THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 45



Dayang Fuo dengan bersusah payah untuk terlihat tenang di hadapan Zen. Bahkan Zen sedari tadi mengawasi dayang Fuo dan enggan untuk beranjak menjauh.


“Ya Dewa!! Mengapa Tuan Zen tidak pergi juga? Bagiaman jika Siu tiba-tiba muncul?” Guman dayang Fuo.


“Apa kau mengatakan sesuatu?”


“B-bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya berkata jika dayang Wen akan menangis semalaman jika kalung itu tak ditemukan.” Alibinya.


Sedangkan Zen masih setia mengamati salah seorang dayang permaisuri Ling. Curiga sudah pasti ada terlebih saat ini mereka berada di kediaman Tuan Huang.


Bukan tak mungkin jika dayang setia permaisuri akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Tuan Huang juga Nyonya Xue.


Sesuai titah dari Kaisar untuk mengawasi pergerakan para dayang. Dikarenakan permaisuri Ling akan langsung diawasi oleh Kaisar Feng.


“Jangan coba-coba membohongiku. Dan satu lagi, jangan pernah memantik permasalahan dengan Yang mulia Kaisar. Kau mengerti betul bukan dengan maksud ucapanku? Jadi bersikaplah sebagai seorang dayang yang tak ikut campur urusan majikan.” Ujar Zen panjang lebar dan berlalu pergi.


Melihat kepergian Zen berhasil membuat dayang Fuo menghembuskan nafas berat namun lega. Dayang Fuo meraup nafas sebanyak banyaknya untuk menetralisir perasaan gugup.


“Tadi Tuan Zen pasti mengira aku akan melapor kepada Tuan Huang. Tetapi syukurlah, aku bisa kembali fokus mencari Siu.”


“Haishh.... Siu berada dimana sebenarnya? Tuan Zen pastinya akan berkeliling kediaman untuk mengawasi semuanya. Akan sangat berbahaya jika dia menemukan Siu.” Lanjut dayang Fuo bergumam.


***


Masih di bawah pohon yang sama, Fenrir dan Flo duduk dengan sedikit jarak diantara keduanya.


...SIU \= FENRIR...


Perasaan canggung masih dirasakan Flo, terlebih wajah tampan Fenrir begitu memancing mata untuk senantiasa melihatnya.


“Nona!! Mengapa kau duduk menjauh? Mengapa Nona tak ingin menatapku? Apakah aku begitu jelek dengan wujud manusia?” Tanya Fenrir dengan suaranya yang berat tetapi lembut di pendengaran.


Apa tadi katanya? Jelek? Tidak sadarkah Fenrir dengan wajah tampannya? Tidak taukah Fenrir jika dirinya merasa gugup saat melihat wajahnya?


Dengan pelan, Flo mengatur nafasnya dan mengembalikan detakan jantung agar normal kembali.


“Tidak! Tidak!! Kau tidak jelek.... H-hanya saja...”


“Hanya saja apa, Nona?” Tanya Fenrir dengan perlahan merangkak mendekati Flo.


1


2


3


Kini posisinya tepat di depan Flo dan segera duduk berdampingan dengannya. Mata yang berwarna kuning keemasan begitu menatap mata Flo lekat.


Dekat... Tidak!! Ini terlalu dekat....


“Apakah Nona mau menyatu denganku?”


“---”


“E-eh??”


“PERMAISURI!!” Teriak salah seorang dari arah samping.


Mendengar teriakan tersebut berhasil membuat Flo spontan menoleh ke asal suara.


Betapa terkejutnya saat matanya menangkap siluet pria yang begitu tak asing dalam ingatannya.


“Apa yang permaisuri lakukan malam-malam begini?” Tanyanya.


“Zen?? Urusannya denganmu apa?”


Mendapat pertanyaan itu tentu membuat Zen diam tak berkutik. Tentu menjadi hak pribadi permaisuri Ling ingin melakukan apapun, terlebih ini masuk dalam lingkungan kediaman kedua orang tuanya.


“Maafkan atas kelancangan saya, tetapi tak baik jika permaisuri duduk seorang diri dengan situasi yang larut malam!” Ujar Zen dengan suara pelan.


Sendiri? Apakah Zen tak melihat jika dirinya tengah duduk bersama Fenrir?


“Sendiri? Apa yang kau maksud? Apakah kau tak melihat jika permaisuri ini sedang duduk dengan--- Kemana dia?” Ucapan Flo terhenti saat ia menoleh ke sisi samping namun tak ada wujud Fenrir.


Apakah permaisuri Ling tengah berkhayal? Ataukah melihat sosok hantu?


Sedangkan Flo menoleh kesana kemari untuk mencari keberadaan Fenrir yang tiba-tiba menghilang tanpa wujud.


“Sepertinya permaisuri terlalu kelelahan. Ada baiknya permaisuri segera beristirahat. Akan sangat mencurigakan jika permaisuri tak tidur segera.”


Mau tak mau Flo bangkit dan membersihkan beberapa bekas tanah yang menempel di hanfu nya.


“Cih!! Kau pikir permaisuri ini ingin berlama-lama di luar merasakan dinginnya malam? Permaisuri ini tersesat, kau tay?? Sedari tadi mencari pengawal namun tak ada. Jadilah permaisuri ini duduk dan bahkan ingin tidur juga sembarivmenunggu esok hari.” Kesal Flo.


Sebenarnya ada perasaan muak saat Flo menyebut dirinya dengan kalimat “permaisuri ini”, seakan-akan dirinya begitu bangga dengan posisinya sebagai Ibu kekaisaran.


Cih!! Jika saja bukan pembalasan di masa depan, Flo lebih memilih langsung pergi dan tak mau berurusan dengan orang-orang membahayakan.


Tetapi, sebagai bentuk balas jasa ke permaisuri Ling terdahulu yang telah memberikan tubuhnya padanya. Jadilah ia harus berbuat sesuatu untuk membalasnya.


Mendengar keluh kesah dari wanita di hadapannya membuat Zen menghela nafas lelah.


“Mari, biar saga antar ke kediaman permaisuri.” Ucap Zen dan memandu dari arah depan. Sedangkan Flo mau tak mau mengekori dari belakang.


Sudah dipastikan jika Zen akan membawanya untuk satu kamar dengan Kaisar biadab itu.


Sekali lagi Flo menoleh kebelakang dan melihat jika ada Fenrir yang duduk manis sembari melambaikan tangan padanya.


“Fenrir?? Dia benar-benar...”


***


Perjalanan yang berbelok-belok membuat Flo tak berhenti ber-oh ria. Pantas saja dirinya tersesat dikarenakan ada banyak belokan yang serupa tetapi beberapa diantaranya akan membawa kita ke tempat semula.


Setelah berjalan cukup jauh, tibalah mereka di depan sebuah pintu yang memiliki ukiran burung phoenix.


“Baiklah, permaisuri!! Kalau begitu saya pamit undur diri.” Pamit Zen dengan sedikit membungkukkan badannya tanda penghormatan.


Tetapi... Sepertinya Flo melupakan sesuatu...


“Oh astaga.... Hampir aku melupakan hal ini.”


“ZEN!!!” Teriak Flo dengan sedikit berlari mengejar langkah Zen.


Merasa dirinya dipanggil, segera ia berhenti dan menoleh ke arah belakang. Permaisuri Ling memanggilnya? Ada apa?


“Huhffhh... Untung saja kau belum pergi terlalu jauh!! Permaisuri ini baru mengingat jika malam ini ibunda meminta permaisuri ini untuk tidur dengannya. Tetapi permaisuri ini tak tau ada dimana letak ruangannya.” Jelas Flo yang dapat dimengerti Zen.


“Jika kau tak percaya, bisa kau laporkan kepada Kaisar mu itu.”


“---”


“Mari ikuti saya!”


***


“Ling'er, apakah benar tak apa untuk malam ini kau tak tidur dengan Kaisar?” Tanya Nyonya Xue.


Saat ini ia berada di ruangan yang sama dengan sang Ibunda. Meskipun ada perasaan canggung karena jujur saja di dimensi terdahulu, ia tak pernah berinteraksi dengan sang ibu dikarenakan dirinya yang terlahir sebagai anak perempuan.


“Kau melamun? Jika memang tak bisa maka tak apa---”


“B-bukan begitu, Ibunda. Hanya saja aku tak tau harus berkata apa setelah sekian lama bertemu dengan Ibunda.” Jelas Flo menghentikan perasaan tak enak hati dari wanita paruh baya di hadapannya.


“Hahaa... Oh iya, mengapa kau baru datang ke kamar Ibunda larut malam begini, Ling'er?”


Flo jadi bingung sendiri ingin memberikan jawaban seperti apa. Sangat tidak mungkin jika Flo mengatakan bahwa dirinya tersesat tadi.


“Ya dewa!! Tak perlu memberitahukan kepada Ibunda. Harusnya ibunda mengerti jika kau pasti tengah menghabiskan waktu sejenak dengan sang Kaisar sebelum berangkat kemari bukan? Hmm... Tak perlu malu-malu, Ling'er.” Ucap Nyonya Xue dengan sedikit tertawa kecil.


Menghabiskan waktu? Memang benar adanya ia menghabiskan waktu sejenak dengan sang Kaisar tetapi untuk mendengar ancaman darinya.


Dikarenakan ucapan pria bedebah saat makan malam tadi membuat Ibunda permaisuri Ling berpikir jika aku merasa berat hati berjauhan dengannya. Seperti itulah pikir Flo.


......See You Next......