THE SECOND OF LIFE EMPRESS

THE SECOND OF LIFE EMPRESS
TSOLE 31



Leo yang mendengar pertanyaan Flo yang agak cukup lancang segera mengambil posisi. Sepertinya Leo tipikal binatang yang cukup sensitif, terlebih lagi jika menyangkut soal para dewa dan dewi.


Gelengan kepala dewi kehidupan sebagai peringatan untuk Leo agar tak berbuat macam-macam. Sebetulnya ia cukup kagum dengan kecakapan Flo dengan situasi yang terjadi.


“Ahh... Rupanya dikau telah mengerti. Tanyakan apa yang ingin dikau tanyakan, Nona. Pertanyaan daku tadi bisa dikau jawab setelah ini.” Usul dewi kehidupan yang diangguki Flo.


Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya semenjak pertama kali membuka mata di dimensi yang cukup penuh misteri. Mengapa dan mengapa, itulah awal kalimat tanya yang terus dipertanyakan.


“Sama seperti sebelumnya, mengapa aku bisa berada di dimensi ini?”


“Bukankah dikau sendiri yang menginginkan ini, Nona? Lalu, mengapa dipertanyakan lagi?” Tanya dewi kehidupan dengan raut wajah polosnya.


Wajahnya sangatlah menggemaskan dan serasa ingin di tangkup kedua pipi bulatnya. Matanya nampak jernih dan berwarna merah delima.


Dan satu hal lagi, sejak kapan ia meminta ini semua terjadi? Apakah dewi itu tengah merekayasa ini semua?


“Tunggu dulu!! Kapan aku pernah mengatakan jika menginginkan ini semua? Berada di dimensi yang cukup pelik seperti ini? Jangan bergurau!!” Bantah Flo.


“Haha... Dikau masih muda tetapi ingatanmu bak sesepuh. Mari biar daku ingatkan, Nona. Di kehidupanmu sebelumnya bukankah dikau merasa lelah dengan tubuh yang cukup gemuk ? Mengagumi dalam diam pria yang belum tentu bisa dikau gapai dengan tubuh seperti itu? Dan satu lagi, dikau begitu merindukan kasih sayang kedua orang tua bukan? Maka dari itu daku mendengar tiap keluh kesahmu. Meskipun tak meminta secara langsung tetapi daku amat sangat memahami apa yang dikau rasakan, Nona.” Jelas dewi itu dengan panjang lebar.


Tiap pertanyaan dewi kehidupan membuat ingatan Flo berputar mengenang memori semasa ia berada bersama dengan nenek juga sahabatnya, Lylia. Dia sering berandai-andai jika memiliki badan yang kurus apakah terlihat cantik?


Ia pun sempat mengagumi Ken, salah satu temannya di sekolahan. Namun sadar dengan bentuk tubuhnya yang jauh dari kata ideal membuatnya kurang percaya diri di hadapan pria pujaannya.


Kedua orang tuanya pun tak ada niatan untuk bertemu dengan dirinya sudah bertahun-tahun lamanya. Tentunya disebabkan alasan yang tidak dapat Flo terima.


Hanya karena dirinya terlahir sebagai seorang wanita, mengapa mereka harus membenci dirinya? Sebegitu inginkah mereka dengan anak laki-laki hingga dirinya dianggap sebagai aib?


“Bukankah berada di dimensi ini dikau mendapatkan apa yang di inginkan semasa dulu? Tubuh dikau begitu ideal kau tau? Dan yang paling terpenting adalah Orang tua permaisuri Ling begitu menyayangi dirinya yang tak lain adalah dirimu sendiri. Harusnya dikau bersyukur dan memuji kemurahan hati daku ini!” Lanjut dewi kehidupan dengan nada datar. Raut wajah menggemaskannya digantikan dengan wajah tak berekspresi.


Tidak!! Ada yang salah disini!! Benar jika dirinya saat pertama kali sempat terpukau dengan penampilan barunya. Tak ada lemak yang menumpuk di perut luarnya, jemari yang begitu lentik dan tentunya tak ada celah sedikitpun.


“Dengan mengorbankan nenek juga sahabatku? Tidakkah kau berfikir nenek disana tinggal dengan siapa? Bagaimana kesehatannya?” Lirih Flo.


Tiba-tiba dewa kegelapan bersuara menjawab pertanyaan Flo.


“Semua yang indah butuh pengorbanan! Dan itu sudah menjadi hukum dunia.”


Memang benar, mau sekeras apapun usaha kita tetap akan ada yang namanya pengorbanan.


Terdiam!! Hanya itu yang dilakukan Flo. Ia tak pernah menginginkan ini semua. Tak dapat cinta dari kedua orang tuanya pun ia sudah terima dan tak masalah sama sekali karena masih ada nenek juga sahabatnya, Lylia.


Bisakah? Bisakah ia meminta untuk kembali ke dimensinya terdahulu? Jujur ia tak suka bahkan merasa tertekan berada di dimensi ini. Begitu banyak orang yang mengancam nyawanya, termasuk sang Kaisar.


“Jika kalian yang membawaku kemari, itu berarti kalian bisa mengembalikan diriku dengan nenek bukan? Yaa!! Kalian pasti bisa!” Lirih Flo dengan mata memerah.


Leo yang sedari tadi memperhatikan dari belakang nampak terbelalak mendengar pertanyaan atau bahkan permintaan wanita dihadapannya yang terdengar cukup mustahil.


GRRHH....


“Dirimu benar-benar lancang mengajukan permintaan seperti itu! Kau menolak ketentuan dewa dan dewi?” Geram Leo.


Sedari tadi ia berusaha untuk menahan emosi melihat kelancangan dari manusia hina ini. Jika saja ia tak diperingati oleh sang dewi, sudah tak diragukan cakar tajamnya menancap tepat di punggungnya.


Mendengar perkataan Leo, tiba-tiba emosi Flo meluap bahkan rasa takutnya tadi telah menghilang entah kemana.


“Ketentuan dewa dewi katamu? Sejak kapan aku meminta kepada mereka untuk dibawa ke dimensi ini SIALAN?? Jawab aku!!” Bentak Flo sambil menatap tajam ke arah Leo.


DEGG...


Pertama kalinya selama beratus-ratus tahun ada seorang manusia yang begitu berani membentak dirinya. Bahkan binatang suci lainnya pun begitu hormat pada dirinya.


Tetapi... Mengapa dirinya tak merasa marah ataupun kesal? Tubuhnya terasa tersentak setelah mendengar bentakan dari wanita yang saat ini menatap penuh benci padanya.


“Kalian tau apa soal yang aku inginkan dengan yang tidak hah? Bukan berarti status kalian lebih tinggi sehingga semena-mena dengan diriku.” Lanjut Flo menggebu-gebu.


“---”


Mereka semua terdiam dan tak ada yang berniat untuk memotong atau bahkan membantah tiap perkataan yang dilontarkan Flo.


HIKSS...


HIKSS...


Suara tangis Flo begitu memilukan. Terbesit sedikit perasaan benci kepada mereka. Sesuai keinginannya katanya? Cihh!! Sok tau sekali...


Dirasa telah sedikit tenang, sang dewi pun perlahan mendekat ke tempat Flo dengan cara melayang. Terserah dia mengatai diri mereka ini egois atau bahkan lancang. Namun semuanya juga memiliki alasan.


“Nona!! Apakah dikau sudah meluapkan segala emosi? Sudah merasa lebih baik sekarang?” Tanya sang dewi dengan suara lembutnya. Cukup berbeda dari yang sebelumnya.


“---”


Flo masih sedikit sesegukan dan juga perasaan tak enak di hatinya menguap, hilang entah kemana. Flo merasa agak sedikit berlebihan tadi bahkan dengan berani bersuara keras di hadapan dewa dan dewi.


“Seperti yang dikatakan olehnya (sambil melirik ke arah dewa kegelapan), sesuatu yang indah butuh pengorbanan dan itu juga telah dilakukan oleh seseorang yang dikau anggap sebagai tujuan hidup.” Jelasnya terkesan sedikit membingungkan.


“A-apa maksudnya? Aku tak mengerti sama sekali.” Tanya Flo.


...SEE YOU NEXT...