THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 38



Gelapnya malam menghiasi langit kala itu. Bintang-bintang tak terlihat sama sekali, bahkan rembulan pun tertutup awan kabut.


Di kediamannya, nampak Flo tengah beradu dengan kuas ukuran sedang dan menggoreskan tinta di atas lembaran kertas coklat.


Sepertinya malam ini ia akan tidur larut untuk menyelesaikan beberapa gulungan desain hanfu sesuai perkataannya tadi siang.


“Haishh... Bagaimana ini? mengenal keluarga permaisuri Ling saja aku tak tau sama sekali, lantas harus menghadiri pesta penyambutan kakaknya?” Gumam Flo yang teringat dengan insiden di ruang kerja sang Kaisar.


Benar-benar membuat Flo bingung. Semakin hari semakin banyak saja kejutan baru untuk dirinya. Flo hanya menginginkan kehidupan yang damai dan jauh dari para manusia biadab seperti mereka semua.


Tatapan matanya beralih kepada ketiga dayangnya yang telah tertidur lelap. Dayang Wan juga dayang Fuo yang tidur beralaskan kain tipis tak pernah mengeluh sedikitpun.


“Mereka semua adalah keluarga berhargaku saat ini. Setelah semua pembalasan untuk permaisuri Ling sudah ku lakukan, maka aku akan membawa kalian pergi dari tempat mengerikan ini. Tak akan kubiarkan manusia biadab manapun mengusik kalian semua.” Ucapnya penuh tekad.


Saat kembali berfokus pada pekerjaannya, Siu tiba-tiba saja melompat dan duduk di atas meja. Nampaknya serigala kecil itu tak ingin membiarkan Flo sendirian di malam hari.


“Hei!! Apa yang kau lakukan? Lebur baik kau segera tidur serigala kecil.” Ucap Flo dengan sedikit mengelus pucuk kepala Siu.


Entah serigala itu mengerti atau tidak, tetapi naluri manusia telah menganggap jika hewan adalah makhluk yang bisa diajak berbicara.


Melihat Siu membuat Flo sedikit mengilas balik kejadian di istana langit. Binatang berbulu itu selalu saja menyebut nama yang sama berulang kali, Tuan Fenrir. Tak hanya Leo, tetapi gadis kecil yang mengaku sebagai dewi kehidupan itu juga memintanya untuk menerima dia sebagai rekan. Tetapi, yang dimaksud dia itu siapa?


Dengan sedikit melirik ke arah Siu yang tengah duduk dengan menatap intens ke arahnya. Entah mengapa Flo merasa jika Siu selalu memperhatikan dirinya. Lagi dan lagi kecurigaan itu mengarah ke Siu.


“Haishh... Apa yang kau pikirkan Flo? Tidak mungkin yang dimaksud mereka adalah Siu. Serigala kecil yang polos ini tak mungkin ada kaitannya dengan istana langit.” Gumam Flo lagi.


Namun tak berapa lama, Siu nampak berdiri dan sedikit mengendus-ngendus ke beberapa arah hingga membuat Flo kebingungan.


Siu berdiri siaga dengan ekor yang berdiri tegak. Geraman kecil terdengar dari moncong mungilnya.


(Biasanya, posisi ekor yang berdiri tegak adalah tanda bahwa anjing siap untuk menyerang)


(Btw bang sky punya kucing namanya winter... kucing dan serigala sama saja bukan? sama sama punya kepala ︶︿︶)


Sepertinya Siu merasakan jika ada orang asing yang tengah mengintip ke kediaman permaisuri Ling. Jelas saja, serigala memiliki indera penciuman yang tajam layaknya seekor anjing. Terlebih ia sudah hafal bau dari permaisuri Ling juga dayang dayangnya, termasuk Kakek Mo.


Melihat tingkah laku Siu, segera Flo berdiri dan ikut menatap ke mana arah tatapan Siu. Sepertinya Flo sadar jika ada yang membuat serigala itu memasang posisi siaga.


‘Apa ada penjahat?’ Batin Flo dan perlahan maju mendekati pintu kayu yang terdapat beberapa lubang kecil.


Tak tinggal diam, Siu juga nampak mengikuti dari belakang dan sedikit demi sedikit melambungi Flo. Serigala kecil itu seakan ingin menjadi pelindung utama untuk wanita penolongnya.


Tiba-tiba...


Sekelebat bayangan hitam begitu cepat menghilang dari pandangan Flo saat membuka pintu. Bahkan Siu pun ikut melolong panjang saat menyadarinya.


Dengan cepat Flo mengangkat Siu dengan tangan kirinya dan segera menutup pintu kembali. Debaran jantung Flo begitu cepat berdetak hingga membuatnya sedikit susah bernafas normal.


“Sstt.... Jangan melolong seperti itu!” Pekik Flo tertahan.


Ia cukup terkejut dengan bayangan hitam itu, tetapi lebih terkejut lagi saat mendengar lolongan si serigala kecilnya. Apalagi di keheningan malam sudah tentu orang di istana kekaisaran bisa mendengarnya.


Flo sangat yakin sekali jika bayangan hitam tadi adalah manusia. Apakah mungkin utusan sang kaisar? Tetapi apa tujuannya?


Hanya sekedar dugaan saja yang bisa Flo simpulkan. Dan mungkin saja itu adalah kebenarannya, dikarenakan begitu banyak hal yang terjadi di istana dikarenakan dirinya.


“Begitu banyak misteri tentang diri permaisuri Ling. Bisakah aku menyelesaikan ini semua?” Lanjut Flo dan kembali lagi melanjutkan kegiatan melukisnya.


Sedangkan di luar wilayah kekuasaan dinasti Tang, seorang berpakaian serba hitam nampak berdiri dengan kokoh di sebuah batang pohon besar.


Gelapnya malam membuat penyamarannya semakin sempurna, bahkan binatang liar pun tak menyadari keberadaan manusia itu.


“Sebentar lagi!!” Gumamnya dengan penuh penekanan.


Sosok bayangan yang bisa dipastikan adalah orang yang sama saat mengintai di kediaman permaisuri Ling. Entah apa maksud dan tujuannya, tetapi sepertinya sesuatu buruk akan terjadi.


***


Siapa yang suka saat mendengarkan ocehan dari orang lain? Tentu saja tak ada satupun. Meskipun kita berbuat salah sekalipun namun mendengar orang lain mengeluarkan keluh kesahnya ibarat kalimat yang bisa merusak indera pendengaran.


Seperti yang terjadi saat ini, Miu si pemilik toko hanfu terkenal di kalangan bangsawan itu terhitung hampir satu jam lamanya mengoceh di hadapan Flo.


Tentu saja Miu kesal lantaran Flo menghilang tak ada kabar dan tak mengikuti ketetapan yang ada di dalam kontrak kerja.


“--- aku sudah menunggu hampir berminggu-minggu tetapi kau juga tak ada kabar. Dan bodohnya aku tak menanyai sedari awal dimana kau tinggal.” Kesal Miu.


“---”


Dayang Flo juga dayang Wen hanya menundukkan kepala dengan sesekali menggumamkan kalimat maafkan kesalahan Nona kami!!.


Sedangkan Flo? Ia mengaku salah tetapi apakah harus penjelasan dari pria gemulai ini harus diulangi berkali kali? Dan dari keseluruhan kalimatnya tujuannya sama, kau melanggar kontrak. Lagi pula ini bukan kesalahannya sepenuhnya. Salahkan saja peliharaan Dewa dan Dewi yang membawanya secara paksa.


‘Haishh... Kapan dia akan berhenti mengoceh? Ku jelaskan alasannya pun dia pasti mengira aku tengah menghayal? Cihh!! Sangat menjengkelkan...’ Batin Flo malas.


“Sekarang jelaskan padaku, kemana saja kau selama ini?” Desak Miu dengan tatapan mengintimidasi.


Untuk sekian kalinya Flo hanya bisa menghela nafas berat. Bersyukur pria gemulai ini telah berhenti mengoceh.


“Beberapa minggu lalu di desaku terkena wabah yang begitu parah, bahkan bisa menular ke orang lain. Tak mungkin dengan keadaanku yang dipenuhi wabah harus datang kemari untuk menghantarkan desain ini. Menyuruh mereka pun sama saja, tak ada satupun yang lolos dari wabah itu, kau tau.” Jelas Flo membuat Miu spontan mengambil jarak cukup jauh dari mereka bertiga.


Wabah tadi katanya? Yang benar saja!! Dirinya bisa saja tertular nanti.


“Apakah kau sudah sembuh hingga datang kemari? Jangan sampai diriku ini tertular wabah dari desamu itu.” Ucap Miu dengan sedikit bergidik ngeri.


“Entahlah, jika wabah ini masih belum sembuh pastinya beberapa hari kedepan kau akan ikut tertular juga.” Jelas Flo asal namun ditanggapi serius oleh Miu.


Terbukti raut wajahnya tiba-tiba pucat bahkan matanya sedikit terbuka lebar mendengar penuturan dari gadis bercadar itu.


AARRGHHHHH......


...SEE YOU NEXT...