
“Kau tak perlu khawatir Emily, aku baik-baik saja” April sedang mengunyah wonton sup nya sambil menelpon Emily.
“Benarkah? kau mau apa lagi? seafood noodle juga Mcd sebentar lagi akan sampai. Dan bilang pada pacarmu itu.. tunggu saat ini kau sedang loudspeaker kan? ada yang ingin kukatakan padanya”
April tertawa mendengarnya “Iya ini sedang aku lakukan”
“Hei kau! Dengar ya! Jaga baik-baik putriku yang sedang sakit itu. Belikan apa yang dia mau, paham?”
“Dia mengangguk, dia tertawa tadi” April berbohong.
“Lain kali kau harus mengenalkanya padaku. Aku pandai membaca sifat seseorang”
“Tentu, sudah ya aku mau lanjut menonton”
“Yasudah kalau begitu, istirahat yang banyak tidak perlu khawatir tentang pekerjaan”
“Iya, bye Emily”
“Bye my baby girl”
Sambungan telpon itu akhirnya selesai juga. April sebenarnya tidak enak berbohong kepada Emily. Tapi ini harus dilakukannya. Dia sangat senang dengan Emily tapi tidak dengan anaknya. Semoga dengan mengatakan bahwa dirinya sudah punya pacar akan membuat Sean menjauh. April sering menggunakan trik ini untuk membuat para pria menjauh darinya.
“Apalagi yang harus aku tonton” April mengganti-ganti channel TV yang terpampang beberapa serial Netflix disana. Huh dia sungguh bosan, sudah lima hari dia berada di dalam apartemen. Dirinya berbohong tentang kecelakaan dan kakinya cedera. Berkat kebohongannya, Bertha dan Emily panik. Tapi untungnya dia bisa mengendalikan aksi lebay mereka. April berencana izin sakit selama satu minggu agar tidak terlalu mencurigakan.
TING TONG
TING TONG
“Makananku?” April menoleh gembira ke arah pintu. Dia langsung bergegas. Tapi saat melihat monitor April menutup mulutnya. Dia meneguk liur susah payah.
Itu Sean!
Bagaimana dia tau apartement April?
Apakah Emily yang memberitau nya? Bisa saja kan.
TING TONG
April menoleh lagi ke monitor, disana sudah ada pengantar makanannya. Aduh tambah gawat ini. Kalau keluar akan bahaya, kenapa pula makanannya harus datang sekarang.
Sementara itu Sean melihat layar ponselnya. Dia tertawa pelan karena April hanya berdiri di depan pintu. Apa dia ketakutan? menarik.
“Hei kau kemarikan makanan itu biar aku yang memberikannya” ucap Sean, pengantar makanan itu menatapnya ragu.
“Ck. Orang yang ada didalam apartemen ini adalah istriku” Sean menatap dingin pengantar makanan itu hingga ketakutan. Lalu dia memberikan sejumlah uang.
“Ta-tapi ini sudah dibayar”
“Pergi”
Pengantar makanan itu lari terbirit-birit. Dia masih ingin hidup. Yang penting makanannya sudah diantar, ditambah dia mendapatkan uang lagi.
Mata April semakin nyalang melihat monitor. Kalau begitu dia mengikhlaskan makanan kesukaannya. Terserah, dia ingin tidur. Biarkan Sean berdiri bodoh disana.
TING TONG
“Mengganggu saja” April menuju ranjangnya, untunglah tadi dia sudah makan wonton sup sebagai pengganjal perutnya. Perlu kalian tau didalam perut April itu hidup seorang pengemis, jadi makan wontotn sup saja sangat tidak cukup.
CLICK
Pintu apartemen terbuka, April sudah tertidur lelap. Sean masuk dan melihat seisi apartemen wanitanya. Apartemen minimalis tapi mewah itu memiliki kesan yang anggun dengan perpaduan warna putih dan biru. Orang gila seperti Sean tentu tau kode akses ke apartemen April, bahkan dia telah memasang cctv di beberapa sudut tanpa diketahui April tentunya. Ntah kapan pria gila itu memasangnya.
“Kau tidur?” Sean membelai wajah April yang sudah bergabung di alam mimpi. Sean menyusup kedalam pelukkannya, mencium bibir ranun itu lembut. Dia menyelimuti mereka berdua, dan menyembunyikan wajahnya di belahan dada April. Tertidur disana.
...****************...
April terbangun karena mimpi buruk, dalam mimpinya dia dikejar-kejar oleh Sean lalu kaki dan tangannya di rantai hingga dikurung dalam ruangan yang gelap. April merinding membayangkannya.
Tapi dimana dia sekarang, ini tentu bukan kamarnya. Juga ruangan ini terlalu gelap. April membuka gorden kamar, dimana dia? Kenapa banyak pohon diluar sana seperti dihutan.
“Ini dimana sih?”
April menuju pintu kamar. Dia berusaha membukanya, tapi kamar ini dikunci. Oke tenang April, hadapi semua masalah dengan tenang. Dan siapa yang melakukan penculikkan dirinya.
Apa itu Sean?
April menggelengkan kepalanya. Meskipun dia melihat Sean yang berada di depan pintu apartemen nya tadi malam, tapi pintunya terkunci tidak ada yang tau kode akses apartemennya keucali Carissa dan tidak mungkin Carissa yang memberi tau orang gila itu.
“Hei buka pintunya!” April menggedor-gedor dengan sekuat tenaga.
Kemudian tangannya berhenti, ini tidak akan berhasil. Berdasarkan pengalamannya menonton drama, mana ada penculik yang mau membukakan pintu kurungannya. Yang harus dia lakukan adalah cari celah jalan keluar selagi penculik belum muncul.
“Astaga kamar ini benar-benar tidak ada jalan keluar” April mendengus melihat kaca lebar yang langsung terhubung ke balkon itu tidak dapat dibuka. Kamar mandi pun hanya memiliki ventilasi yang kecil.
Frustasi karena tidak bisa keluar, dia memilih untuk berbaring diranjang. Untunglah kamar ini nyaman, dekorasinya juga bagus. Tapi siapa ya yang menculiknya? siapapun itu terserah asal bukan Sean.
Lebih baik tidur lagi saja.
...****************...
“Kau mau makan malam dengan siapa Sean?” Emily sedang menyiapkan makan malam, dia melirik Sean yang fokus dengan ponselnya. Sedangkan Sammy sibuk menggambat sketsa bangunan.
“Siapa? wanita yang kita bicarakan waktu itu?” Sammy merujuk ke wanita yang ingin Emily jodohkan dengannya, April.
“Memang cantik sih, tapi lebih cantik wanitaku” ucap Sammy, Emily terkejut mendengarnya.
Emily menatap kedua putranya dengan tajam. Mereka merahasiakan hal yang paling ingin Emily ketahui. Ternyata anak-anaknya itu sudah punya pacar! tapi kalau Sean.. dia sih tidak terkejut anaknya yang satu itu playboy kelas kakap. Tapi ini Sammy! punya wanita? dan dirinya tidak tau.
“Kalian! berani-beraninya tidak memberitahuku. Anak durhaka!” Emily emosi, tangannya ingin menjewer mereka. Tapi Sean dengan cepat mengindar.
“Aku pergi dulu mom. Nanti akan kuberitahu” Sean mengambil kunci mobilnya.
“Hei jangan tinggalkan aku sendiri!” Sammy berteriak, sebelum dia kabur Sammy meminum kopinya dengan cepat sebelum Emily menjewer. Tapi kopi itu memiliki rasa yang aneh.
“Ewuh kenapa rasanya seperti soda gembira?! Ini pasti ulah Sean brengsek.. akhh mom” terlambat kabur, nasib telinga Sammy akan sangat tragis di tangan Emily.
Hubungan Emily dan Sean memang sudah membaik. Semenjak Sean kuliah, Emily selalu berkunjung ke apartemennya. Menyiapkan makanan dan merawatnya saat sakit.
Sean terus menolak perhatian itu tapi Emily pantang menyerah, dia terus memberikan perhatiannya dengan Sean karena dia tulus. Akhirnya Sean menyerah dan membiarkan Emily terus memberikan perhatiannya, bahkan Sean menurut ketika disuruh Emily untuk memanggilnya mommy.
Memang dasar Sean sok gengsi!
...****************...
“Tuan” Pengawal Sean menundukkan kepalanya ketika melihat pria itu memasuki mansion yang berada di tengah hutan.
“Bagaimana dia bisa kabur?”
“Nona tadi berhasil membuka kunci kamar. Tapi pengawal dengan cepat menghadangnya untuk pergi”
Sean menepuk bahu anak buahnya itu.
“Lain kali kalian harus waspada, dimana dia sekarang”
“Sudah berada di kamar tadi Tuan”
“Kunci” Sean menyodorkan tangannya kepada pengawal itu. Digenggamnya kunci dengan erat, suka sekali wanitanya untuk kabur ya. Dan dia sangat handal dalam melarikan diri.
“James, bawakan aku senapan” ucap Sean
James terkesiap. Dia tidak berniat membunuh April kan? James tau obsesinya terhadap wanita itu diluar batas wajar, tapi tidak harus membunuhnya.
James menarik nafasnya memberanikan diri menasehati Sean “Sean, sebaiknya kau bicara baik-baik saja padanya”
Sean menaikkan alisnya “Ck lama. Alez ambilkan senapan ku” Sean berdecak sebal, dia menyuruh pengawalnya untuk mengambilkan senapan laras panjang.
“Baik Tuan”
Sedangkan April yang kembali berada dikamar itu hanya bisa pasrah. Tadi, saat dia bangun ada makanan yang terletak di nakas. April mencicip sedikit kalau ada racun setidaknya tidak menyerap terlalu banyak. Melihat tubuhnya yang tidak merasakan apapun, April menghabiskan makanan itu. Kemudian dia mencoba lagi untuk keluar dari kamar, jika sudah makan biasanya otak akan semakin baik dalam bekerja. Itu prinsip dirinya ya.
BRAK
“Ternyata benar ini ulahmu!” April menatap nyalang kepada Sean yang berdiri didepan pintu.
“Kau mencoba kabur lagi dariku ya?” Sean menyeringai menatap April.
James hanya bisa diam tidak bisa berbuat apapun. Siapa yang bisa menghentikan kelakuan gila Sean. Pria itu sedang marah sekarang, emosinya memang tidak bisa dikendalikan. Apalagi April yang terang-terangan menunjukkan bendera perang.
“Minggir!” April berusaha melewati pintu, tapi ditahan oleh Sean. Dia memutar bola matanya, baiklah kita tunjukkan kemampuan karate ku.
Sean dengan mudah menghindari serangan yang diberikan April. Berulang kali April mencoba untuk menghentikan pertahanan Sean tapi tetap saja tidak berhasil. Pria itu malah terlihat senang. April yang kelelahan sekarang, tekniknya tidak ada yang berhasil.
“Kau mau pergi dari sini kan?”
“...” April hanya diam. Apalagi yang akan dilakukan orang gila didepannya ini?
“Pergilah. Akan ku hitung sampai lima, dan larilah sekuat mungkin” Sean menyeringai, April terdiam mendengar ucapan itu otaknya sedang bingung sekarang.
“Go on baby” Sean mulai menghitung.
“Satu..”
Sialan!
April langsung keluar dari kamar, menuju pintu depan mansion. ****! Mansion ini sangat luas, kakinya gemetar. Dia menoleh kebelakang, Sean hanya berjalan mengikutinya dengan kaki panjang itu.
“Dua..”
Lari April. Lari.
“Tiga..”
“Empat..”
Hidupmu lebih berharga.
“Lima.”
Sean menyeringai melihat April yang berusaha keluar dari taman yang luas itu. Kakinya terus berlari melewati taman. Dia mengarahkan senapan kedepan dan tersenyum puas.
DOR
“Akhh!”
......................