Trapped In His Cage

Trapped In His Cage
Street Night



Akhirnya April bisa masuk ke ruang VVIP. Dia tadi sempat terkejut karena seorang pramuniaga menyebutkan Tuan Raymond.


April langsung bersikap tenang, pura-pura tak tau. Dia tau alasan kenapa pria itu terus menatapnya tadi, pasti Emily telah menunjukkan fotonya. Padahal mereka baru akan bertemu minggu depan, tapi nyatanya sudah bertemu disini. Apa yang harus dia lakukan?


“Aku mau yang ini juga”


“Ini sepertinya cantik. Ini juga”


Samantha sedang asik memilik tas. Wanita itu sangat merepotkan pramuniaga yang membawa belanjaannya itu. Banyak yang dia beli, norak sekali cabe-cabean satu ini. Pasti pacarnya yang akan membayar.


“Sayang! Aku mau yang ini juga ya!”


April memejamkan matanya terkejut mendengar Samantha yang berteriak tepat didepan wajahnya, dia membiarkan tas yang dipegang itu diambil. Ngagetin ya cabe ini!


Sean tertawa melihat ekspresi April, menurutnya sangat menggemaskan. Pria itu mendekat, lalu dia berbisik pelan ke telinga. Napas hangatnya menjalar di leher yang indah.


“Kau mau ambil yang mana?” bisik Sean.


Menderngar bisikan itu menbuat April merinding sekaligus berdebar, dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria.


“Yang mana ya? Hahahaha” tawa canggung April dan menjauh dari tubuh besar yang sangat dekat denganya.


Dasar manusia kapitalis. Kau bahkan tidak bisa menendangnya, takut dipecat dari Raymond Corp. Sangat mudah sekali untuk mengusir April yang hanya butiran debu, Emily juga sangat menyayangi putra-putranya.


Sean terus mengamati masih berdiri ditempatnya, April sesekali melirik ke arahnya. Sangat risih jika terus ditatap seperti itu. April membuka ponselnya, mencari model tas seperti apa yang dingingkan oleh Carissa. Setelah mendapatkan tas yang dia dan Carissa inginkan, dia memberikan kepada pramuniaga.


Lalu duduk dengan nyaman di sofa sambil menyesap teh. Baru ingin memasukkan kue coklat kedalam mulut, Sean tiba-tiba ikut duduk di sampingnya.


April hanya tersenyum canggung. Ini canggung sekali. Hanya bisa teriak dalam hati.


‘Siapa pun selamatkan aku’


“Emerlad Palace Jam delapan malam. Kau akan datang?” mata Sean menatap intens mata yang bewarna hitam. April terkejut mendengarnya, ternyata benar dia yang dijodohkan kepadanya. Bagus sekali Emily, kau menyodorkan anakmu yang playboy kelas atas.


“Emily sudah memberitahu mu?” tanya April, tapi Sean hanya diam dan terus menatapnya. Uh singkirkan tatapan itu, aduh tampan pula!


April memperkenalkan dirinya dengan benar “Namaku April Lilian Berwyn, kau pasti sudah tau aku dan namamu?” dia hanya mendengar pramuniaga tadi memanggilnya Tuan Raymond saja.


“Sean Atreo Raymond” ucap Sean, dia sambil menelisik respon yang tenang.


“Bagaimana dengamu? Kau akan datang”


Sean tertawa pelan mendengarnya, ternyata wanita ini tidak tahu nama orang yang akan dijodohkan dengannya. Apa Emily seceroboh itu? Ini kesempatan yang bagus.


April yang melihat tawa itu merasa bingung. Mungkin pria ini memang tidak terlalu serius menanggapi pertemuan mereka.


Berdasarkan berita fakta, Sean adalah pemilik Aprilian Tech dan terkenal dengan sifat playboynya. Lihat saja dia dengan terang-terangan ikut duduk disofa sedekat ini ketika pacarnya sibuk memilih tas. Jangan tergoda April! Kuatkan dirimu.


“Ini tas anda nona. Terima kasih..” pramuniaga memberikan dua paper bag.


“Berapa tagihannya?” April ingin mengeluarkan kartu kreditnya, pramuniaga itu tersenyum.


“Tuan Raymond sudah membayar semuanya” pramuniaga itu kemudian pergi.


April menoleh ke samping, Sean sedang menyesap teh.


Oho.. lihat trik licik pria ini untuk memikat wanita. Sepertinya ingin menjadikannya sebagai salah satu koleksi pacarnya. Tidak akan mempan ya, enak saja.


“Berapa nomor rekeningmu? Aku akan menggantinya” April mengeluarkan ponselnya bersiap untuk mencatat. Sean terkekeh dan menatap penuh minat.


“Ganti dengan hal lain saja” lalu dia seenaknya menarik tangan April untuk keluar dari sana. Wanita itu terpaksa mengikuti, karena tangannya yang terus digenggam kuat.


Sean mendorong April untuk memasuki mobilnya. Lalu mengemudi keluar dari department store. April hanya bisa berdoa semoga dirinya baik-baik saja, pemaksa sekali orang disampingnya ini. Kenapa juga dia mau dibawa-bawa.


Tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal hati April, teringat dengan pacar cabe-cabean tadi. Pria disampingnya ini sadar tidak sih sudah meniggalkan Samantha disana. April menepuk jidatnya, saat ini dia persis seperti pelakor tapi versi pacaran.


“Dia bukan pacarku”


“Tapi kau dipanggil sayang tadi” Sean hanya diam saja mendengarnya.


Keheningan ini terlalu canggung, April tidak suka itu. Sebenarnya mereka mau kemanapun tidak jelas. Dia harus bertanya.


“Kita mau kemana?”


“Kau mau kemana?” Sean bertanya balik. April memutar bola matanya.


“Kau yang menyeretku ke mobil” lagi Sean hanya diam.


April kesal melihatnya, dia dulu pernah mencoba berkencan dengan seorang pria yang setiap ditanya hanya diam. Dan ternyata sedang menahan BAB. Jangan-jangan Sean juga begitu, kalau begitu harus menaikkan turtle neck wolnya sampai ke hidung supaya tidak tercium.


“Sepertinya kau hanya ingin berkeliling Swiss ya?” April mulai angkat bicara dan menurunkan turtle necknya, mereka dari tadi hanya belok-belok tak jelas dan menyisiri sepanjang jalan. April mulai jengah, lebih baik dia mengusulkan pergi ke suatu tempat.


“Bagaimana kalau kita makan sandwich tuna? Aku tau tempat yang enak” April mengusulkan sesuatu. Sean hanya mengangguk dan menayakan lokasinya.


...****************...


Sean menatap April yang memakan sandwich tuna dengan lahap. Dia juga memperhatikan April yang minum susu hangat. April jengah melihat Sean yang terus memperhatikannya makan. Dia tidak mau makan apa?


“Kau tidak makan?” tanya April. Sean malah menyodorkan sandwich tunanya kepada April.


“Ini, kau makan saja punyaku” Sean suka melihat April makan, sangat lucu.


April menatap datar ke arah Sean, tangannya bergerak mengambil sandwich lalu menyuapkan secara paksa ke mulut Sean. Tolong ya April benci yang namanya basa-basi.


Tiba-tiba April tersadar dengan sikapnya, kau mau dipecat ya “Astaga..maafkan aku hahahaha” April tertawa canggung dan memberikan tisu kepada Sean. Manusia kapitalis ini sedang mencoba bertahan hidup, didepannya adalah anak direktur!


“Kau tidak mengingatku? Kau pernah ke Interlaken kan?” tanya Sean. April berusaha mengingat, dia memang pernah ke Interlaken dulu ketika liburan bersama teman-temannya saat masih sekolah. Tapi tidak mengingat apakah ada Sean disana. Bukankah di foto? Iya sepertinya foto yang diberikan Emily saat itu.


“Fotomu yang diberikan Emily. Aku ingat”


Sean hanya tersenyum mendengarnya, disini hanya dirinya yang mengingat April selama sepuluh tahun. Tak apa, Sean akan mengubah itu dan membuat April mengingat dirinya untuk selamanya sepanjang hidup.


Ketika mereka sudah berada didalam mobil lagi dan bersiap untuk pergi, Sean membelikan April rosti makanan khas Swiss supaya dia tidak bosan. Karena Sean masih ingin berlama-lama dengan April sambil mengendarai mobilnya di malam hari.


“Mau mencicipi rosti ini tidak?” April tidak enak hanya makan sendiri.


“Enak?”


“Ya enak”


“Suapi aku” ucapan Sean membuat April membelalakan matanya. Ini bermaksud menyindir sikap April tadi atau benar-benar minta disuapin. Dasar buaya, April sudah mempertimbangkan dalam otaknya, kemungkinan dia menolak perjodohan ini. Jika mereka menikah, bisa-bisa seumur hidup akan mendapatkan kabar Sean yang memperbaharui koleksi pacarnya.


April jengah dengan rayuan Sean. Dia mengurungkan niatnya untuk menawarkan rosti. Seluruh rosti itu langsung masuk ke mulut April, habis tanpa terkecuali.


Mereka masih berkeliling di jalanan, hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam. April mulai bosan, mereka berdua juga tidak ada yang memulai percakapan. Untungnya Sean membelikannya cemilan, jadi tidak akan ada acara kelaparan disini. April melihat ponselnya, dia harus kembali ke resort.


“Sean, aku mau kembali ke resort. Sudah mengantuk sekali berlama-lama seperti ini” April menyindir Sean yang mengajaknya pergi tak tau arah juga tidak berbicara apapun padanya. Dia memberikan alamat resort kepada Sean, ternyata April berlibur di resortnya. Bodoh sekali kau Sean sampai tidak mengetahuinya.


Sean menepikan mobilnya lalu mendekati April “Kencangkan dulu sabuk pengamanmu” bisiknya.


Seketika April menahan nafasnya, Hell! Apa-apaan ini.


Dia mengendalikan wajahnya, berusaha menunjukkan ekspresi sedatar mungkin. Kalau perlu aspal jalanan harus kalah datar dengan wajahnya.


“Untu apa awh! Apa yang kau laku—“ April pingsan setelah Sean menyuntikkan obat bius ke lehernya. Sean mengecup leher dan bibir April.


“Tidur denganku sayang” ucap Sean sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher April.


......................