THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 06



Di malam harinya, dayang Wen nampak mengobati luka sang permaisuri. Tendangan dari kaisar Feng cukup membuat tubuh Flo merasakan ngilu luar biasa.


“Dasar kaisar bedebah!! Tubuhku seakan remuk rasanya. Dayang Wen sebelah kiri lagi! Nah... Lebih kuat lagi!! Sshh... Terlalu kuat, kurangi sedikit!!” Desis Flo sambil mengarahkan tangan mungil dayang Wen.


Saat ini ia tengah di pijat oleh dayang kecil Wen. Dengan tangan mungilnya, ia begitu telaten mengikuti tiap arahan sang permaisuri.


Terhitung sudah sehari semalam ia berada di dimensi ini dan sudah mendapatkan perlakuan demikian. Oh ayolah!! Flo pun ragu tubuhnya masih berbentuk untuk beberapa minggu kedepan.


“Cih!! Apa kata pria sialan itu tadi? Ingin menyiksa diriku hingga aku pun meminta kematian sendiri? Sangat arogan sekali.” Gumam Flo dengan perasaan kesal.


Dayang Wen yang mendengar ocehan sang permaisuri juga ikut membenarkan. Kaisar Feng sangatlah arogan dan tak memiliki belas kasih.


“Maafkan hamba permaisuri tak bisa berbuat banyak saat permaisuri di hukum oleh Yang mulia kaisar. Hamba memang tak pantas disebut sebagai pelayan setia permaisuri hikss..” Ucap dayang Wen dengan terisak sedih.


Flo yang mendengar perkataan sang dayang lantas menghela nafas lelah. Bukan karena merasa memiliki dayang tak berguna, hanya saja mengapa hal yang menyangkut masalah pribadinya juga harus dilimpahkan kepada sang dayang? Dunia yang cukup pelik.


“Aishh... Mengapa jadi kau yang bersedih Huh? Aku yang luka saat ini lantas mengapa kau yang sangat mendrama? Sudahlah! Tunggu aku menjadi kuat dan akan ku balas segala perbuatan mereka terhadap ku dan juga terhadap kalian. Itu janjiku gadis kecil.” Kata Flo dengan membara.


Dayang Wen yang mendengarnya tak dapat menyembunyikan raut wajah terpukau akan tekat sang permaisuri.


“Bisakah permaisuri menjadi kuat? Bagaimana caranya?” Pertanyaan polos dayang Wen membuat semangat Flo seketika surut.


Ia terkenal sebagai aib kekaisaran lantaran lamban, bodoh, dan tak memiliki apapun yang bisa diandalkan kecuali latar belakang keluarganya.


Menjadi kuat? Aishh... Tak ingatkah jika tadi saja ia tumbang hanya karena sentakan tangan sang kaisar? Hidup di dunia seperti ini tak cukup hanya dengan perkataan saja.


“Bukannya mendukungku tetapi kau malah menyurutkan semangatku gadis kecil.” Dengus Flo yang masih setia pada posisi tengkurap.


Dayang Wen yang mendengarnya tak dapat menutupi raut wajah bersalahnya. Meskipun tak dapat dilihat oleh sang permaisuri, tetapi tetap saja ia sudah menyinggung perasaan beliau.


“Bukan begitu maksud hamba permaisuri, hanya saja ...”


“Tak apa, aku mengerti. Oh iya, aku masih kurang mengerti dengan semuanya. Mengapa pria sialan itu menuduhku sebagai pembunuh? Apakah kau tau gadis kecil?” Tanya Flo meminta jawaban.


Sang dayang hanya dapat menelengkan kepalanya sedikit dan mengingat-ingat penyebab kebencian kaisar terhadap permaisuri.


“Entahlah permaisuri, kakak Wan pernah berkata jika ini urusan orang dewasa dan hamba dilarang untuk terlalu ikut campur.” Jelas dayang Wen dengan polosnya.


Flo yang mendengarnya tak dapat menahan helaan nafas berat. Bagaimana ia bisa bertindak jika dirinya saja tidak tau penyebab kemurkaan sang kaisar yang sialnya adalah suaminya sendiri.


“Menurutmu apakah dayang Wan tau masalah ini?” Tanya Flo dan dibalas deheman dayang Wen.


“Hamba rasa bisa jadi permaisuri. Pasalnya hamba tak sengaja curi dengar perbincangan kakak Wan dengan kakak Fuo beberapa bulan lalu. Bisa jadi mereka tau jawaban atas pertanyaan permaisuri!” Balas dayang Wen.


Mendengar penjelasan dayang Wen membuat Flo dengan perlahan bangkit dari posisi tengkurapnya. Ia jadi teringat dengan dua dayangnya yang saat ini entah dimana.


“Kemana mereka berdua?”


“Maksud permaisuri kakak Wan dan kakak Fuo?”


“Hm..”


“Kakak Wan tadi ijin untuk membeli obat di pasar kota sedangkan kakak Fuo sedang bekerja di kekaisaran, seperti biasa untuk mendapatkan upah makanan.” Jelas dayang Wan dengan tatapan jernihnya.


Melihat ketulusan dari para dayangnya membuat hati Flo tersentuh. Ingatkan dia untuk memberi kehidupan layak untuk para dayangnya.


“Aku berjanji, jika di masa depan nanti aku akan menjadi orang yang kuat dan tak akan ku biarkan siapapun mengusik kalian yang sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri.” Tekat Flo yang mana membuat dayang Wen menatap kagum terhadap sosok permaisuri dihadapannya saat itu.


‘Permaisuri sangatlah berkarisma!!’ Batin dayang Wen.


***


Di sebuah kediaman yang cukup jauh dari pusat kekaisaran, dua insan yang cukup berumur tengah duduk di sebuah bangku. Uap panas Teh herbal begitu mengepul di masing-masing cangkir.


Suasana malam itu begitu tenang, nyaman, dan damai. Bahkan binatang yang tak mempunyai akal pun pastinya merasa nyaman berada disitu.


HUHFF...


“Ada apa istriku? Mengapa kau terlihat sangat gelisah!” Tanya sang suami.


“Tak apa Tuanku, hanya saja istrimu ini teringat akan putri bungsu kita yang tak pernah memberi kabar setelah menikah.” Jelas sang wanita yang bernama Xue Huang kepada sang kepala keluarga. Dilihat dari marganya sudah jelas mereka adalah orang tua dari permaisuri Ling.


Sudah terbilang beberapa bulan pernikahan putri bungsu mereka tetapi sampai sekarang masih tak ada kabar mengenai putrinya itu.


Dengan telaten sang suami menenangkan istrinya yang tengah risau itu.


“Kau tau bukan jika tugas seorang permaisuri pastinya begitu berat dan cukup menyita waktu.”


“T-tapi putri kita...”


“Apakah kau juga meragukan putrimu sendiri?” Tanya Tuan Huang kepada istrinya.


Rumor mengenai permaisuri Ling cukup tersebar luas di kekaisaran Tang. Tetapi saat memasuki kawasan marga Huang, tak akan ada siapapun yang berani mengusik mengenai putrinya.


Jika kalian berfikir Rumor mengenai kebodohan sang permaisuri sudah tersebar, harusnya saat permaisuri Ling di eksekusi keluarganya harusnya tau bukan?


Siapa yang berani menghentikan kekuasaan kaisar Feng? Ditambah Zen dengan segala perencanaan matang mengenai kemungkinan apa saja yang akan terjadi.


Hanya dengan ancaman kecil membuat para rakyat kekaisaran menutup mulut rapat-rapat. Tentunya mereka semua masih ingin hidup dan juga cukup mengharapkan permaisuri di gantikan dengan yang lebih seimbang dengan kaisar Feng.


“Bukan seperti itu suamiku... Hanya saja aku merasa risau dengan keadaannya disana. Apakah ia diperlakukan dengan baik? Apakah ada yang berniat mencelakai putri kita? Hikss... Membayangkannya saja membuatku merasa tak tenang suamiku...” Jelas Xue Huang panjang lebar.


Hati seorang ibu mana yang tak merasakan cemas saat kemungkinan yang ia sebutkan tadi benar-benar terjadi? Menikah diusia yang muda dengan kemampuan yang sangat rendah bukankah ibarat melepas kucing di kandang singa?


Kehidupan intrik kekaisaran cukuplah pelik dan nyawa menjadi taruhan. Huhh... Membayangkannya saja sudah membuat Xue Huang merasa lemas.


“Tak ada yang perlu kau khawatirkan istriku. Aku yakin putri kita tak selemah itu. Dan lagipun selama tak ada selir yang masuk kedalaman kekaisaran, keamanan putri kita tetap terjamin.” Tegas Tuan Huang yang sangat jauh dari kenyataan yang di hadapi permaisuri Ling.


“Aku berusaha percaya dengan ucapanmu suamiku. Tetapi jika sampai putri kecilku menderita disana, maka aku tak akan tinggal diam saja.” Ancam Xue Huang kepada suaminya.


Xue Huang juga memiliki pasukan di militer, sudah pasti ia akan maju paling depan disaat kehidupan putri kecilnya terusik.


“Bagaimana kabarnya putra sulung kita istriku? Huhh... Semenjak adik kecilnya menikah, ia menjadi pria yang sangat pendiam.” Tanya Tuan Huang.


Xue Huan tau betul mengenai perubahan sikap sang putra sulungnya, Yinjin. Tetapi apa mau dikata, ini adalah surat keputusan kaisar terdahulu. Terlebih lagi mengingat hubungan pertemanan mereka yang terbilang cukup akrab sehingga akan sangat tidak sopan menolak titah sang kaisar terdahulu.


...SEE YOU NEXT TIME...