
Tepat jam tujuh malam laporan itu selesai. April mendesah lega melihatnya, dia bergegas mengirim dokumen tersebut melalui akun perusahaan dan mengirim ke e-mail Sean.
Makan tuh laporan!
Dia meregangkan otot-ototnya. Otaknya sedang berpikir untuk menu makan malamnya.
April mengaktifkan kembali ponselnya. Banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk dari orang yang berbeda-beda. Tetap saja paling banyak dari Sean.
Ada satu berita dari chat grup obrolan ruangannya. Thomas sedang kritis di rumah sakit. Seketika jantung April seakan berhenti berdetak, tahu ulah siapa ini.
Sangat yakin kalau itu adalah ulah Sean yang cemburuan. Dia memijat pelipisnya yang merasakan pusing karena kelakuan pria itu. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan Thomas menjalani masa kritis.
Kalau sudah psikopat dari dulu memang akan sulit dihentikan. Sayangnya April masih mencintai psikopat itu.
Dilema yang semakin membuat pusing!
Carissa is calling...
“Halo? kau baik-baik saja sekarang? katanya kau kabur dari rumah sakit”
Yaampun. Tahu darimana sahabatnya itu kalau dia melarikan diri.
“Aku baik-baik saja. Siapa yang memberitahumu?”
“James. Jangan lagi seperti itu, kau masih pasien disana.. semua orang panik karenamu, dokter dan perawat masih bertanggung jawab atas kesembuhanmu. Bisa saja mereka akan dipecat nantinya, kau tahu Sean seperti apa kan?”
“Bau obat-obatan disana membuatku mual. Aku tidak suka”
April tidak berbohong, saat pulang ke apartemen dia teringat akan bau tidak enak itu. Mual melanda dirinya, hingga terus muntah-muntah.
“Yasudah, aku akan kesana sebentar lagi”
“Tidak usah.. aku masih ingin sendiri, tidak perlu khawatir”
Helaan napas terdengar dari ujung telpon.
“Baiklah, dan aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua juga tidak ingin memaksamu untuk bercerita. Tapi sebaiknya kalian selesaikan permasalahan itu, ingat ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran”
“Iya iya, kau ini cerewet sekali yang hamil kan aku”
“Oh ya James bilang semua jadwal Sean dipercepat untuk mendapatkan liburan berdua denganmu lebih banyak setelah menikah, itulah sebabnya dia sulit menemuimu”
“Ck kau itu ada dipihakku atau Sean sih?”
“Aku hanya memberitahu, sudah—“
“Sepertinya kau sangat dekat dengan James”
“Bye”
Panggilan itu diakhiri oleh Carissa, aneh semakin aneh sahabatnya itu. April yakin kalau Carissa sedang dekat dengan James.
Kalau Carissa tahu apa yang telah Sean lakukan padanya hingga kakinya diperban, mungkin wajah tampan itu sudah babak belur
Memang cinta itu buta. Buktinya April rela menyembunyikan keburukan psikopatnya itu.
Tapi kepalanya masih merekam perkataan Carissa, kalau Sean rela memadatkan jadwal demi dirinya. Memang sih, dia jarang sekali melihat Sean di kantor.
Astaga dia jadi rindu pelukan Sean! Cih.. sebenarnya dalam lubuk hati April, sudah memaafkan perbuatan malam kemarin. Alasannya hanya satu, dia sangat mencintai pria itu.
Tapi dia masih kesal. Ntahlah.
“Apa dia masih ada disana?” gumamnya, April mengintip lewat jendela kamarnya.
Mobilnya masih disana! Mari kita cek kebenarannya, bisa saja hanya mobil tapi orangnya sudah pulang kerumah.
Seluruh pesan yang dikirim dibacanya satu-persatu. Dan pesan terakhir menanyakan apa yang ingin dia makan.
Sean Atreo Raymond
Kau sedang apa?
Ingin makan sesuatu?
Jari April mengetik membalas pesan tersebut. Dia hanya sedikit kasihan melihat pesan yang tak terbalas, belum lagi masih menunggu dibawah.
Ingat ya hanya sedikit kasihan.
^^^April Lilian Berwyn^^^
^^^Aku baru selesai membuat laporan yang kau suruh^^^
^^^April Lilian Berwyn ^^^
^^^Tolong. Aku terjebak didalam kamar mandi^^^
Tawa geli terus mengiringi isi pesan tersebut, sengaja ingin melihat apakah Sean benar-benar menunggu dibawah. Atau hanya akal-akalan pria itu saja.
Tak lama suara pintu yang terbuka membuat dirinya terkejut setengah mati.
...****************...
Mata Sean masih terpaku pada satu jendela kamar yang menyala. Sebuah e-mail masuk kedalam ponselnya.
E-mail tersebut dari April, ternyata wanitanya masih berkutat dengan laporan hingga malam ini. Pria itu membuka akun perusahaan, terdapat laporan yang April buat disana. Dia langsung menyetujui laporan tersebut tanpa harus direvisi lagi.
Matanya terpejam. Lihatlah apa yang dia perbuat, wanita itu masih sakit tapi bersih keras untuk menyelesaikan laporan yang disuruh. Menyadari kalau tindakannya terlalu menekan untuk April.
April Lilian Berwyn
Aku baru selesai membuat laporan yang kau suruh
Pesannya dibalas oleh April! Dan benar wanita itu sedang menyelesaikan laporan. Apa dia memaksa untuk pulang ke apartemen hanya karena laporan?
April Lilian Berwyn
Tolong. Aku terjebak didalam kamar mandi
Sial!
Sean keluar dari dalam mobil. Kakinya berlari menuju ke apartemen. Pikirannya sudah tak karuan sekarang. Taktu terjadi hal yang membahayakan.
Pintu apartemen April dibuka, saat masuk kedalam ada sosok wanita yang sangat dia cintai sedang melotot terkejut.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Sean panik. Napas pria itu tersengal-sengal.
“Ti-tidak apa-apa” ucap April gugup. Sean sungguh menunggu dari bawah sejak pagi tadi.
April melihat arah pandang pada kunci mobil yang dia pegang “Ah... jangan salah paham, aku malas naik bus jadi memakai sebentar mobil ini. Ingat bubu tidak tergantikan” elaknya.
“Mau kemana?”
“Aku mau membeli seafood noodle di tempat biasa”
“Tidak boleh, itu pedas dan kau sedang hamil”
“Ck, aku sangat ingin makan itu dan aku tahu caranya supaya tidak pedas” ucap April.
Dia merujuk kepada cara yang selalu dia lakukan untuk Sean supaya bisa memakan seafood noodle. Menambah airnya.
Sean hanya bisa menghela napasnya “Biar aku yang membelinya, tunggulah disini”
“Oke, aku akan menunggumu”
Pria itu tersenyum simpul, April mau menunggunya. Ini kesempatan untuk bisa meninta maaf kepada wanita itu. Jujur saja hatinya masih takut, khawatir permintaan maafnya ditolak.
Sementara Sean telah pergi, April sangat senang sambil mengelus perutnya yang masih datar. Mereka seperti sepasang suami istri.
Ketika Sean datang dengan raut wajah yang panik membuat April sangat tersentuh. Perbuatan pria itu terhadapnya kemarin malam bagai terhapus dalam ingatannya.
Sebaiknya dia membelikan sesuatu untuk pria itu. Karena sudah menunggu dirinya dari pagi hingga malam. Anggap saja sebagai hadiah.
Di seberang jalan apartemen ada yang menjual makanan dan terdapat toko buah kecil disana. April membeli beberapa roti dan menunggu burger jumbo untuk mereka berdua.
Malam ini cukup ramai, karena jalanan di sekitar apartemennya memang sering dilalui oleh para pekerja dan mahasiswa. Apalagi sekarang sudah jam makan malam. Dan ada juga yang baru pulang bekerja.
Setelah lama menunggu April membayar pesanannya. Dia menuju ke toko buah, menginginkan memakan buah jeruk.
‘Kau mau jeruk nak? mommy beli dulu ya’
Oh dia senang sekali melihat jeruk segar dan gendut. Wanita itu juga melirik ke arah buah anggur.
“Ini shine muscat kan?” tanya April kepada si penjual.
“Iya Nona”
Bagus ini anggur kesukaan Sean. Dia memesan juga anggur untuk pria itu.
...****************...
Kaki panjang Sean berlari cepat turun ke bawah. Dia khawatir dengan April yang tiba-tiba pergi. Lega saat wanita itu mengangkat telponnya dan sedang berada di toko buah tepat di seberang apartemen.
Dua bungkus makanan kesukaan April bertengger di tangan. Mata Sean menatap seorang wanita cantik sedang berdiri di ujung jalan.
Bibir pink itu mencebik lucu saat melihat dirinya. April memalingkan wajah, berbicara dengan pemilik toko buah. Tangan wanita itu mengambil sebungkus anggur. Sean tertawa melihat isyarat yang diberikan untuknya.
‘Ini untukmu’
Meskipun masih marah, tapi April tetap peduli padanya. Dia ingin cepat-cepat memeluk wanita itu.
Lampu hijau, mereka sama-sama menunggu di seberang jalan. April berdecih saat melihat Sean yang tersenyum manis.
Kaki itu melangkah saat lampu merah, dari pinggir jalan sebuah mobil melesat kencang.
“Awas!!”
“Hei!”
Orang-orang berteriak, April memegang jantungnya yang berdetak kencang. Tubuhnya berhasil menghindar begitupun dengan orang-orang disekitarnya. Hampir saja mereka tertumbur.
Sean yang cemas langsung berlari menembus krumunan orang yang ramai. Matanya hanya terpaku kepada April yang masih berdiri disana sambil merapikan jaketnya, berusaha menggapai dan memanggil di tengah kerumunan.
“Sayang ke—“ teriak Sean.
BRAK
“Ahhh!!!”
“Telpon ambulan”
“Cepatlah!”
Mata pria itu melotot, tubuhnya seperti membeku. Tidak mempercayai dengan apa yang dilihat didepan matanya.
Kejadian yang begitu cepat itu membuat semua orang panik, truk besar yang menyerebet trotoar menyebabkan beberapa orang terluka parah. Termasuk April yang terpental akibat truk yang langsung menghantam tubuhnya.
Sean menoleh, menemukan April yang tergeletak tak jauh dari trotoar jalan. Dia berlari sekuat tenaga dengan jantung yang bergemuruh.
Mata itu hanya bisa mengerejap pelan, memanggil tanpa suara. Buah-buahan tergelincir didepan wajahnya. Angin yang berhembus seakan-akan ingin membantunya.
Kekacauan terjadi di sepanjang jalan. Banyak korban berjatuhan. Tangisan dan rasa cemas melanda hiruk pikuk malam itu.
“Minggir! ambulan sudah datang”
“Hei cepat selamatkan mereka!”
“Tolong!!”
Suara teriakan orang-orang membuat telinga Sean berdengung. Dia meraih tubuh yang bersimbah darah, memeluknya dan terus memanggil.
“Sayang.. bertahanlah” tangan Sean gemetar memegang wajah dingin yang napasnya sudah sangat pelan.
Bunyi sirine ambulan yang sangat nyaring semakin menghantam dengung di telinga.
“Ku mohon.. bertahanlah” suara yang berkarisma itu menjadi gemetar penuh takut. April menatap kesedihan itu, sayangnya dia tidak mampu lagi untuk bertahan. Matanya tertutup sempurna.
Pria itu tidak peduli dengan tubuhnya yang bersimbah darah.
Penglihatan mata biru itu menjadi kabur karena air mata yang memenuhi pelupuk mata.
“Permisi Tuan, kami harus mengangkatnya” petugas ambulan langsung bergegas membawa tubuh April.
Wajah cantik itu semakin pucat. Kepalanya penuh dengan darah, dagunya yang mulus terluka karena gesekan aspal.
Tangan itu semakin mendingin. Bergabung dengan dinginnya angin malam.
Genggaman erat tangan mereka berdua sulit dilepaskan. Sean terus menangis dalam diam, sepanjang perjalanan dia tidak berhenti untuk berdoa agar wanitanya bisa selamat.
Malam itu adalah malam penyesalan seorang pria yang terlambat untuk mengatakan maaf. Dan terlambat untuk mengatakan bahwa dia sangat mencintainya, hingga tak ingin siapapun bisa menggantikan perasaan itu.
......................
Salam perpisahan untuk April