
Seorang pria nampak serius dengan beberapa gulungan kertas di hadapannya. Matanya begitu tajam memperhatikan kata demi kata yang tertera pada kertas itu. Tugas negara begitu menyita banyak waktunya dalam ruangan.
Zen si pengawal pribadi sang kaisar turut serta juga membantu kaisar Feng agar pekerjaannya berkurang sedikit.
Tiba-tiba seorang pengawal masuk dan berbisik tepat di samping telinga Zen.
“Maafkan saya Tuan, tetapi di luar ada pengawal dari area aula istana ingin melaporkan sesuatu yang sangat penting.” Ucapnya.
Mendengar perkataan pengawal itu membuat Zen terdiam sejenak. Apakah ada sesuatu yang mencurigakan? Tak lama setelahnya, Zen pun keluar dari ruangan sang kaisar tanpa pamit karena tak ingin mengganggu keseriusan beliau dalam tugas negara.
Ia harus memastikan laporan penting seperti apa yang dibawa oleh pengawal aula istana kekaisaran.
Setelah keluar dari ruangan itu, Zen melihat jelas tubuh pengawal itu nampak gemetar dan putih pucat. Zen cukup bingung dengan tingkah pengawal tersebut.
“S-salam Tuan!!” Ucap si pengawal.
Zen menganggukkan kepala dan menunggu pengawal itu berucap.
“Begini Tuan, di istana ini ada hantu!”
Mendengar hal itu membuat Zen membulatkan mata terkejut. Kedipan matanya cukup cepat seakan berusaha mencerna ucapan si pengawal. Bahkan kedua pengawal yang lain pun sama terkejutnya dengan penuturan rekan kerjanya.
“Hantu katamu?”
“B-benar Tuan!! Saya tadi melihat permaisuri berlari kencang dengan raut wajah pucat. Saya mengira jika ada penyusup, tetapi berdasarkan penuturan permaisuri bahwasanya permaisuri melihat ada hantu di istana ini.” Ucap si pengawal dengan cemas.
Jika mengingat cerita yang di sampaikan permaisuri Ling tadi membuat tubuh pengawal itu ketakutan. Tangan panjang dengan kuku tajam yang mungkin bisa menembus hingga ke dalam tubuh sang korban, tentunya hal yang sangat mengerikan dalam bayangan si pengawal.
“Baiklah, kau boleh pergi!” Jawab Zen.
“T-tapi hant...”
“...” Zen berlalu pergi dan masuk ke dalam ruangan kaisar Feng. Sedangkan dua pengawal yang berdiri di hadapan pintu aula menatap rekan kerjanya.
“Hei!! Benarkah yang kau katakan kepada Tuan Zen? Apakah benar ada hantu?” Tanyanya penasaran.
Meskipun pengawal tadi hanya mendengar cerita permaisuri Ling, tetap ia tak berani mengambil resiko besar. Ini semua agar musibah tempo lalu tak terulang kembali. Jadi hal sekecil apapun selama terindikasi mengancam kekaisaran perlu dilaporkan.
“Kau mengira aku tengah bergurau? Aku bersumpah atas nama Dewa jika itu benar-benar terjadi. Semoga saja kalian berdua yang akan menjadi korban pertama!! Cih.. Dasar menyebalkan kalian....” Kata pengawal tadi dengan nada ketus dan pergi menjauh ke tempatnya bertugas semula.
Kedua pengawal itu saling bertatapan satu sama lain seakan aneh dengan tingkah rekan kerjanya itu.
“Mengapa dia jadi marah? Aku hanya bertanya tadi.”
“Entahlah, tetapi jika memang benar kita harus menyelamatkan diri. ” Balasnya.
***
Di dalam ruangan kerja kaisar Feng, nampak beliau tengah duduk terdiam sambil menatap ke satu arah. Penjelasan yang disampaikan Zen tadi membuatnya merana.
Hantu?? Hal yang cukup membuat siapa saja ketar-ketir dengan makhluk astral itu. Tak hanya bertindak tak punya hati, tetapi ilmunya yang bisa menghasut siapa saja cukup menjadi problematika.
“Zen!! Bawa wanita itu ke sini sekarang juga!” Titah kaisar Feng.
“Baik, Yang mulia.” Dan dengan segera Zen bergegas mencari keberadaan permaisuri Ling.
Tinggallah kaisar Feng di dalam ruangannya seorang diri. Perkara kemunculan hantu tempo lalu cukup membawa dampak yang cukup besar untuk kekaisaran Tang.
“Aku belum memulai permainan denganmu tetapi harus ada masalah baru yang muncul.” Gumam kaisar Feng.
Sedangkan di dalam sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar permiasuri Ling sekaligus Flo itu nampak gaduh. Para dayang tengah sibuk mencari keberadaan sang permaisuri yang saat ini entah dimana.
Pasalnya, permaisuri saat ini tengah mengalami cidera ingatan dan akan cukup berbahaya jika permaisuri berkeliaran dan memasuki ruangan yang cukup keras pantangannya.
“Aishh... Kemana perginya permaisuri? Adik Wen bukankah kakak tadi menyuruhmu untuk menjaga permaisuri!” Marah dayang Wan pada adiknya.
Dayang kecil Wen matanya sudah memerah menahan tangis. Ini semua salahnya karena tak menjaga permaisuri Ling sesuai perkataan kakaknya.
Harusnya tadi ia tetap di sisi sang permaisuri dan menunggunya hingga terbangun dari tidur. Perutnya tadi sakit dan sudah tak bisa di tahan lagi. Lalu ia pergi dalam waktu yang agak lama dan menimbulkan kehebohan seperti sekarang ini.
“Hikss... Maafkan aku, kakak. S-semua salahku hikss. Harusnya aku tak meninggalkan permaisuri tadi.” Sesal dayang Wen sambil duduk menangis tergugu.
Dayang Fuo yang melihatnya segera menenangkan tangis dayang kecil Wen dan mengelus pelan kepalanya.
“Sudahlah!! Marah sekarang pun tak ada gunanya, yang terpenting saat ini kita harus menemukan permaisuri. Kalian tau bukan jika Yang mulia kaisar bisa saja menyiksa permaisuri. Sebaiknya kita bergegas!!” Ucap dayang Fuo dan bergegas ke arah pintu.
Tetapi tiba-tiba saat membuka pintu, tatapannya bersitatap dengan mata pengawal pribadi kaisar Feng yaitu Zen.
“T-tuan!! Ada yang bisa saya bantu?” Tanya dayang Fuo kaku.
Pikirannya mulai berkelana mengenai sebab kedatangan pengawal pribadi Yang mulia kaisar. Apakah permaisuri ingin di beri hukuman lagi? Ataukah mungkin ada hal lain? Apapun itu semoga bukan hal yang buruk.
Zen hanya menampilkan raut wajah tak berekspresi dan seakan enggan menatap dayang yang berdiri di hadapannya kini.
“Katakan kepada permaisuri jika Yang mulia kaisar ingin bertemu dengannya di ruang kerja. Saya harap permaisuri tidak membuat Yang mulia kaisar harus menunggu!!” Jelas Zen dan berlalu pergi.
Melihat sikap pengawal pribadi kaisar tadi tentunya membuat dayang Fuo dan yang lain merasa cemas. Pertama, mengenai titah sang kaisar yang mengundang permaisuri Ling untuk datang ke ruang kerja.
Tak ada yang di ijinkan masuk ke dalam ruangan itu jika tak ada hal yang sangat penting, tetapi kali ini permaisuri di panggil langsung oleh Yang mulia kaisar melalui Zen si pengawal pribadi kaisar?
Dan hal kedua yang membuat mereka cemas adalah mereka tidak tau keberadaan permaisuri Ling saat ini.
“Ya Dewa!! Ke mana perginya permaisuri? Bantulah kami Ya Dewa!” Gumam dayang Fuo dan setelahnya mereka berpencar untuk mencari keberadaan sang permaisuri.
Sedangkan wanita yang saat ini mereka cari tengah asik menjelajahi taman kekaisaran. Entah kenapa dirinya merasa tertarik ke tempat iru. Padahal sewaktu di jamannya dahulu ia tidak terlalu suka dengan bunga. Bisa di bilang ia ada alergi terhadap bunga apapun.
Meskipun agak susah dikarenakan rumput ilalang yang tinggi, namun dengan semangat Flo menghempaskan rumput itu ke arah samping.
Srekk....
Tangannya begitu aktif mengelus kelopak bunga yang tengah mekar di antara beberapa rumput. Di waktu pagi menjelang siang biasanya bunga tengah mekar-mekarnya.
“Bunganya sangatlah cantik. Tapi aku jadi heran, mengapa aku tidak merasakan alergi bersin? Aku ingat betul jika sewaktu dulu aku alergi dengan semua jenis bunga.” Gumam Flo dan mendekatkan bunga itu ke hidungnya.
Ehh??
Apakah di saat ia berpindah dimensi, semua yang terjadi pada masa lalunya (alergi) itu tidak berguna lagi di masa ini? Berarti penyakit asmanya juga tidak berpengaruh di sini.
“Jika memang benar, Tuhan sangatlah baik kepada diriku. Maafkan diriku yang telah mengeluh di saat pertama pindah ke dimensi ini. Ternyata ada maksud lain sehingga Engkau membawaku kemari, tetapi konsekuensinya aku harus kehilangan keluargaku?!” Sedih Flo.
Flo pun memutuskan untuk duduk berteduh di bawah pohon rindang. Para pengawal juga dayang istana yang sedang berkeliaran nampak tak begitu memperhatikan Flo dikarenakan rumput ilalang yang tinggi di area itu.
Kaisar Feng melarang siapapun untuk masuk ke area itu dan bahkan membiarkan rumput liar tumbuh bebas. Jadi tak mungkin bukan ada yang berani melanggar perintah sang Kaisar?