
“Kau mematikan ponsel?”
April yang sedang melihat-lihat menu menoleh ke arah James.
“Iya. Kenapa?”
“Sean menyuruhku untuk melacakmu”
James dan April sedang berada di sebuah restoran. Saat makan siang, April menelpon James berniat mentraktirnya sekalian ingin menanyakan banyak hal kepada pria itu. Untungnya James sedang cuti, jadi dia tidak ikut dengan Sean yang sedang ke Boston untuk melakukan tinjauan perusahaan disana.
“Semakin hari bosmu itu persis seperti penguntit. Bilang saja aku makan siang dan ponselku rusak” April kesal, saat dalam masa haid emosinya selalu terpancing dengan tingkah Sean. Hari ini dia sengaja menonaktifkan kedua ponselnya. Malas dihubungi pria itu.
“Aku tidak tanggung jawab”
“Hm.. tenang saja James. Kau sudah pilih menunya?”
“Sudah”
Setelah memesan makanan, April menatap serius ke arah James. Pria itu kebingungan dengan sikap orang kesayangan bosnya ini.
“Beri tau aku apa yang Sean benci... maksudku dia kan memiliki banyak mantan dan juga pacar, nah apa yang dia benci dari tingkah mereka. Katakan semuanya kepadaku”
April perlu sebuah rencana, dia akan mencoba untuk membuat Sean benci dan juga kesal dengan sikapnya sehingga pria itu meinggalkannya. Dan dia ingin memastikan bahwa ketika Sean tidak menyukainya lagi, hatinya tenang dan tidak sedih. Semoga begitu.
Wanita itu masih berusaha mengelak bahwa dirinya telah jatuh kedalam pelukan Sean.
“Sudah mulai peduli dengan Sean?” James menaik turunkan alisnya, menggoda April.
“Cepat katakan, semuanya. Agar aku tak sia-sia mentraktirmu di tempat mahal ini”
“Pelit sekali” James berdecak, mulai mengingat beban yang telah dilaluinya sebagai perantara kepada para mantan dan pacar Sean.
“Jangan sok berpikir.. katakan padaku”
Jika mengingat masa lalu yang kelam itu, James sangat sedih. Maksudnya sedih akan penderitaannya, kalau Sean mana mungkin menderita dia hanya menerima ajakan mereka untuk berkencan setelah itu menghilang bagai setan. Dan yang kelimpungan tentu James, mengurus keperluan para mantannya itu.
“Sean benci dengan wanita pemaksa kepada hal yang tidak penting. Kenapa? karena hal itu membuat kepalanya pusing seperti memaksanya untuk makan malam bersama, pergi ke bioskop, atau sekedar untuk pergi ke pantai. Apalagi saat dia sedang sibuk, tapi ada beberapa yang dia terima ajakan tersebut dan ada juga yang langsung diputusinya”
April masih menyimak, seharusnya dia memaksa Sean untuk pergi ke suatu tempat saat pria itu sedang rapat penting. Lain kali April akan mencobanya.
“Terus..”
“Nah terus dia benci dengan wanita materialistis atau mata duitan. Sean tidak akan langsung memutuskan hubungan jika seorang wanita meminta di belikan ini dan itu, tapi dia hanya memberikan black cardnya atau menyuruhku untuk membelikan barang yang mereka mau. Setelah itu Sean akan memutuskan mereka. Menurutku Sean membenci wanita matre karena kebanyakan dari mereka hanya ingin uangnya saja, dan mereka tidak setia”
“Hei tunggu dulu.. tidak semua wanita matre itu tidak setia ya, kami ini realistis” protes April.
“Tapi coba kau lihat disekelilingimu, banyak kan wanita seperti itu”
“Akh. Sudahlah, lanjutkan apa lagi yang dia benci”
Daripada berdebat lebih baik mendengarkan lagi informasi dari James.
“Dan ini yang paling penting, Sean sangat membenci ini. Pastikan kau tidak akan pernah melakukannya”
“Apa itu?” April semakin penasaran, apalagi suara James semakin pelan nyaris berbisik.
Ingat, jika semakin pelan suara maka semakin penting infromasi yang diberikan.
“Dia tidak suka kepada wanita penggoda. Sean pernah membunuh beberapa wanita dan pria karena terus menggodanya. Sean tipe orang yang ingin dominan dalam hal bercinta, biarkan dia yang melakukan semuanya”
Tangan April langsung bergerak untuk menutup mulutnya yang menganga. Gila pria itu, sampai membunuh segala. Mengerikan, sepertinya pilihan yang tepat untuk menjauh dari psikopat gila itu.
“Apa dia gay?”
“Tidak, tapi memang ada pria yang terang-terangan menggodanya saat di club”
April sangat lega mendengarnya.
“Kemudian apalagi?”
“Ada satu lagi, tapi ini bukan tentang apa yang dia benci. Tapi sebuah rahasia yang hanya diketahui olehku” James tersenyum miring.
“Beri tau aku cepat”
James menaikan alisnya melihat antusiasme April. Ini rahasia yang tidak terlalu mengangetkan sebenarnya, tapi jika April tau ini mungkin dia langsung mengatakan kalau Sean sudah terkena gangguan jiwa.
“Nanti saja akan kuberitahu, sekarang saatnya makan” James menatap makanan yang sudah datang. Timingnya pas sekali.
April mendengus melihat James, tapi setidaknya dia sudah punya rencana untuk menjauh dari Sean tanpa harus kabur. Dia yakin kali ini Sean sendiri yang akan kabur darinya.
“April!” teriak Carissa, semua orang direstoran melirik ke arahnya. Urat malunya memang sudah putus, wajar saja tak perlu heran.
“Siapa dia?”
“Carissa, sahabatku. Dia akan bergabung makan siang bersama kita, kau tak keberatan kan?” tanya April kepada James, pria itu terpana melihat Carissa yang berjalan ke arahnya.
“Hai! kau selingkuhan April?” tanya Carissa dengan girang. Sedangkan yang ditanya langsung tersedak, dia bisa merasakan aura jahat Sean mengelilinginya. Ugh mana berani James mengambil milik Sean.
“Bukan.. dia teman kantorku. Tak perlu terkejut James, mulut wanita gila ini memang seperti itu” April menepuk-nepuk punggung James untuk menenangkannya.
Semua orang didunia ini yang mampu bertahan untuk berteman dengan Carissa hanya April. Mereka berteman sejak masa kuliah, selama di New York tak hanya Emily yang membantunya tapi keluarga Carissa juga sering membantunya.
Itulah kenapa April tidak merasa kesepian di negara maju ini. Carissa seseorang yang sangat ramah juga percaya diri. Mereka bisa dekat karena acara festival kampus, saat itu mereka berdua ditemukan saling berpelukan sambil menangis di tengah jalan. Karena keduanya tidak tahan minum alkohol dan cepat mabuk.
“Oh kau James itu ya. Aku Carissa Adelaide” Carissa mengambil paksa tangan James untuk bersalaman.
“Aku James Zane Armand”
“Dia ini sekretaris pria brengsek itu kan?” bisik Carissa, tapi bisikkanya itu masih kencang dan dapat didengar oleh James, mana sambil menunjuk orangnya juga.
April menjauhkan kepala Carissa dari depan wajahnya “Lebih baik kau makan saja. Tidak ada gunannya kau berbisik, dasar ember”
James tertawa melihatnya, Carissa orangnya lucu dan juga ramah. Sepertinya dia menyukai wanita itu. Dari tadi dia tersenyum melihat interaksi Carissa dengan April.
...****************...
Saat ini April sedang video call dengan Sean. Setibanya di apartemen setelah pulang kerja, April mengaktifkan kembali ponselnya dan tentu saja pria itu memborbardir dirinya dengan berbagai panggilan termasuk pesan.
“Belum”
“Kenapa belum?”
“Aku malas masak” ucap April.
Dia melihat Sean yang sedang sibuk menelpon seseorang, sepertinya sangat sibuk sehingga masih berada di kantor.
“Makananmu sebentar lagi datang, jangan lupa untuk dihabiskan” peringat Sean.
April berpikir apa sebaiknya dia mencoba rencananya sekarang. Karena Sean terlihat sibuk, pasti akan kesal jika dipaksa ke New York meskipun jaraknya dari Boston tidak terlalu jauh. Setidaknya tak ada salahnya untuk mencoba.
“Ada film bagus di bioskop. Kau mau tidak menemaniku sekarang? tidak seru jika menonton sendiri”
“Sekarang?”
Oh yeah. Kening Sean mulai berkerut mendengar permintaannya, sekarang tinggal dipaksa.
“Iya sekarang. Satu jam lagi filmnya dimulai, ayo kesini Sean”
“...”
“Aku mau nonton bersamamu. Kesini sekarang, cepat” April berpura-pura merengek kepada Sean. Hell! pasti pria itu kesal, lihat dia hanya diam saja sekarang.
“....”
TUT TUT
Panggilan vidio itu dimatikan. Rencananya berhasil.
“YES.. YES!!!” April berteriak girang dan berjoget ria.
Helo world! dia berhasil. Ya meskipun Sean tidak akan langsung menjauh darinya, tapi ini tahap penting untuk membuat pria itu benci sekaligus kesal. Bahkan dia hanya diam dan menatap April dengan wajah datarnya.
Jika Sean memang mau, pasti pria itu akan menjawab rengekannya. Ini tidak, dia hanya diam.
TING TONG
Makanan yang dipesankan Sean sudah tiba. Saatnya makan dengan hati yang gembira. April mengambil makanan dari kurir, membuka isinya sambil bersenandung riang.
“Wah Steak” matanya langsung berbinar melihat steak dari restoran bintang lima. Tidak hanya itu, ada pasta, salad dan buah-buahan dari restoran yang sama.
“Ini makanan yang berharga. Terima kasih Sean” April menyatapnya dengan lahap, rasanya enak sekali. Ada makanan enak dengan suasana hati yang gembira membuat dirinya serasa melambung di atas awan.
Senangnya...
Setelah makan, April sibuk bermain game. Cukup lama dia melawan rivalnya Daniel, teman kantornya sendiri.
“Berikan salam kematianmu April” ucap Daniel melalui voice record yang ada di game.
“Kau yang mati” April berteriak melihat kemenangannya melawan Daniel.
TING TONG
Ugh siapa yang memencet belnya. April tidak memesan apapun. Kakinya menuju pintu apartemen, melihat ke arah monitor yang menampilkan wajah Sean disana.
Kenapa jadi begini?!
Kepala April pusing. Barusan dia merasakan bahagia, tapi lenyap begitu saja. Kakinya mondar-mandir tak jelas didepan pintu apartemen.
Karena tak kunjung dibuka, Sean membuka sendiri pintu apartemennya.
“Lama sekali, padahal kau ada di depan pintu. Ayo kita pergi ke bioskop” protes Sean.
April menepuk jidat melihat pria yang ada dihadapannya. Rencana gagal total, kenapa Sean datang? bukankah pria itu tadi hanya diam saat dipaksa.
“Tidak jadi” April berdecak dan pergi meninggalkan Sean yang masih berdiri didepan pintu. Setidaknya sekarang buat dia kesal karena pembatalan. Ayo berusaha terus.
“Kenapa?”
“Sudah selesai filmnya, kau terlalu lambat datang”
“Kita bisa menyewa gedung bioskopnya. Tadi kau sangat ingin pergi”
Aish dasar pria kaya.
Ini tidak berhasil. Rencana lain, abaikan saja dan pergi tidur!
“Aku mau tidur” April menuju kamarnya, merebahkan tubuh yang sudah lelah ini saat melihat Sean.
Sean mengikutinya dari belakang. Melihat April yang tidur membelakanginya, dia tersenyum miring. Memeluk tubuh wanitanya dari belakang, tangannya menyusup didalam piyama April.
“Sean.. aku masih haid” April menepis tangan Sean sedang menangkup dadanya yang masih dibungkus bra.
“Iya, aku tau” Sean menyeringai, membuka piyama dan bra April. Kedua dada itu menyapa dirinya, tangan nakal Sean meremas dengan lembut. Mencubit pucuk dada yang bewarna pink itu, memainkannya dengan nakal.
April mendesah pelan dan memejamkan mata. Karena dia sedang haid terkadang nafsu hinggap dalam dirinya, seperti sekarang. Dia membiarkan tubuhnya berhadapan dengan Sean.
Mulut Sean melahap dada sintal April. Lidahnya membasahi disekitar dada. Tak lupa memberikan tanda berupa bercak kemerahan karena dihisap dengan kuat.
“Ngghh” April menekan kepala Sean untuk terus berada disana.
“Kau suka sayang?”
“Hmm” April mengangguk, menggigit bibir bawahnya sensual sambil memejamkan mata.
Sean terus menyusu. Dia merindukan wanita ini, ketika mendengar April yang merengek yang ingin menonton bersamanya jantung Sean berdebar kencang. Dia sangat senang melihat tingkah April.
Jika April sedang tidak haid, maka akan Sean pastikan mereka bercinta untuk waktu yang sangat lama.
......................