Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
He know



Dokter yang memeriksa mengerenyitkan dahi. Wanita yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit ini rupanya sedang hamil.


Para perawat di perintahkan tidak memberikan anestesi untuk merawat betis yang terluka sangat dalam.


“Bagaimana keadaannya? kenapa kau belum memberikan pengobatan lanjutan untuk betisnya?” tanya Sean kesal.


“Nona sedang hamil muda...”


DEG


Jantung Sean seakan berhenti berdetak. Dia tidak tahu kalau April sedang hamil, apa wanita itu sengaja menyembunyikan darinya?


Apa dia benar-benar benci padanya?


Ketakutan melanda hati pria itu. Dia sangat takut akan ditinggalkan oleh wanitanya, apalagi setelah perbuatannya tadi.


“Dia pingsan karena kelelahan yang esktrem juga kehilangan banyak darah. Karena dia sedang hamil maka kami tidak bisa memberikan anestesi, sebaliknya pengobatan pada betisnya akan dilakukan secara langsung tanpa bius penahan sakit”


“Itu pasti akan sangat menyakitkan bagi pasien, apa tidak ada cara lain?” tanya James.


“Tidak ada, kami akan melakukannya sekarang. Tidak perlu khawatir”


April mendengar suara berisik itu terbangun. Rasa nyilu di kakinya sangat menyakitkan.


“Akh..”


Semua orang menoleh ke arahnya. Sean langsung menghampiri sisi ranjang, hendak memegang tangan April tapi ditepis oleh wanita itu. April berusaha menggerakkan kakinya.


“Sayang, jangan bany—“


Ucapan itu dipotong oleh April “Apa aku pingsan tadi? sudah berapa lama?”


“Tidak terlalu lama” jawab James.


“Nona, karena anda sedang hamil kami akan menjahit luka di betis anda tanpa anestesi”


Sean menelisik reaksi April pada ucapan dokter. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut atau apapun. Sangat tenang, dia sudah tahu kalau hamil.


“Cepat lakukan tanpa anestesi, aku tidak apa”


BRAK


“APRIL!!!”


Suara melengking itu berasal dari Carissa, langsung menuju ke ranjang rumah sakit. Matanya terkejut hebat melihat betis April yang terluka parah.


“Baiklah, tahan sedikit Nona. Mohon untuk kalian keluar sebentar” ucap dokter.


“Aku tetap disini”


“Aku akan menamaninya”


Carissa dan Sean menjawab secara bersamaan. Dokter hanya menghela napasnya, dia mulai memakai sarung tangan steril.


“Dokter, biarkan wanita itu tetap disini. Sisanya suruh mereka keluar”


“Aku dokter di rumah sakit Marelyn Hospital” ucap Carissa, menunjukkan id cardnya. Supaya dokter yang merawat April bisa mempercayainya untuk tetap disana.


Kedua orang pria itu dipaksa keluar oleh perawat. Pengobatan harus cepat dilakukan supaya tidak terjadi infeksi.


Dokter wanita itu tersenyum berusaha menenangkan April dengan kalimat tidak akan sakit. Jarum kecil mulai menembus kulit mulus.


“Bertahanlah” Carissa menggenggam erat tangan sahabatnya.


“Akhh!”


Suara teriakan dan tangisan April terselip disetiap tindakan pengobatan yang dilakukan untuknya. Air matanya terus mengalir, sulit rasanya harus menahan untuk tidak bergerak. Tapi dia harus menahan ini semua demi bayinya.


“Tahan sedikit lagi Nona.. kau sudah bertahan sejauh ini, itu sangat bagus” dokter itu memuji dengan nada yang senang. Supaya April tidak merasa sia-sia dan takut.


“Sakit hikss.. akhh!” April memegang erat tangan Carissa. Buku jarinya memutih, sayatan itu terlalu panjang sehingga banyak jahitan yang harus dilakukan.


Kepalanya terus menggeleng setiap merasakan jahitan. Luka yang terlampau dalam itu juga sangat menyakitkan saat dibersihkan darahnya. Rasanya sangat tidak sanggup lagi untuk menahan.


Yang hanya bisa dilakukan hanya berteriak, menangis hingga wajah itu sembab.


Hingga perawatan selesai dilakukan April dapat menahannya dengan baik dan tidak bergerak. Dahinya berkeringat deras membuktikan usahanya menahan sakit.


“Kau sudah menahannya dengan baik, istirahatlah”


Kepala April mengangguk, tubuhnya sudah lelah. Matanya perlahan menutup tertidur pulas. Kedua betis wanita itu sudah di perban.


...****************...


“Kondisinya sudah membaik, hanya perlu istirahat dan makan dengan teratur. Janinnya juga sehat dan kuat. Secara berkala luka di kakinya terus diperiksa”


Setelah mengatakan keadaan April kepada Sean, dokter tersebut pergi. Sedari tadi pria itu hanya diam.


Carissa juga keluar dari dalam kamar pasien, matanya melirik James untuk meninggalkan mereka berdua di sana.


Setelah James pergi, Carissa mulai angkat bicara “Pagi tadi raut wajahnya sangat bahagia, matanya sampai berbinar melihat hasil usg. Kupikir dia akan cemas tapi ternyata tidak, justru dia sangat bersyukur”


Sean hanya diam, tubuhnya menyender di dinding yang dingin. Menghadap pintu kamar pasien yang tertutup, terus menatap ke pintu itu.


“Dia berniat memberitahukan kepadamu pagi itu, kalau dia sedang hamil...”


Carissa menghela napasnya “... aku tak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua, tapi saat melihat dia menolak menatapmu kemungkinan suatu hal yang telah kau lakukan mengecewakan dirinya”


“April bukanlah orang yang mudah memaafkan jika sudah dikecewakan, tapi jika dia memaafkan... berarti orang itu sangat berharga baginya”


Karena, tidak ada seseorang di dunia ini yang dapat menerima maaf dengan lapang dada. Semuanya tetaplah manusia biasa, rasa sakit tetap akan tinggal didalam hati. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkannya.


Setelah ayahnya meninggal, April yang masih balita harus dititipkan kepada neneknya. Ini karena Helena harus tetap bekerja di restoran.


Lalu betapa sedihnya Helena saat pulang ke rumah mereka tidak ada lagi disana. Hanya meninggalkan April sendirian. Helena menjerit menangis ketika melihat bayinya yang kedinginan dan kelaparan.


Tidak hanya itu, April dan ibunya diusir dari rumah mereka sendiri. Seluruh aset milik ayahnya diambil alih oleh paman April sendiri.


Helena tidak mau ambil pusing untuk melawan saat itu, mereka lebih baik tidak usah berhubungan lagi dengan keluarga suaminya. Memilih untuk pindah ke rumah ibunya sendiri, rumah tua dan kosong. Hingga April remaja mereka terus berada disana.


April mengetahui cerita tersebut dari Maria. Semenjak saat itu setiap kali keluarga ayahnya meminta tolong atau meminjam uang pada mereka, April melarang keras ibunya untuk menolong.


Karena dia kecewa melihat ibunya diperlakukan seperti itu!


“Minta maaf kepadanya, jangan sampai nanti kau menyesal. Aku harap hubungan kalian baik-baik saja” ujar Carissa, dia pergi meninggalkan Sean sendirian di lorong itu.


Sedangkan pria itu melamun sejenak, membuka pintu kamar pasien. Seorang wanita yang dia cintai masih terbaring disana, mata indahnya tertutup.


Jika menyangkut April semuanya tidak bisa terkendali. Sean menyesali perbuatan yang tidak dapat dimaafkan, tapi dia juga tidak berniat melepaskan April.


Pria itu sudah tidak bisa hidup tanpa April di sisinya. Apapun akan dia lakukan untuk bisa dimaafkan oleh wanitanya.


“Maafkan aku...” ucap Sean pelan, bibirnya mencium tangan putih itu.


Hatinya teriris saat melihat betis yang di perban. Dia mendengar suara kesakitan dan tangis yang kencang dari luar. Menyadari hukuman yang dia berikan terlalu keras untuk wanita itu.


Apalagi April sedang hamil, tapi mampu menahan semua rasa sakit yang menimpa tubuh kecilnya. Seharusnya dia lebih perhatian, berada disisi wanita itu dan membantunya selalu.


Tapi apa yang dia lakukan? wanitanya malah menangis dan berteriak membencinya.


Tanpa sadar air mata Sean jatuh. Dia sungguh menyesali telah membentak dengan kasar. Memberikan tugas yang melelahkan hingga wanita itu begadang, membayangkan betapa lelahnya tubuh itu.


“Maafkan aku...”


Terutama hukuman yang dia berikan malam ini. Itu sudah sangat keterlaluan.


“Maafkan aku sayang, jangan tinggalkan aku..”


Permintaan maaf itu terus mengalir dari mulut Sean, terus diucapkannya berharap April yang sedang tidur mendengar dan memaafkannya.


...****************...


Bau menyengat khas rumah sakit membuat April mengerenyitkan dahi. Dia langsung terbangun, menutup hidungnya erat-erat. Walaupun kamar VVIP tapi baunya tidak enak. Rasanya mual berada didalam ruangan ini.


Dia mengambil tasnya yang ada di sisi ranjang. Meskipun kakinya sedang sakit April tetap berusaha untuk keluar dari sana. Sudah tidak tahan lagi dengan baunya.


Kakinya cepat-cepat melangkah pergi dari lorong rumah sakit, tidak memperdulikan perawat yang memanggil dan menghalanginya. Segera pergi keluar dari tempat yang membuatnya mual itu.


“Nona.. anda belum boleh pulang” seorang perawat mencegah April di depan lobi.


April menepis kuat tangan itu, matanya menatap sinis “Aku tidak suka disini”


“Nona! cepat hentikan Nona itu!” teriak perawat pada security.


Tapi dia terus pergi, menolak untuk masuk lagi. Dia memarahi security yang berusaha menghentikannya, hingga berhasil masuk kedalam taxi.


Mulutnya menggerutu kesal, lebih baik menghirup udara pagi diluar daripada terus berada didalam rumah sakit.


Ponselnya yang terus berdering itu dinonaktifkan olehnya, karena semakin membuat pusing kepala.


Sedangkan Sean yang panik saat melihat April tidak ada diranjang rumah sakit langsung memarahi security dan perawat yang tidak bisa mencegah. Dia juga kesal dengan dirinya sendiri, padahal berada didalam kamar mandi tapi tidak menyadari April sudah tidak ada di ranjang.


Mobilnya melaju cepat, sambil terus berusaha menelpon April hingga ponsel wanita itu sengaja dinonaktifkan.


Sesampainya di basement, Sean langsung melangkahkan kaki menuju apartemen April.


Tepat di depan pintu ada tulisan besar di kertas


‘Sedang istirahat! Jangan masuk! Tidak ingin diganggu!!!’


Mata biru terpejam lega, setidaknya April sudah berada didalam. Dia mengetikkan pesan untuk wanita itu.


^^^Sean Atreo Raymond^^^


^^^Kau sudah berada di dalam apartemen?^^^


^^^Apa kau baik-baik saja?^^^


Jari Sean ragu untuk mengirimkan pesan selanjutnya. Lebih baik dia minta maaf langsung kepada April, seperti pengecut jika hanya melalui sebuah pesan.


^^^Sean Atreo Raymond^^^


^^^Jika kau butuh sesuatu katakan padaku^^^


Pria itu melangkahkah kakinya turun ke lantai dasar. Membiarkan April untuk sendiri dulu jika terlalu gegabah dan memaksa, maka dia yakin April akan semakin membencinya.


Dia masuk ke dalam mobil dan memarkirkannya di dekat apartemen. Terus memperhatikan jendela yang terbuka, jendela kamar April.


Sebenarnya April tidak beristirahat, melainkan wanita itu sedang bekerja menyelesaikan laporannya. Hanya saja ada yang janggal jika tanggung jawabmu belum diselesaikan hingga tuntas.


Jari-jari itu sangat lincah mengetik dan memindahkan data. Otak nya masih mengingat kalimat penting yang dia tulis dalam laporan.


Apri berdecak kesal sambil mengusap perutnya “Ini semua gara-gara daddymu”


Matanya tadi tidak sengaja melihat melalui jendelanya yang terbuka, ada mobil yang sangat familiar di samping apartemen. Siapa lagi kalau bukan mobil Sean!


Omong-omong psikopat mesum itu juga tidak meminta maaf padanya. Biarkan pria itu mengering disana!


......................