Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Punishment



Samar-samar sebuah penglihatan yang masih belum jelas ada dihadapan April, matanya menemukan tirik terang. Terdapat banyak orang disana, termasuk sosok yang sangat familiar.


Itu Sean!


“Lakukan sesuai rencana” Sean menutup telponya.


“Tuan, Nona sudah sadar” ucap Alez.


Merasakan kedua tangannya seperti digantung. Kepalanya mendongak keatas, dugaannya benar. Tangan diikat kencang di penyangga besi. Tubuh tergelantung sekarang.


“Sean? Hei lepaskan aku” April menyipitkan mata melihat seorang pria yang mendekat kearahnya, ternyata semua ini ulah Sean.


“Apa kabar sayang? baru pagi tadi aku memperingatimu dengan tegas, tapi sudah dilanggar ckckck”


“Cepat lepaskan aku. Ini sakit” April memohon dan terus meronta berharap bisa terlepas.


“Mana sakitnya dengan hatiku yang melihatmu berpelukan dengan pria lain? tidak ku sangka kau mengkhianatiku” kekeh Sean, melepaskan sepatu kets putih yang dipakai wanitanya.


Di bawah sinar bulan, senyum Sean tampak berbeda dan mengerikan. Pria itu memberikan tanda untuk membawa kandang-kandang yang tertutup kain hitam itu mendekat ke arah mereka.


Dahi April mulai berkeringat, lelah karena terus meronta. Matanya menatap ngeri pada tempat ini, seperti berada di taman rumah yang sudah tidak berpenghuni. Untungnya masih ada lampu yang menerangi meskipun tidak banyak.


“Katakan apa kau menikmati pelukannya?!” Sean membentak April lagi.


April menunduk, mengerenyitkan dahinya melihat emosi pria itu “Kau cemburu buta. Sudah kubilang aku tidak mengkhianatimu! aku sungguh lelah sekarang, hentikan semua permainan gilamu ini”


“Tapi kau memeluknya”


“Aku tidak memeluknya. Dia yang memeluku duluan. Karena aku menangis, hanya simpati yang ada.. tidak lebih”


Senyum miring pria itu membuat merinding “Dia itu suka padamu, bodoh sekali kau tidak tahu”


Semua hal tentang Thomas sudah diketahui oleh Sean. Dan setiap saat, dia selalu memantau apa yang dilakukan mereka berdua di hangar.


Mata-mata pria itu ada dimana saja. Pastinya dia tahu perlakuan yang diberikan untuk April. Kentra sekali kalau Thomas menyukai wanitanya.


‘Cih. Cari mati pria itu’


Anak buahnya sudah ditugaskan untuk mengikuti mobil Thomas. Membuat kecekalakaan yang besar hingga bisa membuat nyawa melayang. Itulah perintah Sean tadi.


“Buktinya dia selalu mencoba berada disampingmu kan?”


“Kau yang bodoh. Dia hanya membantuku menyelesaikan pekerjaan yang kau berikan. Itu niat baiknya, sedangkan kau? kau hanya memberikan kesulitan untukku! Terus mengekangku! Dan... menyakitiku. Aku benci denganmu!” April menumpahkan emosinya, dia sudah lelah dengan hari ini. Seharian sudah menangis karena orang didepannya.


Mendengar kalimat benci dari wanitanya, membuat hati Sean meluap dengan amarah. Dia tidak suka melihat April membela pria lain.


“Jangan bandingkan aku dengan pria brengsek itu! Aku tidak suka!” rahang Sean menegang, pisau belati kecil menyayat kain celana. Betis mulus itu disayat panjang.


Jeritan kesakitan keluar dari mulut wanitanya “Hentikan! jangan bertindak gila seperti ini!”


“Ini hukumanmu sayang.. kau sudah sangat membangkang hari ini” ucap Sean tenang, sayatannya semakin dalam. Wanitanya berteriak kencang hingga meronta kuat.


Bagai ditutup telinganya oleh setan, pria itu semakin menggila dengan melukai betis satunya lagi. Dia harus memiliki April bagaimanapun caranya.


“Hentikan!” teriak April kencang, kakinya terus meronta tapi terus pegang kuat oleh Sean.


“Kita akan menikah. Aku sudah mempersiapkan pernikahan kita”


Tiba-tiba pria itu tertawa senang, saat dia mengingat pernikahannya sambil terus menyayat. Semua orang hanya bisa diam dan melihat adegan itu.


“Sakit.. hiks..”


Mendengar suara tangis itu Sean menghentikan aksinya. Tidak mau melihat ke atas, dia ingin memberikan hukuman tegas untuk wanitanya. Sean berpaling menuju ke teras depan tempat dia berdiri tadi.


Kecewa melihat pria itu hanya berpaling, April


berteriak kencang “Kaulah pria yang brengsek! Merencakan pernikahan semau mu saja. Kau anggap apa aku ini ha?!”


“Hentikan omong kosongmu itu April” ucap Sean dingin.


Wanita didepannya yang tergantung di tengah taman itu terus meronta. Berharap bisa terlepas dengan mudah dari ikatan.


Sean memberikan perintah untuk membuka kain hitam yang menutupi kandang disekeliling tengah taman.


“Lepaskan aku!” teriak April, seketika dia berhenti menangis tapi matanya bergetar melihat isi kandang.


Ada ular kobra didalamnya!


“Jangan bertindak gila seperti ini” April terus mencoba menghetikan permainan pria itu.


Penyangga besi bergetar karena dia terus meronta. Sean tertawa kencang melihatnya, sudah mulai menunjukkan sifat gilanya. James hanya bisa menatap cemas.


...****************...


“Ma—maaf.. maafkan aku” April memohon pasrah.


Puluhan ular kobra telah di lepaskan membuatnya sangat cemas. Betis yang disayat panjang mengeluarkan darah yang banyak hingga menetes ke bawah.


“Tambahkan lagi ularnya”


Sean memerintahkan untuk mengeluarkan sisa ular yang masih di dalam kandang. James sangat kasihan melihatnya, tapi dirinya tak bisa berbuat apapun melihat tingkah gila bos nya ini.


Belum lagi, pria itu mengarahkan anak panah.


Tidak! Saat ini matanya terburu amarah dan obsesi gila. April harus lepas dari ikatan ini.


SWUSH


“Hampir kena” tertawa pelan, Sean kembali mengambil anak panah.


“Hentikan!” April berteriak parau. Ini gawat, pria itu sudah digulung oleh rasa cemburu. Tidak ada kalimat lain yang bisa keluar dari mulutnya saat ini, selain memohon untuk menghentikan semua ini.


“Bukankah sudah kubilang kalau kau mengkhianatiku.. kau akan kubunuh”


Tatapan tajam tak terkendali itu sangat mengerikan, sekarang dia ingin memberikan hukuman lain kepada wanitanya.


Atas perintah Sean, tadi anak buahnya berhasil menumbur mobil Thomas hingga pria itu terbaring di rumah sakit sekarang.


SWUSH


Anak panah itu melesat tepat dia atas kepala April.


“Apa yang kau lakukan?! Lagian ini bukan salahku!” April kesal dibuatnya emosinya tak terkendali sekarang. Kalau bukan tangan sedang tergantung di palang, dia sudah menghampiri dan meninju dengan keras wajah psikopat gila yang ada didepannya ini.


“Tapi kau hanya diam saja saat dipeluk” ucap Sean santai, dia menyenderkan tubuhnya ke dinding dan menyeringai kepada April.


Seluruh ular kobra itu semakin menjadi-jadi, mengerumuni darah yang menetes di tanah. Sebagian berusaha menggapai kaki dan hampir digigit, jaraknya tidak terlalu jauh.


“Sean lepaskan aku!” April menatap nyalang kepada pria itu. Tiba-tiba kepalanya berdenyut, dia merasakan pusing kali ini pusingnya sangat menyakitkan. Perutnya juga mual mecium bau darahnya sendiri. Darahnya menetes begitu banyak dilantai.


Tangan wanita itu sudah sangat sakit karena tergantung menopang tubuhnya.


James melihat sesuatu yang aneh dari April, wanita itu terus mengedipkan kedua matanya.


“Ini hukuman karena kau mencoba berkhianat” dia kembali mengarahkan panah ke depan.


“Kau milikku dan selamanya harus terus berada disampingku.. tenang saja kau tak akan mati. Aku jamin itu sayang”


Mata April semakin kehilangan fokusnya, dia berusaha keras untuk melihat tapi hanya bayang-bayang tak jelas yang dapat dia lihat. Pusing juga terus dia rasakan. Air matanya mulai membasahi pipi pucat itu, tidak tahan dengan pusing dan bau darah.


“Sean.. kepalaku pusing” perkataan itu sangat pelan dan April mulai berkeringat dingin.


Dia tidak tahan lagi, perlahan matanya tertutup. Tubuhnya sudah sangat lemas. April tak sadarkan diri.


Hany James melihat kepala itu terkulai lemah.


“Sean! Ada yang aneh dengan April” ucapnya panik.


Sean langsung menoleh, dia mengerenyitkan dahinya melihat wanitanya yang tidak meronta lagi seperti tadi.


Dia langsung memerintahkan untuk membunuh ular-ular itu. Semua pengawal yang ada disana menembaki puluhan ular kobra di tengah taman.


Semua ular itu seketika mati, bangkainya terlihat jelas di tengah taman.


Palang yang menggantung tangan wanita itu langsung diturunkan, dengan cepat mereka membuka ikatan tali di pergelangan tangan yang sudah memerah ungu.


“April..April” James menepuk pelan pipi April yang sudah sangat pucat, tapi tak ada jawaban darinya.


“Ke rumah sakit sekarang! cepat!” Sean langsung menggendong April menuju mobil.


Tangannya gemetar menyentuh wajah wanitanya yang sudah sangat pucat pasi, bibir pink itu pun memucat. Deru napas juga sangat pelan.


Oh astaga apa yang telah dia perbuat. Dirinya seperti baru tersadar sekarang.


Baru sadar sekarang hah!


“Sayang bangun..” mata Sean mulai berlinang. Dirinya sangat menyesali perbuatan bodoh tadi.


“Bangunlah” Sean terus berusaha membangunkan April. Tapi masih tak ada reaksi. Air matanya mulai jatuh.


...****************...


TUT TUT TUT


Sebuah panggilan tidak terjawab lagi.


“Kemana sih anak itu? masa belum pulang”


Carissa mengecek jamnya, sudah tengah malam. Sahabatnya itu tadi sudah berjanji untuk pulang tengah malam dan istirahat, supaya tidak kelelahan.


Password pintu itu ditekan, pintu apartemen akhirnya terbuka. Kosong, tidak ada orang didalamnya. Dua kantong besar susu ibu hamil diletakkan diatas meja makan.


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Heh! kau belum pulang?^^^


^^^Pulanglah, sekarang sudah tengah malam^^^


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Jangan terlalu gila bekerja, kau bisa meminta tambahan waktu. CEO itukan kekasihmu^^^


“Masih belum dibalas” gumamnya.


Wanita itu mencoba menelpon lagi. Ada rasa khawatir yang hinggap dalam dirinya.


Bagaimana kalau sahabatnya itu dalam bahaya?


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Kau di mana sih?^^^


^^^Ingat sedang hamil muda^^^


^^^Tidak boleh pulang terlalu malam^^^


Lama menunggu tapi masih tidak dibalas. Carissa memilih untuk tetap berada di apartemen April saja. Siapa tahu nanti ada telpon yang menuju ke apartemen ini.


Ntah kenapa hatinya gelisah. Tangannya mengetik pesan kepada James, sangat penasaran dimana sahabatnya itu berada. Mungkin saja sedang bersama Sean, dan James kan pasti tahu keberadaan bosnya itu.


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Apa April bersamamu?^^^


Cukup lama menunggu akhirnya pesan itu dibalas.


James Zane Armand


Dia dirumah sakit sekarang


Mata Carissa melotot kaget. Jantungnya seperti berhenti, panik mulai melanda. Berharap bukan masalah serius.


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Cepat berikan lokasinya^^^


James Zane Armand


Send a location


Kaki Carissa melangkah cepat keluar dari apartemen. Berlari tergesa-gesa menuju ke basement, dia tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tapi tetap saja rasanya semakin cemas.


James Zane Armand


Dia baik-baik saja, kau tak perlu khawatir


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Aku kesana sekarang^^^


James Zane Aramand


Biar aku yang menjemputmu


^^^Carissa Adelaide^^^


^^^Tak usah^^^


Mobil itu melaju cepat menembus jalanan malam New York. Jantung Carissa teru berdetak cepat, sangat cemas.


......................