
Marelyn Hospital 08.15 PM
“Total korban ada 12 orang! cepat bersiap!”
IGD menanti korban atas kelalaian pengendara truk. Kecelakaan itu mengakibatkan 12 orang korban terluka. Lima diantara korban tersebut terluka parah.
“Ambulan sudah datang!”
Seluruh petugas rumah sakit sudah bersiap menunggu didepan. Para perawat dan dokter langsung menangani korban dengan cepat.
“Anda wali pasien?”
“Iya” Sean mejawab cepat, wajahnya sudah pucat pasi karena panik.
“Kami akan melakukan operasi sekarang, lukanya sangat parah dan maaf...janinya tidak bisa diselamatkan” ucap dokter tergesa.
“Silahkan... tolong selamatkan dia”
Sean memohon dengan pasrah, dia meminta kepada dokter neurologi tersebut melakukan operasi semaksimal mungkin.
“Operasi akan berlangsung lama. Harap untuk bersabar”
Mata biru itu menatap getir kepada seorang wanita yang dibawa tergesa-gesa menuju ruang operasi. Pintu tertutup, dia hanya berhadap April selamat dan bisa kembali kepadanya.
Dia mengangkat telapak tangan yang penuh dengan darah. Terduduk di lorong yang dingin dan sepi. Air matanya mengalir lagi, seandainya bisa menggapai April lebih cepat saat itu.
Dari ujung lorong langkah kaki yang berlari cepat, membuka akses pintu ruang khusus operasi. Berusaha menahan tangis yang menumpuk di tenggorokan. Mencuci tangan yang gemetar, kakinya mendendang tak sabaran akses pintu operasi yang sedang berlangsung.
“Dokter Carissa Adelaide tiba” ucap perawat, cekatan memasangkan sarung tangan steril.
Tubuh Carissa membeku masih tidak menyangka sahabatnya yang terbaring di sana. Ranjang operasi yang dingin itu adalah tempat yang tidak seharusnya dikunjungi oleh April.
“Kenapa kau masih disitu?! janinya harus dikeluarkan sekarang!” Dokter neurologi itu marah karena Carissa masih terpaku.
“Carissa!!”
Akhirnya wanita itu tersadar, tangannya gemetar mengambil pisau bedah. Dia menarik napasnya dalam saat melihat perut di depannya ini. Bertekad harus cepat dan jangan sampai ada kesalahan, dia harus menyelamatkan sahabatnya sendiri.
Pisau bedah itu terus membuka persayatan selama operasi. Janin kecil yang sudah tidak bernyawa didalam perut April diangkat.
Carissa menahan tangis saat memegang janin yang masih sangat kecil itu. Napasnya tercekat meletakannya di atas kain hijau steril.
Wanita itu melalukan tugasnya dengan cepat. Menyerahkan menutup luka kepada asisten operasinya. Lalu menyerahkan operasi selanjutnya kepada dokter ortopedi dan dokter neurologi.
Pintu operasi yang sedang berlangsung itu tertutup. Tanda hijau didepan pintu membuat wanita itu menjatuhkan air matanya.
“Maaf April” gumamnya pelan.
Bayangan wajah yang bahagia melihat hasil usg melintas dalam ingatannya. Betapa sedih sahabatnya saat mengetahui anaknya sudah tiada.
Dirinya tidak sanggup untuk terus berada di ruang operasi. Masih tidak menyangka April mengalami ini semua, padahal mereka barusan masih berbicara lewat telepon. Tapi sekarang wanita itu tidak sadarkan diri bertarung antara hidup dan mati.
...****************...
“Hei bersihkan dulu dirimu. Setelah itu kau bisa kesini lagi”
“Benar yang dikatakan Sammy” ucap James.
Mereka khawatir dengan kondisi Sean yang sudah tidak karuan. Pakaiannya penuh dengan darah, wajah itu terlihat kusut dan terus melamun menatap lantai dibawah kakinya.
Carissa keluar dari pintu, menoleh ke arah tiga orang yang sedang menunggu operasi. Dia mendekati Sean lalu menampar kencang wajahnya.
PLAK
Sammy dan James yang berada disana sangat terkejut. Sedangkan Sean hanya diam saja. Rasa sakit apapun seperti hanya angin lalu untuknya sekarang. Dia seperti orang yang tidak bernyawa.
“Bersihkan dirimu yang kotor itu. Aku tidak mau melihat April kesal karena tubuhmu yang kotor”
Tamparan keras memberikan bekas memerah di wajah itu. Setelah mengatakan hal tersebut Carissa pergi meninggalkan lorong. Tangannya mengepal kuat karena amarah setelah melihat Sean.
Jika bukan karena pria itu, April mungkin tidak akan mengalami hal seperti ini. Sahabatnya itu pasti sedang main game atau menonton drama disaat jam seperti sekarang.
“Cepatlah ganti pakaianmu” suara lembut berasal dari Emily, mengelus punggug rapuh putranya yang sedang bersedih.
Seorang dokter menemui Sean yang masih terududuk melamun.
“Sir Raymond, anda wali pasien April Lilian Berwyn?”
Kepala Sean mendongak dia berdiri “Benar itu saya”
“Kami sangat menyesal mengatakan janin sudah tidak memiliki denyut jantung dan sudah dikeluarkan dari rahim ibunya tanpa masalah apapun. Untuk saat ini proses operasi dengan dokter ortopedi masih berlangsung, cedera tulang belakangnya cukup parah. Kami juga mendeteksi kerusakan pada kepala belakangnya, operasi akan berlangsung lama sekitar 23 jam. Terus berdoa untuk keselamatan pasien, kami akan berusaha menyelamatkannya”
Semua yang ada dilorong itu hanya bisa terdiam. Menatap sedih pintu operasi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, berterima kasih kepada dokter yang memberitahukan keadaan sekarang.
Dokter tersebut tersenyum sedih, lalu masuk kembali ke ruang operasi. Ini akan menjadi operasi yang lama, karena menangani cedera kepala belakang tidaklah mudah. Dalam hal ini dokter neurologi harus berhati-hati, saraf adalah hal paling rumit dalam operasi.
“Terima kasih kerja keras anda” ucap Jonathan.
Hati Jonathan teras diremas melihat putranya yang sedang mengusap air mata. Dia tidak pernah melihat putranya menangis setelah dewasa seperti ini. Bahkan saat pemakaman ibunya sendiri, Sean tidak menunjukkan raut sedih.
“Son, semuanya akan baik-baik saja” Jonathan memeluk tubuh rengkih yang menangis tersedu.
Jonathan tetap berharap April bisa bersama mereka lagi. Walaupun dia dan semua orang yang ada disini tahu arti senyuman sang dokter. Kemungkinan besar akan sulit untuk April bertahan.
...****************...
Lalu matanya tertuju kepada hasil rontgen. Wajah seriusnya berubah menjadi datar. Dahinya mengerenyit menatap Carissa yang ada didepannya.
Prof. Anna penasaran bagaimana dengan saran dari temannya. Tadi Carissa sampai berlutut kepadanya untuk meminta bantuan menghadap kepada Prof. Rose seorang dokter neurologi utama di Marelyn Hospital.
“Michael melakukan prosedur yang tepat” ucap Rose.
“Apa ada cara lain supaya dia bisa selamat? awalnya aku ragu setelah melihat rontgennya” Anna menghela napasnya, sedangkan Carissa menekan kuat jari-jarinya.
“Ada, tapi kemungkinan berhasil sangat kecil. Sebaiknya kita lihat perkembangnnya terlebih dahulu, aku tidak bisa melakukan apapun karena sudah diambil alih oleh Michael. Kau harus percaya dengan kemampuannya, dia itu juga seorang ahli. Aku yakin operasinya akan berhasil. Tak usah terlalu cemas”
Rose menenangkan Carissa yang masih gelisah. Lagi-lagi wanita itu menangis, dia takut kalau operasinya gagal dan merenggut nyawa sahabatnya. Tidak menginginkan hal itu terjadi.
“Jika berhasil, apa dia bisa cepat sadar?”
Rose menggelengkan kepalanya “Kemungkinan besar dia mengalami koma dan menunjukkan kondisi vegetatif tubuh”
Carissa bangkit dari sofa, dia menundukkan kepala dan permisi untuk keluar. Seandainya dia bisa menemui April dan menahan wanita itu untuk tetap berada di dalam apartemen.
Rasanya kepala itu mau pecah memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan sahabatnya itu. Hingga memohon untuk menemui Prof. Rose, bahkan dokter hebat itu juga hanya bisa menenangkannya.
Operasi masih berlangsung, memakan waktu yang sangat lama. Hatinya tidak tenang.
Saat kembali keruangannya, sebuah album biru untuk janin masih tergeletak diatas meja. Carissa terus berusaha menahan tangisnya.
Sementara itu di lorong rumah sakit yang sudah gelap hanya ada Sean, Emily dan Jonathan. Mereka masih menunggu dengan kabar dari ruang operasi.
Tujuh jam telah dilalui April menjalankan operasi besar. Pakaian Sean belum berganti, pria itu enggan beranjak dari kursi tunggu. Ingin menemani wanitanya melewati operasi itu. Jauh didalam lubuk hatinya, sangat berharap operasi berhasil.
“Makanlah dulu nak” Emily khawatir melihat kondisi putranya yang melewatkan makan malam.
“Tidak mom”
Jonathan memberikannya sebotol air minum “Setidaknya minumlah ini”
Anak keras kepala itu memang tidak bisa dihentikan. Jonathan sangat tahu, itulah sebabnya dia tidak menyuruh Sean untuk berganti pakaian atau makan.
Malam ini berita kecelakaan di perempatan St. Halleway menjadi perbincangan hangat. Supir truk ternyata dalam keadaan mabuk, seharusnya truk berada di jalur khusus.
Dari lima orang yang terluka parah, tiga diantaranya meninggal karena terlindas. Dan dua korban sedang kritis termasuk April yang masih dalam operasi.
Kepolisian berhasil menangkap supir tersebut. Proses hukumanan akan berlangsung besok. Banyak yang mengatakan kalau pihak dari truk pemasok barang itu adalah tanggung jawab dari sebuah perusahaan makanan kemasan. Akan sangat sulit bagi mereka menghindari hukuman berat.
“April anak yang kuat, mommy tahu itu”
Sean tersenyum kecut mendengar kalimat Emily, pasti wanita itu terkejut saat tahu kalau April ternyata sedang hamil.
Semua ini memang salahnya, tamparan kencang Carissa tadi masih belum cukup untuk menyiksa dirinya. Dia sudah kehilangan seorang anak sekarang, itupun sudah meremukkan hatinya. Jika dia kehilangan April ntah apa yang akan terjadi dihidupnya.
Matahari terbit begitu saja, seolah mengejek Sean yang masih duduk di sana. Pria itu tidak tidur, makan ataupun minum. Tenggorokannya tidak bisa meneguk apapun saat ini.
Keluarganya bergantian untuk menemaninya disini. Terus mengajak makan, minum ataupun sekedar berjalan sebentar.
“Kau masih akan terus disini?” tanya Sammy.
“Hm”
Saudara kembarnya itu mengangguk pasrah. Duduk disamping Sean yang terus menatap lurus. Keduanya diam tanpa bicara apapun. Sammy menoleh ke arah pintu berharap untuk sebuah kabar baik.
Tangannya menepuk punggung Sean. Lalu dia juga duduk disana sambil menatap awan diluar jendela.
“April pernah mengataimu tidak waras, dia juga terus mengoceh dikurung oleh orang gila saat itu”
Kekehan pelan itu terdengar oleh Sammy, baguslah adiknya itu akhirnya tersenyum walaupun sedikit.
“Lalu dia menaiki tangga tergesa-gesa saat aku bilang kau suka susu”
Lagi-lagi Sean terkekeh kali ini kepalanya menggeleng pelan “Kapan itu?”
“Saat kau berada di mansion dan sedang sakit”
“Pasti wajahnya memerah” ucap Sean.
“Tepat sekali, seperti kepiting rebus”
Suasana kembali hening setelah percakapan singkat mereka. Tiap detik tidak terasa sudah berlalu, semua orang terdekat April sudah menunggu kabar lain.
Operasi sudah berlangsung 24 jam, tapi belum ada kabar sama sekali. Hingga seorang dokter tadi malam keluar untuk menemui mereka.
Dokter itu tersenyum senang, Sean berdiri lalu menghampirinya “Operasinya berhasil, meskipun kondisinya belum stabil tapi pasien menunjukkan peningkatan yang bagus untuk reaksi motoriknya. Ini sangat mungkin bagi pasien bisa sembuh dan beraktifitas kembali. Kami akan terus memantau kondisi pasien”
Mendengar berita terebut, mereka mendesah lega. Jonathan memeluk putranya yang berlinang, kepala pria itu tertunduk dibahu ayahnya.
Semuanya bersuka cita dengan kabar tersebut dan berterima kasih sebanyak mungkin kepada sang dokter.
Carissa menangis mengusap air matanya, berterima kasih kepada Michael yang melakukan operasi besar sahabatnya itu.
......................