
Satu minggu telah berlalu dan ini merupakan waktu keberangkatan rombongan kerajaan dinasti Tang ke wilayah orang tua Permaisuri Ling.
Ada beberapa kereta kuda yang sudah penuh dengan banyak hadiah juga hanfu indah untuk Nona Xue Huang. Bahkan tak lupa dengan bermacam-macam tumpukan hiasan rambut.
“Permaisuri terlihat begitu cantik sekali!” Ucap dayang Wan setelah selesai menatap rambut Flo.
Untuk kedua kalinya Hanfu mewah berwarna merah itu melekat di tubuhnya. Tidak ada alasan yang spesial, hanya saja ini adalah bentuk kamuflase sang Kaisar agar tak mendapat pertanyaan yang mencurigakan dari mertuanya.
Sebelum itu, Flo pun bahkan sudah di wanti-wanti oleh Kaisar Feng untuk tidak mengatakan apapun yang terjadi selama ini.
‘Cihh!! Tak dia katakan pun aku juga belum ingin mengatakan kebenarannya untuk sekarang ini. Tunggu sampai kubuat kalian semua menyesal telah memperlakukan permaisuri Ling dengan kejam, lalu ku berikan kartu As ku.’ Batin Flo dengan sedikit menampilkan senyum yang cukup menakutkan bagi dayang Fuo juga dayang Wan.
Entah apa yang tengah dipikirkan oleh permaisuri. Seperti itulah benak mereka berdua. Tak ingin mengganggu imajinasi dari sang permaisuri, kedua dayang itu pun kembali menelisik dari atas ke bawah apakah masih ada yang terlewatkan atau tidak.
Dirasa semuanya telah siap, dayang Wan segera membantu sang adik yang tengah kesusahan mengatur Siu di dalan keranjang rotan.
“Ayo masuk Siu!! Sebentar lagi pengawal istana akan datang kemari!!” Ucap dayang kecil Wen dengan penuh usaha melepaskan ke-4 kaki Siu yang seakan menahan di tepi keranjang menandakan tak ingin masuk ke dalam.
Dayang Wan pun segera membantu dayang Wen melepaskan eratan kaki kaki Siu. Tetapi seberapa besar pun usaha mereka, namun kaki serigala kecil itu sangat susah untuk di lepaskan.
Grhhh... Auumm...
Mendengar geraman kecil dari moncong Siu membuat dayang Wen juga dayang Wan sedikit menjauh darinya. Bahkan tangan mungil dayang Wen hampir tergigit.
Kaget? Tentu saja mereka kaget, terlebih dayang Wen.
“Ada apa ini?” Tanya Flo yang sedikit terarahkan fokusnya karena geraman Siu.
“Hikss... A-anu permaisuri, Siu tadi menggeram dan hampir menggigit tanganku hikss...” Adu dayang Wen yang telah berlinang air mata.
Dayang kecil Wen tau betul jika Siu adalah serigala baik dan penurut, tetapi insiden tadi membuatnya sedikit terkejut.
Segera Flo menatap penuh selidik ke arah Siu yang tampak membuang muka ke arah berlawanan seakan enggan menatapnya.
Tanpa banyak berucap, Flo mengangkat Siu dengan kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam keranjang dengan sedikit paksaan. Mungkin terlihat kejam, namun Flo tak ingin mengambil resiko jika pengawal istana akan mengetahui keberadaan Siu.
Sedangkan Siu? Dengan sekuat tenaga ia juga memberontak dalam keranjang rotan itu seakan enggan berada di dalamnya.
BRUK.. BRUKK...
“P-permaisuri....” Seru para dayang yang merasa tak tega dengan Siu.
Suara benturan dalam rotan itu diakibatkan Siu yang memberontak. Serigala kecil itu nampak tak nyaman berada di dalamnya.
“Hei!!! Bisakah kau diam hah?” Gertak Flo.
Mendengar nada suara yang tinggi itu membuat Siu terdiam seketika. Bahkan dayang kecil Wen yang tadi menangis juga ikut tersentak. Flo saat ini layaknya seorang ibu tiri yang memarahi bawang putih di serial drama +62.
TOK.. TOK..
Suara ketukan pintu tua itu terdengar dari dalam kediaman Flo. Segera ia mengangkat keranjang yang berisikan Siu dan menutupinya dengan kain tipis agar Siu tak kesusahan bernafas.
Tapi, sebelum itu....
“Entah kau mengerti ucapanku atau tidak, tetapi jika kau sampai bersuara dan memberontak di dalam keranjang rotan ini maka kau akan langsung ku lepaskan di pertengahan jalan nanti.” Ancam Flo tak main-main.
Seakan mengerti dengan ucapan Flo, Siu terdengar sedikit menggeram kesal dan mulai duduk tenang di dalam keranjang rotan.
Sedangkan dari arah luar, terlihat Zen yang sudah bersiap membuka pintu meskipun tak ada perintah untuk masuk. Dikarenakan sudah cukup lama namun tak ada suara sedikitpun dari arah dalam.
“Tuan Zen, maafkan permaisuri ini yang sedikit lama dikarenakan untuk kedua kalinya mengenakan pakaian semewah ini sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.” Alibi Flo namun Zen dapat mengerti.
Tentu saja, permaisuri Ling hanya memakai hanfu mewah seperti ini di saat hari pernikahannya beberapa bulan lalu dan saat mengunjungi keluarga beliau. Keseharian permaisuri Ling yang memakai hanfu sederhana dan terkesan lusuh sudah menjadi hal biasa.
“Hamba mengerti, Permaisuri. Tetapi sebaiknya kita bergegas! Yang mulia kaisar sangat tidak suka jika dibuat menunggu. Mengingat perjalanan kita yang lumayan cukup jauh sehingga harus bergegas.” Jelas Zen panjang lebar.
Dengan langkah cepat, mereka mulai bergegas ke area gerbang istana. Dari kejauhan terlihat beberapa rombongan kereta kuda dan para pengawal istana dengan kudanya.
Flo berharap jika ia tak satu kereta dengan Kaisar Feng. Kalian sudah tau bukan, apapun alasannya tetapi Flo tak akan pernah mau berada di dekat pria biadab itu.
Dengan Zen yang berada di depan seakan membimbing Flo untuk menaiki kereta kuda di bagian depan. Tetapi....
“Mengapa kau membawa permaisuri ini kemari?” Tanya Flo heran.
“---”
“P-permaisuri!!” Panggil dayang Wan sembari menggelengkan kepalanya.
Sepertinya Flo mulai sedikit mengerti dengan situasi saat ini. Sudah pasti jika ini adalah perintah Kaisar bedebah yang tak punya hati itu.
Bayangkan saja, ia harus menaiki kereta kuda yang berisikan barang bawaan dari Kaisar Feng? Yang benar saja!!
Jujur saja ia merasa bersyukur karena tak satu kereta dengannya. Tetapi, dengan penampilannya sekarang yang mengenakan hanfu yang terbilang cukup besar membuatnya susah bergerak dengan leluasa di dalamnya. Kapasitas kereta itu pun sangat sempit dan Flo cukup ragu apakah mereka ber-empat bisa muat di dalamnya.
***
Sudah hampir 3 jam perjalanan mereka tempuh dan cuaca hari itu sedikit mendung. Setidaknya bisa mengurangi hawa terik matahari yang cukup menusuk kulit.
Saat ini mereka semua tengah menikmati santapan yang telah di siapkan para dayang sebelum berangkat. Meskipun sedikit terganggu dengan goncangan tanah tak rata dan area yang cukup sempit, tetapi tak menurunkan nafsu mereka semua.
Bahkan Siu yang berada di dalam keranjang awalnya merasa kesal dengan kereta yang mereka naiki. Berada di dalam keranjang rotan saja sudah sempit dan sekarang di tempatkan di kereta kuda se-sempit ini?
“Berapa lama lagi perjalanan yang harus kita tempuh?” Tanya Flo di sela makannya.
“Jika tak ada binatang buas dan bandit, nanti sore kita sudah sampai Permaisuri.” Jawab dayang Wan.
Masih cukup lama untuk sampai ke kediaman orang tua Permaisuri Ling. Tetapi Flo masih bingung, apa yang harus dilakukan disana? Tak ada yang dikenalnya sama sekali.
Sang dewi yang membawanya ke dimensi ini tetapi tak membawa ingatan permaisuri Ling terdahulu membuatnya kesusahan.
“Ada apa permaisuri? Mengapa permaisuri terlihat risau?” Tanya dayang Fuo.
“Kalian tau betul jika aku tak mengenal siapapun disana.”
“Mudah saja, permaisuri. Tinggal mengatakan yang sebenarnya kepada Tuan Huang, mulai dari perilaku Kaisar kepada permaisuri hingga masalah cidera ingatan. Saya yakin, anda akan segera lolos dari Yang mulia Kaisar” Jelas dayang Fuo sedikit berbisik.
Tetapi tak semudah itu menjelaskan kepada mereka. Flo memiliki rencana tersendiri dan belum kepikiran untuk mengatakan semua perbuatan pria biadab itu. Terlebih sebelum berangkat, ia sudah mendapat peringatan dari Kaisar Feng untuk tetap tutup mulut.
Masih banyak hal yang belum ia lakukan untuk membalas semua perbuatan orang di belakang kematian Permaisuri Ling. Janjinya!! Ya... Janjinya kepada permaisuri Ling belum ia penuhi.
‘Secepatnya akan ku balas semua perbuatan mereka kepada mendiang permaisuri Ling, dan tentunya kesengsaraan yang aku alami selama berpindah ke dimensi ini.’ Batin Flo berambisi.
...SEE YOU NEXT...