
Langit cerah juga udara yang berhembus di pinggiran Kota Barcelona membuat April tersenyum.
“Kini aku tahu kenapa ibu sangat suka cuaca cerah”
Sean tersenyum mengemudikan pelan mobilnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju makam Helena.
“Kenapa?”
“Ternyata asik sekali di tiup angin dengan cuaca sebagus ini. Sepertinya ibu sangat menantikan kedatangan kita”
Sudah lama sekali April tidak melewati jalan yang dulu selalu membuatnya sedih. Setiap dia pergi ke makam ibunya maka air mata mulai berlinang. Tapi sekarang tidak ada rasa sedih dihatinya, karena ada Sean yang menemani. April tidak merasa sepi.
“Memangnya kau tidak suka saat langit cerah?” tanya Sean.
“Tidak terlalu, aku lebih suka saat mendung dan hujan.. kalau kau?”
“Kita sama, aku juga suka hujan”
April tersenyum senang mendengar kesamaan mereka.
“Lalu.. saat hujan kau lebih suka menonton film atau membaca buku?”
“Menonton film”
“Kita sama lagi”
Sebenarnya Sean lebih suka membaca buku saat hujan. Tapi karena dia tahu kesukaan April jadi dia memilih menonton film.
“Oke selanjutnya ya, saat hujan kau lebih suka minum teh atau kopi?”
“Minum teh” jawab Sean.
Tawa girang menghiasi suasana didalam mobil, April sangat senang mendengar jawaban Sean. Padahal pria itu lebih suka kopi.
“Kita sama. Aku juga suka teh saat hujan, bagaimana nanti kalau hujan kita minum teh sambil menonton film.. Kau mau kan?”
“Ide yang bagus, aku mau”
“Aku yang memilih filmnya ya” April menatap dengan mata yang berbinar semangat.
Sean tertawa pelan “Iya... April cintaku”
Kedua pipi April sangat memerah mendengar panggilan yang ditujukan untuknya. Dia menoleh ke jendela, diam-diam tersenyum malu. Sean melihat aksi salah tingkah wanitanya tersenyum senang, tangannya menautkan jari-jari mereka.
Sean mencium lembut tangan April dan terus digenggam. Wanita itu melirik ke arah tangannya yang digenggam lalu melirik Sean yang sedang menyetir dengan satu tangan.
Wajahnya semakin bersemu merah. Jantungnya berdetak sangat senang.
...****************...
Flashback on
“Akhirnya kau datang, cepatlah ibumu menunggu”
Seisi ruangan panik mendengar suara monitor ICU yang tidak seperti biasanya.
“Ibu aku mohon bertahanlah..” suara April
bergetar takut.
Takut kehilangan keluarga satu-satunya. Hatinya terus berdoa supaya ibunya bisa bertahan. Karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Keajaiban. Itulah yang dia tunggu.
“Peganglah tangannya nak” Maria tersenyum lembut mengarahkan April untuk mengenggam tangan Helena.
Monitor ICU perlahan menunjukkan titik lemah, dokter terus berusaha menyelamatkan Helena.
Hingga bunyi yang tidak ingin didengar bergema sangat kencang. Monitor itu menunjukkan garis lurus, air mata terakhir ibunya jatuh di atas bantal rumah sakit.
“Maafkan kami, Nyonya Helena Lilian Matheo sudah—“ ucapan dokter terpotong oleh teriakan April.
“Tidak! ibuku masih hidup. Selamatkan dia dokter.. tolong selamatkan dia”
Lutut rapuh itu menyentuh lantai yang dingin dan terus memohon. April hanya bisa menangis meminta pertolongan. Telinganya berdenging mendengar bunyi yang dia benci sekarang.
“April sudahlah” tangisan Thalita pecah melihat April, dipeluknya erat tubuh wanita itu.
“Ibu... ibu!”
Dunia bagai hancur seketika. Dia tidak punya siapapun lagi untuk bertopang hidup. Orang yang dia cintai telah pergi.
Seperti mimpi, rumah mereka sepi setelah pemakaman Helena selesai.
Mata April menatap kosong pada baju koki yang sering dipakai Helena untuk bekerja. Jam berdetak terdengar sangat jelas, ditemani oleh cahaya langit sore yang hadir melalui jendela kamar.
Tanganya memegang erat sepatu baru yang ingin diberikan saat ulang tahun ibunya. Dipeluknya sepatu itu hingga air matanya jatuh lagi.
“Ibu.. aku sendirian sekarang, ayah.. aku tidak punya siapa-siapa lagi, kenapa kalian meninggalkanku sendirian”
Foto keluarga yang bahagia itu semakin membuat April sedih. Diusianya yang masih balita dia harus kehilangan ayahnya, dan sekarang ibunya telah pergi juga.
“Bagaimana aku harus hidup? aku takut..”
April terus menangis hingga lelah dan tertidur. Pintu rumah yang terus diketuk tidak terdengar lagi olehnya.
Maria masuk kedalam rumah yang tidak dikunci. Berulang kali dia mengetuk tapi masih tidak ada jawaban. Kamar yang terbuka menarik perhatiannya, didalam ternyata ada April yang tertidur.
“Kau lihat Helena, anakmu yang cantik ini terus menangis.. dia masih muda dan kebingungan menghadapi dunia” ucap Maria, matanya melihat ke arah foto wanita yang tersenyum lebar didinding.
Dia keluar dari kamar itu. Kakinya menuju ke dapur mengambil bahan makanan dan mulai memasak disana.
“Baru bangun? ayo anak gadis harus membantu cuci piring. Neneku masak tidak pernah mau berberes”
Thalita menarik April untuk megikutinya ke wastafel yang penuh dengan piring.
Meja makan penuh dengan berbagai macam makanan. Suara dari luar juga berisik, tetangga yang lain dan sepupu Thalita datang ke rumah itu.
“Ayo cepat kemari biar kita bisa makan. Hei kalian berdua tinggalkan dulu piring itu” ibu Thalita juga ikut meramaikan suasana.
April diseret untuk mengambil makanan, mereka ada yang duduk di meja makan dan ada yang di sofa sambil menonton televisi.
“Maaf ya April rumahmu jadi berantakan, nanti kau menginap saja dirumahku oke.. aku dan maria akaj membereskannya”
“I-iya tante”
Semua orang disana tersenyum mereka sibuk dengan menceritakan kegiatan sehari-hari yang melelahkan. Maria juga menikmati makanannya, dia tersenyum melihat wajah April yang tertawa karena lelucon dari sepupu Thalita.
Hari itu, April sempat lupa akan kesedihannya. Berkat Maria dia tidak terlalu sedih dan mengurung diri.
Flashback off
“Ibu.. maaf aku sudah lama tidak berkunjung. Aku sibuk sekarang dan menghasilkan banyak uang, ibu bangga kan denganku?”
April menoleh ke belakang, melirik ke arah Sean lalu dia berbisik pada makam ibunya.
“Dan.. aku sekang punya orang yang kuncintai dia juga mencintaiku” bisiknya.
Sean tersenyum lucu melihat April yang berbisik, pasti wanita itu sedang membicarakannya.
“Tenang disana ibu, aku mencintaimu. Aku akan kembali lagi nanti membawa keluarga kecilku”
Bunga mawar merah diletakkan diatas makam hijau. Angin lembut berhembus ke pipi April, seakan sedang menyapa dirinya. Seulas senyuman hadir di wajah cantik itu. Helena pasti senang sekarang.
Tubuh April berbalik merangkul perut Sean untuk pergi darisana. Pria itu juga merangkulkan tangannya di bahu April, mencium pucuk kepala wanitanya.
“Keluarga kecil ya? kita harus rajin melakukannya sayang” bisik Sean.
“Aku ingin tahu semua tentangmu, bisakah kau ceritakan kehidupanmu Sean?”
Mata indah April menatap serius. Rasa ingin tahunya tentang pria yang ada dihadapannya ini sangat besar. Dia ingin mengenal lebih dekat.
“Kita ke Madrid.. dan memulai untuk saling mengenal. Karena disana kau akan tahu sesuatu tentangku” ujar Sean.
April mengangguk dan memeluk Sean erat.
...****************...
Thalita tersenyum menggoda, alisnya naik turun memandang April yang sedang menyiapkan makan malam diatas meja makan.
“Jadi pria ini pacarmu nak?” tanya Maria sambil menelisik penampilan Sean dari atas kebawah.
“Emm dia itu—“
“Calon suami nek.. Calon suami” Thalita memotong kalimat April dengan senyum yang menggoda.
“Perkenalkan nek, namaku Sean Atreo Raymond calon suami April”
“Nah kan benar”
April hanya berdehem menjauh dari mereka. Dia membuka kulkas meneguk air dingin karena suasana yang membuat pipinya memanas.
“Kita pernah bertemu sebelumnya, sepertinya nenek sudah lupa dengan wajahku” ucap Sean.
Kedua perempuan yang berada didapur itu menoleh ke arah Maria. Menatap mereka heran, ternyata mereka pernah bertemu. Tapi kapan?
Saat itu Sean, Xander dan James pernah bertanya dengan Maria untuk mencari April.
“Kau pernah bertemu nenek? kapan dan dimana?” cecar April.
“Sekitar enam tahun yang lalu, aku mencarimu disini. Tapi kata nenek kau sudah meninggal”
Ha?
Tawa renyah Thalita mengisi ruangan. Sean salah bertanya, kenapa juga bertanya kepada Maria. Neneknya itu sering salah menyebutkan nama April.
“Seharusnya kau jangan bertanya kepada nenek karena—“
“Perawakan kalian sangat mengerikan jadi aku tidak bisa memberitahukan keberadaan April, takut dia celaka” Maria berujar santai.
Siapa yang tidak takut ditanyai oleh tiga pria tinggi dan mengerikan. Hanya James yang memiliki wajah ramah, sedangkan Sean dan Xander sangat dingin. Apalagi Xander memiliki tato di sekujur lengannya.
Sean tertawa “Maafkan kami saat itu jika menakutkan bagi nenek”
Kepala Thalita dan April menoleh bergantian ke arah Maria dan Sean. Mereka tidak percaya dengan apa yang diucapakan oleh kedua orang itu.
Maria ternyata tahu nama April dan sengaja memanggilnya Helena.
Sean yang sudah lama mencari April hingga ke rumahnya.
Fakta yang membuat kepala pusing.
“Jadi kenapa nenek memanggilnya dengan nama bibi Helena terus?” tanya Thalita.
“Bagaimana kau bisa tahu rumahku padahal kita belum saling kenal?” tanya April.
Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum meledek mereka berdua.
......................