Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Sad story



Flashback


“Hai Emily. Lihat aku punya dua lolipop, ini kuberikan satu untukmu”


Sean kecil bersemangat memberikan sebuah lolipop kepada Emily yang sedang duduk di lobi.


“Terima kasih Sean..”


“Sama-sama..cepat dibuka! kami pergi dulu”


Lalu kedua anak itu tertawa girang berlari sepanjang lobi.


Emily membuka lolipopnya tertawa lucu karena tingkah Sean, dia menggantikan isi dalam permen dengan gabus. Suara kencang memanggilnya dari lantai atas.


“Emily! wleekkk” ledek Sean.


“Kau tertipu Hahahaha!” Sammy ikut-ikutan meledeknya.


Kedua anak kembar berusia lima tahun itu sukses membuat semua orang tertawa. Mereka berdua memang suka membuat kegaduhan di dalam kantor.


Tapi semuanya berubah saat kedua orang tua mereka bercerai. Perusahaan yang hampir bangkrut juga kesepian yang melanda karena tidak ada gelak tawa lagi di sekitar lobi.


TING TONG


Pintu kayu berwarna hitam itu terbuka. Menampakkan sesosok wanita dengan gaun tidur bertali satu dan hanya sebatas pahanya.


“Ada apa kau kesini?” tanya Jessica, asap rokok menerpa wajah orang yang ada didepannya itu.


Emily mengibaskan tanganya didepan wajah “Aku mau melihat Sean, dia ada didalam?”


Jessica membuka lebar pintunya, menyuruh Emily untuk masuk kedalam. Di ruang tamu yang berantakan itu mejanya penuh dengan alkohol. Ada seorang pria mencium bibir Jessica yang tertawa girang.


“Kamarnya di atas”


Kaki Emily langsung menaiki tangga, mengetuk pintu didepannya. Tak ada jawaban apapun. Saat tanganya membuka pintu, Sean tergeletak di lantai.


“Sean!” Emily meraih bahu lemas anak itu, merasakan tubuhnya yang sangat panas.


“Jessica! anak mu sakit! Jessica” teriak Emily dari dalam kamar, dia sungguh panik tanganya bergetar.


“Jessica!”


Pintu terbuka dengan lebar dan menimbulkan bunyi yang kencang. Jessica menatap marah.


“Berisik sekali. Sebaiknya kau keluar dari rumahku jika hanya ingin buat onar”


“Aku tidak buat onar. Kau tidak lihat anakmu ini demam tinggi ha?! sudah tidak waras rupanya” berang Emily, dia sangat marah melihat seorang ibu yang tidak peduli dengan anaknya yang tergelatak sakit.


“Dia memang seperti itu. Nanti sembuh sendiri, lebih baik kau keluar dari sini cepat!”


“Tidak. Kalau kau tidak mau mengurusnya biar aku yang mengurus, sungguh ibu yang tidak becus. Aku akan melaporkanmu!”


Pertengkaran hebat terjadi didalam rumah. Setelah itu Sean berhasil dibawa ke rumah sakit berkat Emily. Anak berusia 12 tahun itu mengalami kurang gizi dan dehidrasi yang tinggi.


Jonathan dan Sammy menangis melihat kondisi Sean. Pihak kepolisian berhasil menangkap Jessica, tapi ada hak asuh pada wanita itu. Sidang pun berlangsung.


“Sean.. kau mau kan tinggal bersama kami? dengan mommy Emily dan Sammy?” tanya Jonathan.


Emily tersenyum lembut menatap mata biru yang sudah pulih. Sedangkan Sean kebingungan, dia merasa benci kepada Emily.


Karena kata Jessica, wanita itu lah yang merebut daddynya. Sehingga mereka berpisah dan dia ditelantarkan seperti ini.


“Mommy!” Sammy berteriak dan menghampiri Emily, wanita itu memeluknya.


Mata biru itu semakin benci melihat keluarga bahagia didepannya ini. Benar kata Jessica, keluarga itu bahagia setelah mencampakkan dirinya.


“Aku ingin tidur” ucap Sean.


Hingga saat sidang berlangsung. Jawaban Sean membuat semua orang terkejut, sedangkan Jessica tersenyum menang.


“Aku memilih ibuku dan ayah harus mengirimkan aku uang, karena selama ini dia sudah berpaling dariku”


Hakim sidang memutuskan hak asuh tetap jatuh kepada Jessica.


Emily menatap sedih kepada Sean, otaknya telah dicuci oleh omongan jahat ibunya sendiri. Padahal dia masih kecil.


Jonathan membentak Jessica “Apa yang telah kau lakukan pada anakku ha?!”


“Jangan bentak ibuku!” Sean berteriak kencang.


Jonathan terdiam mendengar teriakan anaknya. Dia ingin menangis, kakinya melangkah ke kursi Sean. Tapi anaknya menjauh lalu memeluk Jessica.


Ibu dan anak itu memutuskan untuk tidak tinggal lagi di New York. Meninggalkan kota gemerlap yang memiliki banyak kenangan bagi Sean.


Sammy menangis tersedu-sedu, Sean pun begitu. Mereka berdua jatuh sakit karena berjauhan, bahkan sudah berada di negara yang berbeda.


...****************...


Air mata April jatuh mendengar cerita memilukan sekaligus menimbulkan amarah. Dia mengusap matanya, ternyata Sean punya kisah remaja yang menyedihkan. Wajar saja pria itu menutupi darinya.


“Kemudian aku pergi ke Kanada tempat tinggal Sean dan Jessica. Saat itu aku melihat dari jauh, anak kecil yang dulu hanya setinggi perut sudah tumbuh tinggi menjulang. Aku sangat senang melihatnya”


“Pasti dia sangat tampan”


Emily tertawa “Benar, wajahnya mengalahkan aktor hollywood..”


“... tapi aku sedih lagi saat melihat Jessica memukulnya dengan tongkat besi, Sean hanya diam saja”


“Tongkat besi?” tanya April, hatinya teriris lagi mendengar kisah memilukan lainya.


“Iya, kepalanya sampai berdarah saat itu. Aku pernah menemuinya, tapi Sean hanya diam dan menyuruhku untuk pulang. Kami terus mencoba berusaha untuk membujuknya untuk tinggal


bersama tetap saja dia menolak dengan keras”


“Kenapa Sean masih betah tinggal bersama ibu kandungnya?”


“Aku tidak tahu alasan pasti, tapi dugaanku karena dia masih menganggap aku sebagai perebut daddynya”


Menyebalkan sekali karena ulah satu orang yang mempengaruhi otak dan hati anak kecil, maka sulit untuk melepaskan pengaruh tersebut.


“Tidak, mayatnya ditemukan di aliran sungai Aare Swiss. Tubuhnya sudah tidak berbentuk”


DEG


April takut, bukan Sean yang membunuh ibunya sendiri kan?


“Dia dibunuh?”


“Hasil otopsi menyatakan kalau dia bunuh diri”


Perasaan lega meluncur dari benak April. Ntah bagaimana reaksinya jika ternyata Jessica dibunuh, terlebih oleh anaknya sendiri.


“Sekarang bagaimana? apa Sean masih membencimu?”


“Sepertinya tidak dan itu berkat dirimu. Aku sangat bersyukur kau ada di tengah-tengah keluarga kami”


“Benarkah?”


“Tentu saja.. ah dia mengatakan kalau akan menikah denganmu” Emily tersenyum menggoda.


April hanya tersenyum malu. Sebenarnya Sean melamarnya secara paksa, tapi yah dia juga berkeinginan melamar pria itu. Jadi anggap saja mereka berdua memang ingin menikah.


“Aku bahagia..kau mau menerima Sean dengan tulus. Ini hadiah untukmu karena sudah menaklukkan si playboy itu” kekeh Emily, menyodorkan kotak putih yang berisikan sebuah kalung indah dengan liontin kecil di tengahnya.


“Cantik sekali, terima kasih Emily”


“Nanti aku bantu memasangnya, sekarang kita makan dulu pasti kau sudah kelaparan”


“Sangat, perutku sudah berbunyi sejak tadi”


“Aku juga.. kita terlalu emosional tadi” kekeh Emily, mereka sama-sama meneteskan air mata saat bercerita tentang Sean.


...****************...


Setelah itu mereka makan dengan hikmat. Bahkan April sudah menghabiskan chicken cordon bleu dan sepiring spaghetti.


“Kau masih lapar? silahkan pesan lagi” Emily menatap senang, dia masih menyantap steak.


“Steaknya enak?”


Emily terkekeh “Enak sekali. Kau akan menyesal jika tidak mencobanya”


“Kalau begitu aku mau steak” April memanggil pelayan, memesan steak.


Saat sedang menunggu pesanan datang, mereka sambil berbincang. Kebiasaan mereka berdua bergosip tentang kisah hidup selebriti. Tanpa sadar seseorang mendekat ke meja mereka.


“Kau merebut April dariku mom” ucap Sean, menarik kursi untuk duduk disebelah wanitanya. Mencium pipi lembut April.


“Aku hanya meminjamnya untuk malam ini saja. Dia kan terlalu sering bersamamu, jangan terlalu serakah itu tidak baik”


“Kenapa tidak memberitahuku?” tanya Sean pada April.


“Malas, kau sudah menipuku tadi”


Pria itu tertawa, menggigit gemas leher wanitanya. Yang di balas dorongan tangan untuk menjauhkan wajahnya.


“Sean.. ada mommy mu disini” bisik April, matanya melotot.


“Tidak apa, mommy tidak—awh” cubitan kencang dipaha membuatnya terdiam.


Pelayan datang meletakkan steak yang hangat di meja mereka. Wangi dan tampilannya saja sudah menggugah selera. April meneguk liurnya, mulai tersenyum senang sambil memakan steak.


“Enak kan?” tanya Emily, senang melihat April yang mengangguk antusias.


Tangan Sean merebut pisau makan wanita itu, memakan steak yang sudah di potong. April mengamuk dan berbicara pelan tapi terselip nada kesal disana.


“Kenapa kau memakan punyaku? pesan saja lagi”


“Pelit sekali, kita bisa makan berdua” Sean berniat untuk mengambil lagi, tapi piring itu dijauhkan darinya.


“Tidak mau. Ini punyaku, aku sudah menunggu dari tadi”


“Kenapa kau sangat pelit? coba sepotong lagi ya” tawar Sean.


“Kau yang pelit padahal tinggal memesan lagi, uangmu kan banyak. Jauhkan tanganmu sana”


Emily menahan tawanya melihat pertengkaran lucu mereka berdua. Persis seperti anak-anak yang berebut makanan.


Sean tersenyum miring ingin menjahili wanitanya, pisau makan yang dipegangnya tetap menusuk steak yang dibalas rengekan oleh si empunya.


“Ini kan punyaku” rengek April, dia ingin menangis.


“Sean hentikan. Pesan lagi, atau April akan benar-benar menangis” Emily menegur anaknya yang tidak melihat mata April sudah berlinang.


“Sayang, aku tidak jadi memakannya. Maafkan aku hmm jangan menangis”


Salah besar! Kalimat jangan menangis itu justru membuat air mata April langsung jatuh.


Hal tersebut membuat Emily dan Sean panik sekaligus terkejut melihat air mata yang jatuh deras. Sean menarik April kedalam pelukannya, mengusap pipi yang basah karena menangis.


“Ini semua karenamu, terlalu asik menggodanya” Emily memberikan tisu, lalu memanggil pelayan dan memesan sepiring steak lagi.


“Maafkan aku ya.. mommy sudah memesan, jangan menangis lagi”


April yang menenggelamkan wajahnya didada bidang Sean berhenti menangis. Kepalanya mendongak, bibirnya di kecup lembut.


“Sudah menangisnya?” tanya Sean, merapikan rambut di pipi wanitanya yang mengangguk.


Pukulan sendok hinggap di kepala Sean, malang sekali kepalanya ini sudah sering dipukul dan digigit.


“Mom..” keluhnya.


Emily mengedikkan bahunya, membenarkan letak piring April untuk menyuruhnya makan kembali.


......................