Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Boring Day



Hari yang membosankan datang lagi. Siang ini tidak banyak pekerjaan yang dilakukan, April sedang ikut mendengarkan gosip Millie tentang salah satu karyawan kantor.


“Iya katanya dia pernah menikah dengan pria yang memiliki beda usia 23 tahun”


“23? kau serius?” mata Camelia semakin membulat .


“Sekarang bagaimana?” tanya April. Ini seru sekali tapi tidak disarankan untuk terlalu sering bergosip.


Millie mendekatkan kepalanya, melirik ke kanan kekiri. April dan Camelia semakin fokus untuk mendengarkan.


“Dia pacaran dengan seorang aktor. Cluenya adalah film yang akan tayang minggu ini” Millie berbisik pelan.


Kedua pendengar gosip Millie tercengang. Tangan mereka menutup mulut, menggelengkan kepala. Sedangkan, si informan memberikan isyarat untuk menjaga rahasia ini.


“Hei kalian kembali bekerja!” teriak Bertha, mereka langsung bubar pasalnya suasana hati Bertha sedang tidak baik-baik saja ini karena anaknya memaksa menonton konser BTS. Sedangkan, Bertha kalah dalam war tiket dan susah sekali mencari orang yang sukarela menjual tiketnya.


Psikopat mesum is calling...


April melirik ponselnya yang bergetar, ada panggilan vidio dari Sean. Dia langsung mengangkatnya dan menuju ke pantry.


“Halo sayang, kenapa tidak membalas pesanku?”


April tertawa pelan, sebenarnya dia melihat pesan dari Sean tapi karena Millie mengajak bergosip dia jadi lupa untuk membalasnya.


“Aku lupa”


“Lain kali jangan diabaikan. Kau sudah makan?”


“Sudah.. aku makan pasta dan risotto ah juga apple juice tapi minum air mineral juga”


“Bagus, aku akan pulang lusa”


“Ha? bukannya besok?” tanya April lesu.


Selama Sean pergi ke Brazil untuk waktu yang cukup lama. April merasakan kesepian, meskipun pria itu selalu menghubunginya tapi rasanya berbeda saat mereka bertemu langsung.


Belakangan ini pria itu sangat sibuk, karena banyak tinjauan yang dilakukannya semenjak mengambil alih Raymond Corp. Belum lagi banyaknya permintaan kerjasama dan peningkatan investor.


Padahal Sean pernah bilang alasan dia mengambil alih Raymond Corp karena ingin berada didekat April, dan terus bisa melihatnya. Tapi, malah Sean yang susah dilihat sekarang.


Kenapa April jadi sebal ya?


“Tunggu aku lusa hm, kau mau apa biar kubawakan?” Sean memperhatikan wajah cantik yang sedang berpikir itu. Biasanya saat dia ke luar negeri April meminta dibawakan cemilan khas dari sana.


“Tidak ada. Aku mau kau pulang saja”


“Merindukanku heh, tenang sweetie saat aku pulang kita akan bercinta sepanjang malam” kekeh Sean.


Pipi April memerah mendengarnya. Astaga mereka berdua memang sudah lama tidak bercinta. April jadi semakin rindu.


“Dasar mesum. Apa kau sudah makan?”


“Sudah aku makan banyak, tapi aku masih lapar”


“Ha kenapa?”


Sean tesenyum miring “Karena aku belum memakanmu”


Bukannya jijik atau geli mendengarkan gombalan, April malah tertawa girang. Dia sungguh merindukan Sean.


“Sudah, aku mau kerja lagi nanti Bertha mengamuk kalau aku terlalu lama disini”


“Baiklah.. selamat bekerja sayang”


“Hmm kau juga, bye Sean” April tersenyum dan langsung menutup panggilannya.


...****************...


“Huh persiapannya hampir selesai” Emily menatap puas pada catatan kecilnya.


Keluarga Raymond akan mengadakan pesta ulang tahun Jonathan. Tapi kali ini pesta itu tidak diadakan besar-besaran, mereka hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan sahabat Jonathan.


Ini atas permintaan dari Jonathan, pria tua itu bilang bahwa dirinya ini sudah berumur dan tak ingin terlalu merepotkan istrinya untuk mengadakan pesta. Cukup diadakan di mansion mereka, dengan suasana kekeluargaan yang hangat.


“Kau sudah mengecek dekorasi lampu yang dipasang?”


Sammy yang sedang berada di ruang tamu itu terkejut dengan suara Emily tepat di belakang telinganya. Hosh seperti hantu saja.


“Sudah. Semuanya aman” Sammy melanjutkan goresan pensil di sketsanya.


“Bagus, bagus”


Emily mengambil ponsel bermaksud menelpon Sean. Putranya yang jarang ke mansion itu harus selalu diingatkan untuk datang ke pesta Jonathan.


Berulang kali dia mendial panggilan tersebut tapi tidak ada satupun yang dijawab. Meskipun Emily tau kalau Sean sangat sibuk belakangan ini, tapi pasti punya waktu untuk menjawab satu panggilannya.


Sammy melirik malas, mana pernah Sean cepat tanggap untuk menjawab panggilan keluarganya. Pria itu hanya sibuk dengan pekerjaan, jika ada yang benar-benar penting baru Sean akan mengangkat ponselnya.


“Kirim saja dia pesan, nanti akan dibaca” ucap Sammy.


“Aduh susah sekali punya putra yang super sibuk” Emily menggelengkan kepalanya, beranjak ke dapur.


Selama ini, Emily membuktikan kepada kedua anak tirinya bahwa dia adalah sosok ibu yang kompeten dan memang tulus mencintai mereka. Bahkan kedua orang tua Emily sangat menyayangi Sammy dan Sean, sudah mereka anggap seperti cucu kandung.


Keluarganya mempercayakan sepenuhnya kepada Jonathan untuk melakukan merger perusahaan mereka dengan Raymond Corp. Mereka sudah mengenal Jonathan sangat lama, karena Emily dan Jonathan adalah sahabat sejak kecil.


Itulah mengapa Raymond Corp bisa menjadi sebesar sekarang, yang awalnya hanya bergerak dibidang trasnportasi sekarang menjadi perusahaan dengan jejaring yang luar biasa besar menlingkupi pertambangan, teknologi dan furniture. Dan semenjak di pimpin oleh Sean, Raymond Corp menjadi perusahaan yang lebih stabil dan terus berkembang.


“Kau membuat apalagi sayang?” Jonathan memeluk Emily yang sedang mengaduk adonan kue.


“Aku mencoba resep baru”


“Resep apa?”


“Caramel brwonies” ucap Emily senang.


“Sayang aku mau ciuman” Jonathan mendusel wajahnya manja ke leher istrinya.


Emily awalnya hanya mengecup bibir Jonathan, tapi kemudian pria itu menarik kembali tengkuknya dan menciumnya dalam.


Suara kecupan mereka mengganggu Sammy yang ternyata sedang berada di dapur. Huh menyedihkan dirinya ini.


Saat ciuman Jonathan semakin menjalar ke leher Emily, tak sengaja wanita itu mendesah. Mereka berdua belum menyadari jika ada Sammy disana.


CLACK


Terdengar suara minuman kaleng yang terbuka membuat mata kedua orang tua itu langsung terbuka. Emily merapikan pakaiannya, sedangkan Jonathan menatap garang kepada Sammy.


“Apa? aku hanya ingin minum” tatapan Sammy saat ini persis seperti orang tanpa dosa. Polos sekali.


“Lebih baik kau pergi berkencan dengan pacarmu itu. Jangan mengganggu kami” Jonathan masih menatap garang.


“Ck menyebalkan” Sammy meninggalkan dapur, masuk ke kamarnya dan membanting pintu.


“Anak itu padahal dia yang salah”


Emily hanya terkikik geli, dia tau alasan kenapa Sammy bisa sekesal itu.


“Seharusnya kau tidak menyinggung soal pacar”


“Memangnya kenapa?”


Setau Jonathan Sammy memang sudah punya pacar, dia sangat bangga waktu mendengar berita itu. Putranya yang satu itu belum pernah pacaran, dan kali ini dia sudah memiliki seorang kekasih jadi kekhawatiran Jonathan berkurang.


“Dia di selingkuhi dan baru putus kemarin” Emily menatap kasihan pada adonanya yang terlalu cair.


“Apa?!”


Nasib Sammy ternyata hampir mirip denganya. Mereka sama-sama diselingkuhi, tapi dia berharap hanya saat pacaran saja semoga tidak sampai ke jenjang pernikahan Sammy di selingkuhi.


“Sepertinya adonanku salah”


Emily membaca ulang resepnya, sedangkan Jonathan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sean ingin memastikan bahwa putranya yang satu itu tidak diselingkuhi seperti Sammy.


“Kau menelpon siapa?” tanya Emily.


“Sean, semoga dia tidak diselingkuhi April. Eh tunggu dulu, mereka memang pacaran kan? aku tahu dari Sam”


“Ya mereka pacaran” Emily mengangguk tenang. Dia terus berdoa semoga mereka sampai ke jenjang pernikahan hidup bahagia selamanya sampai akhir hayat. Membayangkannya saja membuat Emily sangat senang.


“Susah sekali menghubungi anak ini”


“Nanti saja telpon lagi, mungkin dia memang sibuk. Panggilanku dari tadi juga tak diangkat”


“Begitu rupanya”


Jonathan memperhatikan Emily yang fokus membuat adonan kue. Dia jadi bergairah melihat Emily sekarang, istrinya yang sedang serius itu sangat seksi.


Oh dia tak tahan. Bawa ke kamar saja istrinya ini.


“Ah! apa yang kau lakukan?!” Emily terkejut karena Jonathan tiba-tiba menggendongnya.


“Aku ingin bercinta, sudah tak tahan” ucap Jonathan. Tatapan mesumnya membuat Emily tertawa.


Mereka berdua sudah tua tapi bukan berarti semangat ranjang mereka menurun. Pernikahan Jonathan dengan Emily memang sudah berlangsung lama, tapi mereka berdua semakin bahagia saja.


......................