
Pagi hari yang begitu cerah dengan suara burung berkicauan membuat hati tenang. Semua orang sibuk beraktivitas dengan tugas masing-masing.
Beberapa pekerja kediaman Tuan Huang memasang hiasan untuk persiapan kedatangan Tuan muda esok hari.
Flo yang pagi itu tengah duduk bersantai bersama Nyonya Xue sembari meminum teh hangat.
Flo benar-benar merasa nyaman berada di sini. Mendapat perlakuan baik dan tempat tidur yang nyaman. Pastinya ketiga dayang setianya itu merasakan hal yang sama. Hanya saja makanan yang ada disini juga sama, tak enak.
“Tidurmu begitu nyenyak sekali, Ling'er.” Ucap Nyonya Xue setelah meletakkan cangkir kecilnya.
‘Tentu saja!! Aku yang baru pertama kali membuka mata malah berada di ruangan yang bisa dikatakan gudang dan sudah usang. Alas tidur yang terbuat dari rotan membuag tubuh terasa pegal.’ Batin Flo masam.
“Tentu saja, Ibunda. Tempat tidur di sini begitu nyaman di tempati.” Ucap Flo.
Mendengar hal itu membuat Nyonya Xue sedikit heran. Tetapi setelahnya ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan ukiran burung phoenix.
Segera Nyonya Xue membukanya dan terlihat sebuah cincin dengan batu permata besar berwarna merah darah.
“Cincin Ibunda begitu cantik sekali.” Kata Flo dengan spontan.
“---”
Nyonya Xue mengeluarkan cincin tersebut, dan menutup mata sejenak sembari bibirnya mengucapkan beberapa kalimat samar.
Tak menunggu waktu lama, Nyonya Xue langsung memasangkan cincin itu ke jari manis milik Flo.
“I-ibunda??”
“Ini adalah cincin yang diberikan oleh buyutmu kepada Ibunda.”
“Pastinya ini adalah barang yang berharga untuk Ibunda. Lalu mengapa memberikannya padaku?” Tanya Flo setelahnya.
Mendengar pengakuan wanita paruh baya itu membuat Flo jadi tak enak hati. Rasanya agak sedikit canggung mendapatkan pemberian berharga.
“Buyutmu pernah berkata kepada Ibunda jika ini adalah peninggalan berharga yang diberikan secara turun-temurun. Entah sudah berapa generasi namun tak ada yang tau hal luar biasa pada cincin ini.” Jelas Nyonya Xue dengan sedikit menghela nafas.
Pikirannya berkelana jauh mengingat perkataan dari buyut permaisuri Ling agar memberikannya kepada anak perempuannya kelak.
Cincin yang dikatakan memiliki kekuatan sihir yang Nyonya Xue sendiri tak tau seperti apa itu. Tetapi konon kekuatannya itu mampu menimbulkan peristiwa besar.
“Ada sihir yang terkandung di dalamnya.”
“A-apakah tak berbahaya jika--- E-eh? Sihir?” Ragu Flo.
Mendengar kalimat sihir membuat Flo sedikit berantusias. Pasalnya, setelah mendapat sedikit informasi dari dayang Wan tempo hari mengenai adanya sihir, membuat Flo terobsesi. Ditambah Zen yang bisa berteleportasi bukankah sesuatu hal yang kebetulan?
“Iyaa sihir... Dulu sekali semua orang memiliki kekuatan sihir. Tetapi semakin lama orang-orang mulai tamak akan penguasaan sihir dan akan melakukan apapun meskipun harus menumbalkan orang lain.” Jelas Nyonya Xue yang kembali menikmati teh nya yang mulai dingin.
“Sepertinya kau begitu tertarik dengan sihir, Ling'er!!” Lanjut Nyonya Xue tiba-tiba.
“Tentu saja, Ibunda. Sesuatu hal yang sangat mengejutkan sekali jika sampai saat ini sihir masih ada.” Pekik Flo.
Mendengar hal itu membuat Nyonya Xue tertawa kecil. Sepertinya putrinya itu menyukai hal-hal berbau sihir.
“Oleh karena itu, Ibu memberikan ini kepadamu. Dan lagi pun, sang Kaisar juga bisa menggunakan sihir Ling'er. Huhh... Hanya dewi yang tau akan seperti apa kedepannya. Ibu hanya mempercayakan hal berharga keluarga kita kepadamu, Ling'er.” Sembari mengatakan kalimat itu, Nyonya Xue memegang erat kedua tangan Flo.
***
Setelah perbincangan yang cukup panjang tadi, kini Flo masih setia duduk di tempat yang sama.
Tatapan matanya berfokus pada cincin pemberian Ibunda permaisuri Ling. Cincin dengan batu permata besar yang warnanya sedikit mencolok.
“Apakah benar di dalam cincin ini memiliki kekuatan sihir? Wow... Bukankah sangat menakjubkan.” Gumam Flo senang dengan tetap menatap lekat cincin itu.
“Jadi pria bedebah itu bisa menggunakan sihir? Ternyata benar dugaanku, jika Zen bisa menggunakan teleportasi bukan tak mungkin pria itu juga bisa sihir.”
Dari arah belakang, ketiga dayang permaisuri Ling mendekati Flo dengan sedikit membungkukkan badan tanda penghormatan.
“Selamat pagi juga. E-eh?? Mengapa mata kalian semua memerah? Apakah kalian kurang tidur?” Tanya Flo heran.
Terdapat kantung mata yang berwarna hitam dan mata mereka juga sedikit memerah tanda kurang tidur.
“Hikss... P-permaisuri!!” Panggil dayang Wen dengan berlinang air mata.
Melihatnya tentu saja membuat Flo segera bangkit dan berdiri sejajar dengan ketiganya.
“Ada apa ini? Mengapa kau menangis? Tidak adakah yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”
“Sebelumnya maafkan atas kelalaian kami, permaisuri. K-kami benar-benar ti---” Ucapan dayang Fuo terhenti karena Flo menyela.
“Langsung ke intinya!”
Sejenak dayang Fuo dan dayang Wan saling bertatapan sejenak dan memberikan kode mata untuk salah satu diantaranya memberitahukan perkara Siu.
“Ada apa ini? Dayang Wan katakanlah!”
“A-anu... S-siu menghilang permaisuri.” Lirih dayang Wan yang tak begitu di dengar Flo.
“Haishh... Apa yang kau katakan dayang Wan? Berbicaralah dengan jelas. Aku tak dapat mendengar apa yang kau katakan.” Gemas Flo dengan sedikit menggaruk ujung bibirnya yang tak terasa gatal.
Dengan sedikit menghela nafas, pada akhirnya dayang Wan pun memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.
“S-siu menghilang, permaisuri...”
“---”
“Hikss... Jangan salahkan kakak Wan dan kakak Fuo, permaisuri. Ini murni kesalahanku yang tak menjaga Siu dengan baik. Tadi malam Siu tiba-tiba menghilang dan kakak Wan juga kakak Fuo berkeliling untuk mencarinya. Tetapi, sampai pagi tiba tak ada tanda kemunculan Siu.” Jelas dayang Wen dengan sesegukan.
Ia takut akan mendapat amukan karena tak pandai menjaga Siu hingga serigala kecil itu menghilang.
Sedangkan Flo hanya bisa menghembuskan nafas. Bagaimana tidak menghilang jika semalam ia bersama dengan Fenrir.
...SIU \= FENRIR...
‘Lalu kemana Fenrir? Apakah wujudnya tak akan kembali menjadi serigala kecil?' Batin Flo.
Kilasan ingatan mengenai wajah tampan Fenrir menari-nari di kepalanya. Mata keemasan itu yang terbesit pertama kali.
“P-permaisuri...”
“Sudahlah tak apa. Aku kira ada masalah besar apa yang terjadi.” Jelas Flo dan kembali duduk bersantai.
Jika bukan di kediaman orang tua permaisuri Ling, mana mungkin ia bisa bersantai ria tanpa gangguan pria biadab itu.
Sedangkan ketiga dayang kembali bertatapan satu sama lain seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan permaisuri Ling tadi.
“A-apakah permaisuri mendengar penjelasan dayang Wan jika Siu menghilang?” Tanya dayang Fuo dengan sedikit menelengkan kepala.
“Tentu saja! Lalu?”
“EH??”
“Apakah permaisuri tak marah? Bagaimana jika pengawal atau pelayan menemukan Siu, permaisuri?” Lanjut dayang Fuo.
Flo jadi bingung sendiri apakah harus memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka ataukah tetap diam.
Lagi pula ia belum mempunyai jawaban yang tepat untuk meyakinkan mereka. Sangat tak mungkin ia berkata jika Siu atau Fenrir telah berubah menjadi manusia.
Yang ada mereka akan menganggap dirinya tengah berkhayal atau sedang tak sehat.
“Baiklah!! Aku akan mengatakan sesuatu yang penting kepada kalian.” Ucap Flo bernada serius dan ketiga dayang setianya pun begitu memperhatikan bahkan tak ada yang berkedip.
......See You Next... ...