dengan pekerjaan. Belum lagi dia pernah minum wine hampir setengah botol. Tapi setelah menjalani pemeriksaan, usia kandungan yang sudah menginjak 14 minggu itu baik-baik saja.
“Kau bahagia? kemana wajah yang ketakutan tadi”
Carissa ikut tersenyum melihatnya. Beberapa vitamin dia resepkan untuk sahabatnya itu. Wanita itu juga lega dengan kondisi janin.
“Sangat. Nanti saat aku check up bisakah kau memberikanku album?”
“Album?”
“Ck, itu album perkembangan janin yang sering kau berikan kepada ibu hamil. Aku minta warna biru, dia kan laki-laki”
Ah Carissa tahu, setiap ada ibu hamil yang melakukan check up maka akan diberikan hampers gratis berupa buku panduan untuk ibu hamil, album janin dan juga aroma terapi.
Album itu memiliki dua warna untuk jenis kelamin yang berbeda, pink untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki.
“Memang cuma dua warna bodoh!”
“Jangan dengarkan ucapan kasar auntymu ya nak” ucap April sambil mengelus perutnya.
“Cepat beritahu kekasihmu itu dan jangan lupa makan makanan yang sehat, vitaminmu itu diminum, susu ibu hamil nanti akan ku antarkan ke apartemenmu”
April memutar bola matanya Carissa dan James sama saja, menatakan kalau dia adalah kekasih Sean “Iya iya terima kasih”
“Heh! aku ini doktermu. Harus sopan”
“Iya bu dokter, terima kasih telah merawatku. Permisi..” April mengejek sahabatnya dengan membungkuk 90 derajat. Lalu segera pergi dari ruangan sebelum Carissa mengamuk.
Dia merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Carissa. Meskipun wanita itu memiliki wajah yang dingin, tapi hatinya sangat hangat. Sahabatnya juga berbaik hati membelikan susu, karena April tidak sempat untuk pergi belanja.
Ya! Dia harus menyelesaikan laporan jahanam itu.
‘Kau harus sabar ya nak mempunyai daddy seperti itu’
Harus cepat-cepat menemui Sean dan memberitahukan kabar bahagia ini. Sesungguhnya April juga penasaran bagaimana respon pria itu. Semoga saja dia menerimanya dengan lapang dada.
Jika tidak mau terima, yasudah tinggalkan saja pria seperti itu!
...****************...
Sebuah mobil mengklakson tepat didepan April yang sedang menunggu bus.
“Cepat naik, kau mau ke kantor kan?” tanya Thomas ramah.
“Tidak terima kasih, aku naik bus saja”
“Ayolah, aku juga mau ke kantor ada rapat disana. Daripada kau naik bus mungkin bisa terlambat”
Benar juga, tapi tetap tidak bisa. Kalau Sean melihat bisa kacau nanti. Pria itu kalau sedang cemburu tidak bisa dikendalikan.
April tertawa canggung “Tidak.. kau duluan saja”
“Keras kepala sekali” Thomas keluar dari dalam mobil, membuka pintu penumpang depan lalu menarik April pelan.
“Tidak usah sungguh”
TINNN
“Kau mau aku jadi amukkan masa karena berada dipinggir jalan seperti ini?”
TINNN
Kaki terpaksa melangkah masuk kedalam mobil. Semua orang kalau berangkat kerja memang tidak sabaran. Mobil dibelakang mereka terus mengklakson, Thomas membelokkan setirnya menuju jalanan utama.
Helaan napas berat menarik perhatian Thomas. Matanya melirik April yang menatap ponsel.
“Apa ada masalah?”
“Tidak ada” ucap April.
Sebenarnya dia menunggu telpon atau pesan dari Sean, tapi dari kemarin setelah memutuskan panggilan tidak ada telpon atau pesan lagi. Apa pria itu marah padanya?
Bukankah seharusnya April yang marah. Jelas sekali disini dia adalah pihak yang dirugikan. Tidak adil sekali, jika dia tidak mau April berdekatan dengan pria lain jangan memberikan tugas dengan deadline yang gila.
“Kenapa kau dari kemarin tidak mau diberikan tumpangan olehku?” tanya Thomas. Dia harus meminta maaf jika memang kehadirannya mengganggu wanita itu.
“Aku hanya tidak mau merepotkanmu, kau sudah banyak membantu pekerjaanku”
Thomas tersenyum “Begitu rupanya, kau yakin bisa mengerjakan laporan itu sendirian? kebetulan aku tidak punya banyak pekerjaan”
“Aku bisa. Tak perlu khawatir”
“Baiklah, semangat April”
Setelah itu hanya kehengingan yang menghiasi suasana didalam mobil. Sesekali Thomas melirik ke samping, memastikan kalau April nyaman didalam mobilnya.
...****************...
“Terima kasih atas tumpangannya Tom” April menutup pintu mobil, dia tersenyum hendak pergi tapi tanganya dicegat oleh Thomas.
“Sebentar.. untukmu pasti kau belum sarapan”
Breakfast toast dan sebotol jus jeruk diberikan kepada April. Sebenarnya wanita itu sudah sarapan tadi bersama Carissa, mereka memakan fried chicken di pagi hari. Tidak ada salahnya menerima niat baik orang lain.
April mengambil sarapan yang diberikan untuknya “Terima kasih, ah iya bukannya kau ada rapat?”
“Yasudah, aku duluan ya”
Mereka saling melambaikan tangan, berpisah di basement.
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya, April memakan sarapan yang dirberikan untuknya. Mulai sekarang dia harus teratur makan, juga dialarang keras konsumsi junk food.
Ugh dia ingin buang air kecil lagi.
Ternyata gejala sering buang air kecil, emosi yang berubah-ubah serta sensitif itu karena kehadiran buah hatinya. April sangat senang, termasuk waktu dia selalu merasa kelaparan.
“Ini ulahmu kan” ucapnya pelan, foto usg itu dimasukkan lagi kedalam tasnya.
Saat keluar dari pintu toilet, Sean menatapnya tajam. Mendorongnya memasuki kembali toilet tadi.
Pria itu menghimpitnya keras di pintu toilet. Napas berat dari belakang tubuh April membuat tubuhnya bergidik. Dia sama sekali tidak bisa bergerak.
“Lepas” April meronta.
“Jadi ini maksudmu menolak mobil dan supir pribadi?! supaya kau bisa menaiki mobil pria brengsek itu hah?!”
Mata April terpejam mendengar bentakkan keras itu. Tidak ada pengkhianatan apapun disini, kenapa Sean sangat tidak percaya denganya.
“Dia hanya memberikanku tumpangan, ini pertama kali aku menaiki mobilnya”
“Kau membelanya? sudah berani berkhianat padaku?”
“Aku tidak berkhianat”
“Aku sudah memperingatimu untuk menjauhi pria itu. Dasar wanita pembangkang” bisik Sean tajam, tanganya bergerak melepas kancing celana April.
“Kau cemburu buta. Dia hanya membantuku disana, salah siapa yang memberikanku pekerjaan yang sangat banyak” keluh April.
“Jangan alasan! kau membuat ku marah kali ini!”
Sean membentaknya lagi. Tubuh gemetar mendengarnya, dia takut ada orang lain disini.
“Ohhh! Sean!” Apri berteriak kencang saat sebuah benda masuk tanpa aba-aba. Rasanya menyakitkan.
“Look it sweetie, ini hukuman untukmu!”
Pria itu tersenyum miring. Batangnya terus mendorong keras didalam tempat yang basah. Daun telingat digigit kencang. Bergerak terus menerus hingga wanitanya mencampai puncak.
Amarahnya sangat tinggi melihat April yang turun dari mobil pria lain. April hanya miliknya, tak ada yang boleh mengambil wanita ini.
“Mmmhh”
Benturan keras pintu dan suara tepukan daging semakin kembali berulah. Menyeruduk dalam dari belakang dan memulai lagi dengan kasar.
“Kau hanya milikku!”
“Nggh hentikan aku lelah”
Sean terus menahan tangan April di pintu toilet. Dia mendorong kuat dari belakang.
Tangan kekar meraih dagu wanitanya, menciumnya kasar. Giginya membuat bibir lembut itu berdarah.
“Apa yang kau lakukan denganya semalaman?! bentak Sean lagi.
Wanita itu menahan tangisnya mendengar bentakan penuh amarah. Tubuhnya dipegang kasar dan rasanya menyakitkan.
“Ahhh! ahhh!”
“Katakan padaku!”
April tidak berbohong tentang keluhannya. Wanita itu sungguh lelah, tidak bertenaga sekarang. Tapi Sean terus memaksa dan memarahinya.
“Tidak ada.. dia hanya membantuku” tenggorokannya tercekat menahan tangis.
Pergerakan itu semakin cepat, hentakan kuat yang membuat April semakin terhimpit di pintu toilet.
Bunga mekar berdenyut hebat menghisap kuat. Semakin membengkak karena terus didorong kasar.
“Hentikan kumohon.. ini sakit”
Bagai kesetanan, Sean tidak mengacuhkan kalimat April. Pria itu sudah di gulung oleh ombak cemburu dan obsesinya terus menghantui. Suara keras yang di timbulkan semakin jelas.
Puncaknya tiba geraman brutal terus berhembus di telinga. Menyemburkan semua miliknya kedalam sana. Setelah selesai batangnya dicabut kasar.
“Kalau kau mendekatinya lagi, kubunuh pria itu” ucapnya dingin. Sean mengancingkan celana nya, meninggalkan April sendirian didalam sana.
Wanita itu membenarkan pakaiannya sambil menahan tangis, lalu dia terduduk di toilet. Air matanya tidak dapat dibendung lagi, mengalir deras di pipi yang lembut. Menyedihkan saat Sean tidak percaya dengan ketulusannya.
Tidak pernah sekalipun dalam benaknya untuk berkhianat. Dia sungguh mencintai Sean, tapi tampaknya pria itu hanya terobsesi dengannya. Jika benar mencintai seperti yang disering dia ungkapkan, seharusnya dia percaya dan tidak menyakitinya seperti ini.
Padahal tadi dia ingin menunjukkan hasil usg anak mereka. Memberitahukan kabar bahagia itu pada Sean, tapi malah terjadi seperti ini.
“Hiks... ibu..”
Disaat sedang sedih hanya ibunya yang ada dalam ingatan April. Dulu Helena sering mengusap lembut kepalanya. Menenangkan dengan terus mengucapkan kalimat lembut.
‘Ibu disini.. tak apa, menangislah’
April menenggelamkan wajah di kedua lutunya. Terus menangis tersedu, dia merasa kesepian sekarang. Rasanya seperti saat pertama kali mendatangi kota besar ini, mencekam dan membuatmu kebingungan.
......................