Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Desire



James terkejut melihat Sean yang menggendong seseorang di lengannya, setelah dilihat dari dekat ternyata itu April. James menghampiri Sean, mereka kembali lebih lambat. Tadi, saat mereka berdua meninggalkan store James yang kelimpungan.


Dia menerima perintah untuk mengusir Samantha dari hidupnya. Samantha menolak dengan keras tapi ketika James mengatakan bahwa Sean akan membelikan mobil dan apartemen mewah, wanita itu langsung menyetujui. Cepat sekali berubah pikirannya, sangat klise.


“Sean, kita harus kembali besok pagi secepatnya. Ada rapat pemegang saham jam tiga sore” James menyusul langkah Sean yang menuju kamarnya.


“Tunda jadwalnya menjadi lusa. Dan bawakan gaun tidur untuk April malam ini”


“Tapi Sean mereka sud—“


“Lusa” Sean langsung menutup pintu kamarnya. James menggeleng, inilah akibatnya terlalu obsesi dengan seseorang.


Sean merebahkan April di atas ranjang, dia membuka pakaian satu persatu nanti dia akan menggantinya dengan gaun tidur agar wanita itu bisa tidur dengan nyaman. Melihat April yang naked di ranjang membuat miliknya menggembung meminta untuk dibebaskan.


Sialan! Jangan sekarang. Dia sedang tidur.


Sekali lagi dia melihat wajah April yang sangat terlelap. Memberikan kecupan diseluruh wajahnya tak tertinggal bibir ranumnya. Sean semakin serakah, dia beralih memberi kecupan di ceruk leher. Menghisapnya pelan terus menerus di sepanjang leher, tanganya ikut bermain meremas dada hingga turun ke bawah mengusapnya lembut.


Ciumannya semakin turun dan berhenti sejenak di dada sintal, menghisapnya rakus bagai seorang bayi yang kehausan. Lama dia menghisap dan menjilat hingga matanya terpejam nikmat.


“Sayang nghh” Sean mengerang sendiri.


Lalu wajahnya semakin turun kebawah, mengintip sesuatu yang berada diantara kedua paha. Sesuatu yang membuatnya bergairah, milik April yang mulus tanpa bulu. Sean menciumnya pelan dan lembut, lalu menjilatnya disepanjang garis milik wanita itu.


April melenguh tanpa sadar dalam tidurnya “Emhhh”


Sean tertawa melihatnya, menghisap kencang dan menggoda apa yang ada didalamnya. Tanpa sadar, April mengeluarkan cairannya. Sean tetap mencumbu mesra miliknya, terus menghisap tak lupa lidahnya yang terus bermain disana. Sean mengusap bibirnya sensual sambil menatap April yang sudah memiliki kemerahan di sekujur tubuh akibat ulahnya.


“Sedikit foreplay untukmu sayang” bisiknya lalu menggigit pelan telinga April. Kemudian dia membersihkan dengan tisu dan menyelimuti kembali tubuh April.


“April akan ikut denganku ke Madrid, jadi suruh Farah untuk mempersiapkan kebutuhannya di mansion nanti”


James menghela napasnya, Sean benar-benar memaksakan kehendaknya. Dia yakin kalau Sean belum meminta persetujuan dari April. Mana mau anak orang sembarangan saja dibawa-bawa.


“Kau mau membawanya ke Madrid itu sudah meminta persetujuannya belum?” tanya James.


Sean hanya diam saja “Samantha sudah kau urus kan? Jangan sampai dia menggangguku lagi” bagus pengalihan topik pembicaraan.


Pekerjaan James sepertinya akan bertambah, belum lagi mengurus perusahaan dan sekarang harus menambah satu lagi pekerjaan mengurus wanita kesayangan Sean. Semoga saja wanita itu tidak membuat pusing kepala, James harus bersiap-siap untuk selalu memegang black card milik Sean. Kemungkinan April juga seorang wanita yang matrealistis, mengingat penyelidikannya tadi tentang kehidupan April yang hobi belanja online.


“Aku akan tidur” Sean beranjak dari tempat duduknya.


Sesampainya dikamar Sean langsung membuka bajunya, bertelanang dada dan memeluk April menyusul untuk tidur. Kepalanya tertidur dibelahan dada April yang sedikit terbuka karena gaun tidur.


“Good night sweetie”


...****************...


Langit-langit kayu memenuhi padangan April. Dia seperti kenal dengan interior khasnya, tapi ini bukan kamarnya. Kepalanya pusing setelah bangun tidur, tidak seperti biasanya.


Tubuhnya juga merasa berat dan seperti ada tangan yang melingkari pinggangnya. Tunggu... tangan?


Melihat sepasang lengan yang melilit erat pinggangnya April langsung menoleh. Sean!


“Heh bangun” dia berusaha melepaskan lilitan di pinggangnya yang seperti gurita.


Juga dia merasa ada yang aneh, benar pakainnya! Kenapa bisa berubah dan siapa yang menggantinya jangan katakan kalau itu ulah Sean.


Jika tidak mempan maka gigit saja.


April menggigit keras lengan Sean hingga meninggalkan bekas ggigitan. Pria itu akhirnya terbangun meanatap senang pada wanita yang ada disampingnya saat bangun tidur.


“Mana pakaianku?! Kenapa bisa berubah begini?!” April berteriak kencang di wajah Sean. Dia memegang frustasi gaun tidur tali satu ditubuhnya ini.


“Aku tak tau” Sean mengangkat bahunya acuh.


April sudah naik pitam, jika kemarin dia masih berusaha bersikap sopan tapi sekarang tidak lagi. Dia sangat kesal, apa jangan-jangan Sean menidurinya malam tadi.


“Kau.. kau.. apa yang telah kau lakukan kepadaku?!”


“Jangan terlalu percaya diri. Siapa yang mau menjamah tubuh datarmu itu”


Kurang ajar sekali mulutnya itu. April bangkit dari ranjang, memakai jubah mandi Sean. Dia membuka tirai jendela besar karena disini dibuat remang-remang oleh si setan.


Benar dugaanya ini adalah resort tempat dirinya menginap setelah dia menatap keluar jendela. Baiklah anggap saja Sean memang tidak melakukan apa-apa ditubuhnya dan cepat pergi dari kamar laknat ini.


“Mau kemana?”


“Ke kamarku lah. Aku mau melihat pacarku”


Lebih baik menonton Peaky Blinders melihat Cillian Murphy yang tampan daripada melihat wajah Sean yang seperti setan.


Mendengar itu Sean emosi, dia merasakan kobaran api di kepalanya ketika April menyebut ‘pacarku’. Hanya Sean dan tidak ada yang boleh menggantikannya.


Sean menarik tangan April, sehingga tubuhnya terlentang di atas ranjang. Melepas paksa pakaian hingga membuat wanita itu histeris.


“Akh! Kau ini kenapa mmphhh” belum selesai April menyuarakan aksi protes, mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Sean.


Mulutnya dipaksa terbuka, dia merasakan sesuatu aneh dan lembut sedang menjelajahi mulutnya. Setelah ciuman itu terlepas, dirinya langsung menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ketika tangan April berusaha mendorong Sean agar menjauh, tangannya malah ditahan dengan kuat.


Sebelah tangan Sean menahan kedua tangan April di atas kepalanya. Tanganya yang lain meremas dada. Wanita dibawahnya ini menggeleng-geleng frustasi, seluruh tubuhnya berusaha untuk menjauh. Kedua paha April ditahan oleh Sean sehingga dia benar-benar tidak bisa bergerak.


“Ini yang terjadi jika kau membuatku cemburu”


Pria itu memaikan dadanya dengan lidah dan menggigit pucuknya.


“Ahh!”


Hisapan terus dilakukan di dada sintal. Sean menambahkan bekas kemerahan disana, kemudian satu tangannya sibuk mengeluarkan miliknya yang sudah tidak sabar. Miliknya terus bergesekan dengan milik April terus menggoda.


“Ah apa itu?” April berusaha melihat kebawah tapi Sean keburu mencumbu lagi bibirnya.


Sesuatu yang keras dan besar terus bergesekan dengan miliknya. Dan itu adalah milik Sean!


April membelalakan matanya, menggigit kencang bibir bawah Sean hingga pagutan mereka terlepas. Bibir seksi itu sampai berdarah, tapi dia hanya tertawa dan mencumbu wanitanya kembali.


“Kau mau lihat?” Sean sedikit mengendurkan tangannya yang menahan April. Dia tertawa ketika melihat wanita itu berteriak.


“Astaga naga!” April memejamkan matanya berusaha menghapus memori apa yang dia lihat di bawah tadi.


Kurang aja sekali Sean sudah menunjukkan hal erotis begitu. Sebenarnya April sudah pernah melihat yang seperti tadi di film, tapi yang ini terlalu nyata dan jelas tidak ditutup-tutupi.


Sebelah tangan Sean beralih mengusap dibawah sana, kemudian memasukkan jari tengahnya kedalam. Pria itu memperhatikan wajah April yang terkejut dan menggigit bibirnya merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan. Sebuah jari ditambah dan mempercepat gerakan menusuk-nusuk.


“Nghhh ahh” April mengerang nikmat.


Sadarlah April! Otaknya berusaha keras untuk menolah rangsangan ini. Tapi Sean malah memainkannya dengan tempo yang cepat, hingga dia merasakan begitu banyak cairan yang keluar dari miliknya.


Ketika dia masih terengah-engah Sean berusaha memasukkan miliknya lebih dalam “Ohh!”


“Kau sempit sekali sayang”


Ini bahaya. Alarm merah muncul dipikiran, dia meronta-ronta dengan segenap tubuhnya. Tanganya juga sudah sakit karena ditahan.


“Sean.. menyingkir! ahhh” terlambat benda itu sudah masuk sedikit.


“Ohh April” Sean mendesah ketika sudah masuk sepenuhnya


“Ini menyakitkan, aku tidak suka” April menangis merasakan sakit ketika milik Sean memenuhi dirinya. Rasanya tidak nyaman dan asing.


Sean menenangkannya dengan mengecup mata April “Ssstt jangan menangis, aku akan membuatnya sangat nikmat”


Dan mulai bergerak perlahan.


“Ini pertama kali aku merasakannya. Lepaskan aku!” teriak April, dia tidak mau merasakan hal aneh seperti ini.


“Sayang aku juga pertama kali melakukannya” Ini kalimat jujur. Tapi sepertinya April tidak mempercayainya.


“Nghh tapi kau seperti sudah berpengalaman”


“Sudah banyak media untuk belajar sayang” kekeh Sean sambil melepaskan tangannya yang menahan April berganti mendekap erat tubuh wanita itu.


Tempo gerakan Sean semakin cepat, keduanya dibendungi oleh kenikmatan. Mereka mendesah berulang kali.


“Ah ohh! sakit”


April mencakar punggung Sean. Dia menyadari satu hal, ternyata lama kelamaan rasa sakit itu hilang. Jika Sean bergerak cepat kok terasa semakin nikmat. April akhirnya pasrah, karena sudah terlanjur jadi nikmati saja. Sean juga bilang kalau ini juga pertama kalinya, jadi mereka berdua impas.


“Ngghh sweetie ahh”


“Ahh ahh”


Mereka dibendungi oleh kenikmatan hingga keduanya mencapai pelepasan. Sean melihat kebawah dimana ada darah disana.


Wanitanya tidak berbohong, ini memang yang pertama kali. Berarti Sean yang sudah mengambil perawannya dan tersenyum senang. Ini juga yang pertama kali untuknya, hanya untuk April.


“Sean bolehkah aku minta cium” April malu jika dilihat terus oleh Sean. Jadi sebaiknya mereka berciuman agar pandangann itu teralihkan.


Mereka berdua bercumbu mesra, Sean sangat dominan menguasai ciuman mereka. Suara kecupan terdengar jelas memenuhi seisi kamar.


......................