Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
His favorite



Sean terus memompa sesekali memutarnya didalam tubuh April. Kepalanya tenggelam di ceruk leher wanita itu. Digigitnya leher putih mulus dan meninggalkan bercak kemerahan.


“Ahh mmhh” April mendesah, bibirnya menggigit daun telinga Sean.


Pergerakan mereka berdua semakin cepat hingga mencapai kenikmatan. Cairan pelepasan yang dirasakan April dalam tubuhnya membuat dia tersenyum senang.


“Kiss baby?”


April mengangguk tangannya menyambar kepala Sean untuk mencium bibirnya.


“Kita pergi sekarang?” tanya Sean.


“Iya sayang” tapi April masih terbaring lelah diatas ranjangnya. Dia digendong menuju ke kamar mandi, karena mereka akan berangkat ke Madrid malam ini dan sudah berpamitan dengan keluarga Thalita.


Pesawat pribadi milik Sean sudah menunggu mereka di bandara. Isi dalam pesawat itu terkesan klasik tapi tetap mewah. Terdapat tempat tidur yang nyaman didalam sana.


“Wah empuk sekali..”


Meskipun April bekerja untuk Raymond Air, dia belum pernah mencoba menikmati fasilitas isi dalam pesawat. Apalagi pesawat pribadi yang memang dirancang khusus sesuai dengan permintaan pemilik.


“Tidurlah jika lelah” ucap Sean santai. Pria itu duduk menyender di ranjang sambil memeriksa dokumen.


“Kau bekerja?”


“Hmm, ada dokumen yang harus aku periksa”


April berdecak “Ck. Sangat workaholic, kau kan bisa memeriksanya nanti”


“Ya.. untuk orang yang izin cuti sakit padahal mau liburan mana paham” sindir Sean.


Ugh mode CEO pria itu sudah kembali. Lebih baik diam saja atau bisa-bisa diberikan pekerjaan yang tidak diinginkan sekarang.


“Berapa lama kau meninta cuti?” tanya pria itu. Tatapannya serius kali ini.


“Hoam aku mengantuk dan lelah, bangunkan aku nanti ya”


Buru-buru April memejamkan mata. Niatnya ingin tidur bohongan tapi malah jadi tidur sungguhan. Tidurnya sangat nyenyak bahkan tanpa sadar mengiler di bantal.


Sean menggelengkan kepala melihat wanitanya. Biarpun begitu dia tetap saja cinta.


...****************...


Bunyi klakson mobil membangunkan April, dia berada didalam mobil. Ternyata mereka sudah sampai di Madrid.


“Bagaimana bisa ada pengemudi seperti itu” ujar Sean.


“Mungkin karena sudah larut malam” sambung James.


April menegakkan tubuhnya melihat gemerlap malam melalui jendela. Walaupun jaraknya dekat dengan Barcelona tapi ini pertama kalinya dia ke Madrid.


Ternyata Madrid sangat indah saat malam, pasti saat siang menyenangkan berada di kota yang artistik ini. Bisa melihat pemandangannya lebih jelas.


“Kau sudah bangun?”


Kepalanya menoleh ke samping kepada Sean yang bertanya. Pria itu menangkupkan wajah April dengan kedua tangan, lalu tertawa pelan.


“James minta tisu basah”


Karena baru bangun April hanya diam dan bingung melihat Sean yang masih tertawa. Lalu pria itu mengelap bibirnya dengan tisu basah, barulah April sadar.


Apa dia mengiler? ini memalukan. James juga ikut tertawa setelah melihat wajahnya.


Pipi April bersemu merah “Iler ku banyak ya?”


“Banyak, tapi masih cantik” Sean mencium pipinya gemas.


Itu sebuah kebiasaan, saat tubuh terlalu lelah maka ketika tidur akan sangat nyenyak. Pastinya akan mengiler atau mendengkur. Tapi kan tidak seharusnya di depan Sean!


Mobil berhenti di sebuah restoran. Karena sudah larut malam April melewatkan makan malamnya dan wanita itu tertidur sepanjang perjalanan. Jadi, Sean membawanya kesini.


April menelisik isi dalam restoran, bisa dibilang bukan restoran mewah seperti yang sering Sean ajak saat makan bersama. Ini restoran sederhana klasik dan mungkin sudah lama beroperasi.


“Ini adalah restoran yang sering aku kunjungi.. bisa dibilang restoran favorite” ujar Sean.


Sepertinya pria itu sedang memberitahukan tentang dirinya sendiri. Karena mereka berdua sepakat untuk mencoba saling mengenal lebih dalam. April tersenyum melihat pria di depannya yang sedang membaca menu.


“Lalu.. kau sering memesan apa jika kesini?”


“Roasted chicken hanya itu”


“Kalau begitu aku mau memesan roasted chicken”


Sean tersenyum dan mengacak rambut April. Seorang pria tua menghampiri mereka berdua, dia adalah pemilik restoran.


“Mi nieto! sudah lama kau tidak kesini” kakek itu menyapa bahagia dan memeluk Sean erat.


Lagi-lagi Sean memperkenalkan dirinya sebagai calon istri. April tidak dapat mengelak hanya menunjukkan senyum malu nya, lalu menyapa ramah.


“Kau pandai sekali mencari calon istri. Makan yang banyak, gratis untuk kalian sebagai calon pasangan suami istri. Astaga! aku sangat bahagia akhirnya cucuku membawa seorang wanita”


Sean terkekeh “Terima kasih abuelo”


Kakek itu dengan semangat pergi menuju dapurnya.


Semangat membara di mata April saat melihat menu. Kelaparan melandanya sekarang, dia bisa melahap apapun. Satu persatu menu dia baca.


Kaki Sean melangkah ke arah kursi yang ada disebelah April dan duduk disana. Kepalanya meyender di bahu wanita itu sementara dia iku membaca lembaran menu.


“Sean, kau pesan roasted chiken?”


“Hmm”


“Roasted chicken dua, sepertinya paella disini enak. Dan ada spaghetti meat sauce juga”


Pena itu terus mencatat menu makanan yang akan dipesan melalui lembaran kertas putih.


“Sudah semuanya?” tanya Sean, dia membaca makanan yang dipesan April.


“Sudah”


“Tunggu disini sayang”


Sean pergi membawa kertas pesanan mereka menuju kasir. Pria itu mulai asik mengobrol dengan kakek pemilik restoran. Restoran sedang sepi, hanya ada mereka berdua yang makan disana.


Percakapan kedua pria yang beda usia itu terlihat sangat asik. Bahkan Sean tertawa, dia telah mengenal sang kakek semenjak pindah ke Madrid untuk memulai bisnisnya.


Karena pria tua itu sangat ramah dan suka berbicara tentang bisnis juga berita terkini. Dia bukan tipe orang yang cepat memahami perasaan orang lain. Itulah yang membuat Sean nyaman bercerita tentang kehidupannya.


“Kau terlihat sangat dekat dengan kakek itu”


Sean sudah duduk kembali disamping April, tangannya mengelus wajah wanita itu.


“Dia kakek yang pandai memberikan nasehat. Aku suka bercerita kepadanya setiap kali kesini” kekeh Sean.


Dua porsi roasted chiken datang ke meja mereka. Lalu makanan lainya menyusul untuk dihidangkan.


Makanan yang tersaji semuanya menarik perhatian April kecuali paella. Hanya itu yang dia jauhkan darinya.


“Bukannya kau suka makanan laut?” tanya Sean heran. Pasalnya wanitanya sangat suka seafood noodle.


“Bau udangnya aku tidak suka” bisik April.


“Kita minta mereka buatkan yang baru tanpa udang, kau tunggu disini biar aku yang mengatakannya”


April menahan Sean yang ingin berdiri. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Lebih baik makan apa yang ada saja.


“Tidak perlu, makanan lain masih ada”


Tanpa menyentuh paella, April makan spaghetinya lalu melahap dua porsi roasted chicken. Sedangkan Sean berbaik hati menghabiskan paella dan merelakan roasted chicken miliknya untuk April.


...****************...


Perjalanan menuju mansion Sean membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena mansionya terletak jauh dari keramaian kota. Berada di tempat tersembunyi yang masih terdapat hutan.


Mata biru Sean melirik ke arah wanitanya yang sedari tadi memperhatikan dirinya. Arah pandang yang menuju ke leher.


April baru menyadari kalau tulang rahang Sean sangat seksi. Sangat menggoda iman, dia ingin mencium rahang itu.


“Matamu ini nakal sekali” bisik Sean, dia menutup sekat antara kursi depan dan belakang. Mendudukkan April di pangkuannya, tubuh mereka menempel erat.


“Bolehkah aku mencium rahangmu?”


“Sure baby, lakukan apapun yang kau mau padaku”


Wajah April semrigah mendengarnya. Bibir lembut langsung menyentuh rahang seksi didepannya ini. Pria itu mendongakkan kepalanya memberikan akses agar April leluasa untuk mengecup.


“Mmmhh” dia mendesah senang sambil terus mengecup dan menjilat sepanjang leher Sean.


Sean terkekeh merasakan bibir April yang agresif di lehernya “Bahaya sayang. Kau sudah masuk dalam bahaya yang besar”


“Kenapa begitu?”


Mata biru itu menatap intens. Bagai terhipnotis April tidak bisa mengalihkan pandangan. Pahanya di elus lembut, kemudian Sean berbisik dengan napasnya yang berat.


“Kau tidak bisa pergi dari cengkaramanku karena aku semakin menginginkanmu”


Jantungnya berdetak cepat mendengar kalimat itu.


......................