
Wangi sabun cair yang lembut mirip dengan aroma tubuh seseorang.
Hidung April terus mengendus bau sabun tersebut. Kepalanya menoleh kebelakang menatap wajah tampan yang sedang memangkunya.
“Itu sabun mandi yang sering kugunakan”
“Pantas saja wanginya seperti aroma tubuhmu”
April tersenyum karena wangi sabun lemon musk ini yang sering Sean gunakan. Saat dia melihat merk nya matanya terkejut, sial ini sabun mahal. Gunakan dengan hati-hati karena tidak akan ditemukan ketika kau pergi ke supermarket ataupun tempat belanja lainnya.
Ini sabun eksklusif yang ramah lingkungan biasanya aroma yang dipesan sesuai dengan permintaan pelanggan. Tidak seperti April yang menggunakan sabun mandi yang biasa ada di supermarket.
“Sabun mandimu ini mahal sekali. Jadi harus menggunakannya dengan baik” April menuangkan hati-hati ke tangannya.
Tapi, Sean dengan seenaknya mengambil botol sabun dan menuangkannya kedalam bathub secara brutal. Dia tertawa mendengar reaksi terkejut April.
“Akh! kau sangat jahat kepada sabun cair!”
“Wanginya akan lebih enak kalau dituangkan kedalam air”
“Tapi tidak harus menuangkannya sebanyak itu, benar-benar ya. Kau bisa lebih hemat karena wanginya akan tahan lama. Dasar orang kaya”
Sean tertawa mendengarnya. Tubuh wanitanya menjadi lebih rileks saat berendam air hangat. Buktinya dia sudah mulai banyak bergerak dan mengoceh seperti sekarang.
Sebelumnya dia mengurung April di galeri lukisnya. Menerkam wanita itu habis-habisan sampai memohon sambil menangis untuk berhenti.
“Kau mau aroma seperti apa? biar aku pesankan nanti. Atau aroma strawberry?”
“Kenapa strawberry?”
“Lubang kesukaanku berbau strawberry” bisik Sean.
Pipi lembut bersemu merah karena gombalan. Sean pandai sekali membuat April malu hingga memerah.
April malu-malu mengarahkan tangan Sean kebawah intinya. Tubuh wanita itu menyender di dada bidang.
“Ohh mmhh enak sayang” April mendesah nikmat ketika jari itu bergerak.
“Bukannya kau lelah tadi? bahkan menangis” kekeh Sean.
“Nggh ahh!”
“Kau mau kumasukkan?”
Anggukan kepala itu membuat Sean langsung beraksi. Suara acak didalam bathub sangat menggoda keduanya untuk melakukannya lagi.
“Enak sekali Sean ahh!”
“Yeah sweetie ini sangat enak”
Keduanya menlanjutkan ronde mereka di dalam kamar mandi. Sepertinya akan berlangsung lama lagi mungkin April kembali menangis nanti.
...****************...
Sean sangat bahagia, apalagi kalau bukan karena wanita yang ada dipelukannya. Rasanya sangat lega dan damai.
“Ngghh”
“Kau sudah bangun?”
April membuka matanya, melihat wajah tampan itu membuatnya tersenyum. Hari ini sangat dingin apalagi diluar sedang hujan. Dia memeluk Sean, ingin bermanja.
Ah senangnya!
Yang lucu adalah wanita itu belum pernah melihat matahari setibanya di Madrid. Karena dia terus digoda oleh binatang buas disampingnya ini hingga tertidur sangat nyenyak.
“Aku lapar” rengek April.
“Mau makan apa?”
Hari ini sudah malam lagi. Dan di cuaca dingin seperti ini paling malas untuk bergerak. Wanita itupun mengambil ponselnya yang ada di nakas.
“Kita pesan saja, kau mau makan apa sayang?”
Lihat itu. April mulai terbiasa memanggilnya sayang.
“Sayang?” tanya April lagi. Karena tak ada jawaban, wanita itu menggigit hidung mancung Sean.
“Kau mau makan apa?”
“Apa saja”
Setelah lama mencari akhirnya wanita itu mendapatkan apa yang dia mau “Ck. Kalau begitu pesan ini saja...okey dan selesai”
Sean mengambil ponsel April, wanita itu memesan pasta, fried chicken juga risotto. Dan untuk minumannya dia memilih jus jeruk. Semuanya juga sudah dibayar oleh April.
“Kenapa kau yang membayarnya?”
“Kenapa memangnya?”
“Inilah yang membuktikan kalau kau belum pernah pacaran dengan seseorang”
“Apa sih.. mana remot tv mu?” April tidak paham maksud dari perkataan Sean, lebih baik dia lihat-lihat serial Netflix.
Pria itu menghela nafasnya. Ternyata frustasi juga punya wanita yang belum pernah pacaran, bahkan untuk mendengarnya mengucapkan cinta saja harus melalui cara enak seperti tadi.
Kini, April tidak tau bahwa ada yang namanya konsep pria yang membayar makanan. Anggap saja karena Sean terlalu sering menghamburkan uang untuk wanita.
Tapi! April sangat jarang menggunakan uangnya. Wanita itu selalu membayar keperluannya sendiri. Harga diri Sean jadi sedikit terluka.
“Lain kali biar aku yang membayarnya”
Tidak ada jawaban apapun, hanya suara televisi yang terdengar. Wajah itu sangat serius, banyak ekspresi yang timbul saat dia sedang menonton. Menggemaskan.
Sean menyingkapi selimut yang menutupi gunung kembar kesukaannya. Lidahnya mencoba pucuk yang sudah tegang lalu mulai menyusu. Wanitanya sama sekali tak terganggu, justru mengelus lembut rambutnya sambil terus menonton.
Persis seperti bayi yang kelaparan. Sangat asik, mata Sean mulai terpejam. Juga menggigit pucuknya, April tertawa karena geli di gigit seperti itu.
“Jangan digigit terlalu kencang” April balas menggigit gemas kepala Sean.
“Kau belum selesai nontonnya”
“Hmm belum”
“Aku suka sekali menyusu seperti ini” Sean mengdongak dan tersenyum seperti anak kecil.
“Engh kau seperti bayi”
“Bayi memang suka susu sayang.. kalau aku bayi limited edition” Sean mengerling nakal, pria itu lanjut menjilat pucuk dan memainkannya.
“Kalau begitu menyusulah, aku masih mau nonton”
“Hmm” Sean lanjut melahap kesukannya itu. Matanya kembali terpejam sambil memeluk erat.
April tertawa kencang melihat Sean yang seperti anak kecil. Dasar bayi besar!
TOK TOK TOK
“Tunggu dulu. Sepertinya itu makanan kita”
Pria itu cemberut ketika mainannya terlepas.
“Nanti dilanjutkan ya, kita makan dulu” bibir seksi itu dikecup mesra oleh April.
“Biar aku yang mengambilnya” Sean beranjak dari ranjang lalu memakai celananya, dan tidak lupa menyelimuti April sampai leher.
Makanan mereka ternyata sudah sampai di mansion. Dan James yang mengantarnya ke kamar Sean. Tadi James sempat mengintip apa aja yang mereka pesan, melihat pasta pedas membuat James juga ikutan memesan tadi.
“Terima kasih James!” teriak April.
“Sama-sama.. dan semangat April kau harus kuat ya malam ini dan malam seterusnya!” James melirik Sean, bermaksud pada hal yang enak.
“Ya?!” teriakkan itu sepertinya tidak paham akan maksud James.
“Pergi kau” usir Sean. James menaik-naikkan alisnya menggoda Sean.
Sean meletakkan makanan mereka di atas meja. April dengan cepat duduk disofa setelah mengenakan gaun malamnya, membuka makanan itu.
“Ah kau belum menceritakan bagaimana kehidupanmu saat masih remaja” toleh April pada Sean yang ada disampingnya.
Mereka berdua sudah bertukar cerita tentang diri masing-masing. Dan lebih mengenal setelahnya, tapi ada yang belum Sean ceritakan.
Pria itu tidak berniat menceritakan kehidupannya dulu sebagai mafia.
“Tidak ada yang spesial, seperti anak remaja pada umumnya”
“Benarkah?”
Sean mengangguk, lalu membantu April untuk mengkucir rambut hitamnya.
“Lalu kata James kau sering melakukan sesuatu di galeri lukis. Apa yang kau lakukan?”
“Melukis memangnya apa lagi. Sepertinya James memberitahukan banyak hal padamu ya”
“Tapi katanya kau melakukan hal lain dan juga dia bilang kau demam karena aku?”
“Ssttt kau tidak perlu tahu, lebih baik makan sekarang. Karena setelah ini kita akan sibuk berolahraga” jelas Sean serius.
...****************...
Sean sungguhan mengajak olahraga.
“Ohh ahh” kepala April terhentak-hentak ke kepala ranjang.
“Ngghh”
“Lebih cepat” April memeluk erat leher Sean. Tubuhnya melengkung, kepalanya pusing karena panas yang menggulung.
“Ahh sayang” Sean terengah, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher. Membiarkan seluruhnya yang tak putus-putus itu terus masuk kedalam.
“Kau menyukainya?” tanya Sean, mengusap keringat didahi wanitanya. April mengangguk pelan masih memejamkan mata. Kemudian mereka berciuman, suara kecupan yang itu terdengar sangat lama.
“Aku haus”
Tatapan sendu membuatnya memberikan air putih yang ada di nakas. April meminumnya, kerongkannya basah kembali.
Diam-diam pria itu menyusupkan batang ke dalam. April melotot dan memukul dadanya.
“Ini sudah yang ke tiga kali”
“Aku akan pelan-pelan”
“Ahh”
Meskipun dirinya protes, tapi tetap menikmati kegiatan mereka berdua.
Pergerakan di baeah tidak cepat seperti tadi. Sean tidak berbohong bahwa dia akan bergerak pelan. Dia suka sekali memeprhatikan adegan yang keluar masuk itu, seperti menonton secara langsung.
“Sekarang aku tau apa yang di maksud James tadi”
Sean tertawa “Memangnya apa?”
“Memberikan pelayanan kepada Tuan Raymond yang ada diatasku ini”
“Terbalik sayang, justru aku yang memberikan pelayanan kepadamu” Sean menyeringai.
“Ahh.. sepertinya kau benar”
“James mengatakan apa tadi aku lupa” tanya Sean. Dia pura-pura melupakannya untuk menggoda.
“Katanya enghh.. semangat April untuk malam ini dan malam seterusnya”
Pria itu terkekeh pelan, mencium unjung hidung April “Iya April.. kau harus semangat”
Wanitanya tertawa girang. Iya ya? dia benar-benar terjebak di sangkar psikpat gila. Oh bukan psikopat gila tapi psikopat mesum
“Kau benar-benar mengajakku olahraga ya” tawa pelan April membuat Sean tersenyum.
Menyengakan sekali rasanya melihat wajah tampan orang yang kau cinta dari bawah seperti ini, sambil terus keluar masuk.
Kedua tangan Sean ditekuk disisi wajah April, menopang tubuhnya untuk menatap wanita itu yang sedang menggigit bibir.
“Ahh Sean..”
Mereka berdua akhirnya mencapai puncak. Ranjang hitam itu basah kegiatan mereka yang berlangsung cukup lama.
Penyatuan mereka belum dilepas, setelah pelepasan pria itu kembali bergerak seperti tadi.
“Ohh kau belum ingin berhenti?”
“Ini yang terakhir, aku berjanji”
Dipandangnya wajah April yang berkeringat, mata mereka saling menyampaikan kasih sayang.
“Aku cantik ya?” jenaka April.
Sean menatapnya lurus “Dengarkan aku April. Kita akan menikah. Namamu akan ku ubah menjadi April Lilian Raymond. Karena.. aku sangat mencintaimu, aku gila tanpamu, dan aku semakin terobesesi akan dirimu. Jika kau pergi dariku maka kita berdua akan mati bersama. Ingat itu sayang”
Ini lamaran? dasar setan gila. Mana berani April
menolak jika ditatap seperti itu juga pernyataan yang membuatnya merinding. Sean benar-benar sudah sangat terobsesi akan dirinya. Dia sudh terjebak selamanya disisi pria itu, tak akan bisa pergi lagi.
“Kau melamarku?” mata April berkedip pelan, jantungnya berdebar. Dirinya sangat senang di lamar, tapi bingung dengan ucapan itu.
“Aku tidak melamarmu sayang. Tapi kau memang akan menikah denganku”
“Berarti kau memaksaku. Bagaimana jika aku menolak, kau akan membunuhku?” April memukul pelan, tangan wanita itu ditahan. Memperlihatkan sudah ada cincin berlian yang sudah terselip disana.
“Kapankau memasangkan cincin?!”
“Kau tidak bisa menolak. Kau sudah terikat denganku, tidak bisa lari sayang” bisik Sean tajam. Dia mulai bergerak cepat dan sangat kasar.
“Ahhhh! Sean!”
April terkesiap, berteriak kencang karena gerakan yang tak terduga itu. Sampai dirinya menangis karena kesakitan.
“Maaf sayang. Kau harus menikah denganku cam kan itu”
“Ohh ahh pelan-pelan” air mata April terus membasahi pipinya, gerakan kasar ini sangat menyiksanya
“Hidup denganku. Atau kita berdua mati”
Sean mulai dibutakan oleh obsesi. Mata pria iti berkilat lain.
“Aku tidak suka ini”
Tangisan April mulai mereda saat puncaknya itu tiba, tubuhnya tak sanggup lagi bergerak sekarang. Bahkan tak ada tenaga hanya untuk membuka mata.
Pria itu sebenarnya marah ketika April bertanya apakah dia memaksanya untuk menikah dan terlihat berkata seperti akan menolak dirinya. Dia tidak terima penolakkan.
Sean benci mendengarnya. Jika tidak mau, maka dia akan memaksanya dan lebih baik mengurung wanita itu hanya dalam hidupnya.
......................