Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Meet her



Sean sedang meninjau ulang interior lobi resort. Matanya tertuju kepada lampu yang belum diganti. Dia langsung menoleh, membuat semua petugas resort cemas.


“Ganti lampunya, gunakan yang sedikit lebih terang”


Ponsel yang ada di saku James bergetar. Itu adalah ponsel kerja milik Sean. James mematikan panggilan tersebut, mereka sedang sibuk bisa di gorok jika terlalu banyak gangguan.


Samantha is calling..


Lagi. Panggilan tersebut di reject oleh James. Sudah lima kali ada panggilan masuk dari orang yang sama. Pacar Sean semuanya kebanyakan mengganggu daripada membantu. Mereka semua hanya tergila-gila dengan uangnya.


Bukankah itu sudah jelas?


Samantha is calling..


“Samantha menelponmu” James sudah kesal, nanti dia block saja nomor wanita itu.


“Siapa?” Sean mengangkat alisnya bingung.


“Pacarmu yang ada di Swiss. Sepertinya dia melihat berita kedatanganmu”


James memperhatikan pria itu yang hanya duduk tenang sambil menatap ponselnya sendiri. Kenapa harus dia yang mengurus kegilaan semua pacar Sean. Belum lagi mereka semua sangat materialistis, ingin ini ingin itu.


Dan kenapa mau-mau saja menuruti keinginan mereka. Tapi, Sean pernah mengatakan bahwa dia melakukan hal baik untuk memberikan sumbangan kepada yang membutuhkan.


Mulia sekali perbuatannya!


Katakan saja kalau sebenarnya dia bingung bagaimana lagi cara untuk menyumbangkan uangnya. Selain melakukan banyak donasi ke berbagai macam organisasi dan panti asuhan, sepertinya uang Sean makin banyak saja.


“Hmm tidak usah dijawab”


Hanya seperti itu jawabannya? James sudah kesal sekarang, hidupnya tak tenang karena pacar CEO yang kaya raya ini ada di setiap negara.


Tidak seluruh negara juga sih. Huh! lihat Sean malah tersenyum tak jelas, ntah apa yang dia lihat di ponsel itu.


James menjauhkan diri diam-diam mengangkat panggilan dari Samantha. Setelah itu dengan tenang dia duduk sambil menyesap kopi.


Bersiap-siap untuk sebuah tontonan. James tertawa dalam hati.


Tak lama seseorang bertubuh seksi menggunakan mantel bulu glamor menghampiri Sean yang sedang duduk santai di lobi.


“Sayang!” wanita itu Samantha, salah satu pacar Sean. Semua orang menoleh karena dia berteriak kencang, seperti di sengaja.


Samantha dengan lancangnya duduk di pangkuan, tanganya juga melingkar di leher Sean.


“Sayang, kenapa kau tidak mengabariku datang ke Swiss. Kau mau memberikanku kejutan ya?”


Orang-orang terkesiap melihat kelakukan Samantha, mereka pura-pura tak melihatnya. Karena mata tajam Sean menatap kepada semua orang. James hanya mengulum senyum, bagus rencananya berhasil. Ternyata Samantha cepat juga sampai kesini.


Sean melirik ke arah James, pasti ini ulah sekretarisnya “Menyingkir”


“Huh kenapa sayang?”


Tatapan dingin dan tajam, membuat Samantha ketakutan sekarang.


“Ku bilang menyingkir”


Wanita itu langsung menyingkir dari atas pangkuan Sean. Sungguh tatapan itu tadi sangat menakutkan. James mengeluarkan black card dan memberikannya kepada Samantha.


Oke, cukup bermain-main. Bos nya sudah marah. Tanpa basa-basi James mengusir wanita itu secara halus.


“Ini gunakan sepuasmu” ucap James.


Samantha langsung mengambil black card yang diberikan padanya. Tapi wanita itu belum puas, dia berniat memamerkan Sean sebagai pacarnya ke seluruh dunia. Dia ingin menjadi the next nyonya Raymond.


“Tapi aku ingin kau yang menemaniku belanja, masa kau tega melihat kekasihmu ini pergi sendirian” dengan sengaja Samantha berbicara sekeras mungkin agar semua orang mendengar. James menatap panik pada kelakuan tidak tahu malu itu, hei nona kau mau cari mati ya!


Tanpa di duga Sean menyetujuinya “Yasudah, ayo pergi”


Sebaliknya wajah James tidak datar, sangat bergelombang dan ekspresif mendengar persetujuan itu. Tumben sekali.


Sean berdiri menuju pintu depan meminta valet untuk mengeluarkan mobilnya. Begitu mobil itu tiba Samantha kegirangan, tapi Sean langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia langsung berteriak memanggil pria itu.


“Sean!”


...****************...


April menatap punggung Carissa yang berlari tergesa-gesa. Tadi Professor Anna menelpon, agar besok sudah ada di rumah sakit untuk mempersiapkan ujian minggu depan. Carissa awalnya bertanya kepada April ingin ikut pulang atau tetap disini. Tapi memilih disini, dia sudah susah payah meminta cuti masa tidak digunakan dengan baik.


Carissa Adelaide


Sowryy ya, next holiday aku yang bayar Doakan temanmu ini baik-baik saja


Aku titip tas satu ya hehe


Carissa Adelaide


Carissa Adelaide send a image...


Ini namanya pesan yang membawa mala petaka bagi uang. Memang laknat sahabatnya itu.


Sabar April semua ini harus dijalani dengan tenang supaya liburannya bermanfaat. April kembali ke store yang ingin dia dan Carissa tuju. Kemudian ada orang lain yang menunggu di belakangnya.


“Tolong member card VVIP anda”


April memberikan member cardnya. Pramuniaga itu segera melakukan screening tapi namanya belum terdaftar lagi.


“Maaf nona , sepertinya anda belum memperbaharui aktivitas member anda” Parmuniaga mengembalikan lagi member card.


“Lama sekali. Kalau tidak bisa masuk cepat menyingkir” ternyata Samantha yang berada di belakang antrian. Dia menyenggol kasar bahu April, hingga hampir tersungkur.


April yang diperlakukan seperti itu sangat emosi, tapi dia melihat keadaan sedang ramai.


Sebaiknya bersabar untuk menghadapi cabe-cabean ini. Mata April melirik kebelakang, sebaiknya dia mengantri lagi mencoba menggunakan barcode siapa tau bisa.


DEG


Sean tidak menyangka akan bertemu orang yang susah payah dia cari. Jadi wanita yang ada didepan mereka tadi adalah April.


Barusan melihat fotonya, dan benar itu April. Wanita itu menunggu di belakang James. Sean memperhatikannya, April sedang fokus melihat ponsel.


Wajahnya sangat cantik, dia memakai rok soft blue dipadukan dengan baju wol putihya. memakai mantel putih selutut dan sneakers putih. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai panjang. Sean ingin sekali memeluk dan mengurungnya hanya untuk dirinya seorang.


‘Dia sangat cantik’


“Sayang ayo!” teriak Samantha.


Kepala April mendongak, melihat ke arah wanita cabe itu. Dia bergelayut manja di lengan seorang pria yang menatapnya lekat. Kepalanya menoleh ke belakang tidak ada orang di belakang, jadi dia melihatku.


Kenapa dia melihatku? apa ada yang aneh dengan diriku. April jadi overthingking.


James melihat arah pandang Sean, dia ikut menoleh ke belakang. Ada seorang wanita yang tadi ditolak masuk. Setelah James memperhatikan wajahnya, dia langsung mengecek ke ponsel. Mirip sekali dengan wanita yang sering di lukis Sean.


Apa jangan-jangan dia April?


“Heh kenapa kau melihat pacarku?!”


April memutar bola matanya “Siapa yang melihat pacarmu?” sabar April. Orang sabar disayang Tuhan.


Sean melepaskan tangan Samantha di lengannya, lalu dia mendekati April. Matanya tak lepas dari wajah cantik itu.


“Kau ingin masuk kedalam kan? Pakai akses ku saja” ucap Sean.


April melirik ke kiri dan ke kanan, kenapa dia melihatku terus! Jadi salah tingkah kan.


“Emm tak apa, aku akan mencoba pakai barcode sa—“


“Namamu” potong Sean tidak ingin dibantah. Terkejut dengan nada tegas tersebut April langsung menyebutkan namanya. Ntah mengapa rasanya menakutkan.


“April Lilian Berwyn” seketika April menyesali perbuatannya, tak seharusnya memberikan namamu kepada orang yang tampak mengerikan seperti yang ada didepannya ini.


Sean menyeringai, lalu berbalik dan berbicara kepada pramuniaga. James melihat April dengan tatapan terkejut sambil menutup mulutnya. Sedangkan, Samantha menatapnya dengan kilat permusuhan yang jelas.


April hanya mengedikkan bahunya, dasar orang-orang aneh!


......................