Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Bed Prison



Kamar siapa lagi ini?


Setiap membuka mata, April pasti selalu berada di tempat yang berbeda. Hebat sekali dirinya bahkan tak terkejut lagi dengan semua ini. Pasti ulah psikopat gila yang berambut pirang.


Belum lagi tempat tidur ini di kelilngi jeruji besi persis seperti penjara. Tapi penjara versi VVIP, kamarnya tampak normal dengan nuansa modern dominan bewarna grey. Masalahnya jeruji ini sangat merusak pemandangan.


“Kau sudah bangun?”


“Sepertinya kau punya kebiasaan mengurung orang. Keluarkan aku dari sini!”


Kesal sekali melihat si pirang tampan itu.


April harus keluar dari sini. Cahaya bulan yang sampai melalui kaca jendela seakan mengejek dirinya. Sepertinya dia bukan berada di mansion, ini seperti di apartemen atau gedung hotel. Gedung-gedung tinggi bisa terlihat dari sini.


Tangan April berusaha untuk membuka kunci pintu jeruji. Meskipun tidak digembok, tapi membukanya ternyata susah sekali.


TAK


Sebuah pisau belati yang melewati wajah April mendarat mulus di kepala ranjang. Wanita itu sangat terkejut. Hei! Siapa yang tidak terkejut jika ada belati menyapa dengan sopan lewat wajahmu.


“Kau gila ya?!” teriak April.


Saat ini amarahnya sangat membumbung tinggi. Bagaimana tidak pria yang bernama Sean itu mengurungnya didalam jeruji di atas tempat tidur. Dan saat ini dia hanya tersenyum setelah melemparkan belati ke arahnya.


“Hei! Buka jeruji ini! Jangan bertingkah gila!” dia menendang jeruri itu sekuat tenaga.


“Salahkan dirimu yang kabur seenaknya, dan tidak memberitahuku” ucap Sean.


Gila! Mana ada orang kabur harus memberi tahu kepada si penculik. April benar-benar merutuki dirinya telah bertemu dengan pria gila ini, bahkan lebih parahnya lagi dia adalah bosnya. Dia hanya ingin hidup tenang dengan pria normal.


April menarik nafasnya mencoba meluluhkan hati orang gila itu “Sean..mari kita bicara baik-baik hmm” ucapnya selembut mungkin.


“Tidak”


“Akh kau ini! Bagaimana aku bisa memberitahumu. Ponsel saja aku tak bawa dan ponselku kau yang pegang. Dasar gila! penguntit! psikopat! mati saja kau!” April mencaci maki Sean sepuasnya, tapi yang menyebalkan adalah pria itu malah tertawa.


“Maksudmu kedua ponsel ini?” Sean menunjukkan ponselnya yang sekarang dan ponsel yang disita saat di Swiss.


“Benar kan kau yang mengambilnya! kembalikan!”


“Tidak”


“Akhh! yasudah aku lebih baik mati saja disini” ancam April. Dia mengambil belati yang tertancap di kepala ranjang, mengarahkan belati itu ke dadanya.


Dirinya berniat mengancam, berekspektasi Sean akan membukakan jeruji dan menghentikan aksi gilannya ini. Tapi nyatanya pria itu malah menatapnya dengan santai sambil minum wine.


“Hei! aku benar-benar akan menusuknya” April berusaha menunjukkan wajah serius. Ujung belati sudah menyentuh dadanya.


“Silahkan” ucap Sean tenang.


Menyebalkan!


Belati itu dilempar kuat oleh April dari jeruji besi. Dia menargetkan Sean, tentu saja pria itu dapat menghindarinya dengan mudah dan April tau itu.


Dia itu bukan manusia! lebih baik menyebutnya setan gila!


Huh.. lebih baik dirinya berbaring sebentar sambil menatap langit-langit bewarna hitam ini. Sebenarnya dia ada dimana sih. Dia masih di New York kan?


“Ayolah Sean.. aku besok harus kerja pekerjaanku sudah menumpuk sekali”


“Salahmu tidak memberitahuku”


Oke. Peraturan pertama bos selalu benar. Malangnya nasib April mempunyai CEO yang memiliki sifat persis seperti setan.


“Kan sudah kubilang, tak ada ponsel dan aku juga tak tau nomormu” lebih baik kau memelas April. Dia menganggukkan kepalanya, tak ada gunanya berteriak.


Sean membuka pintu jeruji, dan masuk kedalamnya. Mengurung April yang berada di bawah tubuh besarnya.


“Ada banyak maid dan pengawal disana.. kau bisa memberitahu mereka” Sean merapikan anak rambut April yang berantakan.


April mendengus “Aku tak kenal mereka”


“Kau tak harus kenalan dengan mereka hanya untuk menghubungiku” Sean memeluk April, mengecup leher wanita itu. Tangannya bergerak menyusup kedalam kaos, menangkup kedua dada April.


“Heh gila! Apa yang kau lakukan?” April menendang dada Sean dengan kakinya.


“Meraba dadamu. Menurutmu apalagi?” tanya Sean dengan seringai khasnya.


“Akh.. tolong aku diperkosa” April memejamkan matanya erat.


“Belum sayang”


“Oh belum ya?”


Bodoh memang. Kenapa pula Sean ini sangat tampan, April kan jadi berselera dan kaosnya juga sudah terlanjur dibuka. Bahkan pria itu sudah asik menyusu dadanya. Aduh gawat.. ini enak.


“ihh jangan yang kanan terus” mendengar itu Sean mendongak melihat wajah April yang kesal.


“Kenapa?”


“Yang kiri juga, kasian jarang dicicipi” rengek April. Sebenarnya dia ini kenapa sih, tadi sok sokan mengusir Sean pakai tenaga kuda. Sekarang bagai cacing kepanasan.


Sean tertawa dan berpindah ke dada kirinya “Seperti ini?”


“Iyahh, terus kan”


Sean terus memuaskan permintaan April. Tangannya pun ikut bekerja dengan rajin memeriksa dengan teliti di bawah sana. Mulai memasukkan kedua jarinya, bergerak menggoda benda kecil yang ada didalam.


“Enak sayang?”


“Heemm ouhh” April hanya bisa mengangguk saat ini. Dia sepertinya sudah gila. Yasudahlah apa boleh buat pasrah saja.


Kepala Sean bergerak kebawah, membuka lebar paha April. Memberikan kecupan pada milik wanitanya, menghisap dan meninggalkan jilatan sensual disana.


Mulutnya dengan rakus terus melahap lembah basah itu. Lidah Sean ikut bermain menusuk hingga kedalam.


“Ngghh.. tunggu dulu” desah April. Sean tersenyum melihat cairan itu keluar dan membasahi mulutnya. Dia sangat suka ini melahapnya sampai habis, membuat wanitanya mendesah nikmat.


“Sean.. cium”


“Sean aku minta cium” dengan susah payah tangan April menggapai wajah Sean yang sedang sibuk dibawahnya.


Sean tertawa serak astaga seksi sekali pikir April “Sabar sayang”


Akhirnya permintaan April dikabulkan lagi, dia sangat suka mencumbu bibir merah seksi milik Sean. Tapi tak lama setelah itu Sean langsung memasukkan miliknya dan bergerak brutal dibawah sana. Memberikan kenikmatan untuk mereka berdua.


...****************...


“Akhh!” April berteriak, terbangun dari tidurnya. Tadi dia bermimpi Bertha yang mengamuk hingga berubah menjadi beruang betina yang mengerikan karena pekerjaan kantornya belum selesai.


“Kau baik-baik saja?” tanya Sean. Dia memeluk April dan mengusap keringat di wajah cantik itu.


“Jam enam?” April melirik ke arah jam yang ada di nakas.


Sean mengangguk “Iya”


Gawat. Secepatnya harus keluar dari sini, kemarin adalah hari terakhir dia izin. Hari ini dia harus bekerja, atau dia bisa kena amuk masa oleh orang-orang di ruangannya.


Jika menggunakan teriakan, paksaan atau caci maki maka April sangat yakin Sean tidak akan pernah mengeluarkannya dari penjara ini. Kalau begitu, kita pakai metode manja dan membujuk dengan imut.


“Sean aku mau pulang.. hari ini aku harus kerja” April mulai mendekatkan dirinya kepada Sean, memeluknya erat.


“Tadi aku bermimpi buruk” April mencebikkan bibir, mencoba untuk se imut mungkin. Sebenarnya dia geli sekali bersikap sok imut seperti ini.


“Mimpi apa itu?”


“Atasanku, Bertha mengamuk karena pekerjaanku belum selesai. Kau tau dalam mimpiku itu dia berubah menjadi beruang betina dengan wajah yang sangat mengerikan”


“Kita pecat saja dia jika itu menganggumu”


“Eh jangan”


“Kenapa?”


“Ayolah... ya ya” April menduselkan wajahnya ke ceruk leher Sean. Bibirnya juga mengecup pipi kiri dan kanan pria itu.


“Ya ya hmm?” usaha lah sekuat tenaga. Lihat mata cantik April sampai berkedip-kedip lucu.


Tak tahan melihat wajah cantik dan lucu yang sedang membujuknya ini akhirnya hatinya luluh, bahkan sampai mencium pipinya. April tidak pernah mencium Sean, kecuali saat mereka bercinta.


Pria itu menghela nafasnya “Baiklah. Tapi, pergi dan pulang denganku”


“Lalu bagaimana aku berganti pakaian?”


“James akan membelikanmu pakaian, jadi ayo kita mandi”


Sebenarnya rencana April tadi berhasil tidak sih. Dia memang membujuk Sean untuk pergi bekerja, tapi kan niat terselubungnya adalah pergi menjauh dari pria itu. Ntahlah, setidaknya dia dapat melihat dunianya lagi. Nanti akan dipikirkan lagi rencana untuk menjauh dari Sean.


Yang lebih kesal adalah sekarang, April memutar bola matanya jengah saat ini dia duduk di pangkuan Sean didalam bathub. Pria ini sedang asik bermain dengan dadanya, dan mulai melahap rakus.


“Lain kali aku tidak mau mandi bersamamu lagi” April memeluk erat leher Sean, merasakan tusukan nikmat yang mulai masuk didalam miliknya.


“Kenapa hm?”


Suara acak air bathub semakin terdengar jelas, Sean tertawa melihat wajah kesal April yang sambil mendesah. Bahunya digigit terus-terusan oleh wanitanya.


“Ahh.. karena aku akan lelah”


“Aku akan memijatmu nanti” bisik Sean. Tangannya bergerak semakin cepat untuk terus menodorong bokong April, menghentak-hentaknya kuat.


“Nghh pelan-pelan!” April menggigit kepala Sean.


“Kita harus cepat sayang.. katanya kau mau kerja”


“Ohh ohh”


“Ahhh sayangku” Sean bergerak semakin cepat dan liar. Bibir nakal pria itu terus memberikan bercak kemerahan di dada April.


“Mmhh ahh!”


April memeluk kuat lehernya. Pelepasan wanita itu membuat matanya terpejam seksi. Dirinya memperhatikan terus memperhatikan wajah April.


‘Ya.. rasakanlah sayang, rasakan cairanku yang terus masuk kedalam dirimu yang basah ini. Aku akan lebih senang jika kau hamil anak kita.’


Dirinya tersenyum licik. Tangannya terus menekan bokong April agar tak ada celah cairannya untuk keluar. Membiarkan semuanya masuk didalam sana hingga penuh.


“Aku akan memandikanmu”


“Mandi sungguhan ya, aku sudah tak berdaya” ucap April lelah. Dia sudah lesu, Sean suka sekali bermain dengan tubuhnya dalam waktu yang lama hebatnya stamina pria itu sangat kuat.


Sean tertawa pelan “Iya sayang”


...****************...


Hari ini ada rapat bulanan untuk seluruh tim engineer. Termasuk anggota tim Bertha yang merupakan spesialisasi transportasi udara. Mata wanita itu terus menatap ke pintu rapat, mencari April. Yang katanya hari ini akan mulai masuk kerja.


“April. Sini” Bertha senang akhirnya bestie nya itu sudah masuk kerja.


“Aku tidak terlambat kan? nah kau memilih tempat yang tepat” April tersenyum puas karena Bertha memilih untuk duduk di belakang. Ya biasanya yang akan melakukan presentasi hasil evaluasi tidak selalu ketua tim.


“Daniel yang akan presantasi, jadi kita tak perlu khawatir” ucap Bertha tenang, itulah alasannya memilik duduk dibelakang. Karena Daniel, anggotanya itu sangat pintar dan tidak gugup untuk menjawab pertanyaan dari tim lainnya.


“Pilihan yang bagus”


“Ponselmu sudah kembali?” Bertha melihat April yang kembali menggunakan ponsel yang katanya hilang.


“Iya, ada orang gila yang mengembalikannya”


“Siapa orang gila itu hm?”


Keduanya menoleh ke belakang. Semua orang didalam ruangan itu langsung berdiri melihat CEO mereka yang hadir dalam rapat ini. Sean Atreo Raymond.


Memang semenjak Sean mulai memimpin perusahaan, banyak kemajuan yang telah dia lakukan meskipun belum lama menjabat sebagai CEO. Itulah sebabnya semua orang di Raymond Corp kagum kepadanya, mengurus dua perusahaan sekaligus bukan hal yang mudah. Rumor negatif tentang Sean yang playboy dan suka bergonta-ganti pasangan langsung terlupakan dengan prestasinya yang cemerlang.


“Kalian boleh duduk kembali” Sean memerintahkan semua orang untuk duduk dan kembali menyiapkan rapat yang akan dimulai. Tapi mata mereka gatal untuk melirik ke arah Sean yang memilih duduk di belakang.


“Kenapa kau duduk disini?” April berbisik pelan.


“Aku ingin duduk disampingmu, tidak boleh?”


“Tidak boleh. Sana duduk ditempatmu”


Keduanya mulai berbisik dan berdebat. April mendorong Sean untuk pergi, tapi pria itu malah tertawa pelan. Mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar kecil.


“Ehem, anda akan duduk disini?” tanya James. Dia sedang dalam mode profesional karena dilihat oleh orang banyak.


“Ya. Kau saja gantikan aku duduk disana” usir Sean.


“Baiklah Tuan” sabar James sabar. Ingat gajimu masih bergantung padanya.


“Ck, menyebalkan” April mencibir, membiarkan Sean duduk disampingnya. Dia mulai fokus pada rapat. Matanya melirik ke arah Bertha yang diam-diam ketahuan melihat ke arah mereka berdua, Bertha hanya menyengir tanpa dosa.


Selama rapat berlangsung, April fokus mendengarkan rapat dan mecatatnya. Sean sangat gemas melihat wanitanya, dia lucu sekali. Tangan Sean bergerak mengelus lembut pipi mulus April. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang sesekali melirik ke arah mereka.


“Hentikan tanganmu ini” April melirik tajam. Dia risih, orang-orang di ruangan rapat ini selalu mencuri pandang ke arah mereka.


“Tidak mau”


Oh dia lupa. Sean adalah makhluk yang sangat keras kepala. Terserahlah, April tak peduli tingkah laku pria itu. Lebih baik dia fokus bekerja saja.


Sean benar-benar tidak peduli dengan rapat. Dirinya hanya fokus melihat wajah cantik April. Tanganya terus mengelus pipi, dan sesekali memainkan rambut panjang April.


Tadi malam Sean sudah memeriksa semua laporan evaluasi. Jadi dia sudah memberikan beberapa saran kepada setiap tim. Kerjanya cepat, rapi dan tepat sasaran. Ingat, Sean itu jenius meskipun dianggap orang gila oleh April.


“Kau mau makan apa siang nanti?” bisik Sean.


“Aku tidak mau makan bersamamu”


“Disini aku tidak minta persetujuan” mendengar paksaan Sean, April hanya bisa menghela nafasnya.


“Terserah”


“Nanti kita pergi bersama”


“Terserah”


“Iya sayang” Sean mencuri kecupan kecil di pipi April. Wajah wanita itu memerah malu, takut ada yang melihat. Tanganya bergerak mencubit paha Sean.


Terserahlah..


......................