
Masih dengan keterkejutannya. Tubuh Flo seakan kaku dengan deguban jantung yang kian berdetak dengan kencangnya.
Apa tadi katanya? Sudah 4 minggu lamanya ia dinyatakan menghilang? Bahkan saat berada di istana langit dan berbincang dengan para dewa dan dewi tak terasa berminggu-minggu.
“A-apa kau tengah bergurau? Candaanmu kepada permaisuri ini tak lucu, Tuan Zen.” Bantah Flo.
“Memang seperti itulah kenyataannya permaisuri. Jika permaisuri tak percaya, mungkin para dayang setia permaisuri bisa mengatakan yang sebenarnya. Tetapi sebelum itu, permaisuri harus bertemu dengan Yang mulia Kaisar.” Ucap Zen terdengar perintah mutlak.
Belum habis dengan fakta mengejutkan ini, ia malah harus berhadapan dengan makhluk yang sangat wajib dihindarinya.
***
Disinilah Flo berada, di ruangan kerja sang Kaisar. Terhitung ini sudah pertemuan yang ketiga kalinya. Tidak dapat dipungkiri jika tubuhnya saat ini merasakan panas dingin bahkan keringat juga terasa mengalir di dahinya.
Jika Zen mengatakan ia telah menghilang selama 4 minggu lamanya, bukankah sudah di pastikan petaka besar dari pria angkuh di hadapannya ini pasti menimpa dirinya.
Sudah cukup lama Flo berdiri namun tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir sang Kaisar. Apakah sedang menunggu penjelasan dariku? Begitu pikir Flo.
(Lebih baik diam saja Flo... Bang sky merasakan firasat buruk ( ̄3 ̄) )
“A-aku bisa men---”
“Siapa yang menyuruh kau berbicara heh?” Sanggah Kaisar Feng.
“---”
Sungguh demi apapun, Flo lebih memilih untuk berhadapan dengan Leo si binatang berbulu yang ia temui di istana langit. Meskipun diancam dengan geraman sekalipun tak apa. Tetapi, pria yang dihadapannya kali ini lebih berbahaya dari apapun yang ia temui.
Aura di ruangan sang Kaisar terasa begitu mencekam. Bahkan Zen yang berada tepat di belakang permaisuri Ling cukup merasa pengap dan terintimidasi.
Tak mengherankan jika sang Kaisar mengeluarkan aura semacam ini. Permaisuri Ling dinyatakan menghilang selama bermunggu-minggu. Bukan dikarenakan rasa peduli ataupun semacamnya. Tetapi ada satu hal yang membuat sang Kaisar sampai mengerahkan penghuni istana kekaisaran mencari beliau.
Sedangkan Flo sedari tadi sudah merapalkan segala doa untuk bisa selamat dari amukan pria yang sedang menatap membunuh padanya.
‘Ya Dewa... Jika memang benar kau telah memberkati diriku dengan keberuntungan, tolong selamatkanlah aku dari makhluk kejam ini.’ Batin Flo penuh harap.
Tiba-tiba Kaisar Feng berdiri dengan sebuah cambuk yang sama saat menjemput ajalnya. Tentunya itu berhasil membuat debaran jantung Flo semakin tak karuan.
‘A-apakah aku akan di siksa lagi? Hikss... Benar-benar dewa kecil penipu!! Katanya telah memberkati diriku, namun apa ini?’ Batinnya takut.
( Manusia mana yang mengatakan dewa itu penipu? Mungkin hanya Flo seorang -_-|| )
Sedikit menoleh ke arah belakang seakan meminta pertolongan Zen, namun Zen bisa berbuat apa? Dia hanyalah tangan kanan Kaisar yang pastinya menuruti segala perintahnya tanpa ada niatan membantah.
SPLASHH...
Sentakan cambukan beradu dengan udara hingga menimbulkan bunyi yang begitu nyaring. Tubuh Flo bergetar ketakutan.
Langkah demi langkah pria bak malaikat pencabut nyawa itu melangkah mendekati Flo. Tatapan matanya seakan-akan berkata inilah ajalmu.
Spontan Flo menutup mata dan bersiap merasakan perihnya cambukan. Tunggu saja!! Tunggu sampai dirinya menjadi kuat maka akan ia balas berkali-kali lipat dari yang diterimanya selama ini.
1
2
3
Namun tak ada apapun yang dirasakan oleh tubuhnya selain hawa dingin yang sedikit menusuk ke kulitnya. Perlahan ia membuka mata dan tepat di hadapannya sepasang netra berwarna hitam legam menatapnya lapar.
“Kali ini kau selamat, tetapi tidak untuk berikutnya.” Ujar Kaisar Feng penuh penekanan.
“Eh??”
Mendengar perkataannya, tentu saja membuat Flo menjadi bingung dan bertanya-tanya. Mengapa pria bedebah itu berkata demikian? Seperti itulah pikir Flo.
Setelah mengatakan itu, Kaisar Feng berlalu pergi meninggalkan Flo juga Zen di ruangan yang kini senyap namun cukup menegangkan.
‘Apakah cambukan itu hanya berupa gertakan semata?’ Batin Flo menatap punggung Kaisar Feng yang perlahan menghilang.
“Bersyukur atas kemurahan hati dewa yang telah mengirimkan bantuannya melalui undangan dari kedua orang tua permaisuri, sehingga bisa meredamkan kemurkaan Yang mulia Kaisar.”
“---”
“Beberapa minggu yang lalu, salah seorang utusan dari keluarga permaisuri mengirimkan undangan kepada permaisuri dan juga Yang mulia Kaisar untuk menghadiri pesta penyambutan kakak permaisuri.” Lanjut Zen.
Kakak?
***
Suara tangisan terdengar begitu jelas di kediaman permaisuri Ling. Bagaimana tidak, sepulangnya ia dari ruang kerja sang Kaisar dan langsung menuju ke kediamannya yang berada tepat di belakang istana kekaisaran.
Ketiga dayang setianya malah memekik dan langsung memeluk saat melihat dirinya. Bahkan hanfunya terasa basah karena air mata mereka bertiga.
“Huhu... Permaisuri kemana saja selama ini? Kami sangat risau terhadap permaisuri.” Adu dayang Wan.
“Hei!! Tenanglah! Aku sudah kembali bersama kalian, lalu apalagi yang kalian tangisi.” Ucap Flo merasa tak bersalah.
Tak taukah permaisuri Ling jika mereka bertiga selama ini sangatlah risau dan juga berusaha menggali informasi dengan pengawal lainnya mengenai keberadaan permaisuri Ling namun tak ada kabar.
Terlebih lagi mengenai kontrak kerja dengan toko hanfu milik Miu yang mana tiap seminggu sekali harus memberikannya desain hanfu yang baru.
Mereka tak tau betul isi perjanjiannya seperti apa, tetapi jika melanggar kesepakatan bukankah bisa dilaporkan kepada sang Kaisar yang mana selaku suami Permaisuri Ling sendiri?
“Bagaimana keadaan kalian? Apakah kalian baik-baik saja selama aku tidak ada?” Tanya Flo.
“Kami baik-baik saja, permaisuri.” Balas dayang Fuo.
Tatapan mata Flo beralih kepada dayang kecil Wen yang matanya terlihat sangat sembab, bahkan kantung matanya terlihat dengan jelas.
‘Haishh... Apakah mereka semua menangisiku setiap hari? Siapa sangka aku hanya pergi sebentar ke istana langit namun ternyata sudah berminggu-minggu lamanya. Tetapi yang terpenting aku bisa selamat dari amukan Kaisar biadab itu.’ Batin Flo lega.
Terdengar suara lolongan kecil dari bawah kakinya. Nampak Siu tengah bersandar di kakinya sembari ekor yang bergoyang-goyang seakan ikut serta menyambut kedatangan dirinya.
“Ahh... Siu... Kau semakin bertambah besar saja.” Ucap Flo dengan sedikit membungkuk untuk mengelus pucuk kepala Siu.
Dirinya jadi teringat dengan perkataan Zen tadi. Undangan pesta penyambutan kakaknya? Dia sama sekali tak memiliki ingatan apapun tentang kehidupan permaisuri Ling. Bahkan ia sama sekali tak pernah memikirkan apakah permaisuri Ling mempunyai kakak atau bahkan adik.
“Dayang Wan... Apakah kau mempunyai makanan? Aku sangat lapar, kau tau.” Tanya Flo memelas.
Sebenarnya ia tak merasa lapar, hanya saja ini bentuk pengalihan kesedihan untuk mereka.
Mendengar perkataan sang permaisuri, sontak dayang Wan beserta dayang Fuo mulai menyibukkan diri. Dayang Wan pergi untuk membeli makanan di pasar kota sedangkan dayang Fuo menyiapkan pemandian.
Tetapi sebelum dayang Wan pergi, langkahnya di hentikan oleh Flo. Sepertinya gadis itu teringat akan sesuatu hal.
“Ada apa permaisuri? Apakah permaisuri ingin berpesan sesuatu?” Tanya dayang Wan.
“Ah iyaa... Tak perlu membeli makanan siap saji. Cukup membeli ikan segar dan juga beberapa ekor bebek yang telah dibersihkan. Aku akan memasak untuk makanan kita kali ini.” Jelas Flo.
Di pasar kota memang menyediakan berbagai jajanan namun masih terbatas pada rasa asin, manis dan asam. Dan mungkin salah satu makanan yang disukainya adalah tenghulu dengan rasa manis yang kaya.
Mengingat rasa bebek bakar tempo hari saat mencari tanaman rempah dihutan membuat air liur Flo terasa masam. Rasa asin yang begitu mendominasi bebek itu membuat nafsu makannya hilang seketika.
Pantas saja Kaisar biadab beserta para bawahannya itu sering marah-marah dikarenakan keseringan mengkonsumsi makanan di dimensi ini. Mungkin hanya menghitung tahun mereka semua akan meningg*al dikarenakan tekanan darah tinggi atau bahkan serangan jantung.
Awalnya dayang Wan merasa bingung dengan arahan sang permaisuri, terlebih lagi akan memasak sendiri? Seumur-umur mereka belum pernah melihat permaisuri Ling memasak.
“B-baiklah permaisuri... Kalau begitu saya pamit sekarang!!” Ujar dayang Wan.
...SEE YOU NEXT...
Fyi... Sorry to say bang sky hampir sebulan ini ga up because ada something urgent di kampus. Kebetulan bang sky dapet rekomendasi buat ikut program pertukaran mahasiswa dan ada banyak bgt hal yang perlu diurusin.
And than agak kesel juga sih soalnya adik bang sky malah ngebuat novel yang bang sky sendiri gatau itu alurnya gimana -_-|| Bang sky buat novel di laptop, ya mungkin dianya gabut atau iseng malah ngerecokin. Untung aja nih novel masih aman ga di aneh anehin ama dia.