Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
History



“Bagaimana kau menemukan gelang ini?”


Gelang hitam dengan berlian kecil bewarna putih yang dia cari kemarin sudah melingkar indah dipergelangan tangan April.


“Dicari” ucap Sean, duduk tenang di kursi penumpang.


Perjalanan ke New York menggunkan pesawat pribadi Sean membutuhkan waktu sekitar tujuh jam.


April menatap kesal mendengar jawaban singkat dari pria itu, gigitan kencang menancap di kepala. Sean mengaduh protes berteriak kesakitan. Pramugari yang sedang mempersiapkan makanan mereka pura-pura tidak melihat adegan lucu itu.


‘“Lepaskan April. Gigimu itu menyakitkan, awh!”


Kini gantian telinga Sean yang digigit, kegaduhan terjadi lagi. Tidak tahan lagi, akhirnya pria itu mengangkat tubuh April dan mengurungnya dalam pelukan yang erat. Setelah dirasa tidak ada berontakan lagi, pelukan itu mengendur.


April duduk diantara kedua paha Sean yang mengurung tubuhnya. Laptop yang menunjukkan statistika data didepan mata kembali menjadi fokusnya. Pria itu kembali bekerja sambil mengurung tubuh April dalam pelukannya.


“Apa aku bertingkah aneh kemarin?” tanya April yang mengacu pada mabuknya malam itu.


“Kau melamarku”


WHAT?!


“...juga menghisap leherku dengan ganas, lihat bercaknya masih ada” Sean memamerkan bercak kemerahan yang sangat banyak dilehernya.


Wajah April bersemu merah, apa benar dia melakukannya seganas itu? malam tadi April belum menyadari kemerahan di leher Sean. Sekarang baru sadar, malam tadi kemana saja kau!


“Minggir. Aku mau makan”


Sean melepaskan pelukan membiarkan wanita itu duduk ditempatnya semula. April melirik suara ketikan di laptop. Huh dasar maniak kerja! Tidak heran jika uangnya banyak sekali karena setiap menit pasti akan bekerja. Prinsip Sean waktu adalah uang.


“Kau tidak makan?” tanya April.


“Belum, makanlah duluan sayang”


April mencebik melihat Sean yang sangat fokus, telinganya mendengar suara tawa dibelakang. Suara tawa mereka terdengar kencang lalu menghilang, kakinya pergi ke sumber suara.


“Maaf.. apa kami mengganggu kalian?” tanya James.


Rupanya berasal dari meja bar di ruang santai. Ada beberapa pramugari dan pramugara yang sedang berkumpul termasuk James disana.


“Tidak, tapi apa yang kalian tertawakan?”


James melirik lalu megangguk, kemudian pramugra yang sedikit kemayu menceritakan sebuah lelucon saat masih bertugas untuk pesawat kelas umum. Dia menceritakan pertengkaran suami istri dengan sangat heboh.


Semua yang mendengarnya tertawa, lalu menutup mulut jika terlalu kencang takut mengganggu Sean.


“Istrinya mengurung wanita itu di toilet? Kau serius?”


Pramugara itu mengangguk antusias “Saat itu aku sangat cemas. Takut rambut indahku dijambak”


“Reaksi suaminya bagaimana?”


“Aduh! Ekspresinya seperti ayam sakit.. terkejut setengah mati saat tahu istrinya disana”


“Kasihan sekali istrinya”


“Tentu, istrinya sampai mengikuti mereka di toilet saat sedang bercinta. Kami saat itu juga terkejut melihat celana segitiga bewarna hijau neon terlempar didekat pintu pantry” lanjutnya.


April tertawa “Hijau neon katamu? Menyala tidak saat gelap?”


“Menyala. Kami mencoba membawanya ke tempat gelap”


Semuanya tertawa karena lelucon itu. Pramugara tersebut terus bercerita dengan sangat antusias. Hingga semuanya terdiam dan beranjak dari meja bar kecuali James dan April.


“April, kau belum makan. Aku tidak mau mendengar keluhan sakit nantinya. Cepat habiskan makananmu” tegur Sean, kembali ke tempat duduknya tadi.


Decakan sebal keluar dari mulut April, sedangkan James tertawa pelan.


“Kalian sudah berbaikan kan? Apa dia menunjukkan rekaman cctv padamu?” tanya James.


“Sudah, aku tidak mau mengingat itu lagi”


“Yah kalau bukan karena sekretaris yang lalai maka wanita itu tidak akan masuk kesana. Aku senang dia dipecat, pekerjaannya itu sangat buruk”


Ucapan James membuat April bingung. Siapa yang dipecat? Jangan-jangan sekretaris yang ada didepan ruangan Sean itu.


“Sekretaris dipecat?”


“Iya, dia salah satu sekretaris Sean yang kinerjanya sangat buruk. Apalagi dia bersikap tidak sopan padamu dan menerima suap tas mewah dari Rachel” James menelisik ekspresi April yang masih bingung.


“Sepertinya Sean hanya menunjukkan satu rekaman. Jadi, dia tahu kalau kau diperlakukan tidak sopan oleh sekretarisnya waktu itu”


Ah! Sekretaris yang membentaknya dan menganggapnya seperti anak remaja. Jadi Sean memecat wanita itu? baguslah, kalau keputusan ini April sangat setuju.


“Sayang! Kenapa kau masih disitu?” teriak Sean.


James terkekeh “Cepat hampiri kekasihmu itu atau dia akan mengamuk”


...****************...


“Selamat siang Sir” ucap April sopan. Dia sudah kembali bekerja tiga hari yang lalu. Sedang menjalankan tugasnya dengan sangat profesional.


Sean menatap wanitanya itu, astaga dia sangat cantik jika sedang serius. Tapi tidak lebih cantik ketika berada di ranjang bersamanya. Hah saat ini gairahnya bergejolak, bagaimana ini?!


“Saya rasa untuk sistemnya nya tidak perlu diperbaiki dan engine juga sudah sangat stabil. Anda bisa melakukan promosi awal minggu depan” ucap April. Astaga dia ingin menoyor kepala Sean saat ini, dia sangat tahu arti tatapan yang ditujukan kepadanya. Sifat mesumnya tidak pernah hilang.


“Baiklah, mulai promosinya” ucap Sean


“Dan April Lilian Berwyn, bisa kita bicara sebentar?”


April menarik napasnya sebisa mungkin untuk tidak menggigit atau menendang Sean. Dia tahu betul apa yang akan terjadi.


“Maaf Sir, saat ini saya sedang mengerjakan data trans—“


“Sekarang” potong Sean kemudian dia berbalik pergi. Semua orang disana melirik ke arahnya. Cobaan apa ini, kalau dia melawan maka dia akan dipecat. Malang sekali nasibnya.


Semua rekan kerjanya memberikan semangat. Pasalnya wajah Sean sangat dingin dan mengerikan tadi.


April mengikuti dari belakang, pria itu sesekali melirik. Memastikan April mengikutinya, saat mereka masuk ke ruangan lantai paling atas Sean langsung mencumbu ganas.


“Mmhh Sean..”


“Aku merindukanmu sayang” Sean beralih mencium leher putih itu. April mendorong Sean dengan susah payah.


“Tadi malam kan sudah! kau tidak lihat aku sampai ngesot ke kamar mandi?!”


Dia hanya terkekeh pelan, melihat April yang cemberut itu sangat lucu. Menggendong paksa April dan membawanya ke kamar pribadi yang ada disudut ruangan.


April langsung menutupi tubuhnya dengan selimut dan memandangi pria didepannya ini dengan kilat permusuhan.


Astaga dia sangat menggemaskan!


“Sir Raymond! ini pelecehan terhadap karyawan!”


Sean tetap mendekat kearahnya. Pria itu bahkan membuka kemeja memamerkan otot yang indah. Sangat curang pria tampan ini!


“Heh! Kuperingati sekali lagi hentikan ini dan jangan membuka celana”


Tapi Sean malah membukanya. Dia sudah melepaskan semua pakaian.


“Akh mataku telah melihat burung!” teriak April sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sean hanya terkekeh dan terus mendekat dengan perlahan, lucu sekali.


Baiklah amunisi terakhir.


April harus menunjukkan puppy eyes “Sayang.. aku lelah.. bagaimana kalau kita ciuman saja?” dia bahkan merengek dan memanyunkan bibirnya. Semoga ini berhasil.


“Aku tidak mau” bisik Sean pelan ke telinganya, dan menggigit gemas telinga April. Wanita itu terkejut seketika pipinya memerah dan tersenyum tidak jelas. Dia telah dirayu setan ternyata.


“Akh baiklah.. tapi satu kali saja ya, aku sangat lelah sungguh”


Sean tertawa lembut mengecup mesra bibir April “Akan aku usahakan”


Hei! Mana ada satu kali!


“Aduh..aduh April hentikan.. Awh”


Suara kesakitan itu berasal dari Sean. Jambakan kuat di rambutnya sangat menyakitkan. Ternyata wanitanya memiliki tenaga seperti Hulk.


“Kau! Kau berjanji hanya satu kali! Beraninya kau berbohong!”


Pasalnya tadi wanita itu meminta hanya untuk satu kali saja. Tapi nyatanya hingga berkali-kali, sampai April menangis menyuruhnya berhenti. Mereka mulai sekitar jam satu siang dan saat ini sudah jam lima sore.


“Maafkan aku..awh!”


“Sayang maafkan aku okey” Sean tidak punya pilihan lain selain menahan tangan April.


mencebik.


“Iya, nanti kita tidur disana”


“Hah! hanya aku yang pergi. Kau tidur saja sendirian” ucap April sinis, dia menarik selimut dan merebahkan dirinya membelakangi Sean. Mau tidur saja, kesal melihat wajah si setan.


“Jangan begitu, masa kau tega melihat aku tidur peluk bantal guling”


April tidak menggubris mulut sok imut itu.


“Sayang.. ayolah” Sean masih berusaha membujuknya. Abaikan saja buaya darat satu itu.


...****************...


Emily is calling...


Dering ponsel yang tidak berhenti itu membangunkan April. Tanganya berusaha meraih nakas untuk mengangkat panggilan di ponselnya.


“Halo?”


“April, kau bangun tidur?”


April bangkit duduk, membenarkan suaranya sebentar.


“Kenapa Emily?”


“Apa kau sudah makan malam?”


“Belum, kenapa?”


“Bagus.. aku ingin mentraktirmu di The Tavern sekarang sekalian ada yang ingin aku bicarakan”


“The Tavern?! Aku mau!”


Hell! Siapa yang akan menolak ajakan makan gratis di restoran bintang lima. Tentu saja orang itu bukan April.


Emily tertawa “Iya, cepatlah bersiap”


Panggilan ponsel berakhir, cepat-cepat April memakai pakaiannya. Mumpung Sean tidak ada jadi dia tidak akan dicegat.


Matanya menyusuri seluruh sudut ruang kerja. Sepertinya psikopat mes itu tidak ada disini. April dengan cepat keluar ruangan, tiba-tiba dia bertemu dengan seorang sekretaris Sean.


“Anda mau kemana Nona?”


“Ah aku mau ke ruanganku, tas dan laptopku tertinggal disana”


“Sudah saya ambilkan, dan anda tidak perlu khawatir tadi Sir Raymond sedang evaluasi dengan manajer keuangan sebantar lagi akan selesai” ucapnya sopan.


Siapa juga yang khawatir dengan Sean!


Tapi ini kesempatan yang sangat bagus. Evaluasi ke divisi keuangan bisa memakan waktu yang cukup lama, karena sudah akhir bulan. Mata April langsung berbinar.


“Sampaikan kepada Sir Raymond jika dia telah selesai, kalau aku pulang ke apartemen”


“T-tapi Nona nanti—“


“Terima kasih ya!” teriak April, berlari cepat untuk pulang kerumah.


Sepanjang perjalanan di dalam bus April bersenandung senang. Dia akan makan-makanan mewah nanti dan gratis. Sangat membantu untuk keuangan yang menipis.


Dia juga sudah tiga hari tidak pulang ke apartemen. Karena setelah kembali ke New York, Sean menyeretnya untuk tinggal di apartemen pria itu.


“Oh iya pasti listriknya mati” gumam April.


Tagihannya belum dibayar! Sial sekali ternyata, mau pinjam uang kemana kira-kira? Sean?


Jangan. Dia masih kesal dengan tingkah mesum yang terus menerkamnya tadi sore. Pilihan April jatuh kepada Carissa.


^^^April Lilian Berwyn^^^


^^^Heh! Pinjam uang! cepat transfer!^^^


Carissa Adelaide


Heh! anak miskin! pinjam uang itu harus memohon dengan bagus


^^^April Lilian Berwyn^^^


^^^Ayolah, aku ingin bayar tagihan listrik. Kau tahu kan berapa tagihannya hehe..^^^


Carissa Adelaide


Sudah sangat miskin rupanya


April mendapatkan pesan dari m-bankingnya. Carissa sudah mengirimkan uang. Tapi ada satu pesan lain yang ternyata belum dibacanya sampai sekarang, juga dari m-banking ada transfer uang dalam jumlah besar yang masuk kedalam rekeningnya.


Benar hei!


Setelah di cek rekeningnya sudah gendut kembali ini jauh melebihi dari yang dikirimkan oleh Carissa. Siapa orang yang salah transfer? sebaiknya jangan digunakan dulu.


April tiba didepan pintu apartemennya dengan keadaan bingung. Dia masuk kedalam dan mencoba untuk menyalakan lampu. Tadi dia ingin membayar tagihan listrik, tapi sudah dibayar.


Dia jadi curiga kalau semua ini ulah orang kaya raya itu! Sean.


Sudahlah nanti dia akan berterima kasih jika memang Sean pelakunya, sebaiknya mandi dan bersiap dengan gaun yang menawan.


...****************...


Alunan biola yang sangat indah menambahkan kesan elegan di dalam restoran. Mewah dan berkelas itulah yang dapat digambarkan sekarang.


Emily tersenyum senang melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang berjalan ke arahnya. Gaun indah yang menjuntai sampai bawah lututnya itu sangat anggun. Aksen floral yang menghiasi design gaunnya memperlihatkan kesan feminim.


Karena terus ditatap oleh orang April hanya bisa tersenyum canggung. Tatanan rambut gaya double waterfall braids membuat dia semakin cantik. Apalagi kaki yang memakai heels itu sangat bersih dan mulus.


“Apa aku terlihat aneh? sudah lama aku tidak berdandan seperti ini” April tertawa canggung. Wanita itu jarang berdandan seperti sekarang biasanya dia hanya berdandan untuk ke kantor.


“Orang-orang terus menatapku. Tidak ada yang salah kan dengan pakaianku?” lanjutnya.


April sudah semaksimal mungkin untuk tampil menawan tapi tidak glamor. Karena tidak mungkin dia berpakaian biasa untuk pergi ke restoran semewah ini. Harus realistis dong!


“Kau sangat cantik, itulah kenapa semua terpaku padamu” puji Emily. Dia saja sempat terpana melihat April.


“Berarti usahaku tidak sia-sia”


Mereka berdua tertawa, mulai melihat isi menu. Banyak sekali menu yang menarik perhatian April, tapi dia tidak boleh rakus disini. Malu didepan orang banyak, apalagi di depan Emily.


April sedikit sungkan sekarang pada wanita itu. Tentu saja karena dia adalah mommy dari kekasihnya.


Setelah memesan makanan, Emily menatapnya lurus juga dengan senyum yang menggoda.


“Sean terlalu ganas?”


“Maaf?”


Emily menunjuk ke arah lehernya yang terlihat bercak merah. Menyadari maksud tersebut, April menutupi lagi dengan rambutnya. Padahal tadi dia sudah berusaha keras menutupinya.


“Aduh aku senang sekali, padahal niat awal menjodohkanmu dengan Sammy. Tapi ternyata takdir berkata lain, apa Sean memperlakukanmu dengan baik?”


April tertawa “Iya dia sangat baik”


“Terima kasih April kau mau menerima anak itu. Pasti sulit, karena aku tahu sifatnya”


Keduanya tertawa, dia mengangguk setuju dengan ucapan Emily. Lihatlah mommynya saja mengeluh dengan sifat pria itu.


“Dia orang yang sangat keras kepala” ucap April.


“Kau benar”


Pelayan datang memberikan makanan pembuka untuk mereka. Piring bulat itu menampilkan cake kombinasi western dan timur tengah.


Emily melanjutkan kalimatnya “Mungkin akan sedikit susah untukmu menghadapi sifat Sean, tapi aku harus memberitahukan ini padamu. Dia adalah anak yang penuh kasih sayang saat kecil”


Mata Emily mulai memerah membayangkan kehidupan Sean saat masih kecil yang terpisah dari Jonathan.


“Wajahnya ceria setiap aku bertemu denganya, dia menyapa dengan hangat dan selalu mengoceh lucu”


Saat itu ketika Jonathan sering membawa anaknya ke kantor. Dan Emily yang dulunya adalah kolega sering bertemu dengan Sammy dan Sean yang bermain di lobi kantor. Emily juga terkadang membantu sahabatnya itu untuk menjaga anaknya


“Hanya saja saat remaja aku tidak pernah lagi melihat wajah cerianya, mungkin karena orang tua mereka yang bercerai Sean menjadi sosok yang pendiam”


April menyimak dengan tenang, memberikan tisu kepada Emily yang menangis.


...****************...