
Mobil hitam berhenti didepan pelataran Plaza de Neptune. Alez sudah menunggu disana.
Sean buru-buru keluar dari dalam mobil. Kakinya berjalan dengan cepat, jantungnya berdetak kencang. Rasa cemas dan takut membumbung tinggi dikepalanya.
Tapi seketika hilang dan lega saat melihat wanitanya ada di kolam air pancur. Tawa riang menghiasi wajah cantiknya.
“April!” panggil Sean kencang.
April menoleh, tapi tubuhnya langsung basah kuyup terkena air mancur. Sean bergegas menghampirinya.
Tangan Sean menarik April untuk keluar dari kolam. Wajah wanitanya sangat sembab dan tubuhnya juga basah.
“Ayo pulang, kau akan sakit jika terlalu—“ ucapan Sean terpotong. Bibir mereka menyatu, dia dicium paksa oleh April.
Setelah ciuman itu terlepas, tanganya ditarik dan dipasangkan gelang dengan berlian kecil bewarna biru ditengahnya.
“Sayang, kenapa kau memberiku ini?” tanya Sean.
“Kau tidak suka? ya sih kau kan sukanya sama wanita rambut pirang itu” sindir April, megambil
botol wine lalu meminumnya sambil menuju tempat duduk yang ada didekat air mancur.
Sean mencerna perkataan April. Dalam sekejap dia tahu maksud wanitanya.
Sial! Dia melihat kejadian di ruangannya.
Sejauh mana dia melihat?
“Ayo pulang, kau akan kedinginan” Sean ikut duduk disamping April, memakaikan jasnya di tubuh wanita itu
“Aku tidak mau pergi dengan orang yang tukang selingkuh. Pergi saja sana dengan wanita itu, ah rambut kalian juga sama warnanya. Kebetulan sekali”
“Kau salah paham, aku tidak selingkuh”
April mencibir, dia hendak meminum lagi winenya tapi diambil oleh Sean.
“Kembaikan wineku!”
“Tidak. Kau sudah mabuk sekarang, ayo pulang” Sean berdiri dan mengadahkan tanganya.
April menggeleng kencang “Tidak.. tidak.. tidak”
“Dengar ya psikopat mesum! Kau itu telah menyakiti hatiku. Lihat wajah ini sembab karena terus menangis mengingat wanita itu menunjukkan va—mmpph” bibirnya dicium, tangannya mendorong kuat bahu Sean hinga ciuman mereka terlepas.
“Aku lanjutkan.. dengar setan gila! wanita mana yang tidak sakit hati melihat prianya bermain bersama wanita lain ha?!” teriak April, wajahnya sudah memerah karena mabuk.
“Maafkan aku sayang, tapi kau salah paham. Aku bersumpah tidak melakukan apapun”
“Cih penipu! pembohong! pria brengsek. Pergi kau dari hadapanku, aku mau pulang sendiri” April berdiri susah payah.
“Pulang denganku ya.. aku akan menjelaskan semuanya padamu saat kau tidak mabuk lagi seperti ini”
“Aku tidak mau pulang ke mansionmu!”
“Lalu kau akan kemana?” tanya Sean sabar.
“Kemana kek” ucap April seenaknya, tubuhnya linglung. Sean yang mengikutinya dari belakang menopang tubuh wanita itu.
“Lepaskan tangan busukmu itu. Aku tidak suka disentuh oleh setan mesum sepertimu”
Sean tidak tahan dengan April yang terus mengoceh dalam keadaan mabuk ini. Tubuh wanitanya sudah gemetar karena dingin, bibirnya juga pucat.
Digendongnya April yang terus meronta menuju mobil, Alez membukakan pintu disebelah kursi pengemudi dan menyalakan penghangat.
Sean masuk kedalam mobil, dia tertegun melihat April yang menangis sambil menundukkan kepala.
“Sayang.. maafkan aku hmm, ini tidak seperti yang kau pikirkan” Sean memeluk erat tubuh wanitanya.
“Kau..k-kau diruangan itu.. bersamanya..” ucap
April sambil menangis tersedan.
“Biacara pelan-pelan hmm”
Wanita itu menarik napas, menghembuskan pelan untuk menghentikan tangisnya “Aku.. tidak suka kau bersamanya”
“Maafkan aku sayang, kau tahu kan kalau aku hanya milikmu seorang”
April linglung sekarang, kepalanya berputar dia hanya terus bicara apa yang ada di isi hatinya. Dia terlalu banyak minum wine, padahal minum alkohol sedikit saja dia sudah mabuk.
Tapi tadi menghabiskan setengah botol adalah rekor terbaru. Toleransinya terhadap alkohol sangat rendah.
“Kau meninggalkanku sendirian dikamar juga tidak membalas pesan, telpon juga tidak diangkat. Aku kesal tahu!” teriak April, melepaskan pelukan itu lalu menatap keluar jendela.
“Aku sedang rapat tadi, kau menghubungi ku terus ya?” tanya Sean lembut.
“Huh! Aku ingin memberikanmu gelang berniat untuk melamar duluan, tapi kau melakukannya lebih dulu.. jadi aku menemuimu di kantor untuk tetap memberikannya”
Sean terkejut dengan perkataan April. Jadi wanitanya ini berniat untuk melamar? astaga menggemaskan sekali.
“Aku ingin melamarmu juga tapi cih susah sekali menemuimu di sana! belum lagi ada wanita... akh aku kesal!” April meninju kencang lengan Sean. Melampiaskan amarahnya, pria itu hanya diam saja.
“Harganya 25.000 Euro tahu, aku merelakan penunggakkan listrik apartemenku dan kartu kredit demi sepasang gelang! Demi kau si tukang selingkuh!”
Sean masih diam dan mendengarkan ocehan April.
“... itu karena aku menyayangimu, mencintaimu Sean. Tapi kau hikss bahkan kita belum pernah bercinta di atas meja kerjamu itu..”
“Uangku sekarang habis karenamu. Dasar brengsek.. gelang satunya lagi tidak bisa kutemukan. Padahal itu sangat mahal! Huaaaa gara-gara kau! aku melemparnya ke kolam karena kesal denganmu” April terus mengoceh dan berteriak sambil memukul kuat dada bidang didepannya, hingga wanita itu kelelahan.
Sean merapikan rambut April yang ada dipelukannya. Wanita itu menatap terus, tanpa dia sadari bibirnya mengecup rakus leher Sean.
“Aku mencintaimu Sean..”
“Aku juga mencintaimu April.. mmhhh” Sean mendesah, mendongakkan kepalanya agar April leluasa mengecup jakunnya.
“Maukah kau menikah denganku? itu yang ingin aku ucapakan sore tadi” bisik April.
“Ahh aku mau sayang, dan maafkan aku please baby..” Sean memohon sambil memejamkan matanya, lehernya terus dihisap oleh April.
Sepanjang perjalanan April kembali mengoceh tentang hal yang telah dilaluinya hari ini. Wanita itu juga mengeluh iri melihat sepasang kekasih yang dia jumpai tadi.
Hingga wanita itu tertidur lelap didalam mobil.
...****************...
Sean mengecek suhu tubuh April yang sedang tertidur di ranjang kamarnya.
“Suhunya normal. Dia baik-baik saja, kau tidak perlu memanggil Benjamin” ucap James.
“Kau benar, tubuhnya juga tidak ada luka apapun”
Semuanya tadi kena amuk habis-habisan oleh Sean karena April yang menghilang. Termasuk James yang sampai takut, dia lalai tidak membalas pesan April.
Untungnya wanita itu ditemukan. Kalau tidak bisa gawat hidup mereka.
“Aku sudah memerintahkan mereka untuk mencari gelang itu. Lalu untuk masalah Rachel, keluarganya menerima uang dengan raut bahagia tapi kami juga membuatkan perjanjian kepada mereka sesuai dengan perintahmu” lapor James.
“Ini vidio rekaman cctv diruanganmu, ah aku juga memasukkan rekaman di luar ruangan. Kau harus melihatnya” ucap James, memberikan ipad kepada Sean.
“Ganti interior ruanganku disana dan buang semua perbatotan yang lama”
“Baiklah..” James keluar dari kamar.
April tidur nyenyak, dia dengan nyaman memeluk bantal guling.
Sekitar pukul dua dini hari April terbangun. Perutnya berbunyi karena lapar. Kepalanya menoleh kebelakang, ada dada bidang. Sean sedang memeluknya.
Kepalanya berdenyut sakit. Pasti karena mabuk tadi malam, April tidak dapat mengingat semuanya. Dia hanya ingat saat mendapatkan gelang lalu memakaikannya ke tangan Sean.
Dia beranjak keluar dari kamar itu. Masih kesal dengan Sean, tapi lapar lebih menguasai dirinya sekarang.
Semua orang di mansion pasti masih tidur. Jadi dia melihat sendiri bahan makanan yang ada di kulkas. April menginginkan nasi goreng sekarang.
“Kau cari apa?”
April terkejut bukan main. Tapi itu suara Sean, abaikan saja. Lanjut mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.
“Biar aku yang masak, kau mau makan apa?”
Cih April makin sebal melihat wajahnya. Dia hanya mengedikkan bahu lalu duduk di meja makan. Malas berbicara dengan pria itu.
Tapi bukannya pergi dari dapur, Sean malah mulai memasak sesuatu disana. Wanginya juga enak, April tergoda untuk mencicipinya.
Sepiring nasi goreng hangat yang tampak lezat dibuat oleh Sean. Bagai mampu membaca pikiran, pria itu membuat nasi goreng yang memang di inginkan. Setelah menyakikannya, Sean duduk di samping April.
“Makanlah sweetie”
April menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya. Tidak ada pilihan lain, perutnya sudah meronta minta diisi.
‘Rasanya sangat enak!’
Nasi goreng itu habis dalam sekejap. Sean juga membuatkan susu hangat untuknya. April menegaknya hingga tandas. Perutnya kembali bahagia, sudah kenyang.
“Sudah? aku mau tunjukkan sesuatu padamu supaya kau tidak marah lagi”
Sean memperlihatkan sebuah vidio rekaman cctv di ruanganya sore itu. April mengerenyit melihatnya, lalu dia memejamkan mata saat tubuh wanita itu terkulai. Dia menoleh ke samping, Sean tersenyum kepadanya.
Tanpa mengatakan apapun, April tahu kalau Sean memang tidak melakukannya dengan wanita itu. Tapi masalahnya disini adalah dia sudah melenyapkan nyawa seseorang begitu mudahnya.
“Maafkan aku sayang.. kau terkejut ya? soalnya kalau aku tidak memperlihatkan vidio ini padamu pasti kau tidak akan percaya padaku”
Ini mengerikan! Sean tidak merasa bersalah sama sekali.
“Sean...”
“Ya sayang?” nadanya terdengar gembira mendengar suara April.
“Seharusnya kau bisa dengan menyeretnya keluar dari ruanganmu atau panggil keamanan untuk membawanya keluar”
“Jangan anggap nyawa seseorang adalah lelucon bagimu, ada keluarga yang menantinya dirumah” lanjut April.
“Keluarganya tidak menanti, mereka bahkan tdiak peduli. Dia memang cari mati sayang, beraninya menggodaku. Aku hanya milikmu kan” ucap Sean.
April menghela napasnya lalu mengangguk, percuma berbicara dengan pria didepannya ini. Dia lega ternyata Sean berkata jujur, di satu sisi ada ketakutan di dalam hatinya.
Tapi dia sudah terlanjur mencintai Sean. Tidak bisa menghindar lagi.
“Jangan membunuh orang lagi. Ini permintaanku padamu. Satu lagi, aku tidak suka kau dengan wanita lain” bisik April.
Sean hanya diam dan terus memeluk April. Wajahnya tenggelam di ceruk leher wanitanya.
“Ini berarti kau mau memaafkanku?”
“Hmm tapi penuhi permintaanku itu”
“Iya”
‘Tapi aku tidak janji, sayang’
Mereka berdua menuju ke kamar. Tidur kembali di ranjang dengan tubuh yang saling berpelukan, memberikan kehangatan. Lalu keduanya tergerak untuk saling berciuman.
“Ahh ngghh”
“Mmmhh”
April terus bergerak di atas tubuh Sean yang memegang erat tubuhnya.
Hingga keduanya menggeram nikmat mencapai pelepasan. April meyambar bibir seksi yang ada dibawahnya. Ciumannya turun ke leher Sean, terus menghisap.
“Aku suka aroma tubuhmu” bisik April.
“Hmm teruskan sweetie” Sean memejamkan matanya.
April berhenti mencium, menatap Sean dari atas yang membuka mata.
“Kenapa sayang?”
“Hueekk”
Perut April bergejolak, dia memuntahkan semuanya mengenai tubuh Sean.
“Sean.. maafkan aku.. hueekk”
Sedangkan pria itu hanya memejamkan mata. Setelah April tidak muntah lagi, wanita itu memandangnya panik segera menyingkir dari atas tubuhnya.
“Tidak apa-apa, aku bersihkan tubuh ini sebentar” Sean beranjak hati-hati menuju kamar mandi.
Sangat memalukan, apa yang telah dia lakukan didepan Sean! Ini semua karena alkohol.
April menyusul Sean menuju kamar mandi, menggunakan wastafel untuk membersihkan wajahnya. Juga yang paling penting berkumur.
Kain lap basah dia gunakan untuk menyeka tetesan muntahnya di ranjang. Untungnya tidak banyak yang menetes, April tidak enak hati dengan Sean.
“Kau tak apa? maafkan aku”
“Tidak perlu khawatir” ucap Sean, menelpon seseorang.
“Kau menelpon siapa?”
“Dokter Benjamin, biar kau diperiksa”
April merebut ponsel itu, dia tidak mau merepotkan orang lain di waktu dini hari. Orang-orang pasti akan terganggu.
“Aku tidak mau merepotkan orang malam-malam begini. Ini hanya pengar karena mabuk” ucap April.
Sean menghela napasnya, memilih untuk mengalah “Mulai sekarang kau tidak boleh minum alkohol lagi. Apa kau sungguh tidak ingat apapun?”
“Tidak, aku mau tidur tapi perutku tidak nyaman”
“Kemari” Sean menuntunya berbaring diranjang, pria itu memeluknya dari belakang. Tangannya yang besar menyingkapkan blouse tidur April, mengelus lembut perut wanitanya.
“Aku ngantuk”
“Tidurlah sayang”
Rasanya sangat nyaman, dan perut April tidak
bergejolak lagi seperti tadi. Tapi dia teringat sesuatu.
Besok dia harus kembali ke New York. Karena cutinya sudah habis.
“Em Sean”
“Hmm”
“Aku harus pulang ke New York besok,
cutiku sudah habis”
Tangan Sean terus mengelus perut, bibir pria itu mencium tengkuk lehernya.
“Kita pulang bersama besok dan mempersiapkan pernikahan kita”
......................