Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Seafood Noodle



Suasana didalam ruangan begitu hening. Tidak biasanya seperti ini. April tak terlalu memperdulikannya, dia duduk dengan tenang di dalam kubikel untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Aku bisa membantu menyelesaikan pekerjaanmu, April” wanita bernama Millie ini menawarkan bantuan. April terkejut, dia adalah seseorang yang paling susah di mintai bantuan.


“Ini kau boleh memakan dessert cake ku” lagi, Gabriel menyerahkan makanannya. Bahkan didalam kulkas saja dia melabeli kepemilikkan makanan. Dia itu pria pelit.


“Aku sudah mengirimkan skin terbaru untukmu.. harganya sangat mahal” dan Daniel rela memberikan skin gamenya cuma-cuma padahal dia adalah rival April dalam game.


“Kau tak perlu repot-repot pergi ke Hangar. Aku akan melakukan tugasmu untuk pengecekkan” ucap Camelia.


April menganga, ada apa dengan semua orang di ruangan ini. Tumben sekali mereka sangat baik dan melakukan hal yang bukan tugas mereka.


“Heh kembali bekerja. Penjilat semuanya, April ke ruanganku”


Semuanya tertunduk lesu, kembali duduk didalam kubikel mereka. Padahal sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan hati April.


“Ada apa sih dengan sikap mereka?”


“Itu karena gosip yang mengatakan kau adalah pacarnya bos. Seisi kantor menggila karena gosip ini, belum lagi ada yang bilang kau itu selingkuhan terus ada juga yang bilang kau itu pacar kesekian dari puluhan pacar”


Pantas saja saat keluar dari ruang rapat tadi semua orang sibuk melihat ke arahnya. Belum lagi sepanjang lobi orang-orang tersenyum ada juga yang berbisik sambil melihat dirinya. Kentra sekali siapa yang mereka bicarakan.


“Ehem.. kalau begitu April, apa kau mau ambil cuti lagi?” Bertha tersenyum manis.


Dasar penjilat. April menggelengkan kepalanya, ini semua gara-gara tingkah Sean saat rapat tadi.


“Kau juga penjilat ya rupayanya. Dan dengar aku bukan pacar Sean, sebarakan gosip itu” April keluar dari ruangan itu, dirinya kesal. Semua orang didalam ruangan pura-pura tak melihat dirinya yang sedang kesal didalam kubikel, berteriak sendiri. Dia ingin menggigit orang saking kesalnya.


Lebih baik lanjut bekerja.


Hingga jam makan siang pun tiba. Semua orang sibuk ingin pergi makan, tak terkecuali April. Dia berencana untuk makan di kantin saja.


“Kau mau ke kantin?” tanya Bertha


“Iya perutku sudah keroncongan”


“Aku juga, ayo makan bersama”


Mereka berdua menuju ke lift. Didalam sana ternyata ada Sean dan James. Keduanya terkesiap melihat CEO mereka disana. Lalu menyapa dengan hormat.


April sebenarnya tidak mau masuk kedalam lift, tapi Bertha mendorongnya untuk masuk. Sial! dia terjebak lagi bersama Sean.


“Aku baru mau menjemputmu” tangan Sean menarik April untuk berada di sampingnya. Mereka berdiri di sudut lift, April bisa melihat Bertha yang sesekali melirik ke arahnya.


“Sean” April menjauhkan wajah Sean yang sibuk menduselkan wajah ke ceruk lehernya.


“Aku merindukanmu” tangan Sean mearik wajah April hendak mencium bibir wanita itu, tapi mereka sudah sampai di lantai dasar.


TING


Selamat.. terima kasih tuhan.


Tapi tangan Sean langsung menyeret April untuk mengikutinya. Lagi-lagi dia di seret paksa untuk mengikuti kaki panjang pria ini.


Bertha hanya tersenyum dan melambaikan tanganya kepada April sambil memberikan semangat. April membalas lambaian tangan itu dengan senyum getir.


Ternyata dia belum sepenuhnya selamat.


...****************...


“Ngh ini geli”


“Hmm”


Tangan April berusaha menjauhkan wajah Sean dari lehernya. Bibir pria itu terus mencium dan menghisap, juga menjilat titik sensitif April yang berada di bawah telinga.


“Hentikan, nanti ada yang lihat” April mulai cemas ketika lidah Sean menjilat bibirnya. Dia malu jika melakukan hal ini di tempat umum.


“Tidak ada yang berani masuk sayang, ini ruangan VVIP” Sean melanjutkan mencium kesukaannya itu. Memberikan hisapan lembut di bibir bawah April.


Keduanya berciuman saling memberikan hisapan lembut dan memainkan lidah. Bertukar nafas panas, pelukan Sean semakin erat tanganya bergerak menuntun lengan April untuk melingkar di lehernya.


“Mmhh” desah April saat Sean menurunkan ciumannya ke leher putihnya. Matanya yang terpejam langsung terbuka ketika mendengar suara pintu ruangan mereka terbuka. Dia langsung mendorong Sean, kesadaranya seketika kembali saat melihat pelayan yang terkejut.


“Tidak apa-apa, silahkan masuk” ucap April, dia merapikan pakaiannya yang berantakan.


Para pelayan kebingungan, masih berdiri di depan pintu. Ragu untuk masuk karena tatapan tajam dari Sean.


April menghela nafasnya melihat kelakuannya. Dia mencubit kencang lengan Sean, pria itu menggaduh kesakitan dan sengaja menyenderkan kepalanya ke bahu April.


“Sakit sayang” Sean terus menggosok lengannya yang dicubit. April tersenyum lembut kepada pelayan itu.


“Tidak usah dihiraukan dia memang seperti itu orangnya. Masuklah dan lakukan tugas kalian” April membiarkan kepala Sean yang terus menyender dibahunya. Dia memperhatikan pelayan yang menuangkan wine dan meletakkan makanan yang mereka pesan.


“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan anda. Selamat menikmati, sekali lagi kami mohon maaf” suara pelayan itu begetar ketakutan. Mereka semua menunduk takut, berharap tidak dipecat.


Mereka tau siapa yang mereka layani ini, dia adalah pengusaha paling disegani dan memiliki kekayaan hampir di seluruh negara. Pemilik restoran ini pun sangat menghormatinya, tapi sekarang mereka sedang ditatap tajam olehnya.


April melirik ke arah pandang mereka, ternyata Sean masih menatap tajam. Tangannya bergerak menutup mata pria itu, menyebalkan sekali melihat tingkahnya.


“Kalian tak perlu khawatir. Kami sudah memaafkan kalian, bekerjalah dengan tenang”


“Terima kasih Nyonya Raymond, selamat menikmati”


Semua pelayan itu keluar dari ruangan mereka. April menggigit kuat kepala Sean. Si setan satu ini memang kurang ajar.


“Aduh.. sakit Nyonya” Sean menyeringai. Puas mendengar panggilan pelayan tadi kepada April. Memang dia yang menyuruh para pelayan untuk memanggil Nyonya Raymond kepada April.


“Diam kau! aku lapar mau makan”


“Tapi aku masih mau menciumu”


“Makan! atau kutusuk pakai garpu ini”


Keduanya mulai makan, Sean terus memperhatikan April yang makan dengan lahap. Baguslah berarti wanita itu suka dengan makanan disini. Tadi Sean berniat memecat pelayan itu karena berani masuk seenaknya kedalam ruangan, dia mengurungkannya karena April telah memaafkan mereka.


“Ada gosip yang mengatakan kalau aku pacarmu, apa kau tidak terganggu?” tanya April.


“Kenapa harus terganggu, aku suka gosip itu seharusnya mereka mengatakan kalau kau istriku itu lebih bagus”


DEG DEG DEG


Oh jantung berhentilah berdebar berlebihan. Mendengar ucapan Sean tadi, wajahnya memerah malu belum lagi jantungnya berdebar. Ntahlah dia seperti merasa sangat senang, tapi April terus berusaha mengelak perasaannya.


Sean mengangkat tubuh April mendudukan ke pangkuannya. April memalingkan wajahnya, memilih untuk duduk diantara kedua paha Sean. Pipinya memanas ketika ditatap oleh pria itu, dia berpura-pura sibuk makan.


Ada apa dengan dirinya, Sean itu orang yang paling dia benci. Secepatnya dia harus menjauh dari pria itu, tidak baik untuk jantungnya.


“Aku mencintaimu April” bisik Sean. Wanitanya hanya diam, tapi Sean yakin April mendengar dengan jelas bahkan pipinya sangat merah sekarang. Melihat pipi merah itu saja sudah membuat Sean merasa senang meskipun tidak mendapatkan jawaban atas pengakuan cintanya.


Dia akan membuat April mengaku cinta kepadanya.


...****************...


“Sean kita harus pulang sekarang”


“Ngghh sebentar”


“Ahh”


Keduanya sedang bercinta didalam mobil. April merutuki Sean yang melakukan hal enak ini didalam mobil dan masih berada di basement kantor. Seharusnya dia pulang sendiri saja tadi.


“Buka pahamu lebih lebar sayang” bisik Sean, wanitanya menuruti permintaan itu dan mulai bergerak lebih cepat.


“Mmhh ahh” April mendesah, tangannya meraih wajah Sean mencium bibirnya. Puncak kenikmatan mereka tiba, bibir April masih bergerak mencium bibir Sean.


Sean mencium dahi April “Kita pulang ya”


Dia memakaikan kembali pakaian April dan merapikan pakaiannya sendiri. Mobilnya keluar dari basement perusahaan menuju ke apartemenya. Sean melirik April yang memejamkan mata terkulai lesu.


“Antar aku ke apartemenku saja”


“Jerujinya sudah dilepas, kau tak perlu khawatir”


“Tetap tidak mau.. aku mau pulang ke apartemenku” rengek April. Matanya yang sendu menatap memohon kepada Sean.


Lagi-lagi dirinya terbujuk oleh tatapan April. Mobilnya bergerak menuju apartemen wanita itu. April tersenyum senang.


“Terima kasih Sean” April tersenyum hingga matanya melengkung senang, hati Sean menghangat melihat senyum itu. Dia jarang melihat senyum tulus April.


Tangan Sean menepuk lembut pucuk kepala April “Menggemaskan sekali”


Pria itu tertawa melihat pipi merah wanitanya.


“Bisakah kita berhenti disana, seafood noodle mereka sangat enak” April menunjuk ke arah truk street food yang ramai dengan pembeli.


“Siap sayang”


Mobil Sean berhenti didekat truk itu. Dia sudah melepaskan sabuk pengamannya, saat ingin keluar dari mobil April menghentikannya.


“Aku saja yang membelinya, kau mau yang super spicy atau middle spicy atau little spicy.. atau original kalau orignal tidak pedas. Jika kau tak tahan pedas aku sarankan sebaiknya pesan yang original” jelas April.


Sean menatap lucu kepada wanitanya yang sedang menjelaskan dengan sangat antusias.


“Ih kenapa diam saja, kau mau yang mana? nanti antriannya semakin panjang”


“Biar aku saja yang mengantri”


“Ck kau disini saja, cepat katakan pesananmu. Harus pesan ya, aku tidak mau makan sendiri”


“Original saja”


“Oke original. Minumnya aku yang pilihkan” April merapikan pakaiannya, lalu dia keluar dari mobil dan ikut mengantri disana. Sean terus mengamatinya.


Setelah mengantri sekitar lima belas menit, Sean membukakan pintu. April masuk dengan kedua tangan yang memegang cup noodle dan kantong plastik berisi minuman yang menggantung di pergelangan tangannya.


“Kita tidak boleh makan disini akan ada polisi yang datang. Lebih baik kita ke pinggir dekat taman disana” April menunjukkan dengan dagu kearah taman yang berada tak jauh dari truk makanan. Taman itu juga berada didekat danau.


Mobil Sean berhenti disana, ternyata banyak juga mobil yang berhenti dan orang-orang yang menikmati malam di taman.


“Ini punyamu yang original” April memberikan cup noodle kepada Sean, lalu meletakkan minuman ke cup holder. Dia mulai memakan noodle nya.


“Kau yakin ini yang original” tanya Sean.


Pasalnya, dia memesan original tapi kuahnya masih bewarana merah. Bukankah kalau original sama sekali tidak pedas dan tidak bewarna merah seperti ini.


“Iya, ini ada tulisannya. Coba saja dulu” Sean menatap ragu, dia tidak suka pedas. Tapi benar di cup tertulis original. Dan saat mencoba kuahnya, rasanya pedas.


“Ini masih pedas”


Aduh. Lebay sekali pria yang ada disampingnya ini. April mengambil cup noodle Sean, dia keluar dari dalam mobil lalu membuang kuahnya sedikit di tanah taman. Wanita itu kembali ke mobil dan menuangkan sedikit air kedalamnya. Lalu mencoba kuahnya sedikit.


“Makan.. sudah tidak pedas lagi, meskipun sedikit hambar tapi masih enak” April menyuapkan noodle tadi ke mulut Sean, menunggu respon pria itu.


“Sudah tidak pedas lagi”


“Kau ini seperti anak kecil, badamu saja yang tinggi besar tapi tidak tahan pedas” April mengoceh sambil mengambil tisu, mengelap dagu Sean yang belepotan karena kuah. Sean hanya memperhatikan dengan tenang, dalam hatinya dia sangat suka melihat April yang perhatian kepadanya.


April menyodorkan kembali cup itu. Mereka makan dengan tenang sambil melihat langit malam dan gemerlap lampu gedung-gedung.


“Kau pesan yang mana?”


“Aku pesan middle spicy, mau coba?” ucap April, Sean menggeleng cepat, dia terheran-heran yang original saja sudah pedas tapi April dengan tenangnya memakan yang middle spicy.


......................