
April masuk kedalam apartemenya dengan perasaan bahagia, karena mendapatkan hadiah kalung dari Emily.
Tanpa mengganti gaunnya, dia langsung merebahkan tubuh di ranjang. Menatap senang pada kalung yang ada ditanganya.
“Mau aku bantu pasangkan?”
“Mau mau” April mendudukan tubuhnya, membelakangi Sean.
Kalung cantik telah bertengger di lehernya yang indah itu. Resleting gaunya dibuka oleh Sean. Punggung putih mulus itu dikecup lembut.
“Ganti pakaianmu, aku mandi dulu” Sean beranjak ke kamar mandi, diikuti oleh April dari belakang. Wanita itu mau mebersihkan wajahnya.
Matanya sudah terbiasa melihat tubuh Sean yang naked. Pria itu sedang mandi, sedangkan dirinya mencuci bersih wajah juga menyikat gigi.
Setelah selesai April keluar duluan dari kamar mandi. Memakai gaun tidur satinya, lalu merebahkan tubuh di ranjang yang empuk.
Tiba-tiba ingatan tentang cerita Emily tadi melintas didalam pikirannya. Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya, rasa ingin tahu itu semakin besar.
“Sayang, pakaian dalamku kau letakkan dimana?”
“Di rak kedua, cari dengan benar”
Karena Sean terlalu sering berada di apartemenya, maka pria itu juga menaruh pakaiannya di lemari April.
CUP CUP
Kecupan di betis membuat April menunduk kebawah. Sean merangkak, menyusul untuk ikut berbaring di ranjangnya.
“Kau yang membayar tagihan listrik dan mentrasferkan uang ke rekeningku?” tanya April.
“Hmm” gumam Sean.
Benar berarti. Beginj rasanya punya kekasih yang punya banyak uang. Cukup menyenangkan ternyata.
“Terima kasih sayang” ucap April senang, yes dia punya banyak uang sekarang. Dia tertawa kencang didalam hatinya.
“Sama-sama” mata biru melengkung manis, kedua tangan April merengkuh wajah tampan itu dan menhujaninya dengan kecupan.
“Bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Katakan”
“Kenapa dulu kau tidak mau ikut dengan keluargamu di New York?”
Sean mengerenyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu. Sepertinya Emily tadi menceritakan masa lalunya kepada April. Padahal dia tidak mau mengungkit lagi hal kelam yang pernah dia lalui.
“Tak apa jika kau tidak bisa menceritakannya” melihat Sean hanya diam, April mengecup lembut tangan pria itu.
“Aku masih remaja saat itu, pikiraku dipenuhi oleh ucapan dia yang mengatakan kalau Emily menghancurkan keluarga kami. Tapi sekarang aku sudah tahu kebenarannya dan mana yang salah atau benar”
“Syukurlah kalau begitu dan aku ingin bertanya satu hal lagi, tapi aku harap pertanyaan ini tidak menganggumu”
“Katakanlah sayang”
“Kenapa ibumu sampai bunuh diri?”
Lama Sean terdiam, matanya menatap dalam. April tersenyum dan menepuk pelan bahu pria itu.
“Dia tidak bunuh diri, tapi dia dibunuh”
DEG
Jantung April berdetak kencang, takut hal yang dipikirkannya adalah benar. Tidak mungkin kan, dia terus menunggu Sean untuk melanjutkan kalimatnya.
Sedangkan Sean tahu arti tatapan April.
“Bukan aku sayang, orang lain yang membunuhnya. Itu karena perbuatannya sendiri, membawa lari uang dan meniduri suami orang” jelas Sean.
“... saat itu aku sama sekali tidak merasa sedih atas kematiannya, brengsek memang. Tapi hatiku telah beku untuk bersimpati kepadanya karena dia adalah orang pertama yang selalu membuat luka”
Sean melanjutkan ceritanya “Aku bahkan harus banting tulang mencari uang agar tetap sekolah, dipukul berkali-kali oleh dia pun aku hanya diam. Terkadang sangat malu saat dia menyuruhku meminta uang terus-terusan kepada daddy, padahal hanya untuk dirinya seorang”
“Itulah sebabnya kau tidak suka kepada wanita yang mata duitan” ucap April, mengelus rahang Sean lembut.
“Sepertinya begitu” kekeh Sean.
“Apa kau masih sedih sekarang?”
“Tidak, justru aku ingin melupakan semuanya”
April mengangguk puas, jarinya memainkan gelang hitam di pergelangan tangan Sean.
Dia melenguh sedih “Pasti saat itu kau sangat kesepian, kalau aku saat ibu sudah meninggal ada Maria dan Thalita yang selalu menemaniku”
“Aku sangat berterima kasih kepada mereka telah menjagamu dengan baik”
Senyuman terbit di wajah April. Dia merangkak naik ke atas tubuh Sean, menatap mata biru pria itu.
“Kau tahu tidak saat terbaring di rumah sakit, kau selalu menggenggam tanganku. Waktu itu kau kecelakaan di Interlaken”
“Aku ingat itu, habisnya ada bidadari yang menyelamatkanku jadi harus digenggam terus” Sean tertawa ketika wajah wanitanya memerah malu.
“Ck mulutmu itu pandai sekali merayu”
“Kau itu sangat cantik jadi wajar saja jika aku merayumu. Ah saat makan malam tadi kau juga sangat cantik, aku sampai terpana melihatmu. Milikku sampai berdenyut hebat” bisik Sean.
Sean tidak berbohong, wajah April yang tidak berdandan saja sudah sangat cantik apalagi saat wanita itu berdandan membuat jatung Sean berdetak lebih cepat.
“Cih pantas saja kau punya banyak mantan, bermulut manis”
“Mereka yang mengajakku kencan sayang, aku tidak pernah mengajak mereka duluan. Aku juga tidak menyukai mereka”
“Lalu kenapa kau terima?”
Kurang kerjaan sekali pria ini menerima ajakan kencan dari orang yang tidak dia suka.
“Untuk menghabiskan uang saja” goda Sean.
“Aku saja tidak pernah diajak kencan apalagi mengajak duluan” April mendengus kasar. Sean saja belum pernah mengajaknya kencan secara resmi, adanya secara paksa.
Menyebalkan!
Pria itu malah terkekeh “Kau tidak laku ya?”
“Diam kau!”
...****************...
“Ahh ahh terus ngh”
Kedua tangan lembut menekan kepala yang berada dibawah. Godaan lidah pada bunga mekarnya menghantam panas yang terus diinginkan.
“Kau suka hm?”
“Nghh lagi sayang, aku suka”
Wangi harum terus membuat Sean mencicipinya. Mata terpejam memberikan apa yang wanitanya suka. Hingga April bergetar dan melenguh puas.
Batangnya dimasukkan kebawah, dorongan pelan. Merangkak keatas, Sean memeluk erat April membisikkan kalimat yang menggoda.
“Aku mau.. berikan kepadaku” April menatap sendu. Kepalanya mendoangak saat merasakan hentakan kuat.
“Ohh!”
“Nghh ahhh”
Keduanya bergerak bagai gelombang yang dipengaruhi panas api. Terus menerus mencapai puncak.
“Berbalik sayang” ucap Sean.
Wajah April tenggelam di bantal, menggigitnya kuat. Pinggangnya dipegang erat.
“Ahh pelan-pelan”
“Maaf sweetie.. ngh aku tidak bisa mengendalikan diri”
“Ahh Sean!” April berteriak kencang, karena suatu dorongan seperti dihajar oleh binatang buas.
“Kau membuatku gila!”
Dorongan itu semakin liar, stamina Sean tidak ada habisnya. Berkali-kali membuat April merasakan puncak.
Mereka berdua berakhir disofa, dengan Sean yang menyusu lembut. Satu tangannya meremas pelan.
“Kau menyiksaku terus hari ini. Pinggangku terasa mau patah”
Sean mendongak “Maaf.. salahkan dirimu yang terlalu nikmat setiap hari. ” lalu dia lanjut menyusu.
April berdecak kesal, melapaskan hisapan Sean. Memaksanya untuk berbaring telentang, karena dia tergoda untuk balik mencicipi.
“Ahh mmhh” Sean sangat puas dengan apa yang dilakukan wanitanya sekarang.
Mata April memejam saat tidak masuk semuanya. Tapi hisapan itu terus berlangsung.
‘Ini terlalu besar!’
“Sayang ohh sial!” umpatan itu dibuktikan dengan genggaman erat pada sofa. Urat di tangan Sean sampai menonjol karena terlalu dibumbung nikmat.
Sedangkan wanitanya masih berlanjut bermain dibawah. Gigi kelincinya menggigit pelan, dan tertawa lucu saat Sean kembali mengumpat.
Hisapan di mulut kecil itu berakhir saat Sean mengangkat paksa tubuhnya, ketika merasa akan keluar.
“Gendong, kita ke ranjang saja disini sempit” rengek April.
Sean tertawa pelan, mencubit pipi menggemaskan itu. April menempel padanya seperti koala. Keduanya berbaring kembali di ranjang.
Gantian sekarang April yang menyusu, tangan Sean tidak bisa diam. Jari bergerak dibawah menekan dalam-dalam.
Bibir mereka menyatu lembut saling bertukar kehangatan. Jari itu semakin bergerak cepat.
“Ahhh ouhh” April mendesah pelan lalu dia tersenyum nikmat.
“Rupanya kau mau lagi”
Anggukan lesu itu dibalas ciuman manis diseluruh wajah April. Mereka berdua saling berpelukan dan terus menyatukan diri.
“Ahh I love you”
Sean tersenyum senang mendengarnya “I love you too sweetie”
...****************...
Pukul enam pagi April sudah bangun berkat alarm di ponselnya. Sebenarnya dia masih ingin tidur, karena tubuhnya lelah diterkam habis-habisan oleh Sean. Tapi dia harus kerja hari ini, ada rapat penting bersama CEO.
Sekarang CEO itu sedang tidur nyenyak disebelahnya. Tangan April menggulir kamera ponselnya untuk memotret Sean yang masih tidur.
“Aduh sedang tidurpun masih tampan” ucapnyabsenang.
Dia teringat dengan sepasang kekasih di Madrid yang terus foto bersama. April ikut-ikutan untuk berfoto dengan Sean.
Lagian mereka belum pernah foto berdua. Ingatkan dia untuk berfoto yang benar dengan Sean nanti.
“Hem bagus bagus” April menatap puas terhadap foto yang dia ambil diam-diam.
Tentu saja April hanya melihat wajahnya. Sean yang memejamkan mata itu tetap bagus saat difoto, jadi tidak usah dihiarukan.
“Ngh kau sedang apa?”
April menunjukkan foto mereka berdua, Sean hanya melirik sebentar kemudian menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanitanya.
“Aku ganti wallpaper ponselmu ya?”
“Hmm” Sean hanya berdehem pelan.
Sebuah foto yang hanya menampilkan wajah mereka berdua menjadi wallpaper ponsel Sean sekarang. Tawa senang menghiasi pendengaran pria itu, diam-diam dia tersenyum dan terus mengecup leher wanitanya.
“Ayo mandi, kita harus pergi kerja” ajak April.
“Sebentar. Aku ingat sesuatu, kenapa kau tidak memakai mobilmu jika sedang pergi?”
Pasalnya setelah Sean mengganti mobilnya setelah kejadian penghancuran itu, April tidak pernah sekalipun mengendarainya. Hingga sekarang saat mereka sudah berbaikan.
“Tidak mau, mobil itu bukan bubu ku”
Sean menghela napasnya “Kalau begitu aku belikan yang lain hmm”
April menggeleng “Tidak mau”
“Berbeda dengan bubu”
“Aku bilang tidak mau” air mata mulai menggelinang di pelupuk mata hitam April.
Seketika Sean panik lagi dan langsung memeluk wanitanya, kecupan di wajah cantik itu terus dilakukan untuk menenangkannya.
“Iya iya sayang, jangan menangis kumohon”
April mengusap matanya, dia sangat sensitif sekarang “Cium bibir”
Bibir yang memanyun minta dicium itu sangat menggemaskan. Hati Sean menjadi hangat, dia sudah jatuh terlalu jauh didalam pelukkan April.
Kedua bibir menyatu lembut, suara cumbuan terdengar mesra. Ciuman itu berhenti hanya untuk April menarik napasnya lalu melanjutkan ciuman, mereka tertawa senang.
......................
Finally sudah chapter 40. Gak kerasa yah
Aku mau curhat sedikit
Hari ini aku gagal lagi dalam seleksi kerja. Capek banget dan rasanya mau nyerah tapi mikir dua kali karena banyak impian yang belum tercapai
Apa minta loker aja sama babang Sean? wkwkwk
Tapi, melalui novel ini aku seneng banget bisa menyalurkan hobi. Juga buat aku bisa menghilangkan sedikit kesedihan karena gagal berulang kali.
Terima kasih selalu mendukung novel ini..
Tetap berikan dukungan kalian yah buat novelku..