Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
The task



Bertha menyenggol lengan April supaya tetap fokus. Mereka sedang berada di ruang rapat membahas parade untuk ulang tahun perusahaan yang akan diadakan tiga bulan lagi.


“Bagaimana menurut tim enginer?” suara kencang itu membuat semua orang terkejut.


“Kami sudah mempersiapkan lima pesawat yang akan menjadi showcase dan lima jet untuk aerobatic” ucap Bertha.


“Jet mana yang kalian gunakan Nona Berwyn?”


Mulut yang ingin menguap tertutup lagi. Lirikan kepada Bertha tidak dapat membantu, karena CEO mereka menatap tajam.


‘RAYMOND G3365’


“Raymond G3365, Sir” jawab April, terima kasih kepada Bertha yang memberikan kopelan kertas padanya.


“Sistem controlling sudah di koordinasikan?”


“Sudah Sir”


“Kau yakin?”


“Yakin” April mengangguk pasti.


“Jika ada kesalahan maka Nona Berwyn yang akan tanggung jawab” ucap Sean datar.


Seisi ruangan itu berdehem berpura-pura untuk tidak melihat. Tidak ada yang mau mengambil resiko dengan menatap April, bisa-bisa nanti dijadikan permintaan pertolongan. Karena ucapan CEO mereka tidak bisa dibantah.


“..Ah satu lagi, ini karena kau menguap selama rapat maka tambahkan empat jet lagi untuk aerobatic. Jumlah yang ditetapkan terlalu sedikit, serahkan data terbarunya padaku dalam tiga hari kedepan”


Kepalan tangan semakin menguat dibawah meja. Pekerjaannya jadi bertambah lebih banyak, menyiapkan data untuk tambahan empat jet membutuhkan waktu satu minggu lebih. Tapi setan gila alias CEO nya sekarang minta tiga hari? Awas saja kau!


“Ehem dia kekaksihmu bukan sih? kejam sekali” bisik Bertha.


April menjawab kesal “Bukan siapa-siapa hanya CEO gila”


Kurang ajar. Padahal Sean sendiri yang menyebabkan dia menguap sejak tadi!


Rapat tetap dilanjutkan dengan pembahasan lain. Sean menghindari tatapan amarah April yang ditujukan olehnya.


Dia sangat profesional dalam bekerja, meskipun sulit memandang wanintanya sebagai pegawai tetap saja harus menunjukkan sikap yang adil. Biasanya jika ada yang menguap di dalam ruang rapat, pria itu langsung memecatnya.


...****************...


“Kenapa kau makan terburu-buru?” tanya Bertha.


Sepiring penuh makanan yang baru diambil lima menit yang lalu sudah hampir habis.


Rekan kerjanya takjub melihat April makan seperti kuli kelaparan. Tidak ada yang bisa menghentikan wanita itu. Tangan putih menunjukkan urat biru karena memegang sendok terlalu kuat.


Amarah yang menggulung sepertinya sudah berada dititik puncak kepala April.


“Dia seperti ingin membunuh orang” Camelia bergidik ngeri.


“Biarkan saja, dia disuruh melaporkan data baru dalam tiga hari untuk tambahan jet aerobatic” sambung Daniel.


“Tiga hari?!” Camelia terkejut, gila kekuatan super mana yang bisa mengerjakan itu.


Seseorang bertubuh tinggi besar sedang mengobrol dengan James menjadi perhatian April, menegak hingga tandas air minumnya.


Kaki itu setengah berlari untuk mencapai pintu lift yang ada didepan cafeteria.


TING


April cepat-cepat masuk kedalam bersama mereka. Di dalam lift itu suasana sedikit dingin.


“Heh! kau gi—“ kalimat itu terputus, April mendongak kepada mata biru yang menatapnya tajam. Ugh dia tidak pernah lagi ditatap seperti ini oleh Sean.


Seketika nyali yang tadi berkobar menjadi ciut.


“Jika kau ingin protes masalah rapat tadi tidak akan merubah apapun. Tiga bulan lagi ulang tahun perusahaan dan waktu untuk team aerobatic mempersiapkan semuanya terlalu singkat. Kalian sudah gegabah tidak menanyakan kepadaku dulu berapa jumlah yang seharusnya untuk parade”


April memelintir jarinya sendiri. Sebenarnya memang benar, mereka tidak bertanya karena biasanya lima jet sudah cukup. Tapi ini CEO baru mereka, karena pasti memiliki pandangan yang berbeda dengan Jonathan Raymond.


“Raymond corp perusahaan besar, harus menunjukkan eksistensi yang lebih kepada orang-orang. Tiga hari itu waktu yang pas untukmu menyerahkan semuanya, aku yakin dengan kemampuanmu”


“Bukankah tadi pagi aku sudah menyuruh untuk tidak masuk kerja? tapi kau tetap memaksakan diri...”


Sean menarik napasnya pelan “Jika ada yang melihat aku memberikan kelonggaran kepada pegawai yang menguap selama rapat, maka semuanya akan menganggap remeh peraturan perusahaan”


TING


Pintu lift terbuka, Sean keluar dan menuju ke ruanganya. Pria itu menolak untuk menatap April, karena hatinya tidak akan tega jika melihat ekspresi wanitanya yang hanya diam saja.


“Semangat” bisik James sambil menepuk bahunya.


April menghela napasnya saat pintu lift tertutup. Apa yang dikatakan oleh pria itu benar semua. Seharusnya dia tidak bersih keras untuk kerja. Tapi ntah kenapa saat rapat tadi sangat mengantuk.


“Bodoh.. bodoh..” April meghantuk-hantukkan kepalanya di dalam lift, merutuki perbuatannya.


Yasudahlah pasrah saja. Dia pernah mengerjakan tugas kuliah malam hari sedangkan deadline yang diberikan keesokan paginya. Dan voila hasilnya bagus, dosennya tidak protes.


Pasti bisa!


...****************...


“Ck, banyak sekali yang harus diperiksa” decakkan sebal itu berasal dari April.


Ternyata tidak bisa!


Wanita itu ragu datanya akan rampung dalam tiga hari. Ingat ya ini bukan sedang bermain lego, tapi jet sungguhan. Jika transformers itu nyata maka April akan sujud sambil menohon bantuan mereka.


“Makanlah dulu biskuit ini, tadi kau bilang lapar”


Seorang pria bernama Thomas tertawa melihat decakkan sebal. Dia adalah lead pengawas hangar.


April tersenyum menerima “Terima kasih”


Mereka duduk berdampingan sambil memakan biskuit. Lalu pria itu menyodorkan air dingin yang diterima oleh April dan meminumnya.


Wanita yang sibuk memakan biskuit disampingnya ini sangat cantik. Tidak dapat dipungkiri Thomas menyukainya sejak pertama kali dia bekerja. April yang sering evaluasi ke hangar menarik perhatian pria itu.


Flashback on


“Nah dia lead pengawas, kau bisa meminta bantuannya jika membutuhkan sesuatu”


Wanita cantik yang masih canggung itu tersenyum malu. Dirinya tampak kikuk diperhatikan oleh orang lain.


“Siapa namamu?” tanya Thomas.


“April Lilian Berwyn, cukup panggil April saja”


Ah.. semuanya mengangguk paham. Wajar saja jika kau menjadi kikuk dihari pertamamu bekerja. Apalagi di airplane hangar jumlah pria lebih banyak daripada wanita berbeda dengan tim peneliti utama.


“Oke.. mari ikuti aku”


Thomas memberitahukan semua keperluan yang akan dibutuhkan tim peneliti. Keperluan data juga merupakan hal utama untuk mengetahui pesawat layak untuk terbang atau tidak.


Pena tersebut terus mencatat didalam note kecil yang April bawa. Wajahnya sangat serius dan sesekali bertanya tentang hal yang belum dia pahami.


“Sepertinya ada masalah dengan ban pesawat itu” April menunjuk ke arah pesawat yang ada di samping mereka, tampak miring.


“Sebentar”


Thoma melakukan pengecekkan, lalu memanggil rekannya untuk memperbaiki.


“Apa masih bisa digunakan?”


“Pesawat itu memang tidak digunakan karena dalam proses perbaikan penuh”


Kepala April mengangguk, matanya melirik ke wajah Thomas yang terdapat bercak hitam. Pria itu masih menjelaskan kepadanya.


“Tunggu dulu.. itu diwajahmu ada noda hitam”


tunjuk April.


“Disini?” tangan Thomas mengusap pipi kanan.


“Bukan, sini biar aku saja”


Punggung tangan April mengusap pipi kiri pria itu. Tapi bukannya menghilang malah semakin melebar, dia melirik ke tanganya yang ternyata juga terkena noda hitam.


“Sudah bersih?” tanya Thomas, wanita didepannya itu tertawa renyah.


Dia terpana melihat mata indah yang melengkung lucu. Fatal sekali melihat wajah cantik itu yang sedang tertawa.


April mengusap ujung matanya yang berair karena tertawa “Maaf.. maaf ini aku punya tisu basah”


Tisu itu tidak kunjung diambil, kebingungan dan sunyi melanda suasana mereka. Thomas tersadar kemudian mengambil tisu yang diberikan untuknya.


“Ah iya terima kasih”


Keduanya tersenyum, tanpa sadar wajah pria itu sudah tersipu malu.


Flashback off


“Apa kau menjalin hubungan dengan CEO?”


Mulut yang terus mengunyah biskuit itu berhenti sebentar. Hanya diam saja itu menandakan rumor yang beredar adalah benar. Berarti Thomas tidak memiliki kesampatan untuk mengajak dia berkencan.


“Sepertinya dia memberikanmu deadline yang singkat”


“Benar, tiga hari.. bisa kau bayangkan itu?” keluh April.


“Kau akan menjadi zombie setelah tiga hari” Thomas terkekeh, menyodorkan biskuit lagi.


Benar sekali, mungkin tubuhnya sudah tidak berbentuk setelah tiga hari. Ingatkan April untuk membalas perbuatan Sean ini!


“Aku sangat membenci pekerjaan yang mengharuskan lembur, itu melelahkan”


“Aku akan membantumu tenang saja”


“Sungguh?” April bertanya antusias.


“Iya, tapi apakah rekanmu memang tidak ada yang membantu?”


“Tidak, mereka memiliki tugas masing-masing”


Karena pelaksanaan ulang tahun perusahaan sebentar lagi. Maka pekerjaan mereka akan bertambah apalagi tetap mengurus permintaan klien dan yang lainnya. Jadi tidak ada waktu sebenarnya untuk membantu tugas baru yang diberikan CEO.


April bangkit dari rehat sementaranya, melanjutkan kembali pekerjaan yang harus cepat diselesaikan. Untungnya ada Thomas yang mau membantu.


Waktu terus berjalan, tidak terasa hari sudah larut malam. Mereka berdua masih bergelut dengan data pengecekkan. Terkadang istirahat sebentar untuk makan malam lalu melanjutkan lagi pekerjaan mereka.


“Kau boleh pulang Tom, hari ini sudah sangat larut. Aku juga mau istirahat sudah mengantuk”


Thomat melirik jam, sudah pukul sebelas malam “Kau benar, ayo kita pulang”


April menggeleng “Aku akan tidur di bangunan sebelah”


Bangunan yang ada disamping hangar di khususkan untuk staff yang terkadang sering berjaga hingga pagi hari.


“Jangan disana, biasanya mereka akan berganti shift pasti kau tidak akan nyaman. Pakai saja ruanganku untuk tidur, ada sofa lebar disana lebih nyaman”


“Bolehkah?” mata April semrigah melihatnya.


Pria itu terkekeh “Tentu saja boleh, tapi kau berencana menginap disini?”


“Tidak, pagi-pagi sekali aku akan pulang untuk mandi dan berganti pakaian lalu pergi ke kantor lagi”


“Baiklah kalau begitu, ayo ikuti aku”


April mengikuti Thomas dari belakang, mereka tiba diruangannya. Saat masuk kedalam tampak ruangan yang rapi dan bersih, ada sofa besar disana juga ada bantal dan selimut.


“Kau juga sering tidur disini ya?”


“Iya, aku tidak mau bergabung dengan mereka”


Mereka berdua tertawa, Thomas merapikan sofa itu agar April tidur lebih nyaman. Dan dia menurunkan suhu ruangan supaya tidak terlalu panas.


“Tidurlah, aku akan pulang”


April tersenyum “Terima kasih Tom, kapan-kapan aku akan mentraktirmu”


Thomas terkekeh “Akan aku tunggu, selamat malam April”


“Selamat malam”


Pintu itu tertutup. Tangan April mengecek ponsel yang sedari tadi tidak dia lihat. Pesan dan panggilan rata-rata dari Sean, huh dia tidak ingin membalas biarkan pria itu uring-uringan.


Nonaktifkan ponsel? Yes!


April tertawa jahat, gantian dia yang bersikap tegas. Wanita itu merebahkan dirinya, dia juga menyetel jam alarm yang ada di meja kerja Thomas. Berencana untuk bangun dini hari dan melanjutkan pekerjaan.


Ini semua karena Sean! April hanya akan bisa tidur sebentar saja selama tiga hari.


......................


Sengaja aku tulis hangar (markas pesawat) ya, kalo translate nya itu hanggar. Tapi nanti bisa disalahpahami sebagai salah satu kegiatan olahraga.