Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
The picture



Kepala April bertumpu pada kepala Sean yang berada didadanya. Pucuk kepala pria itu dicium lembut.


“Bayi besar yang selalu minta susu” kekehnya.


Sesuatu menarik perhatian April dari kaca jendela mobil. Mereka tiba di mansion Sean setelah melewati jalan lurus disetiap kiri dan kanan jalan itu banyak pohon yang menjulang.


Pagar tinggi bewarna hitam menyambut mereka. Mobil memasuki pekarangan setelah pagar terbuka. Pekarangan yang luas yang terdapat banyak tanaman hijau tumbuh subur.


April menarik dadanya dari Sean, membenarkan pakaian lalu membuka kaca jendela.


Angin dingin sejuk malam menerpa kulit wajahnya. Penerangan dipekarangan depan yang luas sangat indah. Bangunan mewah dengan nuansa klasik itu terlihat kokoh.


‘Seperti tempat tinggal pangeran di negeri dongeng’


Mobil berhenti didepan pelataran mansion. April keluar dari dalam mobil, menelisik sekitar mansion.


“Ada Benjamin didalam” ucap James kepada Sean.


Tangan April digenggam Sean untuk masuk kedalam mansion. Ruang tamunya saja sangat luas dan berkelas. Jika dari depan mansio terlihat sangat klasik, tapi didalamnya sangat modern dan futuristik.


Benjamin yang duduk disofa langsung berdiri menyambut mereka. Pria itu melirik sekilas ke genggaman tangan Sean.


“Sepertinya kau menemukan obat yang paling ampuh” bisiknya.


“Ada apa kau kesini?”


“Ada yang ingin kubicarakan berdua”


Sean menghela nafasnya, berbisik kepada April.


“Sayang.. tunggulah aku dikamar”


Pria itu menanggil Farah untuk menuntun April menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


...****************...


Benjamin tertawa melihat bercak kemerahan di leher pria didepannya ini.


“Apa dia tahu kalau kau itu gangguan jiwa?”


Sean dengan santai menyesap bir dingin.


“Tidak, aku seperti itu karena dia”


“Jadi wanita tadi yang sering kau imajinasikan? wanita yang kau cari? wah sungguh keajaiban”


Obsesi Sean terhadap April sangatlah besar. Karena obsesi itulah pria itu mulai berimajinasi hingga menganggu aktivitasnya kemudian menyebabkan stres berat. Dia bertemu dengan Benjamin di rumah sakit jiwa. Dan menawarkan untuk menjadi dokter pribadinya.


Perlahan stres itu dapat ditekan berkat Benjamin. Antidepresan yang aman disarankan agar Sean tidak mengalami sakit kepala yang berlebihan. Tapi sakit kepala itu semakin berlanjut, dosis obatpun terus ditambah.


“Cepat katakan kenapa kau kesini”


“Kudengar kau sempat demam tinggi di New York. Kau tidak lagi meminum obatmu?” tanya Benjamin.


Pasalnya jika Sean tidak meminum obatnya maka demam tinggi dan sakit kepala yang ekstrem akan menghantam tubuhnya.


“Aku sedang tidak bisa menyentuh obatku saat itu”


“Menyentuh?”


“Bercinta dengannya”


Ah..Benjamin paham.


Pria didepannya ini bisa menghentikan obat karena sudah ada wanita itu. Jadi dia hanya perlu melampiaskan hasrat maka semuanya akan aman. Sungguh gila! dia akan demam jika lama tidak bercinta!


“Aku kesini karena khawatir bisa jadi kau gila sungguhan nanti kan, ternyata semuanya baik-baik saja.. syukurlah kalau begitu. Tapi memang tidak perlu meminum obat lagi?”


“Tidak lagi”


“Baguslah, dan ku ingatkan kau untuk mencoba menahan diri jika tidak ingin menyakiti wanitamu.. aku pergi dulu” Benjamin beranjak dan menepuk bahu Sean.


Dokter satu itu sangat tahu bagaimana perubahan Sean saat tidak normal maksudnya saat tidak terkendali.


...****************...


April tercengang dengan isi ruangan yang temaram ini. Seluruhnya berisi lukisan seorang wanita, tapi seperti dirinya versi remaja. Dia ingat memiliki rambut sebahu saat usianya masih belasan tahun.


Tadi saat masuk ke kamar Sean, wanita itu penasaran dengan dinding yang terlihat berbeda. Ketika mendorongnya sedikit, ada derit dari dinding itu dan semakin dibuka ternyata ada ruangan lain didalamnya. Seperti galeri lukis pribadi.


Lukisan itu semuanya memiliki potret yang sama. Sepertinya di buat berulang-ulang. Ada yang sedang tersenyum dan ada yang sedang tertidur.


“Sayang.. aku mencarimu” Sean memeluk April dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher April.


“Siapa yang kau lukis ini?”


“Kau”


What the hell!


“Masih belum mengingatku ya? Padahal aku mengingatmu sepuluh tahun lamanya, dan membuat lukisan ini mengobati diriku yang rindu kepadamu” bisiknya hangat.


“Apa?” April masih tidak mengerti, kapan dia bertemu orang gila ini?


Pria itu berdecak sebal, dia menggendong April dan mendudukkannya di sofa. Sean melingkarkan kaki April di pinggangnya posisi yang sangat dekat ini membuat gugup.


‘Sean sangat tampan dari dekat. Wajahnya sempurna’


“Ini tentang rahasiaku. Kau selalu menanyakan ini dengan James kan?”


April berdehem “Tidak. Aku tidak bertanya”


“Kau pernah menyelamatkanku di Swiss. Saat itu aku kecelakaan dan kau membawaku kerumah sakit” ucap Sean sambil membuka kancing kemeja April. Wanitanya sedang berpikir keras, menggemaskan.


“Di Swiss..”


“Sepuluh tahun yang lalu, berarti kau masih berusia tujuh belas tahun” Sean mengambil kesempatan dengan menghirup aroma belahan gunung sintal, sangat menyenangkan.


“Ah kau orang yang menumbur dinding dengan mobil itu ya, kepalamu sampai bocor”


“Hmmm, dan kau meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata apapun” kali ini tangan pria itu bergerak melepas penutup dada. Dia masih belum sadar ternyata.


“Isi suratnya agak panjang, sedikit yang bisa ku ingat. Tapi yang jelas aku mengatakan semoga cepat sembuh, salam kenal namaku April Lilian Berwyn dan kau bisa menghubungiku.. aku bahkan memberikan nomor telepon rumah hingga e-mail” April menatap kesal kepada Sean.


“Kau menungguku menghubungimu?”


“Tentu saja. Aku khawatir saat itu tapi harus cepat kembali ke Barcelona itulah kenapa aku memberimu nomor dan e-mail”


Ternyata mereka memang ditakdirkan untuk bersma. Siapa yang tau mereka bisa bertemu kembali.


Tapi jalan mereka untuk bertemu adalah sepuluh tahun kemudian. Sean berpikir kalau April sudah tidak mengingatnya lagi, begitupun sebaliknya. Keduanya saling menunggu tanpa tau yang sebenarnya.


“Jadi.. kau pria tampan itu ya? Ck aku pikir kau itu anak baik-baik”


“Kau kecewa?” kekeh Sean.


“Aku berpikir kasian sekali dia ini mana wajahnya penuh lebam. Kau terus menggengam tanganku saat itu” ah ya Sean tidak melepaskan genggaman itu. Sean mendengarkan ocehan April dan melanjutkan aktivitasnya tadi.


“Saat kau membuka matamu, aku melihat seperti kesedihan juga ketakutan. Aku jadi semakin kasihan, tapi di satu sisi aku berpikir wajahmu tampan sekali sepertinya kalau aku menjadi pacarmu orang-orang akan sangat iri” lanjutnya.


“Jadi kau berharap aku menjadi pacarmu heh?” Sean tertawa pelan.


“Dulu, sekarang tidak” ucapan April membuat Sean menggigit gemas pucuk dada. Barulah wanita itu tersadar. Kemana saja kau hei?


“Awh! Apa yang kau lakukan?!” teriaknya,


April berusaha turun dari pangkuan Sean. Mode bahayanya menyala tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa lagi kalau kondisi remang-remang begini.


Tapi Sean menahannya dan tertawa rendah “Aku sudah diujung tanduk sayang, nanti kita lanjutkan ceritanya”


“Ahh ngghh”


Bibir lembut dicumbu dengan ganas. Saling memainkan lidah sesekali menggigit pelan bibir ranum dan cantik itu.


Kecupannya turun ke leher memberikan jejak kemerahan yang jelas. Lalu Sean menyusu dengan rakus.


“Ah Sean!” teriakan April memenuhi ruangan saat tangan yang mengobrak-abrik inti, terus ditusuk.


“Ya sayang?” oh Sean sangat menikmati wajah seksi ini.


Kesenangan terus diberikan di intinya. April tidak tahan, sepertinya dia akan keluar karena jari semakin cepat.


“Keluarlah April, setelah ini akan kuberikan kesukaanmu” bisik Sean.


Wajah cantik itu hanya bisa memejamkan mata, pemandangan ini hanya bisa dilihat oleh Sean.


April ambruk dipelukan Sean, menggigit bahunya “Sean cium”


Tangan cantik itu menangkup wajah Sean, meminta ciuman lembut.


Batang itu akhirnya keluar dan memasukkannya perlahan ke bawah sana yang sudah basah. Seketika ciuman mereka terlepas karena tusukan itu.


“Oh!”


Sean memulai pergerakannya pelan menggoda bunga teratai merah dibawahnya. Pelan sekali, dia berencana membuat April mengakui satu hal.


“Sayang lebih cepat” bisik April ditelinganya. Tapi kali ini tidak dituruti, temponya semakin pelan membuat April frustasi.


“Sean.. ayolah” nah April mulai merengek. April berusaha bergerak sendiri tapi ditahan oleh tangan kekar.


“Kau mencintaiku kan?” tanya Sean.


Seringai itu menghiasi wajah tampan. Licik sekali kau Sean!


“...” April hanya diam. Hal itu membuat Sean tiba-tiba berhenti bergerak. Tersenyum menang.


“Ahhh kenapa berhenti!” teriaknya frustasi.


Sean terkekeh “Jawab dulu sayang”


April kesal dengan kelicikan Sean. Wanita itu malu mengakui cinta karena dulu terang-terangan menolak hingga mencaci. Dia gengsi, takut dibilang jilat ludah sendiri.


Itulah kenapa jangan terlalu membenci seseorang!


“Sean!” April mulai menangis, dia sudah sangat frustasi menginginkan itu. Tapi, pria didepannya ini hanya melihatnya datar. Sial wajahnya sangat seksi jika menatap seperti itu.


April kan jadi semakin menginginkannya!


“Hikss.. kau jahat” dirinya mulai terisak kini, Sean hanya mengangkat alisnya menyaksikan itu.


“Iya aku sangat mencintaimu brengsek!” teriak April, mendorong bahu Sean menjauh darinya. Dia berniat ingin pergi dari pangkuan pria itu tapi langsung ditahan.


“Terima kasih, aku juga sangat mencintaimu”


Pergerkan itu berlanjut liar dan cepat. April terkesiap kembali memejamkan matanya menikmati momen ini.


“Ahh ahh”


Suara benturan kulit terdengar dengan jelas di telinga mereka berdua. Bunga teratai mekar itu semakin berdenyut.


“Apa aku menyakitimu?”


April tertawa sambil menangis “Tidak, tersukan”


“Wah kau mulai tertawa, pasti enak kan?” Sean bertanya jenaka yang dibalas anggukan oleh wanitanya.


“Apa kau ingin aku menambah temponya lagi?”


Prioritasnya adalah membuat April menikmati aktivitas mereka ketika bercinta.


“Sedikit lebih cepat”


“Seperti ini?”


“Ahhh iya”


Pengakuan cinta yang luar biasa ya.


......................