Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
She left



Lagi-lagi April berada di ranjang ini dengan keadaan tubuh yang kaku juga remuk. Matanya melirik jam yang menunjukkan pukul tiga pagi. Dia menertawakan dirinya sendiri yang pingsan saat sedang bercinta. Salah kan psikopat mesum disampingnya ini yang terus mengulangi aktivitas itu berkali-kali.


April memindahkan perlahan tangan Sean yang memeluk dirinya. Dia bernapas lega, melihat mata biru itu masih tertutup rapat. April perlahan mengangkat tubuhnya. Pinganggnya sakit sekali, hampir dia meringis. April membuka perlahan kopernya, ketika Sean melenguh tangannya terhenti jantungnya berdetak cepat.


Kumohon.. kumohon.. tidurlah..


Ketika dia menoleh, ternyata Sean masih tertidur. Secepat kilat April memakai sembarang baju miliknya. Dia sangat ketakutan sekarang, dia ingin pulang ke New York setidaknya disana lebih aman. Ada Carissa, Emily dan Bertha disana. Jika dia terus bersama Sean, maka April seratus persen yakin tubuhnya tidak akan berbentuk lagi. Sean itu psikopat mesum, lihat dia bahkan sampai pingsan dibuatnya.


“Ponsel ku dimana kau?” April bergumam pelan, mencari-cari ponselnya yang disita oleh Sean. Karena tidak kunjung ketemu, April akhirnya memtusukan untuk pergi biarlah memakai ponsel satunya lagi dan meninggalkan kopernya disini. Setidaknya passport dan dompet aman. Sekarang yang tersisa bagaimana cara keluar kamar.


CLICK


April memejamkan matanya erat-erat mendengar bunyi pintu. Dia menoleh lagi ke ranjang, Sean masih tidur. Syukurlah psikopat itu tidur dengan nyenyak. April membiarkan pintunya sedikit terbuka, jika ditutup maka akan menimbulkan bunyi.


Dia berteriak kencang dalam hati setelah berhasil keluar dari sana. Ayo langsung ke bandara.


“Baiklah transfer selesai..” April lega karena sudah memesan tiket pesawat, untungnya ada pesawat yang berangkat se pagi ini. Dia langsung pergi menuju bandara.


“Yaampun tubuhku sakit” April melenguh sakit, saat ini dia sudah berada di dalam pesawat menuju ke New York. Tadi saat berjalan semua orang memandangnya aneh, ya aneh April berjalan dengan kaki gemetar juga selakangannya sangat tidak nyaman dan sakit. Perutnya juga lapar, ck Sean tidak memberinya makan tadi. Sibuk dengan terus memasukkan miliknya.


“Ini nona makanan anda, selamat menikmati...”


Oh makanan akan terlihat sangat lezat jika kau sedang kelaparan. April langsung melahap makanannya. Dirinya mungkin persis terlihat seperti orang yang kabur dengan hanya membawa passport, dompet juga ponsel, ah satu lagi tidak memakai mantel di cuaca yang dingin ini. Mana sempat April memakai mantel.


“Semoga setan itu melupakanku” setelah makan matanya terkantuk. April berdoa semoga Sean melupakannya, dan mencari wanita lain untuk memuaskan hasratnya yang gila itu. Sean kan playboy pacarnya dimana-mana. Dia pasti menganggap April sebagai ONS nya saja.


Tapi kok April kecewa ya jika hanya dianggap ONS saja.


“Sudahlah tak usah dipikirkan” April akhirnya tertidur.


...****************...


“Pesawatnya sudah take off?”


Sialan!


Sean meninju kencang dinding kamarnya hingga tangan pria itu berdarah. Lalu dia terlihat tertawa, James bergidik ngeri melihat tawanya. James jadi khawatir dengan nasib April nanti.


“Iya Tuan. Saya akan memerintahkan yang lain untuk menangkapnya di New York”


“Tak usah. Biarlah dia pergi dulu” Sean menyeringai.


Sean memiliki pengawal di beberapa negara. Pengawalnya itu terkadang menjadi tentara bayaran untuk beberapa kepentingan. Mereka bahkan diperlengkapi oleh senjata dan sudah terlatih. Tapi, jika ada yang melanggar sumpah setia mereka dan berbuat diluar perintah Sean maka mereka akan dibunuh.


“Jadi bagaimana?” James akhirnya bertanya setelah Sean selesai menelpon.


Oh ini mengerikan! Lihatlah wajah Sean yang tegang, itu berarti dia sedang menahan emosi. James tau betul sikapnya yang sekarang. Mata biru tajam Sean menunjukkan segalanya. Sean duduk sambil menggoyangkan gelas berisi wine. Menyesapnya perlahan, lalu dia tertawa rendah. Padahal tadi dia sangat senang ketika April terlihat menikmati percintaan mereka.


“Aku akan menelpon daddy”


“Untuk apa? Jangan bilang..” James melotot, dia tahu isi pikiran Sean saat ini. Pria itu menyetujui permintaan Jonathan untuk memimpin Raymond Corp. Sean dengan santai mengusap rambut pirangnya, sambil menelpon Jonathan.


Pasti ini semua untuk April, James tau itu. Karena orang gila didepannya ini sangat terobsesi dengan April. Sebelumnya Sean sudah mengetahui semua hidup April, dia sangat cepat mencari tau. Sean tau dimana tempat tinggal, tempat kerja, tanggal berapa dan dimana wanita itu lahir, sahabatnya, bahkan dia tau kalau ibu April berteman baik dengan Emily. Ha tidak heran Emily kenal dengan April. Kenapa Sean terlambat mengetahui ini semua, salah satu faktornya adalah dia jarang bertemu keluarga atau menghubungi mereka duluan.


“Kau membuatku marah sayang” Sean bergumam pelan, lalu dia menyesap wine nya. Dia akan melakukan satu permainan agar April jera.


...****************...


Bangun tidur kali ini sangat menenangkan bagi April. Selama ini dia tertidur nyenyak awalnya saat tiba di New York, April ketakutan kalau Sean akan menyeretnya lagi. Tapi nyatanya sudah tiga hari lewat pria gila itu tidak muncul. Berarti Sean sudah melupakannya. Syukurlah kalau begitu.


April juga sudah menghubungi Emily tadi malam, kalau dia menolak untuk dijodohkan dengan anaknya itu. Emily terus bertanya apa alasannya, tidak mungkin dia bilang kalau anaknya itu psikopat mesum. Dengan alasan April sudah memilik pacar dan pacarnya itu tinggal di apartementnya, Emily dengan mudahnya percaya pada perkataan April.


“Haa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi April” April mengambil pembalut, dia haid sekarang. Syukurlah.. setelah pulang dari New York dia langung membeli obat kontrasepsi mencegah kehamilan. Ntah memang obat itu yang manjur atau memang benih Sean kurang giat.


“Nananana... unchh my bubu, are you ready to go?” April mencium mobil Ford hitam kesayangannya itu. Mengendarainya untuk siap bekerja.


Sesampainya disana, semua orang diruangannya membicarakan tentang direktur baru mereka. April sepertinya ketinggalan berita, dia sibuk menghandle data setelah itu dia langsung menonton drakor.


“Apa? Kenapa? Siapa?” tanya April kepada Bertha.


“Ada CEO baru hari ini. Kalau tidak salah putra kedua Jonathan Raymond, aku lupa namanya.. Sen? Sena? Seng?”


“Sean” April berbicara pelan pikirannya kosong matanya ketakutan.


“Hei kalian ayo, kita harus ke ballroom sekarang”


Bertha menoleh, benar akan ada kata sambutan dari Direktur baru. Bertha melirik April yang melamun, sepertinya dia banyak pikiran. Lebih baik diseret saja.


“Ayo. Kita bisa terlambat” Bertha menyeret April pergi dari ruangan.


Seisi ruangan memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Direktur baru mereka. Raymond Corp secara resmi akan di pimpin oleh Sean Atreo Raymond, putra kedua Jonathan Raymond. April bisa melihat senyum bangga Jonathan dan Emily disana. Untunglah jaraknya jauh dengan Sean, jadi bisa dipastikan pria itu tidak melihatnya.


April meneguk liurnya ketika melihat Sean seperti sedang mencari seseorang. Ayolah berpikir!


Aha!


“Ehem.. aduh Bertha kepalaku pusing sepertinya aku tidak enak badan” April sedang dalam mode aktingnya. Dia ingin pulang!


“Kau sakit? Coba kulihat” Bertha melihat wajah April yang tampak pucat. Suhu tubuhnya memang tidak panas tapi keringat dingin mengalir jelas di dahi wanita itu.


“Yasudah kalau begitu, kau boleh pulang”


“Baiklah, maafkan aku merepotkanmu Bertha” April berteriak girang dalam hatinya. Sepertinya dia pucat dan berkeringat dingin karena memang takut ditemukan oleh Sean. Baguslah kalau begitu.


“Tapi ingat, laporan harus kau kirimkan malam nanti” ucap Bertha, pasalnya laporan itu harus diberikan besok karena Direktur baru yang meminta.


“Iya, aku pulang dulu” April segera bergegas pergi dari sana. Dia berdecak mengingat Bertha menyuruhnya untuk mengirimkan laporan malam nanti. Jika dia mati pun sepertinya tetap harus mengabdi pada pekerjaan. Beginilah nasib babu kapitalis ya teman-teman.


“Pantas saja dia banyak melamun tadi” Bertha menggeleng prihatin kepada April.


April akhirnya merebahkan tubuh ke ranjang. Apa yang dia pikirkan tadi ya. Kenapa dirinya begitu ketakutan. Padahal belum tentu Sean mencarinya, atau sengaja mengambil alih Raymond Corp hanya demi dirinya.


“Lucu sekali kau April, memangnya siapa dirimu” April memijit pelipisnya, mari berpikir positif. Karena sekarang dia sudah dirumah lebih baik tidur, mumpung ada kesempatan jarang-jarang dirinya izin sakit.


TING


Sebuah pesan masuk dari Bertha.


Bertha De Alexandra


April. CEO baru itu mencarimu.


Bagaimana kau mengenalnya?!


Pesan itu membuat April yang tadinya ingin berpikir positif langsung berubah berpikir negatif. Bagaimana ini? Apa yang harus dilakukan. Sebaiknya telpon Carissa saja.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah sesaat lagi”


April memutar bola matanya. Ini suara Carissa.


“Heh! ini keadaan darurat!”


“Apa? kenapa?” Suara Carissa tampak santai saat ini.


“Orang gila itu mencariku! Apa yang harus kulakukan?” April sudah menceritakan semuanya kepada Carissa tak terkecuali dirinya yang sudah pecah perawan. Carissa pun merasa geram kepada Sean, dia berencana mengebiri pria itu.


“APA?! SI BRENGSEK ITU?!” teriakan Carissa membuat April menjauhkan ponselnya dari telinga yang masih dipakai ini. Lebih baik April menekan tombol loudspeaker saja.


“Apa yang harus kulakukan?”


“Bagaimana kalau bilang kau itu sebenarnya pria jantan atau bilang kau menyukai ayahnya saja” ide Carissa diluar nalar, April berdecak kesal.


“Yang ada aku dibunuh olehnya”


“Kalau begitu sebelum kau mati, aku minta gaun pestamu yang warna navy itu ya sama oh sepatu silver ruby mu itu”


“Kalau begitu kau yang akan kubunuh”


“Haduh.. bagaiamana kalau kau pura-pura kecelakaan saja bilang kepada Bertha kalau kakimu patah. Sementara diberikan izin sakit nanti kita pikirkan bagaimana solusinya”


April tertarik dengan ide yang diberikan Carissa. Jika mengatakan kakinya patah kemungkinan dia tidak perlu berangkat ke kantor karena dirinya sering melakukan pengawasan penerbangan dan itu adalah pekerjaan lapangan. Hem cukup bagus, sementara itu dirinya akan berpikir bagaimana cara menghentikan Sean jika pria itu memang menggangunya lagi.


“Okey, akan kulakukan itu”


......................