
“Kenapa dia mengarah ke rumah sakit?” tanya Sean cemas.
Dia sungguh sibuk sekarang, pekerjaan sangat menyita waktunya. Perjalanan kerja domestik dilakukan lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, harus cepat selesai.
“Dia hanya mengantar Carissa dan mampir sebentar”
James menjawab dengan tenang. Pria itu sudah mulai ada pendekatan dengan Carissa meskipun agak susah mendekati wanita itu.
“Kau tahu darimana?”
“Carissa yang memberitahu ku”
“Cepat kirim mobil untuk mengantarnya ke kantor”
Ini menyiksa sungguh, Sean sangat merindukan April. Tapi pekerjaan terus berdatangan, belum lagi permintaan kerja sama terus bertambah. Eksistensi Raymond Corp semakin besar. Perusahaan raksasa itu menguasai pasar saham.
Sean memegang pelipisnya. Tidak sabar untuk tiba di New York, kenapa waktu berjalan sangat lama. Pria itu menegak rakus winenya hingga tandas, terus membayangkan wajah April.
Botol wine ketiganya sudah habis, dia berteriak meminta lagi. Tidak lama kemudian seorang pramugari datang membawakan wine. Membuka tutup botolnya, sengaja menumpahkan ke celana Sean dan tepat di intinya.
“Ah Sorry Sir, aku akan membersihkannya” Pramugari itu tersenyum menggoda, berniat memegang batang itu.
Tangan kekar Sean menangkap tangan yang hampir sampai disana. Matanya yang tajam membuat pramugari itu bergidik ngeri.
“Apa yang kau lakukan?! James!”
Suara bentakan dari private cabin itu langsung membuat semuanya terkejut. James buru-buru menghampiri, dia berdecak melihat kecerobohan seorang pramugari.
“Kemari kau” James menarik keluar pramugari tadi.
Crew cabin lainnya mulai berbisik-bisik menatap kebodohan yang dilakukan.
“Jangan biarkan dia keluar dari sini. Aku menemui Sir Raymond dulu” ucap James.
Pramugari tadi ditatap sinis oleh seniornya. Mereka berdecak kesal, gara-gara kegenitan satu orang maka mereka semua akan dihukum hari ini. Ntah hukuman apa yang akan diberikan oleh Sean.
“Hei bukankah sudah ku bilang, jangan mencari masalah”
“Pendengaranmu bermasalah ya?”
“Pasti kau menggoda Sir Raymond”
Cemoohan hanya membuat pramugari itu diam, dia masih kesal rencana ingin mencicipi tubuh seksi itu gagal. Biasanya para pria kaya seperti itu mau-mau saja, buktinya selama ini dia sering melayani bos besar di pesawat pribadi.
Seorang senior utama cabin crew menghampiri keributan “Kau yang baru ditugaskan oleh Raymond Air?”
“Iya” jawabnya singkat.
“Perkenalkan aku Raya, pasti yang lain sudah memberitahukanmu siapa aku”
“Iya”
“Heh! cari mati ya. Sombong sekali” seorang pramugari yang lai ingin menjambak wanita itu.
“Cukup”
Semuanya langsung diam mendengar nada tegas dari Raya. Senior utama itu mendekat, berkata tajam.
“Dengar, kau salah jika menganggap Sir Raymond sebagai pria yang mudah digoda. Kau dalam masalah besar ingat itu. Berdoalah supaya kau tidak dipecat dan jika doamu tidak dikabulkan, berusalah mencari uang sekuat tenaga” ucap Raya, setelah itu dia pergi ke private cabin.
Raya tahu betul bagaimana sifat CEO mereka. Sean adalah orang yang tegas, jika ada kesalahan sedikit saja maka bersiap-siap kehilangan pekerjaan.
Dipecat!
Tidak hanya itu, setelah keluar secara tidak hormat dari Raymond Corp maka selamanya akan masuk kedalam daftar hitam penolakan pegawai di seluruh perusahaan. Jangan remehkan kekuasaan Sean Atreo Raymond.
Tapi, jika kau adalah pegawai yang memberikan kinerja bagus maka pria itu akan memberikan apresiasi yang sangat besar. Tidak hanya bonus, biasanya cuti khusus juga akan diberikan.
“Ckckckck hidupmu sudah tamat”
“Kau menggoda Sir Raymond? jangan bermimpi bisa tidur dengannya. Dia sudah punya wanita yang sangat cantik dan cerdas, tidak seperti mu”
Mereka semua tertawa, lalu meninggalkan paramugari itu sendirian. Ketakutan tiba-tiba melandanya.
“Maaf Sir, atas kesalahan yang mengganggu anda. Ini hari pertamanya bekerja di Raymond Air” Raya menunduk hormat pada Sean.
“Sudahlah, kepalaku pusing. Pecat saja dia”
James menaikan alisnya sudah menebak apa yang akan terjadi pada pramugari itu.
“Baik Sir” ucap Raya.
Sean masih sibuk melihat pelacak lokasi April saat ini. Wanitanya menuju ke halte bus, padahal mobil pribadinya sudah sampai disana.
“April menaiki mobil seorang pria, sepertinya hanya teman atau rekan kerja” James berdehem takut berusaha membuat tenang. Ekspresi Sean saat ini sangat menakutkan. Hosh sebenarnya apa yang dilakulan April?
...****************...
Sean mengikuti April dari belakang, wanita itu menuju ke toilet. Setelah tiba di New York, dia mengendarai mobilnya sangat cepat. Hampir mencelakai pengendara lainnya.
“Kau berjaga di depan. Jangan ada yang bisa masuk kedalam” ucap Sean pada kedua anak buahnya.
Pria itu masuk kedalam toilet wanita, menunggu April yang masih berada didalam.
Amarahnya sudah menumpuk di kepala saat tahu mobil siapa yang ditumpangi wanita itu. Dia tidak bisa memecat sembarang orang, karena Thomas belum membuat ulah yang jelas. Tapi jika sudah mulai menggoda atau memegang April maka bukan hanya dipecat, dibunuh sekalian.
Wajah cantik itu terkejut melihatnya. Seketika kepalanya dirasuki oleh kalimat yang menunjukkan obsesinya.
‘Hanya milikku, April milikku selamanya’
Hasratnya sudah dilampiaskan, dia memperingati April dengan tegas. Marah, kecewa, kesal, cemburu dan rindu semuanya menjadi satu.
Suara kencang mereka terdengar hingga diluar. Beruntung sepi dari orang-orang dan anak buah Sean menjaga dengan waspada.
“Kalau kau mendekatinya lagi, kubunuh pria itu” ucapnya Sean dingin. Dia pergi begitu saja meninggalkan April di dalam toilet.
Saat keluar dari toilet, pria itu memerintahkan kedua anak buahnya untuk mengawal April.
Isak tangis masih terdengar dari dalam. Mereka sebenarnya khawatir dengan keadaan April, tapi tetap harus menuruti perintah bos mereka.
Lima belas menit kemudian April keluar dari toilet. Wanita itu mengenakan kacamata, supaya matanya yang sembab tidak terlalu kelihatan. Yah meskipun masih bisa terlihat.
“Maaf, kenapa kalian mengikuti ku?” tanyanya sopan.
Pasalnya tadi dia berjalan menunduk dan tidak melihat dua orang pria didepan pintu toilet.
April berdecak tidak suka. Dia akan menjadi perhatian banyak orang jika dikawal seperti ini.
“Katakan pada bos gila kalian. Aku tidak mau dikawal, jangan ikuti aku” April menekan tidak sabaran pintu lift. Rasanya kesal sekali.
Tapi anak buah tetaplah anak buah, mereka hanya menurut kepada perintah bos. Dirinya tetap diikuti oleh dua orang pria berbadan besar ini.
Alhasil sepanjang jalan menuju ruangan, dia menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali rekan kerjanya.
“Kau seperti madam di film-film action” Bertha terkikik geli.
“Aku sedang tidak ingin bergurau” ucap April dingin, Bertha mencebik lalu masuk kedalam ruangannya.
Mood hari ini benar-benar berantakan. Padahal pagi tadi sangat gembira. Semua ini karena Sean!
Dia duduk didalam kubikel dengan wajah masam, tidak ada yang berani menyapa wanita itu. Kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.
...****************...
Jam sepuluh malam, suara ketikan masih terdengah di satu kubikel. Semua orang sudah pulang, kecuali April. Laporannya harus selesai hari ini. Besok harus diberikan kepada setan gila itu.
Tiba-tiba komputernya menjadi biru. Tulisan pembarauan sistem membuat cemas. Dokumen laporan yang sudah hampir selesai belum dipindahkan.
“Bagaimana ini?” gumam April takut.
Angka itu masih menunjukkan 35%. Jantungnya berdebar, otaknya mendadak cemas. Panik melanda, kenapa harus sekarang?
Bodohnya April juga melupakan hal ini. Tidak waspada dengan keadaan, juga melewati pembarauan yang seharusnya dilakukan minggu lalu.
100%
Komputer itu mulai menampilkan menu baru. Terdapat logo Raymond Corp disana. April membuka file, berharap dokumen itu masih ada disana.
Berharap sebuah keajaiban.
“Kumohon ada..”
Blank
Tidak ada apapun, seketika tangisnya pecah. Dia sudah mengerjakannya dari pagi tadi. Dokumen itu hampir selesai. Hari ini sudah jam sepuluh malam dan dia sudah sangat lelah.
Seorang pengawalnya tadi masuk kedalam mendengar tangis kencang “Nona, apa anda baik-baik saja?”
April mengusap air matanya “Aku baik-baik saja”
Wanita itu mematikan komputer, menyusun barang-barangnya. Lebih baik dia mengerjakannya di apartemen, setidaknya salinan data masih ada di laptop.
“Anda mau pulang?”
Mendengar pertanyaan itu April hanya mengangguk. Lalu masuk kedalam lift yang terbuka.
“Kami akan mengantar anda”
Terserahlah.
“Sean dimana?”
“Tuan masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan”
Alasan! Bilang saja kalau dia tidak mau bertemu dengannya. April bisa melihat pria itu marah besar tadi.
“Thomas?” tanya April, melihat sosok yang tidak asing berdiri di lobi utama.
“Malam April, kau belum pulang ternyata”
“Aku baru mau pulang”
Thomas melirik ke arah dua pria yang berada dibelakang wanita itu. Dia berdehem, lalu menelisik wajah April yang sembab.
“Kemari” Thomas menarik tangan wanita itu, yang dicekal oleh pengawalnya.
“Maaf, anda tidak boleh memegang Nona sembarangan”
April memutar kedua bola matanya “Biarkan, dia temanku”
“Tapi Nona—“
“Ck, minggir kalian. Jangan ganggu aku” ucap April, dia sudah sangat kesal sekarang.
Thomas menarik April menjauh dari dua orang pria berbadan besar itu. Matanya terlihat khawatir dengan kondisi wanita itu.
“Kau habis menangis ya? apa terjadi sesuatu?” tanyanya.
“Aku tidak apa-apa, omong-omong ada yang ingin kau bicarakan kepadaku?”
“Ah tidak ada, hanya saja ingin memeriksa apakah laporanmu sudah selesai karena aku juga bertanggung jawab dalam datanya. Aku bisa membantumu jika kau kesulitan”
Pria itu khawatir jika April belum menyelesaikannya. Karena dari datanya saja sudah sangat banyak, pasti akan kesulitan untuk menyelesaikannya.
Tapi yang dia dengar bukan sebuah jawaban melainkan isak tangis pelan. Tangan April mengusap kasar matanya.
Laporan. Teringat lagi dengan nasib lapornnya yang kandas karena pembaruan sistem. Sudah dipastikan malam ini dia akan begadang sepanjang malam bersama anaknya yang ada didalam perut.
‘Maafkan mommy sudah membuatmu kesulitan’
“Kenapa kau menangis? jika memang belum selesai aku akan membantumu” Thomas bergerak memeluk tubuh lembut itu. Mengusap punggungnya untuk menenangkan.
April langsung melepaskan pelukan itu. Dia tidak ingim bermasalah lagi dengan Sean, karena pria itu sudah memperingatinya tadi.
Sedih saat pria lain lebih peduli terhadapnya daripada Sean, menenangkan dirinya pun tidak.
“Maaf Tom, kau tak perlu khawatir. Aku pulang dulu, kau pulanglah juga” ucap April pelan, kakinya beranjak dari sana.
Sebuah mobil mewah sudah menunggu didepan pintu utama perusahaan. Pintu penumpang sudah dibuka untuknya, tapi April menolak untuk masuk.
“Nona, anda harus masuk kedalam mobil. Ini perintah Sir Raymond”
“Aku tidak mau. Menyingkir—awh”
Titik belakang lehernya dilemahkan. Hingga April jatuh pingsan dan dibawa masuk kedalam mobil.
......................